bc

JASMINE (Gugur saat Mekar)

book_age18+
435
IKUTI
1.8K
BACA
family
fated
versatile
sweet
coming of age
first love
slice of life
love at the first sight
wife
substitute
like
intro-logo
Uraian

“Jujur saja aku tidak tertarik untuk menikah, tapi aku butuh seseorang yang bisa menggantikan tugas orang tuaku. Setelah dipikir-pikir tidak ada ruginya menerima perjodohan ini, ya hidup sebagai pengangguran yang hanya jadi beban keluarga, sudah sepantasnya aku lekas angkat kaki dari rumah.”

“Kamu tentu tahu, menikah bukan jaminan hidupmu akan bahagia. Aku bisa mencukupi kebutuhanmu sehari-hari, tapi tidak bisa menjamin kamu akan hidup dengan bergelimang harta mengingat gajihku tidaklah seberapa. Aku juga tidak bisa menjanjikanmu cinta dan kesetiaan.”

“Tawaran yang kamu berikan sudah cukup. Toh, aku menikah bukan untuk mendapatkan kebahagiaan, tapi agar bisa melanjutkan hidup.”

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 : Cuma Aku
Ada jarak yang sangat tipis antara ketulusan dan kebodohan dalam percintaan. Orang sering kali tidak bisa membedakannya, sampai akhirnya sebuah pengkhianatan mereka terima. Dan anehnya, meskipun telah dikhianati, ada saja segelintir orang yang tetap mencintai pasangannya meski dia sadar dirinya telah sampai ke tahap kebodohan dalam mencintai. Kalau membahas cinta, sebagian orang akan setuju pernikahan adalah tujuan akhir mereka. Namun, sebagian lainnya justru menganggap pernikahan adalah babak baru sebuah pertunjukan tanpa henti. Ya, pasangan menikah akan berusaha untuk tampil lebih baik, menutupi kekurangan-kekurangan pasangan ataupun finansial, persis seperti drama yang ditampilkan di panggung. Tak ubahnya pertunjukan drama, dalam kenyataan pun semua orang memiliki panggungnya masing-masing dan menjadi penonton di hadapan yang lainnya. Sandiaga tidak pernah berpikir dirinya akan menikah, selain memerlukan biaya yang tidak sedikit, dia juga harus menyesuaikan diri dan sikap jika tinggal satu atap dengan orang lain. Pernikahan bagi Saga adalah hal yang tidak perlu. Dan hanya akan membawanya ke dalam kerangkeng berkedok keluarga. Menikah karena cinta saja Saga tidak berniat, apalagi menikah karena perjodohan. Itu hal yang sangat mustahil. “Melihat ekspresimu kusut begitu, kutebak kalian bertengkar lagi, iya, ‘kan?” “Ya, begitulah. Aku haus banget, bisa tolong ambilkan aku air?” Lawan bicaranya mengangguk sembari tersenyum, lalu meninggalkan tempat duduknya guna mengambilkan permintaan Saga. “Akan kubawakan beberapa camilan juga,” imbuhnya, yang langsung ditanggapi oleh anggukkan kepala Saga. Dia mendudukkan diri di sofa, melonggarkan dasinya lantas memandang langit-langit ruang tengah dengan tatapan kosong. Tiba-tiba saja Saga merasa kesal, mengingat perdebatannya dengan Disty di kantor yang berlangsung sangat sengit. Saga mendengus, Disty memang merepotkan, tapi kali ini amarah perempuan gila itu sudah keterlaluan. “Minumlah, ini pasti hari yang berat buatmu, makan juga camilannya.” “Bukan cuma berat, dia bahkan menghancurkan seluruh hariku. Kemarilah Jasmine, memelukmu mungkin akan membuatku merasa lebih baik.” Setelah meletakkan gelas dan mangkuk berisi camilan di meja, si empunya nama tertawa sembari menjatuhkan diri ke dalam pelukan Saga. Menepuk-nepuk lembut punggung Saga, membiarkan pria itu membenamkan wajah di lipatan lehernya. “Setiap memelukmu, aku jadi paham kenapa orang-orang ingin memiliki istri.” Saga menggumam, seraya mempererat pelukannya. Kini, menjalani kehidupan pernikahan bukanlah hal mustahil lagi bagi Saga. Empat tahun lalu, seorang wanita sudah berhasil membiusnya hanya dalam hitungan detik. Saga tidak pernah mengira bahwa kehidupan pernikahannya akan berjalan selancar ini. Ya, dia memang yakin saat menikahi wanita pilihan orang tuanya, akan tetapi Saga juga mempersiapkan diri untuk menghadapi sifat-sifat istrinya yang mungkin tidak dia sukai. Mengingat mereka menikah, tanpa diberi waktu untuk saling mengenal lebih dalam satu sama lain. Namun, sudah empat tahun lebih mereka tinggal bersama, belum ada kebiasaan Jasmine yang benar-benar mengganggu kehidupan Saga. “Kali ini masalahnya apa?” Jasmine membuka percakapan, seraya melepaskan diri, menatap Saga penuh kelembutan. “Masalah sepele, dia tidak mau mengakui kesalahannya. Dia itu perempuan egois yang gak mau kalah.” “Kesalahan apa memangnya yang dia perbuat, sampai kamu sekesal ini?” Saga memalingkan wajah, rona merah muda di pipinya menandakan dia merasa malu, “Dia itu tidak peka.” “Kamu memang manis Saga, jarang ada lelaki yang menunjukkan perasaannya sepertimu. Lekas ajak Disty berbaikan, aku yakin setelah bertengkar kalian akan semakin mesra.” “Apa gunanya mesra setiap hari kalau, aku tidak tahu apa yang dia rasakan padaku. Perempuan itu, kurasa hatinya terbuat dari batu.” “Ada beberapa hal yang perempuan tidak bisa ucapkan, yaitu pengakuan cinta dan rasa iri.” “Lalu bagaimana kami, para pria bisa mengetahui perasaan perempuan kalau dia gak bilang? Ingat aku ini manusia biasa, bukannya seorang cenayang atau ahli membaca pikiran.” Jasmine tidak menjawab, dia hanya tersenyum. Tangannya terulur mengelus pipi Saga, lantas berlalu begitu saja. Saga tahu bahwa percakapannya dengan Jasmine tidaklah normal. Bagaimana seorang suami mengeluh tentang wanita lain pada istrinya, akan tetapi Jasmine lebih tidak normal lagi. Dia bahkan mendukung suaminya untuk berbaikan dengan wanita yang seharusnya dia benci. “Jelaskan dulu, hey... Jasmine, kamu mau ke mana? Jangan main pergi gitu aja, jangan membuatku tambah kesal.” Di lihat dari segi mana pun, ekspresi serta caranya bicara menunjukkan betapa Saga sangat mencintai istrinya. Dia mungkin menjadi salah satu dari pria-pria paling beruntung di muka bumi. Berwajah cukup tampan, dengan finansial yang stabil, di tempat kerja pun dia termasuk senior yang dihargai. Secara garis besar hidup Saga bisa dikatakan mapan, keberuntungannya tidak berhenti sampai di situ saja. Dia juga menikahi wanita yang sangat pengertian, istri sederhana yang tidak pernah mengeluh apalagi sampai menuntut ini dan itu. Jasmine istrinya, selalu berada di garis paling depan untuk mendukung semua yang Saga lalukan. Dia nyaris tidak merasa kekurangan apa pun. Bagaimana Saga akan merasa kekurangan, kalau dia memiliki istri seperti Jasmine, yang selalu menjadi pendengar kala Saga butuh mencurahkan unek-uneknya. Jasmine juga memenuhi segala kebutuhan Saga, mulai dari bangun tidur hingga menjelang dia tidur kembali. “Kali ini aku tidak akan memaafkannya. Lihat saja, meskipun dia merangkak di kakiku, aku tidak akan menghiraukannya lagi.” “Kata-katamu barusan sudah sangat kasar, Saga. Perasaan cinta tidak akan lenyap semudah itu.” Entah Saga harus bersyukur atau marah. Jasmine memang selalu mendukungnya, bahkan dalam hal perselingkuhan pun Jasmine dukung. Saga mencintai istrinya, tapi wanita itu seolah-olah tidak pernah merasakan apa pun terhadapnya. Jasmine seperti robot yang disetel untuk selalu setuju dan patuh padanya. Dan Saga mulai muak melihat Jasmine bersikap seolah tidak pernah terluka, dia kesal karena Jasmine selalu tampil baik-baik saja di hadapannya. Satu kali saja, Saga ingin menjadi berguna untuk istrinya, dia ingin menjadi sandaran dikala Jasmine lelah ataupun sedih. Saga juga ingin menjadi seseorang yang berarti seperti halnya Jasmine begitu berarti bagi Saga. Dia benar-benar ingin menjadi orang pertama yang mendengar keluh kesah, hingga amarah Jasmine, Saga juga ingin mendukung segala keputusan dan impian istrinya. “Uh, kamu melamun?” Saga mengerjapkan matanya beberapa kali, coba menarik kembali fokusnya yang sempat mengangkasa. Menyuap nasi di piringnya, lalu menatap Jasmine yang mulai fokus menyantap makan malamnya. “Kita sudah bersama bertahun-tahun, tapi rasanya cuma aku yang jatuh cinta. Bukankah itu tidak adil?” Apa yang baru saja Saga ucapkan membuat Jasmine menghentikan makannya, lalu menatap Saga dengan mata meminta penjelasan. “Suap nasimu, jangan dibiarkan menggantung begitu!” Saga mengomel, detik berikutnya dia justru tersenyum melihat ekspresi Jasmine yang kebingungan, “Disty membuatku merasa seperti itu, bukankah tidak adil membiarkan hati seseorang harus terombang-ambing begitu?” “Mungkin Disty punya alasan, entah dia malu mengakui cintainya atau dia memang tidak mengerti bagaimana caranya menunjukkan perasaannya padamu. Jangankan kamu, aku pun yang sesama perempuan gak akan bisa benar-benar memahami perasaan satu sama lain. Kamu mau tambah makannya?” “Tentu saja, dalam keadaan seperti ini aku perlu makan banyak. Ah, iya, apa aku boleh tambah mangga muda dan jambu kristalnya juga?” “Bahkan setelah empat tahun tinggal bersama, aku masih belum terbiasa dengan selera makanmu yang unik.” “Sambal rujak dimakan pakai nasi hangat dengan lalap mangga muda atau jambu kristal, itu sesuatu yang mahal. Sesekali kamu harus mencobanya, rujak buah lebih enak dimakan sama nasi hangat.” Saga menyahuti, dia tidak terima selera makannya dikomentari, “Tunggu dulu, bukannya ini memang yang aku inginkan? Jasmine mengungkapkan pendapatnya.” Imbuhnya sebelum kembali fokus menyantap makanannya. Sedangkan si empunya nama sudah sibuk melakukan pekerjaan rumah. Awalnya Saga bingung kenapa Jasmine terlihat lebih sibuk darinya, padahal seharian hanya di rumah. Sampai akhirnya Saga merasakannya sendiri saat Jasmine sakit selama tiga hari dan harus istirahat total kurang lebih sepekan lamanya, mengerjakan pekerjaan rumah jauh lebih merepotkan daripada pekerjaannya di kantor. Dan menjadi sangat melelahkan saat harus mengurus seseorang juga. Maka dari itu, Saga biasanya menarik Jasmine ke ruang TV, setiap kali mereka selesai makan malam. Sesekali mengobrol sambil menyaksikan drama Korea favorit keduanya. Tak jarang mereka hanyut dalam percakapan yang sangat seru, saat membicarakan alur hingga kualitas akting pemerannya. Meski begitu Jasmine tidak pernah lupa menyiapkan buah-buahan untuk menjadi camilan malam mereka. Saat Jasmine ketiduran, barulah Saga bergerak melakukan pekerjaan rumah yang belum sempat Jasmine selesaikan, seperti mencuci piring kadang-kadang mengangkat pakaian yang sudah kering lalu menyetrikanya. Karena saat Jasmine terjaga, wanita keras kepala itu pasti tidak bisa berhenti sebelum memastikan seisi rumah dalam keadaan rapi. Saga tidak bisa memahami, kenapa sampai ada peraturan tidak tertulis di dalam masyarakat bahwa seorang istri atau wanita harus melakukan semua pekerjaan merepotkan ini, mereka dituntut untuk bisa segala hal bahkan sejak usia dini. Seolah perempuan dilahirkan hanya untuk melayani laki-laki. Sampai para perempuan merasa hal seperti itu adalah kewajiban yang harus mereka tanggung selama mereka hidup. Sayangnya laki-laki, bahkan dirinya yang dulu juga mengira istrinya hanya berleha-leha saja di rumah, menganggap pekerjaan rumah adalah tugas perempuan, sedangkan tugas laki-laki hanyalah mencari uang. Saga benar-benar merasa tidak nyaman mengetahui fakta bahwa dirinya pernah menganggap pekerjaan rumah tangga adalah hal ringan, lalu mengkritik Jasmine yang selalu tampak sibuk sampai kadang lupa berhias. Meski tidak Saga ucapkan secara langsung, dia tetap merasa malu sudah berpikiran sesempit itu. Jadi sebisa mungkin, Saga berusaha mematahkan dogma yang sudah terlanjur mendarah daging di kalangan masyarakat. Dia tidak mau, kelak anak gadisnya harus melakukan semua pekerjaan rumah tanpa memikirkan kebahagiaan dan kesehatan mentalnya. “Ah, maaf aku ketiduran.” Saga menoleh mendengar suara Jasmine, istrinya itu tampak masih sempoyongan karena memaksakan diri untuk lekas terjaga sepenuhnya. “Tidur saja lagi, aku malah senang kamu ketiduran begitu,” sahut Saga diselingi tawa ringan. “Gak bisa begitu, itu kan tugasku, masa kamu yang kerjakan. Biar aku saja yang lanjutkan, ya? Kamu pasti capek udah kerja seharian. Sekarang malah harus mencuci piring juga, mau ditaruh di mana wajahku kalo Mama sampai tahu anak semata wayangnya mencuci piring, sedangkan istrinya justru santai-santai.” “Mama bakal mengamuk kalo tahu aku memperlakukan menantu kesayangannya, seperti asisten rumah tangga. Jadi, jangan bawel. Tidur lagi sana!” “Saga,” “Apa lagi?” Saga menyahuti sambil mematikan keran, berbalik arah lalu melepaskan sarung tangan karet dan meletakkannya di tempat semula. “Aku sudah selesai Jasmine. Enggak ada yang bisa kamu kerjakan lagi, sekarang mari kita tidur.” Imbuhnya seraya meraih bahu Jasmine lalu mendorongnya pelan keluar dari dapur. Saat ini, Saga hanya ingin melihat istrinya itu kembali tidur di pelukannya. Tapi, belum sempat Saga membaringkan tubuhnya di sisi Jasmine, dering ponselnya menandakan panggilan masuk, membuatnya harus menunda keinginannya. “Ya, Disty.” Saga tampak serius saat menjawab si penelepon, dia menoleh ke arah Jasmine lalu melihat jam yang diletakkan di nakas sisi istrinya. “Baiklah, aku akan tiba dalam satu jam.” Dia mengakhiri panggilan, setelah terdiam beberapa saat. Menatap Jasmine yang juga menatapnya, “Apa terjadi sesuatu pada Disty?” Saga mengangguk, ekspresinya berubah jadi sangat serius, “Aku harus pergi.” Ucapnya seraya bergegas mengganti pakaian, Saga tidak pernah menunggu persetujuan Jasmine. Istrinya itu senantiasa akan selalu mengizinkannya, entah dalam hal apa pun.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook