21. Kabar dan Harapan

1720 Kata

            Hana dan teman-teman mendatangi rumah sakit tempat Salwa dirawat, mereka bermaksud menjenguk Salwa. Mereka bertiga hanya bisa melihat Salwa dari luar, dari balik kaca pintu yang transparan.             Arnet terlihat sangat gelisah dan sedih, “Salwa pasti bagunkan? Ya Tuhan… kenapa harus Salwa yang terbaring di sana?” ia menghela napas sejak tadi.             “Ini takdir, Net. Manusia hanya sebatas menjalani, memerankan setiap lakon yang di gariskan Tuhan. Kita jangan putus berdoa pada Tuhan, Net.” Hana menepuk-nepuk punggung sahabatnya.             Selli ikut merangkul Arnet dari samping kiri. “Aku yakin Salwa sedang berjuang,” gumamnya. “Dia tetap cantik ya, tetap Salwa yang kita kenal.”             Hana tersenyum sekilas menatap Selli dan Arnet bergantian. “Dia bilang ja

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN