Bab 5 : Seruni Kuning (Cinta bertepuk sebelah tangan.)

2067 Kata
“Aku Jasmine.” Itu pertama kalinya Saga bertemu dengan Jasmine, dan dia langsung jatuh hati sesaat setelah wanita berkulit coklat dengan rambut sehitam arang itu menyebutkan namanya. Bahkan jantungnya langsung berdegup kencang saat dia menjabat tangan lentik wanita yang dipilihkan ibunya itu. “Akhirnya mereka mengatur waktu pertemuan untuk kita, omong-omong kamu pandai memilih tempat untuk bertemu.” Dia juga merasa bangga hanya karena Jasmine memuji tempat pertemuan mereka. Saga sudah sangat sering berkencan dengan wanita cantik, bahkan dibandingkan dengan mantan-mantannya, kecantikan Jasmine termasuk biasa saja. Jika dia ditanya, kenapa bisa jatuh cinta pada pandangan pertama? Bagaimana menjelaskannya, Saga hanya merasa dirinya harus menikahi Jasmine, karena di masa mendatang tidak akan ada seseorang yang seperti Jasmine lagi. Wanita itu istimewa, tidak seperti kebanyakan wanita yang pernah dia temui. Jasmine tidak berusaha menunjukkan kehebatannya di hadapan Saga, dia justru mengajaknya bernegosiasi. “Aku akan langsung saja ke intinya. Jadi, pikirkan baik-baik sebelum memutuskan untuk melanjutkan perjodohan ini atau mengakhirinya. Aku setuju menikahimu bukan karena kamu tampan dan sebenarnya, kamu tidak setampan yang Tante ceritakan. Aku tertarik padamu, hanya karena Tante bilang kamu baru saja dipromosikan menjadi manager di tempat kerjamu. Itu terdengar menjanjikan.” Saat itu Saga langsung tertawa ketika mendengar apa yang Jasmine ucapkan. Dia tidak menduga bahwa Jasmine akan blak-blakan begini. Saga mengusap wajahnya, memperhatikan istrinya yang masih terlelap. Jasmine tidak berubah sedikit pun, dia tetap menarik seperti saat pertama kali bertemu. Bagi Saga pakaian apa pun, akan terlihat lebih bagus jika Jasmine yang mengenakannya. Dia ingat kembali, hari itu riasan yang membingkai wajah Jasmine hanya sebatas lipstik merah maroon, eyeliner dengan garis mengikuti kelopak mata dan sebuah softlens berwarna abu-abu, yang menyembunyikan warna asli dari iris coklat madunya. Untuk tatanan rambut, Jasmine cuma mengepang rambutnya dengan gaya rope braid dan busana yang dikenakannya pun tampak biasa. Jasmine memakai dress denim berbentuk A-line sebatas lutut, dipadukan dengan flatshoes berwarna senada dengan dress-nya. Aneh, tapi nyata. Saga dibuat mabuk kepayang dalam pertemuan pertamanya tersebut. Jasmine adalah perempuan paling transparan yang pernah Saga temui. Dia terang-terangan mengatakan kalau dirinya tertarik pada Saga, karena uangnya. Bukannya merasa ilfeel, Saga justru dibuat kagum. Sangat jarang ada seseorang yang mau mengakui hal seperti ini. Kalaupun ada, tentu ada pula penyebab mereka jujur. Pertama, karena dia benar-benar jujur dan polos, atau opsi kedua yaitu dia sudah tidak peduli lagi dengan pendapat orang lain dan opsi ketiga karena terdesak. Jika dilihat, dari caranya menyampaikan pikirannya, Jasmine adalah tipe orang yang memiliki ketiga kemungkinan itu. Saat mengatakannya jelas Jasmine jujur, tapi untuk sepersekian detik saja Saga bisa menangkap nada bicaranya bergetar, persis seperti orang yang sedang tertekan. Lalu detik berikutnya, Jasmine bersikap seolah-olah dia tidak peduli lagi pada masa depannya. Lebih tepatnya, Jasmine tampak seperti seseorang yang hidup hanya karena dia tidak bisa mati. “Kamu jelas mengajakku bernegosiasi, baiklah aku akan menanggapinya dengan serius,” sahut Saga masih diselingi tawa ringan, "katakan, kesepakatan apa yang mau kamu tawarkan? Agar bisa disebut sebagai negosiasi, tentunya itu harus menguntungkan kita berdua.” Bagai melihat adegan slow motion dalam sebuah film, Saga sempat tertegun menyaksikan Jasmine melipat kedua tangannya di atas meja. Dia juga mencondongkan badannya, agar lebih dekat dengan Saga, lalu memamerkan senyuman yang sempurna. “Ah, ternyata ucapan Tante memang tepat. Putranya ini memang jauh lebih tanggap dibandingkan dengan beberapa pria yang lebih dulu dijodohkan denganku. Kamu pasti anak yang berbakti dan dekaaat sekali dengan orangtuamu. Baiklah karena aku menyukai percakapan kita, aku akan mengatakannya serinci mungkin. Dan perlu kamu ketahui kalau aku bukanlah orang yang akan bersikap licik serta munafik, hanya untuk mendapatkan keinginanku. Kamu bisa pegang kata-kataku ini, jadi kamu tidak perlu khawatir akan mendengar aku mengatakan bahwa aku jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama. Sebaliknya mari kita bermain sesuatu yang lebih menyenangkan, bagaimana kalau kita bermain kejujuran? Nah, baiklah, aku akan mulai duluan. Jujur saja aku tidak tertarik untuk menikah, tapi tidak kupungkiri di usia sekarang aku butuh seseorang yang bisa menggantikan tugas orang tuaku. Mereka tidak akan hidup selamanya, kalau aku mati lebih dulu, tidak masalah. Justru menjadi masalah kalau usiaku jauh lebih panjang dari mereka. Setelah dipikir-pikir tidak ada ruginya menerima perjodohan ini, ya hidup sebagai pengangguran yang hanya jadi beban keluarga, sudah sepantasnya aku lekas angkat kaki dari rumah.” tuturnya, lalu Jasmine kembali ke posisi semula, menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kayu yang kini dia tempati. “Kau tahu? Setelah bertahun-tahun hidup jadi benalu, angkat kaki saja tidaklah cukup. Aku perlu cara yang elegan dan tentunya efektif untuk menyingkir dari kungkungan orang tuaku. Kalau terlalu jelas aku membenci mereka, tentu hanya membuatku tampak seperti anjing yang tidak setia pada tuannya. Namun, jika terlalu menurut, aku akan membusuk perlahan saat mereka tiada. Bagaimana menurutmu, bukanlah keputusanku tepat? Apa kamu sudah memiliki niat untuk membawa pulang benalu ini? Tenang saja, aku selalu memberikan jaminan pada siapa pun yang berhubungan denganku. Dan untuk seorang manager sepertimu, tentu menginginkan privasi keluargamu terjaga dengan baik. Jadi aku akan menawarkan privasi itu untuk jaminan. Meskipun kelak aku harus pergi dari sisimu, kamu bisa tenang karena aku tidak akan membeberkan apa pun yang kuketahui selama kita hidup bersama." Saga menyilangkan kedua tangannya di depan d**a, mencoba bersikap defensif. Dia merasa dirinya baru saja dilempari granat tak kasat mata oleh Jasmine. Wanita itu baru saja mengatakan hal yang sangat mengerikan. Saga harus siaga jika dia tidak ingin, Jasmine membaca karakternya lantas menyimpulkan sesuka hati seperti cara dia menyimpulkan keluarganya tidak seharmonis yang terlihat. Dia gadis yang mempesona, tapi juga mengerikan. Melihat bagaimana dia tertawa setelah mengatakan itu semua, benar-benar membuat Saga merinding. “Lantas apa jaminan yang kamu berikan pada orangtuamu? Mengingat tadi kamu sudah membongkar rahasia keluargamu yang tidak begitu harmonis, bukankah aku butuh bukti kalau kamu tidak akan melakukan hal serupa pada keluargaku? Dan, ya, kamu tentu tahu, menikah bukan jaminan hidupmu akan bahagia. Aku bisa mencukupi kebutuhanmu sehari-hari, tapi tidak bisa menjamin kamu akan hidup dengan bergelimang harta mengingat gajiku tidaklah seberapa. Aku juga tidak bisa menjanjikanmu cinta dan kesetiaan.” Saga merasa dirinya sangatlah keren saat berhasil membuat Jasmine terdiam, meskipun itu hanya berlaku untuk sejenak saja. “Ah, itu..., mereka hanya meminta dikirimkan uang bulanan kalau aku menikah. Jaminan mereka hanya uang. Dan asal kau tahu saja, aku tidak butuh cinta dan kesetiaanmu.” Bahkan setelah bertahun-tahun, pemikiran Jasmine tidak pernah berubah. Dia tidak pernah menuntut cinta dan kesetiaan Saga, dia bahkan tidak pernah sekalipun menunjukkan amarahnya. Jasmine memilih hidup tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Selama ini, dia hanya fokus untuk mengembalikan apa yang sudah dia dapatkan dari Saga. Ya, tak lebih dan tak pernah kurang dari apa yang sudah mereka sepakati. “Morning,” sapaan hangat Saga mengawali hari Jasmine, pria itu sudah rapi dengan kemeja hitam dibalut setelan jas berwarna abu-abu pucat. “Santai saja,” tuturnya saat Jasmine bergegas bangkit dari tempat tidur, Saga menahan istrinya itu agar tetap berbaring di ranjang. Dikecupnya kening Jasmine, sebelum akhirnya kembali tersenyum, “Aku berangkat dulu. Sudah kubuatkan sarapan, jangan lupa memakannya.” Pesannya kemudian. Sepeninggal Saga, Jasmine memilih menyantap sarapannya di taman belakang, sambil memandangi kebun bunga. Ya, selain suka dengan wewangian, Saga juga suka menanam bunga. Sesibuk apa pun Saga tetap merawat bunga-bunganya, Jasmine bahkan nyaris tidak pernah mendapat kesempatan untuk bantu menyiram atau memotong tangkai-tangkai yang rusak. Semua sudah Saga kerjakan, pria itu hanya membiarkan Jasmine menata bunga-bunga yang dipetiknya untuk mengisi vas. Untuk bunga yang memiliki duri, seperti mawar, Saga bahkan sempat menyingkirkan duri-duri yang terdapat di tangkainya. Dia tidak membiarkan Jasmine terluka oleh sesuatu yang Saga sukai. “Aku lebih menyukaimu dibandingkan bunga-bunga ini. Terdengar norak, ya? Padahal aku sudah mencari kata yang pas biar terdengar romantis, tapi jatuhnya malah norak gini. Maafkan aku." Jasmine jadi teringat ucapan Saga saat dia baru saja memanen bunga pertamanya. Saat itu, Saga baru memiliki dua jenis bunga saja. Dia sengaja menanam bunga gardenia di sepanjang pagar belakang rumah. Bunga putih dengan wangi menenangkan itu baru bermekaran setelah ditanam hampir dua tahun lamanya, bahkan saat itu bunga seruni yang sekarang ini memenuhi hampir setengah kebun, hanya ada dua warna yaitu kuning dan putih. Itu pun cuma terdapat tiga pohon saja. Meski demikian, Saga bersikukuh untuk memanen bunga-bunga itu. Dia ingin membuatkan Jasmine buket bunga yang ditanam dengan tangannya sendiri. "Mulai sekarang, aku akan memberikanmu bunga setiap hari. Anggap saja ini sebagai hadiah karena kamu sudah berkelakuan baik selama menikah denganku.” Sejak awal bertemu, Jasmine sudah mengira bahwa Saga adalah pria dengan ambisi yang tidak bisa diragukan. Sekali dia memutuskan sesuatu, maka akan dia lakukan apa pun halangannya. Namun, semakin lama dia menghabiskan waktu bersama Saga. Semakin Jasmine mengerti kenapa Saga sampai seperti itu, hanya karena dia ingin memberikan yang terbaik untuk orang-orang di sekitarnya. Untuk seorang manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan super, Saga sudah menjalani kehidupannya dengan sangat keren. “Kau tahu Jasmine, apa yang membuatku yakin untuk menikahimu?” saat Saga menanyakan itu, Jasmine hanya bisa menggelengkan kepalanya. Jujur, sampai saat ini pun Jasmine tidak tahu pasti, alasan Saga mau menikahinya. Mengingat bagaimana dia bersikap dulu, siapa pun bakal memilih pergi menjauh dari orang gila seperti Jasmine, tapi Saga justru balas meladeni permainan Jasmine. Pria itu mampu mengimbangi kegilaannya. "Kurasa hubungan kita ini dinamakan serendipity.” Saga membalikkan badan dan menutup mulut dengan lipatan lengannya. Tiba-tiba saja dia bersin di tengah rapat. Konon katanya saat kamu tiba-tiba bersin, seseorang sedang memikirkan atau merindukanmu. Di tempat lain, Jasmine dan mamanya baru saja keluar dari rumah sakit. Wajah mertuanya yang mulai keriput itu tampak semringah, berbeda jauh dengan ekspresi Jasmine yang ragu. Dia memikirkan perasaan Saga saat tahu kalau dia secara sepihak sudah menghentikan kontrasepsinya. “Kenapa melamun, ayo kita makan siang dulu setelah itu, tinggallah beberapa hari di rumah. Papamu itu sudah seperti anak kecil yang kegirangan saat Mama mengabarinya tentang keputusan kita hari ini.” Bukan keputusan bersama, sebenarnya ini keputusan sepihak mertuanya. Karena jauh di dalam hati, Jasmine masih merasa ragu. Dia takut melanggar janjinya pada Saga. Bagaimana Jasmine akan menghadapi Saga kalau pria itu kembali mengamuk seperti sebelumnya. Dia menghela napas, seolah-olah tindakannya itu akan membantu dirinya terlepas dari perasaan khawatir. “Ingat yang dokter katakan tadi,” Jasmine lekas menoleh saat tangannya digandeng oleh mertuanya, “sebentar lagi kamu memasuki masa subur, ini benar-benar keputusan yang tepat jika ingin lekas hamil. Tapi, mama juga gak mau terlalu berharap. Pasca melepas implan, pasti membutuhkan waktu untuk bisa hamil. Jadi kamu juga jangan merasa terbebani, mengerti?” “Jujur saja, mama merasa tidak enak hati sudah memaksakan kehendak mama kepadamu. Mama tahu, kamu melakukannya masih dengan setengah hati, hanya saja kamu tidak mau mengecewakan nenek tua bangka ini.” “Aku cuma butuh waktu untuk membiasakan diri, Ma. Baik aku ataupun Saga hanya belum merasa benar-benar yakin untuk memiliki anak. Sejujurnya Saga pernah mengatakan kalau suatu saat dia ingin punya anak, dia lebih memilih untuk mengadopsi anak yang ditelantarkan orang tuanya. Dan aku yakin, niat Saga baik saat mengatakan hal itu.” “Mama juga tahu rencananya itu sejak lama, tapi sebagai orang tua, tentu mama ingin kalian memiliki seorang anak yang benar-benar darah daging kalian. Kalaupun nantinya kalian ingin mengadopsi anak lebih dari satu, kami tidak akan pernah melarang, justru mama senang banget karena mama bisa punya banyak cucu.” Tawa Jasmine tidak dapat dibendung setelah mendengar dan melihat betapa antusias mertuanya itu. Ibu dari suaminya memang wanita yang ceria, dia nyaris tidak pernah terlihat murung barang sehari pun. Seolah-olah energinya tidak pernah habis. Setelah membahas tentang anak dan rencana kehamilan untuk Jasmine, topik pembicaraan pun perlahan berganti ke hal-hal sederhana, tapi tetap terasa menarik perhatian Jasmine. Semenjak menikah, ah bahkan jauh sebelum menikah. Dia tidak pernah memiliki teman yang akrab. Seseorang yang bisa diajaknya berkeliling mall untuk berburu diskon atau seseorang yang memiliki hobi serupa dengannya yang bisa Jasmine akui sebagai sahabat. Namun, setelah menikahi Saga, dia jadi memiliki seorang teman untuk mengobrol hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Kini Jasmine juga punya seseorang yang selalu mengajaknya berburu diskon, bahkan terkadang menemaninya mencari buku bacaan sampai terkantuk-kantuk. Jasmine perlahan mulai merasakan dan memahami apa yang dinamakan persahabatan, atau merasakan bagaimana memiliki seseorang yang bisa menyayanginya seperti saudara perempuan. Semua itu dia temukan dalam sosok ibu mertuanya. Inilah alasan Jasmine tidak pernah bosan meskipun hampir tujuh puluh persen waktunya dia habiskan di rumah, selama dia bisa bertemu mertuanya, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Jasmine bahagia. Dia ingin menjadi seperti mertuanya, yang selalu bisa membuat siapa pun terhibur kala di dekatnya. Cantik dan energik adalah dua kata yang sangat cocok menggambarkan sikap mertuanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN