Setiap orang memiliki rahasia. Terkadang kita hanya melihat dari satu sisi saja. Padahal, yang terlihat tenang bukan berarti tidak memiliki masalah, dan yang menangis tidak melulu lemah. Semua orang punya caranya masing-masing untuk menyikapi segala hal yang mereka temui dalam hidup. Jasmine memandang langit-langit kamar, sedangkan pikirannya mengelana entah ke mana. Helaan napasnya yang teratur, persis seperti seseorang yang terlelap. Namun, dia jelas tidak mungkin tertidur. Jasmine tidak bisa tidur dengan pulas meski dia sangat menginginkannya. Rahasia yang tidak ingin dia ungkit sudah cukup membuatnya terjaga hampir di setiap malam, akan tetapi itu saja seolah tidak cukup untuk membuatnya menderita. Tuhan lantas menciptakan persoalan baru. Sesuatu yang semula tidak pernah menjadi masalah bagi pernikahannya, mendadak jadi topik utama dalam pertengkaran yang terjadi belakangan ini.
"Apa artiku buatmu, Jasmine?" ucapan Saga beberapa waktu lalu kembali mendengung di telinganya.
Bagi Jasmine, Saga adalah suami yang sempurna. Pria itu selalu memenuhi segala kebutuhannya, mulai dari makan hingga hal-hal sepele sekalipun, Saga bahkan tidak ragu membantunya mengerjakan pekerjaan rumah, dia juga tidak pernah malu memperkenalkan Jasmine kepada teman-temannya. Saga adalah sosok bertanggungjawab yang akan selamanya Jasmine syukuri kehadirannya. Tapi, tidak bisa Jasmine pungkiri bahwa dirinya menikah dengan Saga, hanyalah sebatas hubungan tanpa cinta. Semua yang Saga berikan dan apa yang dia kembalikan pada pria itu, tak lebih dan tidak kurang dari apa yang pernah mereka sepakati sebelumnya.
“Kau anggap aku ini apa, Jasmine?”
Maka dengan lantang Jasmine menjawab kalau Saga adalah suaminya. Pria yang sepakat menikahinya meskipun Jasmine sudah berkata sejujur mungkin kalau dia menyetujui perjodohan hanya untuk mencari seseorang yang bisa menggantikan tugas orangtuanya. Sejak awal Saga sudah tahu, lantas kenapa sekarang pria itu menjadi kalang kabut begini?
“Apa selama ini kamu merasa cemburu, setiap kali aku menghabiskan waktu bersama Disty?”
Haruskah dia jujur, atau membohongi Saga? Jika ia berkata jujur, Jasmine yakin pria itu akan semakin mengamuk, akan tetapi Jasmine tidak mau membohongi seseorang yang sudah begitu baik padanya.
“Cemburu hanya untuk seseorang yang saling mencintai, Saga. Dan kita, tidak pernah sampai pada titik itu. Kita tidak pernah sepakat untuk saling jatuh cinta.”
Bayaran untuk jawaban jujurnya itu adalah kepergian suaminya. Sudah hampir sebulan Saga tidak kembali ke rumah, bahkan saat Jasmine mencarinya ke kantor Saga tidak mau menemuinya dengan alasan sibuk, atau sedang pergi menemui klien. Dia butuh penjelasan dari pria itu, jika Jasmine membuatnya marah, maka dia akan berusaha untuk menebus kesalahannya.
“Lantas semua yang kita lakukan selama ini apa, Jasmine. Apa nama dari kebersamaan kita kalau itu bukanlah cinta?”
Jasmine menyerah. Dia tidak tahu, itulah jawabannya. Saat di dekat Saga, memeluknya, melayani segala kebutuhan pria itu, Jasmine merasa tenang. Dia tidak membutuhkan apa pun lagi selain melakukan kegiatannya di rumah bersama Saga. Dia tidak peduli jika pria itu mencintai wanita lain, namun selama Saga tidak meninggalkannya, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Jasmine merasa hidup. Jika perasannya ini disebut cinta, lalu pergi ke mana hasrat ingin menjadi satu-satunya yang pria itu impikan? Lantas ke mana perginya cemburu yang seharusnya Jasmine rasakan? Saga harusnya mengizinkan Jasmine mempertanyakan hal itu, dia seharusnya menjawab pertanyaan Jasmine dulu, sebelum menghilang seperti ini.
“Berpakaian dan duduklah yang sopan saat aku tidak ada di rumah.”
Suara yang sangat Jasmine kenal. Dia lekas membenarkan posisi duduknya, menatap Saga yang berdiri di ambang pintu kamar. Iris sehitam malam tanpa bintang itu fokus memandangnya, kumis dan janggut yang baru tumbuh di wajahnya tampak kasar dan tak beraturan.
“Akhirnya kamu pulang.” Jasmine berlari memeluk Saga, yang langsung dibalas dengan dekapan yang tak kalah eratnya.
“Kupikir, pergi akan membuatku lebih baik. Tapi, aku lebih tersiksa karena tidak bisa melihatmu.”
Dalam menyampaikan perasaan, Saga memanglah jagonya. Dia mampu merangkum semua yang dia rasakan dalam sebuah kalimat.
“Maaf.” Saga berucap seraya mengecup pucuk kepala istrinya, “Jasmine, bisakah kita kembali seperti semula, anggap aku tidak pernah mempertanyakan apa pun padamu, bisakah kamu berpura-pura tidak terjadi apa-apa?” pintanya yang langsung Jasmine sahuti dengan anggukan kepala.
Seharusnya Saga menyadari lebih awal, dirinya tidak akan mampu bertahan tanpa sosok Jasmine di sisinya. Dia terlalu bergantung pada wanita rapuh dalam dekapannya itu, Saga teramat menyukai kebohongan yang dia ciptakan sendiri. Persetan Jasmine tidak mencintainya, yang terpenting adalah dirinya tetap bisa melihat dan mendengar suara jernih Jasmine. Menyaksikan wajah istrinya kebingungan setiap kali melihat Saga bertindak sesuka hati tanpa menanyakan pendapat Jasmine terlebih dahulu. Ya, selama ini mereka bisa baik-baik saja tanpa menyinggung tentang cinta, selama ini mereka bisa bertahan. Namun, berapa lama Saga akan bertahan? Pria yang selalu mengutamakan kepastian dari semua yang dia jalani dalam hidupnya, bisakah bertahan lebih lama dalam hubungan tanpa kepastian ini?
“Mau kubantu mencukur kumis dan janggutmu?”
Kali ini Saga-lah yang menganggukkan kepalanya. Dia tidak butuh kepastian, Saga hanya membutuhkan sosok Jasmine di sisinya, ya hanya itu. Berulang kali dirinya merapal mantra itu, guna menekan rasa ingin tahunya. Menekan amarah yang bisa jadi meledak dan melukai Jasmine dan dirinya lebih parah lagi.
“Aku ingin memelukmu lebih lama lagi, Jasmine.”
Bukan sekadar pelukan, mereka bahkan menghabiskan malam yang menggairahkan. Melupakan fakta bahwa sebelumnya mereka bertengkar hebat, bahkan Saga sampai melontarkan kata-kata kasar pada istrinya itu. Wanita yang kini berusaha menutupi tubuh polosnya dengan selimut, tingkah imut yang selalu membuat Saga gemas. Wanita yang beberapa saat lalu bersikap seperti seekor singa, bisa berubah menjadi kucing polos setiap kali pertarungan berakhir. Empat tahun yang mereka lalui bersama tak juga membuatnya terbiasa bertelanjang di hadapan Saga.
“Berhenti menatapku, Saga!”
“Kenapa, aku harus berhenti melihat sesuatu yang kusukai?” sahutnya sambil tersenyum lebar,
“Itu memalukan. Membiarkanmu melihatku dalam keadaan berantakan begini, terasa memalukan.”
Saga menyandarkan tubuhnya dengan menumpuk bantal, lalu menarik Jasmine kembali dalam pelukannya. Mengabaikan Jasmine yang terus saja meronta, kedua belah pipi istrinya itu sudah semerah tomat masak. Lucu dan manis disaat bersamaan.
“Bagaimana kamu bisa berubah menjadi kucing manis begini, setelah sebelumnya bertindak layaknya harimau yang mengamuk?”
“Berhenti menggodaku, Saga. Dan cepat lepaskan pelukanmu, akan kubuatkan sesuatu untuk kamu makan.”
“Tidurlah lagi, sudah terlalu larut untuk makan malam dan ini masih terlalu pagi untuk menyantap sarapan. Tidurlah, agar aku bisa menyelesaikan pekerjaanku.”
“Tapi—,”
“Sebagai seorang general manager, tugasku jauh lebih banyak dibandingkan dengan pekerjaanku sebelumnya. Jadi, bisakah kamu menurutiku? Istirahatlah, supaya aku bisa mengerjakan pekerjaan yang belum sempat aku selesaikan.”
“Ka–kamu, naik jabatan?”
“Semua itu berkatmu yang selalu mendukungku.”
“Selamat Saga, kamu memang lelaki hebat.”
Ucapan sederhana inilah yang Saga ingin dengar sejak sebulan lalu. Sebuah hadiah kecupan di pipi dan dekapan hangat, membuat segala pencapaian Saga jadi lebih berarti. Untuk itulah Saga rela bekerja keras, dia hanya ingin mendapat pengakuan dari istrinya. Bukankah cinta sesederhana itu? Namun, terkadang kesederhanaanlah yang lebih sulit diraih dan dijalani.
“Sejak kecil dia mengalami beragam hal buruk yang terjadi secara berturut-turut, dan puncak penderitaannya terjadi ketika dia beranjak remaja. Jadi, kuharap kamu bisa lebih bersabar dalam menghadapinya. Bagi orang yang tidak mengenalnya, Jasmine adalah gadis angkuh yang tidak tahu diri dan selalu berkata tanpa memikirkan perasaan lawan bicaranya. Namun, bagiku Jasmine itu seperti melati yang gugur saat sedang merekah. Nasibnya kurang beruntung sebagai seorang yang baru mengenal cinta, dan saat aku tahu dia akan menikahi pria hasil perjodohan, aku benar-benar khawatir. Namun, setelah bertemu denganmu dan melihat sendiri betapa kamu mencintainya, aku merasa jadi lebih lega sekarang. Akhirnya ada seseorang yang berusaha memahami perasaan Jasmine-ku yang berharga.”
“Kau benar. Dia persis seperti bunga melati yang menjadi arti dari namanya. Kecil dan rapuh, tapi aromanya memberikan candu. Bahkan sampai detik ini, aku masih tidak bisa memahami apa yang ada di pikirannya, atau apa yang sebenarnya dia rasakan. Seandainya Kakek masih ada, aku tidak akan terpengaruh emosi seperti kemarin.”
Bunyi pesan masuk membuyarkan lamunan Saga, matanya tampak serius membaca email yang baru saja dia terima dari bosnya yang saat ini sedang melakukan perjalanan bisnis di California. Saga menghela napas, sambil memijat pelipisnya. Baru tadi sore tim audit mengabarkan bahwa ada dana kantor yang keluar di luar kepentingan perusahaan. Mereka sedang mencari tahu siapa dan untuk apa, uang yang jumlahnya hampir mencapai satu milyar itu di gelontorkan. Siapa yang sebenarnya berada di balik permasalahan ini? Orang yang berani menggunakan uang perusahaan sebesar itu, pastilah bukan sekadar karyawan biasa, apalagi mengingat mereka masih belum menemukan satu orang pun yang bersangkutan. Saga menepuk-nepuk tengkuknya, berusaha untuk tetap terjaga. Dia harus menyelesaikan persoalan ini. Bagaimanapun ini adalah masalah pertama yang terjadi, setelah dia menduduki jabatannya yang sekarang. Dan lusa saat bosnya kembali, semuanya harus sudah selesai.
“Jangan biarkan tikus-tikus itu bersembunyi lebih lama lagi, kamu tentu tahu alasanku memberikan posisi ini untukmu.”
Semua yang terjadi saat ini bukanlah awal, dari perang perebutan takhta. Mereka sudah melakukannya sepanjang hidup, dan setelah semua yang dilalui, semua itu terasa jadi hal yang biasa terjadi terutama di kalangan atas. Perebutan takhta antara Dirgantara, dengan adiknya Erlangga. Seseorang yang sebelumnya mengisi posisi yang kini Dirga tempati. Dua bersaudara itu sangat bertolak belakang dalam segala hal, kecuali ambisi mereka terhadap pengakuan dan takhta. Namun, Dirga sedikit lebih tenang ketimbang adiknya, ya dia masih bisa membedakan mana yang harus diprioritaskan dan mana yang hanya untuk bersenang-senang. Salah satu usaha Dirga membangun kembali perusahaannya yang nyaris collapse setelah dipegang oleh adiknya adalah dengan merombak total struktur dalam perusahaan. Dan Saga adalah pion pertama yang akan membantu setiap rencananya hingga Dirgantara dinobatkan sebagai satu-satunya pewaris sah. Dan bagi Saga, ada dua hal yang menjadi alasannya menerima tawaran bosnya. Pertama, karena gajinya tentu saja lebih besar, memungkinkan Saga bisa memenuhi segala yang diinginkan Jasmine bahkan jika istrinya itu tidak pernah meminta apa pun, dengan gaji yang sekarang dia akan membelikan apa saja yang dia rasa cocok untuk Jasmine. Alasan ke duanya, sederhana saja. Karena Saga ingin menantang kemampuan serta kesetiaannya.
Jika dia boleh jujur, Saga sebenarnya tidak begitu peduli siapa yang akan menang akhirnya. Toh, dia sudah mempersiapkan dana darurat, serta tabungan untuk masa depannya bersama Jasmine. Kalaupun perusahaan benar-benar collapse dan semua karyawan kehilangan pekerjaan, Saga akan membuat usaha kecil dan fokus menjalani hidup sederhananya. Akan tetapi, sebelum hal itu benar-benar terjadi, tentu Saga harus berusaha terlebih dahulu untuk mempersiapkan masa pensiun yang lebih baik. Saga beranjak dari duduknya menuju Jasmine yang masih terlelap, bibirnya perlahan naik membentuk sebuah senyuman.
Jam baru menunjukkan pukul setengah enam pagi, biasanya jam segini Jasmine sudah bangun dan mulai sibuk mempersiapkan keperluan Saga. Istrinya itu hidup seperti robot yang tidak pernah lelah, namun kali ini Saga bisa yakin bahwa Jasmine sama sepertinya. Wanita itu hanyalah manusia biasa, dia bisa kelelahan, Jasmine bisa sakit. Hanya saja, dia tidak lagi ingat bagaimana cara untuk menunjukkan semua perasaan yang dialaminya. Kakeknya bilang, trauma masa lalu membuat Jasmine berubah jadi seperti ini. Sosok cerewet yang selalu menunjukkan emosi yang dia rasakan, kini seolah telah lenyap di telan bumi. Jasmine menjelma jadi seseorang yang sangat berbeda, seakan dia tidak lagi memiliki emosi dalam dirinya.