Tubuh Salwa terkulai lemah di atas ranjang. Seluruh alat diruangan itu terpasang lengkap. Selang infus, mesin detak jantung, alat pernapasan, semua benar-benar lengkap. Tidak kurang satu apapun kecuali kepastian. Kepastian kapan gadis itu bangun dari tidurnya. Wajah gadis cantik itu terlihat pucat pasi seperti kapas. Tidak tercetak senyum di bibir tipis yang ikut memucat. Tidak ada ekpresi apapun di wajahnya yang polos dan bersih. Semua orang menunggunya, semua orang mengharapkan satu keajaiban agar Salwa Nabila segera membuka mata. Yasmin sangat sedih melihat wajah saudaranya sepucat itu. Ia lalu mengeluarkan lipblam merah muda dan menempelkannya tipis-tipis pada bibir Salwa. “Cantik.” Gumamnya, ia tersenyum tulus menatap wajah Salwa. Bag

