“Kenapa mama seenaknya saja memutuskan sesuatu tanpa bertanya dulu padaku? Apa benar, aku ini masih anakmu?"
Susan tidak pernah berpikir kalau Saga akan bereaksi seperti sekarang hanya karena dia meminta seorang cucu. Putra semata wayangnya itu memang tidak pernah berkata lembut. Mungkin sejak Saga baru bisa bersuara pun, dia sudah lebih dulu memahami bahasa kasar, dibandingkan dengan cara bertutur kata dengan sopan. Akan tetapi kali ini Susan melihat betapa Saga murka hanya dari nada suaranya yang terdengar dingin. Saga tidak berteriak itu berarti sesuatu yang buruk sedang terjadi, Susan lebih memilih mendengar anaknya itu berteriak atau memaki seperti biasanya. Jika Saga terus bersikap dingin, Susan berani bertaruh dia akan jadi orang pertama yang mati terserang hipotermia di puncaknya musim panas.
"Kita tidak bisa seenaknya saja menyuruh Jasmine untuk hamil, disaat dirinya belum menginginkan seorang anak. Mama enggak berhak mengatur kehidupan rumah tanggaku sampai sejauh ini. Aku gak pernah mengira kalau mama ternyata jauh lebih egois daripada papa. Besok, aku akan membawa Jasmine untuk memasang kembali alat kontrasepsinya. Kumohon, mulai sekarang mama jangan pernah memaksanya lagi!”
“Jasmine menginginkannya juga Saga, buktinya dia tidak menolak saat mamamu membawanya ke dokter.”
“Itu karena dia tidak berdaya!”
Kalau biasanya anak dan ayah ini saling berteriak hingga urat-urat lehernya terlihat jelas, kali ini Saga menyahuti ucapan papanya dengan penuh penekanan. Dia memang meninggikan suaranya, tapi ekspresi Saga belum berubah sedikit pun. Tetap kaku dengan sorot mata seperti ingin menghabisi seseorang.
“Jika kalian ingin cucu, aku akan memberikannya. Aku akan mengadopsi seorang anak yang memang membutuhkan kasih sayang kalian. Tapi, tidak dengan cara seperti ini."
Saga berlalu ke kamarnya setelah mengatakan itu, menghampiri Jasmine yang sudah terlelap sejak tadi. Kening wanitanya itu berkerut seolah-olah sedang mengalami mimpi buruk. Saga tahu, itu adalah mimpi yang sama, yang hampir setiap malam selalu menghantui Jasmine. Dia ikut berbaring di sisi istrinya, mendekap erat tubuh rapuh yang tidak pernah mau mengakui bahwa dirinya terluka.
“Saga,” tindakannya membangunkan Jasmine.
“Aku mengganggu tidurmu, ya?” tanyanya sambil tersenyum tipis, melonggarkan sedikit pelukannya supaya Jasmine bisa berbalik menghadapnya.
Istrinya menggeleng cepat, “Sebenarnya, aku memang menunggumu. Ada yang mau aku katakan,” ujarnya,
“Mau bilang apa memangnya, kamu gak mau minta cerai kan, sampai harus membahas ini di sini bukannya di rumah saja, kenapa harus di rumah orang tuaku?”
Jasmine tertawa mendengar ucapan Saga, "Untuk apa aku menikahimu kalau akhirnya meminta cerai." dia menyahuti, "Bisakah kita mengikuti keinginan orangtua kita, kali ini saja?” imbuh Jasmine, sorot di matanya seketika menjadi serius dan Saga benci kalau Jasmine menunjukkan ekspresi seperti itu. Seolah-olah dia hidup hanya untuk memenuhi keinginan orang lain, seolah dia tidak berhak memilih sesuatu yang diinginkannya.
“Itu tidak akan terjadi. Mereka sudah keterlaluan terhadap kita, terutama padamu.”
“Aku sadar, apa yang kubahas sekarang jelas melanggar perjanjian kita sebelum menikah. Hari itu pintamu cuma satu, yaitu supaya aku tidak menuruti kemauan orang tuamu saat mereka meminta cucu, sampai kamu sendiri yang mengatakan menginginkan seorang anak. Tapi, aku melanggar kesepakatan kita. Mungkin saja ucapan mama benar? Bagaimana jika yang menginginkan anak bukan hanya orangtua kita, melainkan kita juga menginginkannya? Apa pendapatmu kalau itu yang aku inginkan, apa kamu tetap tidak mau mengubah keputusanmu?”
Saga mengubah posisinya menjadi duduk membelakangi Jasmine, bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman, akan tetapi itu bukanlah senyum tulus seperti sebelumnya. Senyuman Saga menunjukkan bahwa dirinya nyaris kehilangan kewarasannya, "Kamu memang pandai berbohong Jasmine. Terlalu pandai sampai rasanya aku muak. Entah kamu itu benar-benar polos dan baik, atau terlalu munafik?!” tuturnya kemudian.
“Maaf. Aku gak seharusnya menentang keputusanmu, sesaat kupikir inilah yang terbaik untuk kita. Aku tahu, kamu cuma mencintai Disty dan itu tidak akan pernah berubah. Tapi, kita juga melakukan hubungan intim selayaknya suami-istri, bukankah tidak masalah jika sekalian kita memiliki seorang anak, jika itu bisa membuat semua orang bahagia?"
“Lalu, apa Jasmine merasa bahagia? Yang kutanya itu Jasmine yang selama ini kesakitan di dalam dirimu. Apa dia bahagia dengan keputusan egoismu ini?"
"Tapi, aku tidak pernah merasa kesakitan, selama ini aku baik-baik saja."
"Munafik! Selain munafik kamu juga lancang, kamu tahu itu? Kau pikir memiliki seorang anak bisa semudah melakukan s*x dengan istri yang tak ubahnya boneka? Ini berbeda Jasmine. Kamu tidak boleh main-main dengan hidup seseorang, bagaimana kita akan merawat dan mendidiknya dengan baik, kalau kamu sendiri saja belum yakin dengan posisimu di kehidupanku. Maaf, tapi aku gak bisa menuruti keinginan orangtua kita, aku tidak mau main-main karena keputusan ini menyangkut jiwa suci yang bahkan tidak pernah meminta untuk dilahirkan.”
“Pikirkan apa yang membuatmu ingin memiliki seorang anak, ini komitmen seumur hidup Jasmine. Benar-benar seumur hidup, tidak seperti pernikahan yang bisa kandas di tengah jalan. Seorang suami bisa menjadi orang asing setelah perceraian, tapi anak akan selamanya menjadi milikmu. Apa tujuanmu itu sebanding dengan kewajiban yang akan kamu terima? Kalau sudah memiliki keyakinan penuh, aku tidak akan segan mengabulkan keinginanmu itu, kapanpun. Jika kamu masih ragu, lebih baik jangan pernah bahas hal ini lagi.”
Jasmine tidak bisa berkata-kata lagi, apa yang Saga katakan benar adanya. Bahkan Jasmine tidak yakin dengan posisinya sebagai seorang istri, bagaimana dia bisa meyakinkan dirinya untuk memiliki anak dari pria yang bahkan terang-terangan mengatainya seperti boneka. Jangankan anak hasil hubungan tanpa cinta, anak yang terlahir atas dasar cinta kedua orangtuanya pun belum tentu bisa merasakan kebahagiaan dan didikan yang tepat. Sudah banyak contoh, anak-anak tak bersalah justru menjadi korban dari keegoisan orang dewasa. Anak tidak berdosa selalu jadi sasaran empuk, mereka makhluk kecil tak berdaya yang hanya bisa hidup jika orang dewasa menginginkannya. Tanpa terasa air matanya mengalir deras, bagaimana dia memikirkan untuk memiliki anak jika dirinya saja masih selemah ini. Jasmine harus memiliki kekuasaan terlebih dahulu, agar orang-orang tidak akan berani merenggut hal berharga darinya.
“Sekarang kamu mengerti maksudku, Jasmine? Ingat, kamu harus memiliki sesuatu terlebih dahulu jika ingin memberi pada orang lain. Jangan melulu menuruti keinginan orang, karena itu tidak akan ada habisnya. Mereka akan meminta lagi dan lagi, tanpa peduli dengan keadaanmu.”
“Tapi, mereka orangtua kita Saga.”
“Justru karena mereka orangtua kita, seharusnya mereka bisa menghargai dan percaya akan keputusan kita. Aku yakin akan ada waktunya kita memiliki anak, bukan karena menuruti kata orang. Tapi, karena kita memang sudah siap.”
Seperti terhipnotis, ucapan Saga terus saja terngiang-ngiang ditelinga Jasmine, dia jadi merasa lebih tenang menghadapi desakan orangtuanya. Jasmine juga jadi miliki keberanian untuk menolak apa yang tidak sanggup dia berikan, setidaknya untuk saat ini Jasmine belum siap memberikan apa yang mereka inginkan. Saking asyiknya melamun, dia sampai melupakan jam makan siangnya. Jasmine baru tersadar saat bel rumahnya berbunyi. Tampaknya Jasmine kedatangan tamu yang tidak sabaran, bukan hanya membunyikan bel, orang itu pun meneriakkan namanya seperti sedang menagih hutang.
“Iya sebentar.” Jasmine berteriak sesaat setelah dia membuka pintu rumahnya, berlarian menuju pagar untuk mempersilahkan sang tamu masuk.
“Disty..., ada apa?”
“Saga ada?” si empunya nama justru balas bertanya, “Si b******k itu..., cih akan kuhabisi dia! Bisa-bisanya dia me-reject telponku.”
“Bukannya dia pergi bersamamu?”
Melihat ekspresi Jasmine saja sudah lebih dari cukup untuk menjawab semua pertanyaan Disty. Dia tertawa sambil melipat kedua tangannya di perut, memutar matanya dengan ekspresi malas.
“Dia pasti sudah benar-benar gila!” gumamnya, “Kau!” Disty menunjuk Jasmine lalu menghela napas seolah-olah ingin membuang semua sesak di dadanya.
“Marahi si b******k yang sudah menyelingkuhimu itu, satu kali saja!” dia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menyisir rambutnya ke arah belakang menggunakan jemarinya, "Jangan diam saja, maki dia! Atau hina si bodoh itu sampai dia terlalu malu hanya untuk bernapas di sekitarmu.” teriaknya penuh emosi,
“Dia pasti berselingkuh dengan perempuan murahan di luar sana!”
“Maafkan aku, Disty. Saga bukan orang yang seperti itu, aku yakin dia tidak mungkin bermain gila dengan perempuan lain. Saga sangat mencintaimu, dia tidak mungkin berselingkuh.”
“Entah apa yang salah dengan otakmu, sampai kamu selalu saja membelanya?! Apa kamu sudah gila, eh? Segitu cintanya kamu ke si b******k itu, sampai menyingkirkan harga diri dan membiarkan dia terus-menerus menginjak-injak kamu seperti ini. Cih, memalukan menyadari bahwa kita sama-sama perempuan! Kamu bahkan enggak pantas mengaku sebagai seorang istri, karena istri normal akan marah saat tahu suaminya berselingkuh.”
Bungkam, kali ini ucapan Disty benar-benar sudah menyinggung perasaan Jasmine. Dia memejamkan matanya sesaat, sebelum kembali menatap wanita cantik di hadapannya. Berusaha tersenyum setulus hati, lalu meraih jemari tangan Disty.
“Aku tahu kamu marah, tapi berteriak dan memaki dengan kata-kata buruk adalah hal yang tidak baik. Itu akan membuatmu kecanduan, jadi bersabarlah sedikit lebih lama dan saat Saga kembali, kita bisa menanyakannya secara langsung. Aku sedih, kenapa orang secantik dirimu selalu mengutuk."
“Itu urusanku! Dan kamu sendiri, apa akan langsung mempercayai semua ucapan pria itu?” Disty balas bertanya, tapi dengan cepat dia mengatakan, "Jangan dijawab. Aku sudah tahu jawabannya, kau pasti bakal langsung mempercayai dan memihak dia."
“Saga tidak pernah berbohong bahkan kepadaku yang bukan siapa-siapanya, tentu dia akan bersikap lebih jujur padamu.”
“Sudah aku bilang jangan dijawab! Inilah alasan aku sangat membencimu, Jasmine. Kau bahkan tidak pernah berusaha untuk mempertahankan milikmu!”
Setelah mengatakan itu, Disty berlalu begitu saja. Meninggalkan Jasmine yang mematung di tempatnya. Sedetik kemudian dia tersenyum begitu lebar, lantas kembali ke dalam rumah setelah mengunci pagarnya. Di sisi lain Saga masih khawatir dengan sifat Jasmine yang tidak tega menolak permintaan orang lain. Entah bagaimana cara orangtuanya mengasuh Jasmine, hingga kini anak mereka tumbuh menjadi seseorang yang terlalu patuh. Jasmine menganggap semua permintaan orang yang ditemuinya adalah sebuah perintah yang tidak boleh ditolak. Dia bisa terus terluka jika tidak secepatnya bisa membedakan mana yang harus diprioritaskan dan mana yang harus ditolak.
“Sepertinya pikiranmu tidak berada di sini,” Saga menoleh, mendapati bosnya tertawa sembari memainkan stik golfnya,
“Cuma terpikirkan masalah pribadi. Dan sepertinya keahlian bermain golf Anda sudah banyak meningkat semenjak terakhir kali kita bermain.” Saga menyahuti, “Anda benar-benar andal dalam segala bidang, persis seperti ayahmu.”
“Mau bagaimana lagi, dia memang mewariskan semua keahliannya pada kami. Bahkan aku juga mewarisi kegilaannya terhadap perempuan,” timpal bosnya bernada guyonan,
“Anda akan setia saat bersama orang yang tepat.”
“Mau sampai kapan kau akan berbicara padaku dengan formal saat kita di luar jam kerja?”
“Di mana pun kita berada, tidak mengubah fakta bahwa Anda tetaplah atasan saya.”
“Wah, sejak aku mengambil alih posisi adikku, kamu benar-benar menjadi seorang yang sangat berbeda Mas Sandi. Ke mana perginya sikap kasarmu itu?”
“Aish,” Saga mendengus, “jangan memancingku begitu. Kamu bukan lagi bocah yang dulu merengek padaku minta untuk diajari cara menjalankan perusahaan. Sekarang kamu itu sudah menjadi pemimpin perusahaan, bagaimana aku bisa memarahimu lagi secara kamu adalah bosku?! Aku ini orang yang sadar di mana posisiku."
"Jangan sadar diri kalau itu membuatmu jadi orang lain. Aku itu membutuhkan mas Sandi yang kukenal, bukan Pak Sandi yang sekadar kutemui di kantor. Sebagai catatan, pak Sandi itu tidak keren."
Saga mendengus mendengar ucapan bosnya, bocah itu memang memiliki sifat yang dewasa, Saga pikir orang akan berubah setelah memiliki kekuasaan, tapi dia salah dalam menilai Dirga. Bosnya itu tidak pernah memandangnya berbeda meskipun kini sudah menjadi seorang pemimpin. "Kau mau mati, eh?! Berani-beraninya mengatai orang yang lebih tua."
Keduanya tertawa setelah Saga berteriak memaki, "Kau puas? Dasar bocah licik.” imbuhnya.
“Ini baru Mas yang kukenal.” Dirga menyahuti masih setengah tertawa, “Omong-omong, congrats karena kamu sudah memangkas salah satu orang yang berada di sekitar Erlangga.”
“Bukan masalah, tapi kamu harus lebih berhati-hati mulai sekarang. Sepertinya adikmu itu sudah berubah menjadi musuh yang sesungguhnya. Orang suruhannya bahkan berani melukai detektif swasta yang kuperkerjakan, sampai hari ini detektif itu masih menjalani perawatan di RS karena lukanya cukup serius.”
“Maaf, karena masalah keluargaku membuat orang-orang kepercayaanmu jadi terluka.”
“Lekas selesaikan perselisihan kalian, jujur saja aku tidak begitu peduli siapa yang akan menang, tapi sebagai seseorang yang pernah mengajari kalian, aku merasa berhak untuk membimbing kalian satu kali lagi. Jangan sampai orang yang tidak bersalah justru menjadi korbannya.”
Saga selalu tahu cara yang tepat untuk menyuarakan pikirannya. Seperti yang dia katakan, sejujurnya Saga khawatir dengan keselamatan orang-orang terutama orang terdekatnya. Saat kemarin dia menyelidiki kasus penggelapan uang yang ternyata pelakunya adalah orang kepercayaan Erlangga. Saga tidak menduga anak bungsu dari bosnya itu akan bertindak sejauh ini. Bukan hanya penggelapan uang perusahaan, dia juga menikam seseorang. Erlangga bahkan mengancam akan melakukan hal yang sama jika Saga terus berpihak pada Dirga, padahal dulu Erlangga adalah anak sekaligus adik yang sangat patuh. Saga nyaris tidak pernah melihat Erlangga membangkang, tapi semenjak kakaknya diangkat menjadi pemimpin perusahaan, sikap Erlangga perlahan-lahan mulai berubah. Awalnya hanya keluyuran, dugem dan main perempuan, akan tetapi sekarang Erlangga bukan hanya melakukan hal-hal seperti itu saja, dia bahkan mulai bergabung dengan geng berandal yang tidak segan melukai orang lain.