Benalu

1587 Kata
“Aduh … tolong … gempa …,” teriak Hulwan. “Gempa … gempa ….” Seseorang menyusul berteriak hal yang sama dengan menggerakkan badannya tanpa arah hingga mobil semakin bergoyang. Hal itu membuat Hulwan kembali melepaskan safety belt yang dia kenakan dan sesegera mungkin keluar dari dalam mobil. Devi dan Farid berlari ke luar rumah. Suasana benar-benar ribut dengan teriakan gempa yang terus saja bersahutan. Namun, Hana hanya berdiri mematung menyaksikan kekonyolan yang terjadi. “Apaan sih, Bang. Heboh banget, childish tahu …,” cebik Hana dengan muka cemberut. “Lo nggak lihat tadi mobil goyang-goyang,” tunjuk Hulwan ke arah mobil dan seketika kini mulutnya ternganga dan terbuka lebar melihat seseorang yang berada di dalam mobil. “Astaga! Anak gajah, ngapain Lo masuk mobil gue!” hardik Hulwan dengan mata melotot dan tampang marah level sepuluh yang membuat wajahnya terlihat memerah. Seandainya mereka hidup dalam dunia anime, kemarahan Hulwan sudah disertai dengan api yang menyembur dari atas kepalanya. Dia tidak habis pikir kenapa dia bisa menyangka ada gempa tadi, dirinya yang konyol atau memang efek badan besar Shasa yang teramat membuat mobil berguncang dengan hebatnya. “Keluar Lo!” usir Hulwan dengan tangan dan telunjuk kanan yang mengacung lurus ke arah Shasa. “Abang! Keterlaluan banget sih, aku yang ajakin dia ikut kok, kenapa seenaknya Abang usir dia,” protes Hana tidak terima dengan kelakuan astral kakaknya yang seenak jidat nyuruh Shasa keluar dari dalam mobil setelah cukup lama dia membujuk sahabatnya agar bersedia menemaninya mengantar Hulwan pulang.. “Kalian kenapa sih? Katanya nganter Hulwan pulang, kok malah ribut di sini sih,” sela Devi yang belum mengerti penyebab keributan kali ini. “Awan, Mamah. Masa Shasa masuk mobil dia malah teriak gempa heboh banget. Childish banget kan dia,” adu Hana pada Devi yang kini berdecak sambil menggeleng. “Hulwan, kamu tuh kelamaan jomblo jadi setengah gila kayaknya,” tuduh Devi dengan meletakan telunjuknya dalam posisi miring di atas kening. “Ya ampun. Terus saja Mamah belain dia dan aku yang salah. Coba bayangin, gimana aku nggak kaget mobil goyang kenceng banget saat dia masuk. Lagian badan dia tuh bengkak dan lebar kayak anak gajah, masuk mobil nggak pelan-pelan lagi, kan aku jadi kaget mah,” cerita Hulwan dengan menunjuk Shasa yang kini sudah keluar dari mobil. Mata Shasa terlihat berkaca-kaca. Entah sudah berapa kali dia mendengar Hulwan mencemooh dirinya karena berat badan yang berlebih, satu dua kali telinganya masih mampu menampung semua hinaan Hulwan yang ditujukan padanya. Namun, kali ini dia benar-benar tidak bisa mendiamkan Hulwan begitu saja. Kata-katanya benar-benar merendahkan dan membuat Shasa teramat malu. Hulwan menganggap badannya yang ekstra big semacam kutukan yang membuat dirinya ditimpa beragam kesialan. Padahal Shasa juga tak beda jauh, dia merasa hari ini begitu menyebalkan karena kehadiran Hulwan. Anak badak. Anak gajah. Gunderuwo. Setan. Entah apa lagi julukan yang akan diberikan Hulwan padanya. Tanpa Hulwan selalu mengingatkan betapa besarnya dia, Shasa sudah cukup sadar kalau memang badannya tidak semungil Hana dan Hulwan. Sebenarnya dia sudah terbiasa menerima olokan, cemoohan dan kalimat ledekan yang serupa dengan apa yang Hulwan lontarkan, tapi entah kenapa saat Hulwan yang mengatakannya. Ada kesedihan yang mendalam hingga dadanya terasa sesak mendapati seanti-pati itu Hulwan dengan badannya yang besar. “Cukup ya Bang, aku bisa diam dari tadi Abang selalu mencemooh badanku. Kali ini Abang benar-benar keterlaluan. Aku diam dihina Abang karena menghormati Bang Hulwan anak Tante Devi, Abangnya Hana. Eh, diamnya aku malah bikin Abang semena-mena mencaci, mengolok dan menghina aku serendah itu,” ujar Shasa dengan mata yang mulai berair. “Silakan Abang hitung sudah berapa kali Abang mengolok-olok aku hari ini. Sudah puas Abang ngatain aku anak badak, anak gajah, hantu, setan dan sekarang Abang teriak gempa saat aku masuk mobil. Keterlaluan Bang! Aku memang gendut, tapi aku juga punya perasaan. Aku memang gendut, tapi aku juga makhluk Tuhan yang tak pantas Abang rendahkan.” Shasa berjalan cepat masuk ke dalam rumah melewati Devi dan Farid. Air matanya semakin deras membasahi kedua pipinya. Dadanya terasa begitu sesak tak mampu lagi menampung cercaan dari Hulwan. Dia memang gendut, tapi dia punya perasaan. Dia Shasa tidak mengerti kenapa dia merasa sesakit ini dihina Hulwan. padahal bukan hanya Hulwan yang sering mengolok-oloknya. Namun, kalimat yang keluar dari bibir Hulwan terasa sepuluh kali lipat menusuknya. “Awan pulang sendiri, aku ogah anterin orang nggak punya hati kayak Awan. Mamah benar kalau kelamaan jomblo Abang jadi sinting, nggak punya hati dan perasaan. Mulut Abang tuh sudah diluar batas,” ujar Hana yang langsung berlari menyusul Shasa. Dia benar-benar merasa bersalah sudah memaksa Shasa untuk ikut dengannya untuk mengantarkan Hulwan ke rumah batik padahal Shasa awalnya menolak karena dia sudah menebak kalau Hulwan tidak akan suka dirinya ikut dengan Hana. Hana tidak menyangka kalau Abangnya kini berubah menjadi begitu menjengkelkan, begitu mudahnya Hulwan melontarkan kalimat ejekan dengan nada begitu pedas pada sahabatnya. “Mah … aku nggak habis pikir ya. Kok kalian jadi menyebalkan seperti ini sejak ada si … si Shasa. Pertama Mamah, sekarang Hana yang nyalahin aku. Terus saja kalian kena pengaruh dia dan ujung-ujungnya aku bakalan diusir dari rumah ini gara-gara si a- si Shasa,” gerutu Hulwan. Tadinya dia ingin menyebut Shasa si anak gajah, tapi dia urungkan karena hal itu pasti akan memantik kemarahan mamahnya. “Kamu yang aneh Hulwan, apa sih salah Shasa sama kamu, kok Mamah lihat kamu antipati sekali dengan dia. Mulut kamu jadi suka banget ngejek dan ngolok-ngolok dia. Kamu bakal nyesal kalau tahu Shasa itu ... ah sudahlah, terserah kamu saja mau apa, toh kamu sudah dewasa.” Hanya kamu mesti ingat, bulan depan mesti bawa calon istrimu ke rumah ini! Atau kamu terima calon yang sudah mamah pilihkan untukmu!” “Mah, aku belum ingin menikah,” tolak Hulwan yang tidak suka setiap kali sang Mamah membahas pernikahan. “Tidak ada tawar menawar, bulan depan bawa calon istrimu ke rumah ini atau mamah akan menjodohkan kamu dengan gadis pilihan mamah. Titik!” ancam Devi tanpa bisa ditawar. “Ingat ya Hulwan, sebulan saja Mamah kasih kamu waktu buat mantapin diri kamu pada salah satu teman gadismu. Bawa dia ke rumah ini.” “Tapi Mah ... aku belum mau nikah, kenapa Mamah masih bahas ini juga,” elak Hulwan tidak mau mengiyakan keputusan Devi. “Tidak ada tapi Hulwan. Keputusan Mamah masih sama, bulan depan kamu bawa gadis pilihan kamu ke rumah ini atau kamu haru terima gadis pilihan mamah. No debat!” Devi langsung berbalik meninggalkan Hulwan yang kini berusaha merayu Farid agar membantunya membujuk sang mamah supaya tidak lagi membahas masalah pernikahan apalagi perjodohan. “Kamu sudah cukup umur untuk menikah Hulwan. Mamahmu benar, sebaiknya kamu memang harus segera menikah,” putus Farid, kemudian ikut berlalu meninggalkan Hulwan yang menggusar rambutnya menjadi acak-acakan. Hari ini benar-benar begitu sial menurutnya, yang jelas faktor kehadiran Shasa di rumah ini menjadikan keluarganya tampak menjadi menyebalkan tidak seperti biasanya. Padahal itu hanya pemikiran Hulwan saja karena memang sudah sangat lama dia tidak pulang ke rumah ini. Jika bertemu dengan sang mamah di rumah Batik, Devi tidak akan membahas perihal pribadi karena waktu mereka di sana habis untuk memfokuskan diri menyelesaikan job description masing-masing. “Mending gue pulang nge-grab biar nggak usah punya kewajiban buat balikin mobil papah,” tukas Hulwan yang langsung pergi meninggalkan rumahnya dengan berjalan kaki menuju jalan umum yang berada sekitar lima ratus meter dari rumah kedua orang tuanya. _____I.S______ “Beib, sudah sih … maafin Awan ya, biasanya dia nggak seperti itu kok,” bujuk Hana yang sedari tadi menemani Shasa di kamarnya. Hana benar-benar tidak ingin Shasa pindah dari rumahnya hanya karena tingkah menjengkelkan sang kakak yang entah apa itu penyebabnya. Dia, bahkan sedari tadi memegang ponsel Shasa agar Shasa tidak bisa menghubungi Wina dan Aris. “Aku mau pindah saja, Na. aku nggak mau jadi benalu di rumahmu … aku emang gendut, tapi Abangmu tidak bisa seenaknya menghina aku seperti tadi, huhuhu ….” Shasa kembali terisak. Itu membuat Hana semakin bingung mesti bagaimana lagi untuk meredakan isak tangis sahabatnya. Badannya besar, bukan berarti Shasa orang yang tegar. Malah di mata Hana Shasa bukan hanya manja, tapi juga cengeng dan terlihat begitu polos. “Shasa, kamu tega ninggalin aku? Kamu tahu kan aku selalu sendiri di rumah ini. Kalau kamu pindah aku sama siapa?” rengek Hana masih berusaha merayu dan meyakinkan Shasa untuk membatalkan keinginanya pindah dari rumah ini. “Abangmu akan pulang kalau aku nggak tinggal di sini lagi.’ “Tetap saja dia akan disibukan dengan pekerjaannya, Sha. Please don’t leave me ….” Air mata Hana mulai menetes. Selama ini Hana memang merasa sepi karena selalu sendiri, keberadaan Shasa membuat dia tidak kesepian lagi di rumah ini. Dia tidak bisa menyalahkan Abang dan kedua orang tuanya yang hampir seluruh hari mereka dihabiskan di rumah batik. Bagaimanapun Hana tahu kalau semua yang dilakukan kedua orang tuanya untuk kebaikan dirinya. Weekend di Sabtu dan Minggu seperti sekarang lah baru dia bisa menghabiskan waktu dengan kedua orang tuanya. “Aku memang bukan muhrim kakakmu, dia tidak akan kembali kalau aku masih ada di sini,” terang Shasa. Dia memang tidak tega meninggalkan Hana, tapi juga tidak mau kalau gara-gara dia tinggal di rumah ini Hulwan memilih tidak akan pernah pulang. Shasa cukup sadar diri. Dia Cuma menumpang di rumah Hana. Di rumah sahabat bundanya, tante Devi. Namun, kalau keberadaan dirinya membuat Hulwan merasa tidak nyaman. Shasa lebih memilih untuk tinggal di tempat lain saja dari pada benar-benar menjadi benalu untuk keluarga Hana. “Kalau begitu aku akan minta Mamah buat nyuruh Awan nikah sama kamu!” “Hah!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN