“Jasmine, ini Mama bawakan teh herbal bagus untuk kesehatan, tapi ini cuma untuk kamu saja, Saga gak perlu dikasih. Mengerti?”
Si empunya nama hanya bisa tersenyum mendengar mertuanya berceloteh, lagi-lagi dia membawakan minuman herbal. Tujuannya hanya satu, yaitu secepatnya mendapatkan seorang cucu. Bukan Jasmine tidak menuruti keinginan dari orangtua suaminya, akan tetapi sampai saat ini Saga belum mengatakan bahwa dirinya menginginkan seorang anak. Sejak awal bertemu cuma satu pinta pria itu, yaitu sebelum dirinya meminta seorang anak, Jasmine tidak boleh menghentikan kontrasepsinya. Dan Jasmine tidak bisa semena-mena melanggar perjanjian yang mereka sepakati sebelum pernikahan. Sebenarnya hal ini juga sedikit mengganjal di hatinya, apa alasan Saga tidak mau membahas tentang memiliki anak. Katanya pernikahan tidak akan lengkap tanpa kehadiran seorang anak. Saga selalu berusaha untuk membuat pernikahan mereka sempurna, terlepas dari perselingkuhannya dengan Disty. Saga sebenarnya seseorang yang sangat kompeten dalam segala hal, dia tidak pernah melepaskan genggamannya dari Jasmine meskipun pria itu memiliki kekasih yang sangat dicintainya. Tentu bukan sebuah masalah jika dia menginginkan seorang anak dari Jasmine, toh mereka juga melakukan keintiman selayaknya pasangan suami-istri. Kenapa tidak sekalian saja memiliki anak?
“Kamu pastikan meminumnya, jangan sampai tidak. Oh, iya apa Saga memperlakukanmu dengan baik? Akhir-akhir ini, Mama perhatikan anak itu selalu saja marah-marah setiap mampir ke rumah. Mama khawatir dia menyakitimu.”
“Mama tenang saja, Saga sangat baik padaku. Kemarin bahkan dia ngotot ingin masak makan malam untuk kami, dia tidak berubah sedikit pun sejak awal bertemu hingga sekarang, Saga tetap pria yang berhati lembut.”
“Percuma saja berhati lembut, kalau mamanya meminta satu cucu saja dia sudah mendumal seperti janda penggosip. Katanya dia masih ingin seperti pengantin baru denganmu, merepotkanlah, bagaimana seorang anak bisa jadi pengganggu bagi orangtuanya. Dia itu seperti Papanya, bicara tidak mau punya anak, tapi saat tahu Mama hamil, Papamu itu tidak mau beranjak dari rumah. Dia menginginkannya meskipun berkata tidak, jadi Jasmine lebih baik kamu mulai menghentikan kontrasepsimu.”
Jasmine hanya melamunkan ucapan mertuanya seharian ini, matanya tampak bimbang, berkali-kali pula dia menghela napas panjang menandakan betapa berat masalah yang menimpa pundaknya. Jasmine sebenarnya tidak mempermasalahkan jika Saga tidak mau punya anak, itu terasa lebih bagus baginya karena sejujurnya Jasmine belum benar-benar yakin dia telah pulih dari luka lamanya. Akan tetapi, dia juga tidak bisa terus-menerus membohongi mertuanya.
“Ah, aku harus bagaimana?” dia mendesah seirama dengan embusan napas panjang, lagi-lagi Jasmine hanya bisa menghela napas tanpa mendapatkan satu jawaban pun.
Bagi Saga dan Jasmine, dijadikan bahan gosip tetangga dan keluarga bukanlah masalah besar. Kata-kata menyakitkan mereka hanya masuk telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Tidak ada yang membekas hingga membuat Jasmine sakit hati, toh yang mereka gosipkan tidak semuanya gosip semata. Kalaupun dia terluka, Jasmine bisa mengatasinya dan dia yakin Saga pasti jauh lebih andal dalam menangani hal seperti ini. Namun, tidak demikian dengan orangtuanya. Baik orangtua Jasmine maupun Saga, mereka pasti akan memikirkan gosip-gosip miring tentang dirinya yang tak kunjung hamil. Bahkan setiap kali Jasmine pulang ke rumah, mamanya pasti menangis menceritakan semua yang orang katakan tentang pernikahan Jasmine.
Bukan hal baru, meskipun sudah sering mendengar cemooh berkedok cuma tanya. Tetap saja bagi orangtua, mendengar pertanyaan, “Anakmu kok belum hamil juga? Lihat anakku, nikah setahun sekarang udah hamil. Nikah udah lama, kok belum juga dikaruniai keturunan. Jangan-jangan, menantumu mandul.” Seperti itu sama halnya mereka dipaksa menyaksikan anaknya ditelanjangi di depan umum.
Mereka pasti tidak akan sanggup menahan penghinaan seperti ini lebih lama lagi, makanya orangtua Jasmine dan Saga berlomba-lomba memberikan obat herbal ataupun membujuk anaknya supaya melakukan program kehamilan.
“Papa yakin, Jasmine juga menginginkan seorang anak, apa kamu gak kasihan dia sendirian terus di rumah. Kamu harus memeriksakan kesehatanmu, terakhir kali Mamamu memeriksakan kesehatan Jasmine, tidak ada masalah dengan kesehatannya. Aish, mau sampai kapan kamu membuat putriku tidak bisa merasakan jadi seorang ibu.”
“Papa berhentilah bersikap kolot. Kami akan punya anak, tapi gak sekarang.”
“Ada batas seorang wanita bisa hamil Saga. Kamu harusnya memahami itu, lihatlah usia Jasmine sekarang. Putriku yang malang. Kenapa harus menikahi lelaki lembek seperti orang di hadapanku ini.”
“Berhenti memanggilnya putriku. Apa Papa lupa, dulu kau pernah berdebat dengan Mama perihal siapa wanita yang cocok kunikahi. Dan pilihanmu dulu itu Disty, kenapa tiba-tiba Jasmine menjadi putrimu, eh? Kalau aku jadi Papa, aku bakal malu setengah mati.”
“Cikh, si Kunyuk satu ini! Kenapa ungkit-ungkit masa lalu, mau bagaimanapun setelah kau nikahi, Jasmine sudah menjadi putriku.”
“Gak bisa dipercaya,” Saga menggumam diiringi tawa, “Bagaimana kalau aku menikahi Disty lalu punya anak dengannya?”
“Kurang ajar! Bicara apa kamu barusan?! Lebih baik aku tidak punya cucu kalau harus didapatkan dari perselingkuhan.”
“Aku kan berniat menikahinya, itu berarti anak sah kami. Apanya yang perselingkuhan?” bibir Saga semakin tertarik ke atas, melihat bola mata papanya nyaris melompat keluar mendengar ucapannya. Benar-benar hal yang sangat menyenangkan.
“SAGA!!!”
Baiklah cukup. Jika dilanjutkan bisa-bisa Saga pulang dalam keadaan babak-belur. Terakhir kali dia mengejek Jasmine, berakhir dengan tragis. Saga harus merelakan hidungnya patah setelah dihantam tinju papanya sendiri. Meledek pria yang sudah mendidiknya sampai bisa berdiri di posisi ini memang sangat seru, tapi Saga belum siap masuk rumah sakit untuk yang ke sekian kalinya.
“Papa benar-benar mencintai istriku, ya... Syukurlah, kupikir selama ini papa cuma berpura-pura menyayangi Jasmine hanya untuk menyenangkan hati Mama.”
“Anak bodoh, papa ini punya harga diri. Gak mungkin papa melakukan hal rendahan seperti itu. Jasmine itu menantu yang baik, dia tidak pernah mengecewakan kita, apa papa bisa bersikap egois begitu cuma karena kamu lebih memilih menikahi Jasmine ketimbang wanita pilihan papa.”
“Kalau begitu, aku harus kembali ke kantor, jam makan siang sudah selesai. Sekarang anakmu ini mencari nafkah dulu, weekend nanti aku akan ke rumah bersama Jasmine. Doakan saja, kami berubah pikiran dan ingin memiliki seorang anak.” Ucap Saga seraya bangkit dari kursinya, sekali lagi menatap arloji di pergelangan kanannya untuk memastikan bahwa dirinya benar-benar harus kembali ke kantor, sebelum atasan menemukan mejanya kosong dengan pekerjaan yang belum terselesaikan.
Langkah Saga terasa ringan mengingat betapa manis senyum di wajah senja papa, setelah mendengarnya akan mempertimbangkan untuk melakukan program kehamilan. Inilah yang sudah ditunggu-tunggu keluarganya hampir tiga tahun terakhir, wajar kalau papanya sampai terlihat sebahagia itu. Tapi, ada satu lagi keraguan dalam hatinya. Apa Jasmine akan setuju dengan keputusannya? Meski saat sebelum menikah mereka sudah sepakat tidak akan menanyakan masa lalu masing-masing, Saga tetap mencari tahu masa lalu yang coba Jasmine tutupi. Dan setelah dia mengetahuinya, apa Saga masih bisa mengatakan keinginannya untuk memiliki buah hati, Saga tidak yakin istrinya itu sudah benar-benar sembuh.
“Oi, Saga!”
Si empunya nama menoleh, baru saja dia tiba di lobi, seseorang sudah meneriakkan namanya. Mengamati pria yang kini berjalan mendekatinya sambil memamerkan senyum semringah. Dia benar-benar tidak ingat siapa pria yang kini merangkulnya seperti teman yang begitu akrab.
“Wah, gak nyangka bisa ketemu kamu di sini. Bagaimana kabarmu?”
“Seperti yang kamu lihat, kabarku baik,” Saga menyahuti sambil mengingat-ingat siapa gerangan pria itu.
Bagaimana pun Saga coba mengingat, dia tetap tidak bisa mengenali lawan bicaranya, “Tapi, kamu ini siapa? Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Maaf, aku benar-benar tidak bisa mengingatmu.”
Pria itu menunjuk dirinya sendiri, lalu menyebutkan namanya, “Luki,” sambil tertawa ringan, “kita pernah jadi teman sebangku waktu SMP dulu. Wah, bagaimana kamu bisa melupakan temanmu sendiri.”
“Maaf, itu sudah berlalu sangat lama.”
“Ah, ya, kau benar.” Luki menyahuti setengah menggumam, meskipun dia tertawa untuk sesaat wajahnya tampak kecewa.
“Omong-omong kudengar, kamu sudah menikah, ya? Meskipun dijodohkan, kabarnya kalian sangat harmonis. Beruntungnya kamu. Aku juga dengar kau tinggal di dekat sini, apa itu benar?”
“Dia jelas bocah itu.” Saga menggumam nyaris tak terdengar, kemudian dia tersenyum lantas menjawab pertanyaan Luki, “Kau banyak mendengar cerita tentang orang lain, ya.”
“Well, aku memang sudah menikah sekitar empat tahun lalu. Sebenarnya aku masih merasa malu karena tidak bisa mengenalimu. Pasti kau sudah banyak berubah sejak terakhir kali bertemu. Jika benar yang kamu katakan kita ini teman sebangku, berarti kita memang sedekat itu. Omong-omong ke mana saja kamu selama ini?”
“Panjang ceritanya, yang pasti aku sedang mencari pacarku, dengar-dengar dia pindah ke kota ini. Makanya aku balik lagi ke sini, setelah sekian lama.”
“Sepertinya kau begitu mencintai pacarmu itu.” Saga tersenyum miring, sembari menepuk bahu Luki, “kalau sudah menemukannya, mainlah ke rumahku. Ah, omong-omong aku harus segera masuk, jam makan siangku sudah habis. Lain kali kita mengobrol lagi.”
“Berikan nomor teleponmu, saat kutemukan dia, kau orang pertama yang akan kuhubungi.”
Tidak banyak basa-basi lagi, Saga langsung pergi setelah meninggalkan kartu namanya. Sejak dulu, Saga selalu merasa sudut pandang Luki itu aneh. Sebagai seorang pria, mulutnya terlalu sering menganga. Dia sengaja berpura-pura tidak mengingat Luki meskipun Saga sudah mengingat segalanya. Mungkin untuk sekarang, inilah yang terbaik. Entah kenapa perasaannya melarang Saga untuk terlalu dekat dengan pria itu.
“Ah, sialan!”
“Apa yang sialan, pak Sandi?”
“B-bos..., ah, anu, bukan apa-apa Bos.”
“Tidak perlu merasa tidak enak, saya juga sering memaki. Itu manusiawi, pak Sandi.”
“Ah, bukan begitu Bos, saya seharusnya lebih menjaga lisan selama berada di kantor. Maafkan saya.”
Wajahnya merah padam menahan malu, bagaimana Saga tidak menyadari kehadiran bos-nya. Lagi pula biasanya dia tidak akan mengumpat bahasa kasar di sembarang tempat. Pertemuannya dengan Luki, benar-benar membuat Saga merasa tidak nyaman. Dari caranya bicara saja, Saga yakin kalau perangai Luki sejak SMP hingga sekarang tidak ada perubahan.
“Perihal kesepakatan yang perusahaan kita menangkan terakhir kali, kerja timmu sangat bagus.”
“Terima kasih, Bos.” Saga menyahuti setengah membungkukkan tubuhnya, tak berselang lama pintu lift terbuka, Saga mempersilahkan bosnya masuk terlebih dahulu disusul dengan dirinya.
“Apa kamu sudah memikirkan tawaran yang saya berikan? Saya rasa bakatmu akan terbuang sia-sia jika terus berada di posisi sekarang. Jadilah General Manager perusahaan ini, mengingat kau bahkan bekerja sejak perusahaan ini masih dipegang oleh Papa saya. Bantu saya mengembangkan perusahaan.”
“Posisi itu, apa saya mampu mengemban tugas besar sebagai GM, Bos tentu bisa memilih yang lebih mumpuni dibandingkan dengan saya.”
“Saya tidak pernah salah menilai kemampuan seseorang. Sebagai seorang yang baru dua tahun memimpin perusahaan ini, saya butuh seseorang yang berpengalaman dan bisa dipercaya. Saya beri waktu hingga akhir pekan, jika kamu bersedia datanglah ke kantor saya.”
Hanya satu tujuan Saga, yaitu secepatnya tiba di rumah. Dia butuh saran dari Jasmine, jika istrinya berkata dia mampu maka tidak ada keraguan lagi dalam dirinya. Mungkin ini imbalan yang setimpal atas kerja kerasnya hampir dua puluh tahun, Saga tidak tiba-tiba saja menjadi manager seperti sekarang. Dia benar-benar merangkak setapak demi setapak untuk mencapai posisi ini. Sejak lulus kuliah dia langsung diterima bekerja di perusahaan ini, dan itu bertahan hingga sekarang. Saga meletakkan jasnya di sandaran kursi, melonggarkan dasinya sambil memandangi gedung-gedung pencakar langit yang berjajar rapi sepanjang matanya memandang. Perasaannya campur aduk. Dia tertawa, Saga harus mulai bercerita dari mana dulu pada Jasmine. Perihal niatnya ingin memiliki seorang anak atau mengenai pekerjaannya terlebih dahulu? Saga benar-benar tidak sabar untuk segera membagi segala yang dialaminya hari ini, dia jadi semakin merindukan pelukan istrinya. Sudah empat tahun berlalu, tapi Saga masih merasa seperti pengantin baru yang kegirangan setiap kali jam kerjanya selesai.