Salwa kritis, itu yang saat ini terjadi. Kabar itu terdengar begitu menakutkan. Membuat hati harus bersiap pada satu jawaban yang belum pasti arahnya; selamat atau tidak selamat. Tertolong atau tidak tertolong. Hidup atau mati. “Salwa akan baik-baik saja.” Ujar Hadid menatap pintu yang masih tertutup rapat. Lalu dia mendekat pada Abimana yang berdiri menyandarkan punggungnya ke dinding. Dinding rumah sakit itu terasa sangat dingin. Jaketnya sudah di lepas, ada bekas darah Salwa yang mengalir dari bagian kepalanya. Jejak-jejak itu menorehkan pilu di hati Abimana dan orang-orang yang melihatnya. Tangan Hadid menepuk bahu Abi dengan lemas. Tidak ada tenaga yang tersisa. Dia juga sangat cemas memikirkan kondisi anak perempuannya itu. Salwa masih terbaring ta

