“Aaaaaaaaaaaaaaaaa ....”
Hulwan menjerit histeris dengan menutup kedua matanya.
“Ya ampun … ya Tuhan ….”
Hulwan mendongakkan dan menatap benda di di atas kepalanya dengan napas tersengal-sengal. Terkadang dia mengintip benda tersebut dari sela jari tangan. Namun, sedetik kemudian dia kembali menutup matanya, membayangkan sesuatu yang besar, kenyal yang ditutupi benda tersebut. Puncak lollipop milik Shasa yang tidak sengaja dilihatnya tadi pagi pun kembali terbayang.
“Gila gede banget,” gumamnya dengan sesekali berkedip, entah kagum atau sedang membayangkan sesuatu, yang pasti cukup lama Hulwan memperhatikan benda di atas kepalanya.
Tangannya kadang mencoba mengukur dan meremas benda berbentuk setengah lingkaran dengan bagian tengah yang cekung dan tidak muat ditangkup jemarinya.
“Ih, apaan sih. Kok malah gue pegang.” Hulwan mengibaskan tangannya, kemudian dia segera membasuh tangannya yang menyentuh bra milik Shasa yang tergantung tepat di atas kepala Hulwan.
“Pasti empuk, kenyal dan gemes banget deh maininnya. Ya ampun Hulwan, Lo bayangi itu lagi.” Hulwan menepuk jidatnya setelah memastikan tangannya steril. Dia langsung memutar handle pintu kamar mandi.
“Aaaaaa, setan!” jerit Hulwan dengan sangat kencang mendapati Shasa berdiri tepat di hadapan pintu.
“Setan …,” teriak Shasa kaget hingga badan Hulwan terdorong dan badan gembul Shasa jatuh menimpa badan Hulwan.
“Aduh, berat banget anak gajah,” protes Hulwan meringis menahan berat badan Shasa di atas tubuhnya. Namun, ada sesuatu yang membuatnya lebih berat saat bagian depan d**a Shasa menekan bagian dadanya.
Kenyal, seperti yang dia bayangkan. Tangan Hulwan sudah merayap ingin mencoba memegang dan merasakan betapa kenyalnya gunung kembar milik Shasa.
“Awan ….!” Jerit Hana dari ambang pintu yang membuat tangan Hulwan reflek mendorong Shasa tepat di dadanya.
“Abang jangan pegang!” jerit Shasa yang membuat Hulwan kembali menarik tangannya dan badan Shasa pun kembali jatuh menimpanya.
“Aw ... berat banget, Sha. Hana ... tolongin angkat si anak gajah ini dong,” jerit Hulwan dengan napas tercekat karena dadanya tertimpa beban yang begitu berat.
“Shasa … Awan …. Kalian ngapain!” jerit Devi dengan mata mendelik melihat tubuh Shasa yang tepat menindih badan Hulwan.
Devi langsung berlari ke arah mereka. Dia dan Hana membantu Shasa turun dari badan Hulwan.
“Alhamdulillah masih hidup,” seru Hulwan mengelus dadanya masih dengan posisi terlentang di atas lantai. Kepala hingga pinggangnya basah karena lantai kamar mandi yang baru dia pakai memang masih basah, sedangkan dari pinggang hingga kakinya berada di lantai yang kering.
“Kalian ngapain sih, sampai tumpang tindih gitu?” tanya Devi menatap tajam Hulwan.
“Ya elah Mamah, bantuin aku bangun dulu kek,” protes Hulwan dengan mengulurkan tangannya ke arah Devi.
“Alah, masa cowok manja sih, Bang. Bangun sendiri gih.” Devi menepis tangan Awan dan berjalan duduk di sofa menyusul Hana dan Shasa yang sudah terlebih dulu duduk di sana.
“Mah … beneran nih aku jadi anak tiri sekarang. Anak gajah itu yang jatuh nimpa aku ditolongin. Giliran aku minta tolong Mamah malah nyelonong,” protes Hulwan.
Otaknya terasa panas, kehadiran Shasa di rumah ini benar-benar malapetaka untuknya. Rasanya cukup hari ini saja dia pulang ke rumah ini. Cukup hari ini saja dia mengalami kesialan yang beruntun. Dituduh gay, melihat Shasa telanjang, dituduh mengambil keperawanan Shasa, belum lagi bra dengan ukuran jumbo yang tergantung di kamar mandi membuat pikiran liarnya semakin tak terkendali dan terakhir badannya serasa remuk redam ditimpa badan gendut Shasa meskipun Hulwan mendapat keuntungan darinya. Setidaknya dia sudah tidak penasaran lagi dengan kenyal dan empuknya d**a Shasa.
‘Ya ampun Hulwan kamu masih mikirin d**a si anak gajah itu. Seriusan aku tergoda,” batinnya berkata jujur meskipun nyatanya Hulwan masih berusaha menepisnya.
“Shasa, benar kamu duluan yang nimpa badan Hulwan?” tanya Devi.
“Bang Hulwan teriak setan di depan aku. Gimana aku nggak kaget dan takut, jadi aku nggak sengaja dorong dia hingga jatuh bareng,” jelas Shasa mencoba menjelaskan reka kejadian kenapa mereka bisa ditemukan dalam posisi tumpang tindih seperti tadi.
“Lo setannya! Lo ngagetin gue! Lo berdiri tepat di depan gue pake masker kayak gitu. Gimana gue nggak kaget coba!” marah Hulwan tak terima dia dituduh menjadi penyebab jatuhnya mereka.
“Habis Abang teriak di dalam kamar mandi kenceng banget, aku kan takut Abang kenapa-napa. Habis teriak Abang malah nggak langsung keluar. Aku penasaran takutnya Abang pingsan di dalam,” bela Shasa pada dirinya sendiri.
“Itu juga salah Lo, ngapain Lo gantung Bra segede gaban di kamar mandi! Ngeri gue lihatnya,” omel Hulwan tidak mau kalah beradu argumentasi dengan Shasa. Sementara Mamah dan adiknya justru cekikikan menonton perdebatan mereka.
“Maaf Abang …,” sesal Shasa dengan wajah tertunduk. Kedua pipinya yang bulat dan kencang terlihat merona merah.
Dia menyesali sifat pelupanya hingga tidak membawa serta bra miliknya saat mandi pagi tadi padahal ada Hulwan di rumah ini. Untung hanya Bra, biasanya celana dalam pun lupa dia bawa. Tidak ada yang mempermasalahkannya karena memang hanya Shasa sendiri yang menggunakan kamar mandi tersebut.
“Eh tapi punyamu itu emang kenyal empuk banget loh, gemes gue.”
“Hulwan!” hardik Devi.
“Bener loh Mah, kenceng dan kenyal dan-”
“Hulwan, cukup,” teriak Devi memotong kalimat Hulwan yang sudah tidak terkontrol.
“Kamu minta maaf sama dia, Shasa sudah minta maaf, lagian ini kan bukan murni kesalahan dia. Kamu juga ikut andil dalam-”
“Cukup, Mah. Aku ngerti sekarang Mamah lebih dominan belain anak gajah ini. Dari pagi aku ngerasa Mamah terus saja salahin aku. Aku cukup ngerti kalau posisi dia di rumah ini sudah ngalahin aku yang ank kandung Mamah sendiri. So, mulai sekarang Mamah nggak usah nyuruh aku balik ke rumah ini lagi.” Hulwan masuk ke dalam kamar hanya untuk mengambil ponsel dan dompetnya.
“Hulwan pulang,” pamitnya mendekat dan mencium tangan Devi.
“Pulang? Ini rumah kamu, memangnya kamu mau pulang kemana?” cegah Devi tidak mengizinkan Hulwan untuk pergi.
“Sekarang bukan lagi. Sejak ada dia di sini, aku ngerasa ini bukan rumahku lagi,” tunjuk Hulwan pada Shasa.
“Aku juga nggak mau terus-terusan ketiban sial gara-gara ketemu dia,” imbuhnya sebelum berlalu menuruni tiap anak tangga tanpa mempedulikan panggilan Hana yang memintanya berhenti.
Tiba di dasar tangga, dia melihat Farid sedang duduk di depan televisi dengan memegang sekotak keripik sukun di tangannya. Tidak mungkin Hulwan pergi begitu saja tanpa pamit pada papahnya yang terlihat di depan mata. Mau tidak mau Hulwan pun membelokan langkahnya ke tempat dimana Farid duduk.
“Pah, aku balik ke Paviliun rumah batik,” pamit Hulwan dengan mengulurkan tangan untuk mencium tangan papahnya.
“Nggak nginep?” tanya Farid mengusap tangan kananya dengan tisu sebelum membiarkan Hulwan mencium tangannya.
“Aku nggak nyaman di sini, Pah. Ada Shasa juga kan di lantai atas,” elaknya yang tidak mungkin untuk memilih menginap di rumah ini.
“Sepedamu rusak, mau pulang naik motor atau mobil papah?” tawar Farid.
Hulwan menepuk jidatnya, dia baru ingat kalau sepedanya rusak saat menghindar dan membanting stir sepeda untuk menghindar agar tidak menabrak Shasa yang berada di tengah jalan.
“Aku antar pulang saja ya, Awan,” cetus Hana yang sudah sampai ke lantai bawah dan menawarkan diri untuk mengantar Abangnya kembali ke rumah batik.
“Boleh lah. Yuk buruan, Abang ke mobil duluan ya,” pamit Hulwan.
“Kunci mobilnya, Wan,” teriak Farid membuat Hulwan berlari kembali ke hadapan Farid.
“Tuh,” tunjuk Farid dengan matanya ke tempat kunci mobil yang tergantung di hanger kunci yang tertempel di tembok samping bufet televisi.
“Thank you, Pah. Aku bawa ya,” ujar Hulwan seraya mengambil kunci mobil.
“Hati-hati, nanti bantu adikmu parkir,” pesan Farid yang dijawab Hulwan dengan menunjukan jempol tangannya.
Hulwan mengeluarkan mobil dari garasi, dia memanaskan mesin mobil terlebih dahulu sembari menunggu Hana yang sedang bersiap-siap.
“Lama banget sih, dasar cewek,” gumam Hulwan yang tidak juga melihat tanda-tanda Hana keluar dari dalam rumah.
Dia meraih ponsel yang tergeletak di dashboard mobil. Hulwan begitu serius memainkan salah satu game online dalam ponselnya. Namun, sesaat kemudian dia merasakan mobil bergoyang.
“Aduh … tolong … gempa …,” teriaknya.