“Kalau begitu aku akan minta Mamah buat nyuruh Awan nikah sama kamu!”
“Hah!” Shasa terperangah mendengar kalimat yang asal saja keluar dari mulut sahabatnya.
Apa yang dikatakan Hana sungguh di luar nalar, sesuatu yang teramat mustahil untuk menjadi sebuah kenyataan.
Tatapan Hulwan saja begitu menyiratkan rasa benci mendalam meskipun tidak bisa dipungkiri kalau pertama melihat Hulwan dia seolah diingatkan dengan sosok pria yang selama ini muncul dalam mimpinya.
Ah, tidak … tidak mungkin pria itu Hulwan, si pria dalam mimpi Shasa menatapnya dengan begitu lembut, tatapan penuh cinta yang mengalirkan sesuatu yang tidak bisa dengan mudah dia artikan. Sangat berbeda jauh dengan cara Hulwan menatapnya.
“Sha! Kamu kok bengong sih. Dengerin aku nggak? Pokoknya kamu lihat saja nanti. Aku bakal rayu Mamah buat jodohin kamu sama Awan biar kalian jadi muhrim dan bisa tinggal di sini semua,” ulang Hana dangan tegas untuk membuat Shasa percaya kalau apa yang dia katakan bukan suatu gurauan semata.
“Ngaco ih, Abangmu lihat aku saja jijik. Mana mau dia nikah sama aku,” elak Shasa yang tidak ingin sahabatnya berpikir terlalu jauh.
Hulwan memang tampan, dia sosok pria sempurna yang tidak susah menarik perhatian wanita. Namun, mulut pedas Hulwan yang kerap melemparkan cemoohan padanya membuat Shasa sebisa mungkin untuk tidak tergoda dengan pesona Hulwan.
Ah, tidak tergoda. Dua kata yang berbenturan dengan kenyataan yang ada.
“Kamu lihat saja nanti, aku beneran bakal rayu Mamah biar nyuruh Hulwan nikah sama kamu. Jadi, kita bukan hanya sahabat nantinya, tapi juga adik dan kakak ipar.
Aku mau kamu yang jadi kakak ipar aku, bukan cewek kegatelan yang ganjen dan Cuma manfaatin isi dompetnya Awan.”
“Hah emang semua cewek yang kenal bang Hulwan itu tahu isi dompetnya ya, Na? berarti Abang kamu suka pamerin duit di dompet dong?”
“Ah … Shasa ….,” jerit Hana dengan menepuk keningnya.
“Lagi-lagi mode lemot kamu muncul. Ya, nggak gitu juga kali. Nggak perlu Awan pamer isi dompet, semua cewek juga tahu kalau Awan itu banyak duit kagak kere.”
“Lah, berarti cewek yang dekat dengan Awan itu punya indera keenam dong bisa nebak Awan banyak duit.”
“Ah terserah kamu lah Sha … rasanya kamu ini kadang terlihat begitu pintar tapi kadang cara berpikir kamu itu lemotnya ngelebihin anak TK. But, whatever you are, aku tetap mau kamu jadi kakak ipar aku. Titik!”
Entahlah, kenapa bisa pikiran konyol seperti itu hinggap di kepala Hana. Shasa tidak mau ambil pusing dengan omongan Hana yang memang sering asal jeplak tanpa didasari dengan pemikiran yang matang.
“Mau ya kamu jadi kakak ipar aku,” rengek Hana lagai saat Shasa hanya diam tidak tertarik dengan obrolan Hana yang terdengar begitu ngelantur untuknya.
“Aku lebih suka kita kayak gini daripada makan hati nikah sama Abangmu,” jawab Shasa. Seketika bibir Hana mengerucut, dia sadar hari ini Abangnya memang sangat keterlaluan padahal biasanya Hulwan tidak pernah semenyebalkan ini.
“Okay, baiklah … tapi kamu nggak bakal pindah dan ninggalin aku, kan? Please ….” mohon Hana dengan kalimat melow. Tangannya ditangkupkan di depan d**a dengan mata yang berkedip-kedip saat mengucapkan kata please.
“Iya … iya … lebay banget sih, Na. Sudah sana, kamu keluar dari kamar aku!” usir Shasa setelah berhasil mendapatkan ponselnya yang diletakkan Hana di atas kasur saat dia mengucapkan kalimat permohonan tadi.
“Baiklah, hanya janji kamu sudah dicatat oleh malaikat. Kami nggak bakal pindah atau aku bakal minta Mamah buat nikahin kamu sama Awan, titik,” putus Hana sepihak. Mulut Shasa terbuka lebar bersiap untuk melayangkan protes. Namun, seketika Hana menutupkan bantal ke wajahnya.
“Jangan mangap lebar-lebar, kemasukan lalat tahu rasa!” ledek Hana yang langung berlari kabur keluar dari kamar Shasa dengan tawa terbahak.
“Menyebalkan!” dengkus Shasa.
Dia membanting badannya ke atas kasur, rasanya kembali tidur akan lebih baik setelah semua kejadian yang dia lalui hari ini. Hanya saja tiba-tiba perutnya berbunyi, suatu pertanda kalau cacing-cacing yang tumbuh subur di dalamnya sedang menagih jatah makan. Shasa mendongak menatap jam dinding. Jam dua siang, pantas saja perutnya keruyukan. Dia belum makan siang setelah sarapan sepiring nasi goreng tadi pagi.
Napsu makannya sempat menguap gara-gara serangkaian kejadian menyebalkan yang dialaminya berturt-turut. Andai saja para cacing di perutnya berhibernasi sejenak. Dia mungkin tidak akan teringat dengan makan. Shasa bangkit dan berjalan menuju mini kulkas di sudut kamarnya.
“Es krim cokelat kacang, lumayan pengganjal lapar,” gumamnya sambil membuka bungkus es krim.
Shasa berjalan menuju balkon rumah, duduk di lantai balkon dengan menikmati satu stik es krim. Dia sedang malas keluar, hari ini tenaganya habis gara-gara terus berdebat dengan Hulwan sehingga kakinya terasa begitu malas untuk digerakan kembali menuruni tangga untuk mencari makan.
Teng … teng … teng …
“Siomai … siomai ….” Teriakan Mamang somay di jalan gang membuat Shasa bangkit dan berdiri di tepi balkon.
Ah, seporsi siomay pasti akan membuat semua cacing penghuni perutnya tak lagi menimbulkan bunyi kriuk-kriuk sebagai tanda kalau mereka masih belum kenyang hanya dengan sogokan satu stik es krim.
“Mang … siomainya sepuluh ribu pakai telor ya,” jerit Shasa yang membuat Mamang pedagang siomai langsung mendongakkan kepala.
“Wualah, si Eneng kok di atas, turun atuh, Neng Shasa,” kata pedagang siomai yang memang sudah mengenal Shasa karena sejak dia tinggal di rumah ini Shasa sudah menjadi pelanggan tetapnya.
Tambahan, bukan hanya pembeli tetap siomai, ta[I juga baso bakar, baso cuangki, kue putu, es doger dan masih banyak lagi para penjual keliling yang sudah menghapal Shasa karena memang dia si ratu jajan.
“Malas, Mang. Lempar saja ya,” pinta Shasa dengan senyum lebar merayu si Mamang untuk menuruti permintaannya.
“Wah masa iya dilempar-lempar si Neng. Nanti malah tumpah kemana-mana.”
“Nggak kok mang, ikat saja yang kuat. Hap, pasti aku tangkap nggak pakai tumpah,” seru Shasa masih dalam mode merayu si penjual siomai.
“Siap lah.”
Si Mamang pun mengangkat kedua jempolnya dan dengan sigap membuatkan pesanan siomai untuk Shasa dalam sebuah wadah sterofon yang kemudian di masukan ke dalam plastik dan diikat dengan kencang, setelah itu kembali dimasukan ke dalam plastik lagi dan kembali diikat sekencang mungkin agar saat siomai dilempar ke atas tidak tumpah dan berceceran.
“Neng, sudah siap belum? Tangkap ya, Neng,” teriak si Mamang yang sudah siap melempar somay ke atas.
“Hap.” Shasa bernapas lega saat plastik siomai mendarat sempurna di tangannya.
“Wah si Eneng emang hebat euy …”
“Iya lah Mang, sudah berpengalaman,” kekeh Shasa.
“Mang ini bayarnya maaf dilempar ya,” lanjutnya yang menjatuhkan selembar uang sepuluh ribuan dan langsung dipungut oleh si Mamang diikuti dengan kalimat terima kasih yang kembali dia teriakan.
“Aman deh, nggak perlu turun buat makan. Siomai si Mamang tea porsinya pas lah buat pengganti makan siang,” gumam Shasa.
Dia masuk sebentar ke dalam kamar untuk mengambil sendok dan air minum dingin serta ponsel sebelum kembali ke balkon dan duduk di lantai untuk mengisi perutnya dengan siomai dengan ditemani pemandangan sore jalanan komplek perumahan.
“Cing … ini jatah makan kalian siap meluncur. Bismillahirrahmanirrahim.”
Hap … hap … hap …. Tidak perlu waktu lama memindahkan semua siomai ke dalam mulutnya. Kurang dari lima menit siomai di wadah sterofon sudah kosong tanpa sisa. Semuanya masuk ke dalam perut Shasa, pastinya sorak soray para cacing akan terdengar jika saja mereka bisa mengungkapkan kebahagiaannya.
“Alhamdulilah,” seru Shasa setelah meneguk air mineral dalam gelas hingga kosong tanpa sisa.
Setelah perutnya kenyang, Shasa duduk bersandar di dinding dengan kaki yang diselonjorkan. Jemarinya mulai menari di atas layar datar ponselnya. Hulwan Mudzhaffar, tanpa sopan jemarinya mengetik nama itu begitu saja.
Klik.
Telunjuk Shasa memilih satu akun yang memasang foto Hulwan yang sedang bersedekap dengan background pemandangan hamparan padi yang mulai menguning.
“Cakep banget sih.” Plak.
“Aw ….” Shasa mengusap mulutnya yang dia tampar sendiri saat kalimat pujian untuk Hulwan terontar begitu saja.
Dia lupa dengan kalimat tidak tergoda yang sempat dia ucapkan. Nyatanya, kini dia malah tergoda untuk menjadi kepoers Hulwan. dia mulai melihat apa saja aktivitas yang Hulwan unggah di media sosialnya tanpa menjadikan dirinya followers Hulwan.
“Ah, Abang … kalau kau setampan ini bagaimana diriku bisa menahan godaan,” desis Shasa saat melihat foto Hulwan di atas sebuah moge dengan memakai kaca mata dan jaket hitam.
“Tuhan, ini hanya keisenganku saja. Tolong jangan jadikan ini sebagai langkah awal aku mulai mengaguminya. Aku tak kuat … Abang tampan sangat,” jeritnya tertahan saat semakin banyak foto Hulwan yang dilihatnya.
Entah kenapa, sejak sore itu stalking i********: Hulwan menjadi agenda rutin harian yang tidak pernah Shasa lewatkan. Setiap hari Hulwan memang beberapa kali post di i********: yang tujuannya tak lain untuk mempromosikan batik-batik yang diproduksi rumah batik milik kedua orang tuanya.
Sepuluh hari pun sudah berlalu diiringi dengan hobi baru Shasa yang dia tekuni tanpa sepengetahuan hana. Sehari pun tidak pernah terlewatkan untuk Shasa menyempatkan diri stalking i********: milik Hulwan. Hingga tanpa diinginkan sekalipun, alam bawah sadarnya sudah dipenuhi dengan wajah Hulwan.
Siang ini pun sama, saat tidak ada jadwal kuliah, dia akan menghabiskan waktu di kamar dengan memandangi satu persatu foto Hulwan. Namun, kali ini keasikannya terganggu saat tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.
“Sha, temenin ke rumah batik yuk,” ajak Hana dari ambang pintu dengan tangan kanan yang belum melepaskan handle pintu kamar Shasa.
Shasa berpikir sejenak, rumah batik. Ada Hulwan di rumah batik, haruskah dia menerima ajakan Hana. Ah, sebuah kesempatan langka bisa mendatangi rumah batik di waktu senggangnya.
“Shasa … mau anter ke rumah batik nggak. Aku mau milih batik baru buat hari Minggu nanti. Buat datang ke acara ulang tahun si Mirna,” ujar Hana mengingatkan Shasa pada sebuah undangan pesta ulang tahun dengan dress code batik karena bertepatan dengan hari batik nasional.
“Di sana bisa sekalian jahit nggak, Na?” tanya Shasa dengan wajah meringis.
Dua baju batik miliknya yang dibawa dari rumah saat awal masuk kuliah kini sudah tidak pernah lagi dia pakai karena dua baju tersebut menyusut kecil hingga saat dia pakai, badannya akan terlihat bak kue lepet yang diikat dengan kencang dan mempertontonkan bagian depan tubuhnya yang akan terbagi menjadi tiga karena lipatan lemak yang dipaksa ditutupi dengan baju yang kurang lebar.
“Bisa kok, kamu mau sekalian milih dan jahit di sana,” tebak Hana.
Ya, meskipun banyak busana batik dari kemeja, tunik, dress, gamis dan lainnya yang sudah siap pakai. Namun, Hana ragu kalau di rumah batiknya juga menyediakan ukuran ekstra big untuk Shasa.
“Iya, bisa?” tanya Shasa dengan mimik wajah yang begitu excited saat Hana menyebut kata jahit. Selama ini hampir sebagian banyak bajunya dijahit di tukang jahit langganan bundanya. Hanya sedikit saja baju sudah siap pakai yang bisa dia beli karena ukuran badannya memang terbilang langka.
“Bisa kok, yuk cuss,” ajak Hana.
Mereka melaju menuju rumah batik dengan berboncengan sepeda motor N-max milik Shasa. Sepuluh menit jarak dari rumah mereka menuju rumah batik. Tiba di parkiran Shasa langsung menitipkan dompetnya pada Hana.
“Nitip dompet dong, Na. Aku kebelet pipis, ke toilet dulu ya,” pamit Shasa yang langsung berlari menuju toilet.
Dua pintu toilet tertutup, dia buka pintu pertama, tapi terkunci hingga dia beralih ke pintu yang kedua. Kantung kemihnya serasa penuh hingga dia langsung memutar handle pintu yang kedua karena sudah pasti pintu akan terkunci saat ada seseorang di dalamnya.
“Aaaaaaaa ....”
“Aaaaaaaaa … ular.”