Bab 3 : Artiku

1762 Kata
Cinta membara itu seperti permainan jungkat-jungkit, yang tidak pernah bisa sejajar. Selalu ada yang lebih tinggi atau lebih rendah dari yang lainnya, dan saat permainan menjadi seimbang, itu bukan lagi cinta yang menantang. Faktanya, cinta seperti itu selalu membutuhkan sesuatu untuk dikorbankan dan diperjuangkan. Jika kedua hal ini tak lagi ada, maka cepat atau lambat. Salah satu dari pemain jungkat-jungkit cinta ini akan turun dan mengakhirinya. “Apa yang kamu ragukan lagi, sih? Cepat kamu terima tawaran si Bos, toh kamu memang pantas untuk posisi itu. Mengingat sudah belasan tahun kamu mengabdikan diri di perusahaan, sekarang tiba saatnya kamu bersinar. Dan sepertinya, Bos baru kita ini benar-benar menyukai cara kerjamu.” Disty melipat tangannya di perut, handuk sebatas lutut yang melilit tubuh polosnya tampak sedikit basah begitu pula dengan rambut pirangnya yang dia sanggul asal, jelas menunjukkan bahwa dirinya baru saja selesai mandi. Dibandingkan dengan Jasmine, ah tidak. Jika dibandingkan dengan wanita-wanita di kantor, Disty jelas yang paling cantik dan menawan. Tak hanya cantik dan memiliki tubuh bak gitar Spanyol, Disty jelas seseorang yang andal dalam pekerjaannya. Sepanjang perjalanan kariernya, tidak pernah satu kali pun dia mengecewakan atasannya. Itu membuat Disty menjadi sekretaris yang paling dihormati oleh karyawan lain. Wanita itu kini berjongkok di hadapan Saga. Matanya menyalang, persis seperti seekor elang yang mengincar mangsa, saat mendapati Saga hanya duduk diam di tepian kasurnya dengan wajah bimbang. Disty tahu, saat ini Saga belum juga memutuskan, padahal jelas-jelas ini adalah kesempatan yang sangat bagus untuk karier Saga ke depannya. Pria itu terlalu mencintai istrinya yang gila. Bagaimana seorang wanita bisa berlaku sekejam ini terhadap suaminya. Jasmine perempuan gila itu, jelas tidak mencintai Saga, tapi dia terus-menerus bersikap seolah hubungan mereka begitu harmonis. Kegilaannya tak hanya itu, berulang kali pula Jasmine mengatakan pada Disty bahwa dirinya dan Saga tidak ada apa-apa, semua itu semata-mata untuk meyakinkan Disty agar terus berhubungan dengan suaminya. Hal yang tidak mungkin wanita normal lakukan. Mendukung perselingkuhan dan mengizinkan suaminya berpoligami, jelas adalah hal gila yang tidak akan pernah Disty lakukan jika ia kelak menikah. “Kesempatan seperti ini tidak akan terulang kembali. Sebaiknya kamu lekas menerima tawaran itu,” usulnya seraya menggenggam jemari Saga. “Aku akan tanya pendapat Jasmine.” Disty mendengus, “Istrimu itu tidak tahu apa-apa tentang dunia kerja. Pendapatnya tentu tidak bisa dijadikan tolak ukur. Lagi pula kalau kalian benar-benar saling mencintai, untuk apa kamu selalu datang ke rumahku? Tentunya dia tidak akan membiarkan kamu datang ke sini kalau si Jasmine itu benar-benar mencintai kamu, Saga. Dia tidak akan pernah merestuimu untuk menikahi aku. Hubungan kacau seperti ini saja kamu masih pertahankan, cih?! Lebih baik, dengar usulku. Lekas terima tawaran Bos dan isi jabatan general manager di perusahaan kita. Toh, selama kamu memberi istrimu makan, dia akan tetap patuh seperti seekor anak anjing kepada tuannya.” Saga bungkam. Ucapan Disty sudah kelewat batas, tapi Saga tidak bisa membalas ucapannya. Menyedihkan, karena semua yang Disty katakan memang benar adanya. Dia mencintai Jasmine, tapi hubungannya dengan Disty tidak bisa terputus begitu saja setelah Saga menikah, toh selama ini Jasmine santai-santai saja. Istrinya itu jelas merestui hubungan mereka, dan hal itu pula yang membuat Saga nyaris gila. “Aku muak, ya cuma kamu jadikan bahan untuk membuatnya cemburu.” Kali ini Disty berkecak pinggang di hadapan Saga, “Jangan bersikap selayaknya seorang suami di hadapanku deh, dia bahkan tidak sedikit pun memiliki perasaan terhadapmu, Saga.” “Jasmine tidak pernah mencintaimu. Buktinya aku. Kalau saja dulu saat pertama kali aku ke rumah kalian, dia tidak menyambutku selayaknya seorang tamu istimewa. Aku tidak akan berkata kejam begini tentangnya. Kalau saja istrimu itu meninggalkan bekas tamparan keras di wajahku, atau menjambak rambutku. Minimal, dia akan menangis mempertanyakan mengapa kamu berselingkuh denganku, ya meskipun jawabannya tentu saja karena aku sepuluh kali lebih baik dan cantik dibandingkan dirinya. Tentu kamu tidak akan pernah berada dalam kegalauan berkepanjangan seperti sekarang ini.” Semua yang Disty katakan benar. Jika Jasmine mencintainya, wanita itu akan marah melihat Saga membawa pulang perempuan lain. Dia tidak akan sudi diperlakukan seperti pesuruh di rumahnya sendiri. Tapi, Jasmine berbeda. Dia begitu mendukung hubungan Saga dengan Disty, meskipun sikap Disty tidak pernah baik terhadapnya. “Uh, kamu sudah pulang,” suara sambutan yang sangat familier di telinga Saga, matanya menangkap sosok Jasmine berjalan mendekatinya. Ya, seperti biasanya. Istrinya itu tampak cantik dengan seulas senyum semringah, matanya juga berbinar saat menghampirinya. Persis seperti mata seekor anak anjing yang patuh pada tuannya, begitulah Disty menilai Jasmine. Hal yang membuat Saga murka, ialah ketika dia mulai merasa ucapan Disty itu benar. “Mau kubuatkan sesuatu? Sepertinya hari ini pun kamu terlihat tidak begitu baik.” “Umhh...,” Saga bergumam sambil mengangguk, “Jasmine, apa ada sesuatu yang kamu inginkan?” Si empunya nama tertawa, “Kenapa tiba-tiba?” tanyanya lalu tersenyum, anehnya senyuman itu kini terasa seperti ejekan di mata Saga, “Coba biar kuingat-ingat, ummhh..., sepertinya aku gak lagi membutuhkan sesuatu.” Entah sejak kapan Saga terpengaruh oleh ucapan pedas Disty. Sepertinya kebencian wanita itu bisa menular, layaknya virus berbahaya. Saga harus apa? Dia ingin mengabaikan ucapan Disty, akan tetapi dia juga merasa yang Disty katakan benar adanya. Jasmine tidak pernah memiliki perasaan lebih terhadapnya dan itu tidak adil buat Saga. Kenapa dia harus merasakan cinta sepihak seperti ini? “Aku bilang, yang kamu inginkan. Bukan yang kamu butuhkan, Jasmine!” “Aku gak ingin apa-apa darimu. Seperti ini saja sudah cukup. Bukankah sudah kukatakan sejak awal, aku menikah denganmu bukan untuk mendapatkan segala yang kuinginkan. Aku menikahimu karena kamu bilang akan mencukupi kebutuhan hidupku. Dan, ya, kamu menepati janjimu. Bagiku itu sudah lebih dari cukup Saga, dan aku, benar-benar berterima kasih.” “Seperti itu saja, maumu? Kamu sadar, hubungan ini mulai terasa membosankan Jasmine. Kalau cuma aku yang terus meminta darimu, apa kita masih dianggap pasangan menikah? Jangan membuatku tambah muak dengan sikapmu yang terus berlagak polos! Itu membuatku jijik.” “Mintalah sesuatu padaku,” tuturnya lagi, “sekali-kali kritik saja keputusanku. Kamu boleh menentang bahkan mengataiku payah. Bisakah kamu lakukan itu?” imbuh Saga seraya berjalan ke arah lemari tepat pigura-pigura berjejer rapi, sebagai pengingat kenangan manis yang sudah mereka lalui selama ini. Tawa Saga pecah seirama dengan sebuah pigura yang hancur membentur lantai. Pria itu baru saja melemparkan bingkai berisi foto pernikahannya dengan Jasmine, lantas menatap istrinya lekat-lekat. “Jawabannya tentu saja tidak bisa, kan? Cih, sudah kuduga.” Saga berucap lirih, dan siapa pun yang mendengarnya pasti bisa menangkap nada terluka dengan sangat mudah, termasuk Jasmine. “Kamu kenapa sih, Ga? Kenapa tiba-tiba jadi begini, aku tahu kamu lagi capek dan mungkin ada masalah, tapi ucapanmu barusan sudah kelewatan. Lebih baik ceritakan semua masalahmu itu padaku. Aku mungkin tidak bisa memberimu solusi, akan tetapi kamu bisa mencurahkan segalanya seperti yang biasa kamu lakukan.” Jasmine mendekat masih mengenakan celemek bermotif bunga aster di tubuhnya. Dia tidak sempat melepaskan benda itu, saat tadi dia tergesa-gesa menyambut kedatangan Saga. “Kemarilah, peluk aku sampai kamu merasa baikkan.” Tangannya terulur, guna membelai lembut pipi Saga, dalam sekejap membuat suaminya itu luluh. Jasmine benar-benar memiliki magis yang tidak bisa Saga tolak. Semua yang ada di diri Jasmine adalah candu, bagaimana Saga bisa menghadapi wanita licik ini, jika hati dan raganya langsung bertekuk lutut di hadapan seorang Jasmine. Mata sayu berhiaskan eyeliner sederhana itu lebih memikat jika dipandang dalam jarak sedekat ini, bibirnya yang berlapis lipstik berwarna pink alami membuat Jasmine tampak manis. Saga meneguk salivanya sendiri, terlihat jelas jakun di lehernya bergerak naik-turun, dengan pandangan hanya fokus ke bibir istrinya. “Aku mungkin bukanlah kekuatan buatmu Saga, tapi aku berusaha agar tidak menjadi kelemahanmu. Jadi, kumohon jangan bersikap seperti tadi, kamu benar-benar membuatku merasa tidak berguna.” Pelukan hangat yang selalu membuat pacu jantung Saga seperti genderang perang, tapi juga memiliki kekuatan untuk menenangkan pikirannya. Setelah puluhan tahun dia hidup, hanya pada Jasmine saja tubuhnya bisa bereaksi seperti ini. Saga tidak menjawab, dia bahkan nyaris tidak memerhatikan ucapan istrinya itu. Kepala Saga rasanya penuh dengan beragam hal karena mendengar dan memikirkan ucapan Disty. Dia sebenarnya berniat untuk jual mahal di hadapan Jasmine, akan tetapi tubuhnya langsung balas memeluk saat istrinya itu mendekapnya penuh kelembutan. Saga yakin dirinya sudah jadi salah satu dari orang-orang yang bucin dalam dunia percintaan. Menyingkirkan harga diri demi mendapatkan lebih banyak lagi perhatian dari orang terkasih. Jika saja teman-temannya tahu bahwa Saga menjadi seorang bucin akut seperti ini, dirinya akan jadi bahan tertawaan seumur hidup. Saga mendesah, memejamkan matanya rapat-rapat. Sesaat dia mengeratkan pelukannya, Saga ingin menyesap aroma manis Jasmine. Memenuhi seluruh rongga dalam paru-parunya, menyimpan aroma khas istrinya itu sebanyak mungkin. Karena saat dekapan ini berakhir, Saga tidak tahu apa yang akan dia putuskan ke depannya. Saga terlalu takut menerima kenyataan bahwa Jasmine tidak pernah mencintainya. “Maaf sudah berbuat kasar di hadapanmu. Jangan menungguku makan malam, tadi aku sudah makan di tempat Disty.” Saga berucap seraya, melepaskan dekapannya lantas beranjak menuju kamar. Dia merasa tidak ingin lagi menjalani pernikahan tanpa cinta, Saga ingin bisa menyentuh hati istrinya itu lalu memulai segalanya dari awal. Tampaknya memang benar. Memulai sesuatu yang terlambat jauh lebih sulit, karena segala yang dia harapkan tampak semakin tidak mungkin diwujudkan. Saga menghentikan langkahnya, berbalik menatap Jasmine yang tampak tenggelam dalam pikirannya, “Oh, iya. Jasmine?” Si empunya nama mengangkat pandangannya, dia sadar ada yang tidak beres dengan sikap Saga akhir-akhir ini. Dan itu semua berawal saat Saga bercerita mengenai pertengkarannya dengan Disty. Seharusnya Jasmine lebih perhatian malam itu, mungkin Saga tidak akan jadi sekacau sekarang. “Iya?” dia menyahuti, “kenapa, Ga?” “Aku akan bertanya lagi padamu, dan jawaban itu menentukan arah yang akan kita tempuh ke depannya.” “Apa di matamu, aku ini cuma lelucon? Saat bersamaku, kamu terus saja tersenyum seperti itu. Kau tahu? Semakin lama aku melihat, senyuman yang kau pamerkan itu, terasa seperti kamu sedang mengejek ketidakmampuanku untuk memenuhi segala kebutuhanmu.” “Saga,” Jasmine berucap lirih, “aku tidak pernah berpikir untuk mengejekmu. Aku justru ber—,” “Apa artiku buatmu, Jasmine. Siapa aku, buatmu?!” suara Saga menggema di seluruh ruangan, tinjunya terkepal menahan emosi yang nyaris meledak untuk ke sekian kalinya, “Kau anggap aku ini apa?” tanyanya lagi, kali ini suaranya terdengar tertahan. Saga tidak tahu kenapa dia jadi begitu marah. Padahal saat berangkat ke kantor pagi tadi, semua baik-baik saja. Bahkan setelah bertemu papanya, Saga benar-benar merasa semuanya akan berjalan lancar. Dia akan menyatakan niatnya untuk memiliki seorang anak, dan kalaupun Jasmine menolak, Saga pasti akan menunggu sampai wanitanya itu siap. Tapi, kenapa sekarang dia justru meledak-ledak seperti orang hilang akal begini? “Tentu saja kamu itu suamiku, Saga.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN