Bagaimana Jasmine bisa bertindak sesuka hati seperti yang Disty baru saja lakukan? Dia juga ingin melakukan hal itu, tapi dirinya tidak punya kepercayaan diri yang cukup untuk meluapkan segala keluh-kesahnya. Dia tidak berani melakukan sesuatu yang mengandalkan emosi seperti itu lagi. Hatinya sudah terlalu lama berkubang dalam lumpur hisap yang terus-menerus menariknya masuk ke dalam kegelapan tanpa dasar. Itu bukan salah siapa pun, itu adalah salahnya sendiri, ketakutannya, lukanya serta pelindung yang membuat Jasmine bisa bertahan hingga kini.
“Apa kamu enggak bisa berpikir, kalau tindakanmu sudah terlalu lancang? Sebagai anak, kamu tidak berhak menentukan, mau apa kamu ke depannya. Itu tugasku, dan papa tahu apa yang terbaik untuk masa depanmu!”
Sejak Jasmine mulai mengingat kisah hidupnya, tidak pernah satu kali pun dia diberikan kepercayaan untuk memilih apa yang disukainya. Mulai dari mainan, pakaian, hingga menyangkut pelajaran sekolah. Semua itu sudah orangtuanya persiapkan dan Jasmine tidak pernah boleh melakukan apa pun yang mereka larang. Ketika dia menolak atau meminta sesuatu selain yang disebutkan orangtuanya, seketika itu pula hal yang Jasmine lakukan berubah menjadi dosa besar, yang akan selamanya diungkit. Jasmine ingat betul saat dia berusaha menunjukkan hasratnya, bahkan dia sampai melarikan diri dari rumahnya. Itu sudah berlalu sangat lama, tapi hingga hari ini dia bahkan masih bisa mengingat rasa pahit yang dihasilkan dari ucapan Papa terhadapnya, hingga sakit berdenyut hampir di seluruh tubuhnya sisa pukulan kedua orangtuanya.
“Dengar dan ingat ucapanku ini! Kalau bukan dari belas kasihanku, kamu tidak akan bisa hidup sampai sekarang. Kau pikir bisa pergi tanpa izinku? Jangan mimpi. Bahkan dewa kematian tidak akan bisa membuatmu mati sebelum aku mengizinkannya, camkan itu!”
Jasmine tidak pernah meminta untuk dilahirkan, tapi kenapa orangtua selalu menganggap anaknya sebuah beban, sebuah aset untuk meneruskan apa yang tidak mampu mereka raih. Apa hanya sebatas ini fungsi seorang anak? Ya, Jasmine akui, jika bukan karena belas kasihan dari orangtuanya dia tidak akan hidup sampai sekarang. Akan tetapi, orangtua Jasmine lupa kalau anaknya juga manusia, sama seperti mereka. Tentu wajar jika Jasmine memiliki keinginan untuk mengejar cita-citanya sendiri, di samping tanggung jawab yang dia emban sebagai seorang anak untuk berbakti kepada kedua orangtuanya. Tapi, bagi segelintir orang tua, impian anaknya hanya hal tidak berguna yang tidak perlu diperhatikan, impian anak hanya akan menghambat rencana yang sudah mereka persiapkan. Alih-alih mendukung, mereka justru merendahkan usaha anaknya, tanpa mempedulikan keadaan mental serta kemungkinan lainnya.
Jasmine mendesah panjang, angannya terbang jauh mengangkasa. Dia tidak ingin mendendam, tapi disaat terpuruk begini, dirinya pasti akan teringat semua luka itu. Lalu dia akan mulai berandai-andai, kalau saja hari itu orangtuanya mendukung Jasmine mengikuti kelas drama, dia tidak akan bertemu cinta pertamanya, Jasmine tidak perlu berakhir dengan hidup bergantung kepada orang lain seperti sekarang. Jika saat itu mamanya memberikan sekejap saja dekapan saat Jasmine jatuh oleh kata-kata meremehkan yang papanya lontarkan, Jasmine pasti akan bermain peran di panggung yang megah, bukannya bersandiwara di kehidupan nyata. Seandainya dia tidak dilahirkan, tentu dirinya tidak perlu beranjak dari pangkuan Tuhan yang begitu nyaman. Terlalu banyak hal untuk disesali jika Jasmine mengingat kembali perjalanan hidupnya. Dan dari semua yang pernah dia lalui, pertemuannya dengan Saga masuk dalam daftar teratas hal yang Jasmine syukuri. Dia suka saat dirinya berdekatan dengan Saga. Pria yang berstatus sebagai suaminya itu, tidak pernah gagal membuat Jasmine merasa nyaman. Aroma tubuhnya, bahkan kebiasaannya saat sedang mabuk pun terkadang menggemaskan, kadang juga Saga tampak semakin menawan di mata Jasmine. Satu hal yang tidak Jasmine sukai dari Saga, yaitu kebiasaannya yang suka berkeliaran di kamar tanpa sehelai benang pun saat dia selesai mandi.
“Kenapa harus malu, di sini cuma ada kamu. Toh, kita masing-masing sudah melihat semuanya, jadi tidak masalah melihatnya sesering mungkin. Kata Papa, bertelanjang saat bersama istri itu bagus untuk menjaga keharmonisan rumah tangga.”
Jasmine tertawa mengingat dirinya selalu terkejut mendapati Saga keluar dari kamar mandi tanpa berbusana terlebih dahulu, dan kejadian itu terus berulang hampir setiap hari selama kurang lebih empat tahun lamanya. Tapi, sampai sekarang pun Jasmine tidak pernah bisa terbiasa dengan kebiasaan aneh suaminya itu. Padahal untuk kebiasaan Saga yang lain, Jasmine bisa mengatasinya dengan tenang. Hanya kebiasaan ini saja, yang membuat Jasmine ketar-ketir sendiri. Meskipun saat Saga masuk kamar mandi, dia sudah bisa menebak ketika keluar nanti pria itu akan bertelanjang, Jasmine tetap terkejut dan langsung membuang pandangannya saat hal itu terjadi. Entah apa yang merasukinya yang pasti, pria itu melakukan hal ekstrem begitu hanya untuk membuat Jasmine menunjukkan ekspresi selain raut wajah tenang. Dan, ya! Saga selalu berhasil membuat istrinya tampak layaknya manusia normal. Jika saja Jasmine tidak bereaksi saat dirinya bertindak terlalu percaya diri seperti itu, Saga yakin dia bakal menganggap bahwa dirinya sudah menikahi sebuah robot yang di desain dengan sangat sempurna menyerupai manusia.
“Wah, kalian bersenang-senang di sini tanpa mengajakku. Itu benar-benar buruk, aku bisa mati kalau kalian terus begini. Ah, tidak. Bagaimana kalau kalian saja yang mati bersama, supaya tidak perlu mengundangku?"
Suara tepuk tangan bersambutan dengan guyonan sarkastis menghentikan Dirga yang hendak memukul bola, dia menurunkan kembali stik golfnya lantas menatap adiknya dengan ekspresi masam. Sedangkan Saga hanya bisa mengumpat dalam hati, mengingat lamunannya tentang Jasmine harus terkontaminasi oleh suara nyeleneh Langga. Saga tidak menyadari kapan tepatnya bocah itu datang, yang pasti kehadirannya membuat suasana menjadi tegang.
“Jaga ucapanmu itu di depan Mas Sandi. Entah kamu mengakuinya atau mau menyangkal seperti halnya pecundang. Apa pun alasannya, kamu tidak boleh bersikap kasar pada Mas Sandi. Dia seseorang yang sudah membantumu tumbuh.” Dirga menyahuti, membuat Saga melirik ke arah si empunya suara. Harusnya Dirga tidak perlu memperkeruh suasana. Dengan Dirga berbicara seperti itu, dia hanya akan membuat Langga semakin besar kepala dan akan semakin tengil pula sikapnya, karena sudah berhasil membuat kakaknya marah.
“Kau benar, maafkan aku Mas Sandi.” Erlangga menyahuti, membungkukkan badannya sedikit dengan seringai.
Ah, benar saja dugaan Saga. Bocah itu jadi semakin bertingkah layaknya seorang berandalan. Siapa pun bakal langsung tahu, kalau ucapan maaf yang Langga lontarkan hanyalah sebuah ejekan. Dia tidak benar-benar meminta maaf. Pria itu menegakkan kembali tubuhnya, sekali lagi tersenyum pada kedua orang yang dulu sangat dekat dengannya. Namun, sepertinya kini menjelma menjadi musuh yang harus Erlangga singkirkan. Jika tidak, maka benar yang orang-orang kepercayaannya katakan, Langga harus menerima kenyataan bahwa dirinya yang akan lebih dulu Dirga dan Saga singkirkan. Dia tidak akan pernah bisa merebut kembali posisi yang kakaknya rebut darinya. Memang benar adanya, uang dan kekuasaan mampu membuat segalanya berubah. Ya, dua hal itu terletak jauh di atas persaudaraan maupun persahabatan. Dan Erlangga tidak akan segan untuk menyingkirkan siapa pun yang menghalangi jalannya meraih posisi tertinggi itu.
Saga tersenyum lalu, mengatakan, “Jangan meminta maaf padaku. Toh, sebelumnya pun kamu tidak pernah melakukan itu.”
“Ah, Mas sandi memang terbaik.” Langga mengacungkan kedua jempolnya, lalu membuat ekspresi wajah sangat imut, yang membuatnya tampak seperti seorang remaja.
“Bagaimana kamu bisa berpura-pura tidak terjadi apa pun setelah menikam seseorang, eh?” Dirga bertanya dengan tatapan menuduh.
“Ah, salahnya sendiri kenapa mengikutiku, singkatnya itu usaha pembelaan diri.”
“Sebaiknya lekas selesaikan pertengkaran kalian, aku akan pergi.”
Setelah mengatakan itu, Saga langsung pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari kedua orang yang diajaknya bicara. Sejak dulu adik-kakak itu memang sering berdebat, tapi akhir-akhir ini perdebatan mereka bisa jadi berbahaya bagi orang lain. Dan Saga enggan berada di antara keduanya, meski kenyataannya dia memang sudah berada di posisi itu, saat Saga memutuskan menerima tawaran Dirga untuk menjadi GM. Sepeninggal Saga keduanya justru jadi terdiam, tampak canggung satu sama lain hingga akhirnya Erlangga memutuskan pergi lebih dulu.
“Apa yang kamu pikirkan sampai enggak sadar kalau aku sudah pulang, emh?”
Tubuh Jasmine terperanjat saat Saga tiba-tiba saja memeluknya dari belakang. Bagi sebagian orang, termasuk Jasmine di dalamnya. Berpikir kalau memeluk pasangannya dari belakang hanyalah adegan klise yang biasa dilakukan sepasang kekasih, tapi tidak Jasmine pungkiri bahwa dirinya selalu menikmati momen tersebut.
“Bukan apa-apa,” sahutnya sembari mengelus pipi Saga, “kamu tahu betul cara memperlakukan perempuan. Membuat kami merasa nyaman saat bersamamu sepertinya bukanlah hal sulit, ya, ‘kan, Saga?”
“Wah, aku merasa seperti sedang disindir, kamu sadar itu?” balas Saga cepat, secepat dia kembali bersuara, “Apa sesuatu sudah terjadi selama aku pergi?”
“Yeah, begitulah. Tadi Disty ke sini, dia terlihat sangat marah padamu, tapi sepertinya sekarang dia sudah tenang karena dia sudah tidak meneleponiku seperti tadi.”
“Sebelum pulang, aku memang menyempatkan bertemu dengannya tadi, setelah menyerangku beberapa kali akhirnya dia tenang. Gadis itu selalu menggila setiap kali kekasihnya tidak bisa dihubungi. Oh iya, apa dia bicara kasar padamu, Jasmine?”
Si empunya nama tertawa sembari melepaskan pelukan Saga, “Itu bukan hal baru lagi Saga, aku justru senang dia mau berkeluh kesah di hadapanku.”
“Argh, gadis itu! Padahal aku sudah memintanya untuk bersikap lebih baik padamu. Dan kamu pun tahu kalau maksud kedatangannya bukan untuk curhat denganmu, jadi lain kali kalau dia bersikap kasar padamu marahi saja dia. Mengerti? Jangan pernah menahannya lagi.”
Jasmine mencium suaminya, lantas mengatakan, “Tidak. Terima kasih sarannya, tapi aku enggak berniat untuk membuatnya lebih membenciku. Selama Disty tidak memintamu untuk menceraikanku, sumpah aku tidak masalah dia memaki atau pun mengutukku.” Sebelum akhirnya dia melenggang keluar dari kamar. Sambil sesekali bersenandung kecil, suaranya baru berhenti saat pintu menutup.
Itu bukan ciuman pertamanya, Saga sering meminta Jasmine untuk menciumnya, tapi kali ini dia melakukannya tanpa diminta. Senyuman di bibir Saga mengembang dengan sendirinya, lalu dia berjalan ke arah meja rias Jasmine. Dia memperhatikan pantulan tubuhnya di cermin. Sosok yang kini berdiri mematung di hadapannya itu tersenyum lebar, seolah-olah baru saja memenangkan lotre yang bisa membuatnya seketika menjadi miliarder. Ekspresi bahagia itu tidak ada tandingannya, lalu Saga bergumam sambil menyentuh bibirnya,
“Apa dia baru saja mengatakan bahwa dirinya tidak mau melepaskanku?”
Sekali lagi, bunga-bunga bermekaran di taman hati Saga. Meski hanya pertanda kecil dan tidak bisa diartikan bahwa Jasmine sudah jatuh cinta padanya, tapi itu sudah cukup untuk membuat Saga lebih optimis. Dia ingin meyakinkan hatinya kalau empat tahun berjuang sendiri, usahanya tidak sepenuhnya sia-sia. Ya, masih ada harapan baginya untuk mendapatkan hati Jasmine. Mengisi tempat kosong di hati Jasmine dengan jutaan bunga dan kupu-kupu dari hatinya. Bahkan hingga bulan menampakkan dirinya, Saga masih terbuai dengan perlakuan manis istrinya sore tadi. Kini dia sedang memandangi Jasmine yang tengah sibuk menyiapkan makan malam mereka. Bukan Saga tidak mau membantu, tapi Jasmine bersikukuh tidak mau dibantu. Bosan dengan acara yang di tayangkan itu-itu saja, Saga bergegas mematikan TV dan lebih memilih memperhatikan istrinya memasak.
“Aku ingin mengajakmu makan malam di tempat yang bagus, berkeliling kota sambil menikmati udara malam, bagaimana menurutmu?”
“Apa masakanku tidak enak?” Jasmine menyahuti, tanpa mengalihkan pandangannya dari wajan dan cah kangkung yang sedang dimasaknya.
“Eh, bukan begitu. Kau tahu, aku hanya ingin pergi denganmu seolah-olah kita sedang berkencan.”
“Ah, begitu..., serius bukan karena masakanku buruk?”
“Meskipun masakanmu buruk, aku ini punya sistem imun yang kuat jadi tidak mudah sakit-sakitan cuma karena memakan masakan kurang enak.”
Jasmine memberengut, meletakkan lauk-pauk di atas meja, lalu mendudukkan diri di hadapan Saga. Menatap suaminya dengan tatapan sulit diartikan. Sesaat dia menghela napasnya, dan mulai menyantap makanan di hadapannya tanpa menawari Saga terlebih dahulu. Biasanya dia akan sibuk mengambilkan lauk-pauk untuk Saga barulah Jasmine bisa makan dengan tenang. Namun, kali ini berbeda. Dia tampak kesal, mendengar candaan Saga.
“Kau tahu, meskipun masakanmu terkadang keasinan atau terlalu pedas untukku, tapi aku selalu menantikan waktu makan bahkan saat aku di luar rumah. Rasanya menyenangkan bisa duduk satu meja dan berbagai cerita denganmu. Ah, bisa kau ambilkan sambalnya, tanganku tidak sampai.”
Kali ini ucapan Saga mampu mengembalikan senyuman istrinya. Sebenarnya Jasmine tidak marah, dia sepenuhnya mengerti maksud Saga mengajaknya makan di luar sambil jalan-jalan untuk menghibur dan memanjakannya. Hanya saja Jasmine ingin menjahili Saga, tapi melihat pria itu menanggapinya dengan serius, dia jadi terbawa situasi. Entah kenapa dia merasa dirinya harus tetap diam, agar bisa mendengar isi pikiran Saga. Dan setelah mendengar ucapannya, perut Jasmine mendadak gatal. Seolah-olah ada kumpulan kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya dan membuat Jasmine merasa bahagia.
Tawanya pecah, “Wah, ucapanmu bisa membuat Disty salah paham, jangan coba membuatnya cemburu denganku, mengerti?” diakhiri dengan segaris senyum semringah.
“Jangan mengkhawatirkan perasaan orang lain terus. Sudah kubilang, sebelum memikirkan orang lain, kamu harus memikirkan dirimu terlebih dahulu. Pentingkan dirimu, apa sesulit itu? Hmm..., perihal Disty cemburu atau tidak, aku yang akan mengurusnya. Sekarang lanjutkan makanmu, aku gak mau lihat istriku semakin kurus. Aku lebih suka perut buncitmu.”
Ah, satu lagi kebiasaan aneh Saga yang tidak bisa diterima oleh nalar Jasmine yaitu menciumi perutnya seolah-olah Jasmine sedang hamil. Pria itu bahkan sampai merajuk berhari-hari saat pertama kali Jasmine tahu kebiasaannya ini dan berusaha melarang Saga untuk menyentuh perutnya. Bukan karena tidak mau disentuh Saga, hanya saja saat pria itu melakukan hal-hal seperti ini, membuat Jasmine benar-benar malu. Pasalnya, dilihat sepintas pun tubuh Jasmine tidak seindah lekuk tubuh Disty. Tapi, kenapa Saga justru lebih sering menghabiskan waktu di rumah, bersama dengannya. Bukankah Disty jauh lebih berhak mendapatkan perhatian khusus seperti ini dari Saga, mengingat bahwa orang yang Saga cintai adalah Disty. Jasmine baru pertama kali menemukan kasus perselingkuhan seperti ini, biasanya kalau orang berselingkuh pasti memilih untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan wanita idamannya. Apa karena Saga cukup kolot perihal hubungan seks sebelum pernikahan, makanya dia hanya bisa melampiaskannya pada Jasmine?