Saga meletakkan kepalanya di pangkuan Jasmine, matanya terpejam dengan tangan melingkar erat di pinggang istrinya itu. Menciumi perut berisi Jasmine dengan penuh kasih sayang. Dia suka aroma istrinya, menikmati hangat dan lembutnya sentuhan Jasmine benar-benar membuat Saga mabuk kepayang. Saga jatuh cinta pada istrinya berulang-ulang kali, sampai rasanya dia sudah lupa ritme jantungnya dulu sangatlah normal sebelum bertemu wanita kaku ini. Namun, kini degup jantungnya seakan mampu membangunkan orang sekampung.
“Kau tahu, Jasmine?”
Jasmine lekas menyahuti, “Emmhh?” akan tetapi suaminya itu hanya menghela napas beberapa kali, tanpa melanjutkan ucapannya.
Saga justru sibuk memainkan ujung piama istrinya, seakan-akan melupakan pertanyaan bernada ambigu, yang beberapa saat lalu dia lontarkan. Sebenarnya Saga ingin memulai kembali percakapan yang terakhir kali membuatnya meninggalkan rumah. Sudah puluhan kali dia berusaha untuk mengabaikan perasaannya, tapi puluhan kali pula rasa tidak tenang itu berhasil membuat pikiran Saga menjadi kalut. Dia ingin mendengarkan semua jawaban Jasmine. Kali ini, Saga sudah memantapkan hati untuk menahan segalanya, dia tidak akan kabur seperti yang terakhir kali. Akan tetapi, saat dia ingin mengutarakan isi hatinya, perasaan gugup seketika hinggap begitu saja. Menggelitik rasa takut yang sempat Saga sembunyikan. Pertanyaan-pertanyaan aneh mulai memenuhi kepalanya, apa Saga sanggup mengontrol emosi yang bisa saja meluap saat mendengar jawaban Jasmine? Jawabannya Saga ragu. Ya, dia tidak mempercayai dirinya mampu menahan kata-kata Jasmine yang terlampau jujur. Itulah alasan kenapa Saga hanya menghela napas berkali-kali. Menatap Jasmine hanya untuk memalingkan pandangannya saat kedua mata mereka bertemu. Saga terlalu takut untuk mengakui bahwa dirinya tidak ingin kehilangan Jasmine. Hatinya menjerit, tapi logika menahan seluruh ucapannya di ujung lidah. Lalu tiba-tiba Saga mengubah topik percakapannya.
“Kemarin saat aku bermain golf, bolaku jatuh tepat di tepian danau dan yang menarik perhatianku, ada bunga daisy liar yang tumbuh di sana. Warna putihnya kontras dengan hijau rerumputan dan gelapnya air danau. Bunga kecil itu menantang dunia yang luas dengan memamerkan kelopak-kelopak rapuhnya. Bukankah itu keren, Jasmine?”
“Ya, pasti sulit baginya bertahan sampai bisa memekarkan bunga yang indah di tempat seperti itu. Dan matamu cukup jeli melihat keindahan yang biasanya terabaikan orang yang sibuk melihat hal-hal besar saja. Bunga itu dan kamu sama kerennya.”
“Iya, kan keren. Dia gadis kecilku yang sempurna.” Saga berseru penuh antusias, kemudian tersenyum lembut, "Saat baru melihatnya saja aku langsung jatuh cinta, berharap kamu bisa melihatnya juga. Jadi, aku membawanya pulang. Dia pejuang yang tangguh sudah saatnya mendapatkan perlindungan dan diperlakukan dengan istimewa.”
Setiap kali membahas tentang bunga, Saga akan berubah menjadi orang yang sangat peka. Dia antusias dan juga berhati hangat, energinya benar-benar positif. Seperti seorang anak kecil yang sedang belajar hal-hal baru, seperti itulah Saga di mata Jasmine. Dan disaat hal itu terjadi, Jasmine selalu ingin memperhatikan Saga, dia ingin menjadi seorang yang lebih dewasa agar bisa membuat suaminya senyaman mungkin saat bersamanya. Karena hanya ini saja yang mampu Jasmine lakukan untuk membalas segala jasa Saga selama ini.
“Uh, kamu tersenyum seperti itu lagi,” dia memicingkan matanya, “seaneh itukah aku? Sudahlah jangan dijawab, aku malas bertengkar.” Saga melingkarkan lagi tangannya di pinggang Jasmine, sesekali mengusap punggung istrinya penuh kasih.
“Suamiku benar-benar orang yang istimewa, dia selalu membuatku bangga. Makanya aku terus tersenyum memangnya salah kalau aku mengagumimu?"
Jantung Saga berdentum keras, senyuman yang terukir di wajahnya tidak bisa menyembunyikan betapa dia sangat senang mendengar ucapan Jasmine. Dia berdeham untuk mengontrol pacu jantungnya, barulah kembali bertanya, “Apa saja yang kamu lakukan hari ini, Jasmine?”
Si empunya nama tersenyum, matanya melirik ke kanan atas. Berusaha mengingat kembali waktu yang sudah dia habiskan seharian ini. Jasmine menggumam tidak jelas masih terus mengelus belakang kepala suaminya. "Tidak banyak yang kulakukan, ada apa? Tumben banget ingin tahu apa yang kulakukan.”
“Ingin tahu saja, kalau diingat-ingat lagi, selama ini aku tidak pernah menanyakan keseharianmu dan itu membuatku merasa seperti melewatkan banyak kesempatan.”
“Hariku cukup monoton, tapi aku benar-benar menyukainya. Setiap detik yang berlalu terasa sangat ringan, aku tidak pernah lagi merasa tertekan semenjak menikahimu. Aku suka menunggumu pulang, lebih suka saat kamu di rumah.”
Saga semakin membenamkan wajahnya di perut Jasmine, gerakan yang dia buat persis seperti seorang anak yang tidur di pangkuan ibunya. Tampak menggemaskan, tapi juga romantis. "Kamu benar-benar pandai membuat seseorang jatuh cinta dengan ucapanmu yang sederhana itu. Ceritakan semua hal monoton yang kamu maksud, tanpa terkecuali. Setelah mendengar ucapanmu barusan, aku jadi semakin ingin tahu keseharianmu.” tuturnya.
“Aku yakin kamu bakal bosan, karena yang kulakukan di rumah tidak berbeda jauh dengan apa yang kamu lihat saat bersamaku.”
“Jangan bertele-tele lagi, ayo ceritakan. Aku harus tahu, apa saja yang istriku lakukan dan rasakan selama di tinggal kerja suaminya yang tampan ini.”
Lagi-lagi Jasmine tertawa mendengar ucapan Saga, ya suaminya itu bisa menjadi sangat lucu di waktu-waktu tertentu. Dan saat dia menyombongkan ketampanannya, terdengar seperti seseorang yang sedang melawak. Pasalnya Saga selalu ngotot setiap kali mengatakannya, seolah tidak akan ada yang mengakui ketampanannya kalau dia tidak meninggikan suaranya.
“Baiklah, setelah mengantarmu sampai depan, aku langsung mengerjakan pekerjaan rumah, aku bahkan sempat menonton drama lalu menyiapkan makan malam. Terkadang saat Mama datang, dia suka mengajakku keluar, atau menyiapkan makanan untuk kita. Yeah, kurang-lebih begitu saja keseharianku.”
“Ah, hampir lupa. Sebenarnya selama ini aku selalu menghabiskan berjam-jam di taman bungamu, rasanya menyenangkan. Dulu, saat pertama kalinya aku menginjakkan kaki di sini, tempat itu hanya halaman kosong. Seiring dengan berjalannya waktu, kamu memenuhi tempat kosong itu dengan bunga-bunga yang indah, sampai rasanya aku masih tidak percaya dengan apa yang kulihat.”
“Udah gitu aja?”
“Iya. Membosankan, ya? Sudah aku bilang gak ada yang menarik dari keseharianku.”
Saga bergegas bangkit lalu duduk bersila berhadapan dengan Jasmine yang tampak terkejut mendapati suaminya bergerak tiba-tiba, bahkan tangan yang Jasmine gunakan untuk membelai kepala suaminya itu sampai menggantung di udara saking cepatnya gerakan Saga. Saat ini, suaminya itu mengangguk lalu menyilangkan tangannya di depan d**a. Sekarang apa lagi yang akan pria itu lakukan, bahkan setelah tinggal bersama selama ini, Jasmine tetap tidak bisa memprediksi apa yang akan Saga lakukan atau katakan. Saga selalu melakukan hal-hal random dan hal itu pula yang menjadikan Saga semakin menarik.
“Udah tahu membosankan, kenapa enggak pergi cari hiburan, jalan-jalan atau main ke rumah teman?”
“Ah, itu... aku tidak punya seseorang yang mau kupanggil teman. Lagi pula mau pergi ke mana, aku enggak punya tujuan. Toh, aku senang melakukan hal-hal kecil seperti itu di rumah.”
“Nope!” Saga menggeleng cepat, “Pertama-tama, mengerjakan pekerjaan rumah itu capek. Kedua, tidak akan ada yang memuji kerja kerasmu. Dan yang ke tiga, bagaimana kamu bisa punya teman kalau ke luar rumah saja enggan?! Lakukan apa pun yang kamu sukai. Berbelanja mungkin, atau berkeliling kota sambil menikmati kuliner yang belum pernah kamu coba.”
“Enggak perlu Saga. Pertama, pekerjaan rumah enggak seberat itu. Kedua, ada beberapa hal yang kurasa tidak perlu mendapat pengakuan dari luar, supaya kita bisa belajar menerima kenyataan kalau gak semua orang akan menghargai usaha kita. Ke tiga dan yang terakhir, mungkin aku akan mencobanya lain kali, meskipun aku tidak bisa janji kapan waktu yang tepat untuk melakukannya.”
Alis Saga menyatu saat keningnya berkerut tidak suka mendengar jawaban istrinya. Dia berpikir begitu keras, kalau itu memang yang Jasmine pikirkan baiklah dia akan berusaha memahami, tapi alasan sebenarnya Jasmine tidak pernah keluar rumah itu apa?
“Kamu bukan gak mau bepergian, tapi gak bisa bepergian karena uang yang kuberikan padamu tidak cukup! Benar begitu? Kenapa gak bilang kalau uangnya gak cukup, jangan-jangan skincare-mu juga habis? Jasmine yang malang. Besok kita berbelanja apa pun yang kamu suka, kita jalan-jalan, dan makan enak. Mumpung beberapa hari lalu aku gajian, aku bisa beliin yang kamu mau.”
“Jangan konyol deh Saga. Aku bahkan menabung uang belanja bulan kemarin dan sebelum-sebelumnya. Kamu udah memberiku lebih dari cukup.”
“Lagi-lagi kamu mengatakan, sudah lebih dari cukup. Emangnya berapa banyak yang kamu terima dariku? Kalau bukan karena enggak punya uang, lantas apa? Apa yang membuatmu menghabiskan waktu di rumah dan memilih melakukan kegiatan yang itu-itu saja? Kamu itu istriku bukan seorang asisten rumah tangga Apa kamu benar-benar menyukai pekerjaan rumah? Bukan karena terpaksa? Omong kosong. Pokoknya besok kita lakukan apa pun yang belum pernah kita lakukan bersama. Tapi, apa kamu benar-benar menyukai pekerjaan rumah?”
Jasmine menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan Saga yang itu-itu saja, “Aku menyukainya Saga.” lalu tersenyum saat melihat ekspresi di wajah Saga tampak aneh.
“Ah, persetan terpaksa atau enggak, masalahnya kita menikah sudah empat tahun lebih dan selama itu pula kamu terkurung di sini, kamu baru bepergian hanya saat aku mengajakmu atau Mama datang. Kamu jelas menghabiskan lebih banyak waktu membosankan dan aku baru tahu hal ini sekarang. Pikirkan bagaimana perasaanku Jasmine! Cepat ganti pakaianmu, kita jalan-jalannya hari ini aja. Aku gak yakin kamu benar-benar tidak tertarik bepergian atau belanja, pokoknya mulai sekarang jangan terlalu sibuk di rumah. Kamu harus merawat dirimu lebih dari yang sudah kamu lakukan selama ini, senangkan dirimu.”
Kali ini bukan hanya duduk bersila saja, Saga bahkan berdiri dan mulai mondar-mandir seperti orang yang hampir ketinggalan pesawat. "Tunggu apa lagi, Jasmine? Cepat bangun, kita jalan-jalan sekarang.” serunya sambil mengenakan jaket kulit, tapi bawahannya dia hanya memakai kolor sebatas paha berwarna abu-abu gelap. Entah Saga memang sengaja berpenampilan seperti itu supaya bisa dianggap sebagai role model terkini atau dia benar-benar lupa memakai celananya, yang pasti tingkah Saga membuat Jasmine tidak bisa berhenti tertawa.
“Ini udah hampir tengah malam Saga, kita mau ke mana jam segini?”
“Resort, terus berduaan di pinggir pantai melihat bintang-bintang. Sekalian bulan madu, bukannya kamu suka hal sederhana seperti itu, emh?” Saga menyahuti dengan nada suara dibuat rendah, sambil menunjukkan ekspresi konyol dia menaik-turunkan alisnya.
“Itu bukan ide buruk, tapi aku gak mau kalau berangkat sekarang juga.”
“Kenapa?” matanya melotot saat menanyakan itu, merasa tidak terima usulnya ditolak mentah-mentah oleh Jasmine, "Sekarang apa lagi alasannya?"
“Berbahaya kalau berkendara selarut ini Saga, lagi pula lusa kamu sudah harus masuk kerja. Jangan sampai niatnya liburan justru berakhir jadi kunjungan ke rumah sakit, gara-gara kelelahan di jalan.”
“Kau persis seperti Mama.”
Saga mendengus, mengacak rambutnya asal lalu membuka kembali jaket yang tadi dia kenakan, tidak sampai di situ saja Saga bahkan melempar jaketnya ke sembarang arah. Menggerutu bagaikan anak kecil, mungkin dia lupa kalau usianya kini sudah menginjak angka empat puluh dua tahun.
“Aish, kamu benar-benar mirip mamaku, seharusnya aku tidak menikahi perempuan menyebalkan sepertimu. Aku pasti sudah tidak waras karena menikahi duplikat Mamaku.”
“Memangnya dia itu drakula atau manusia setengah serigala, sampai gak mau ketemu orang lain?! Cikh, atau dirinya selebriti yang gak bisa ke tempat ramai seenaknya karena takut dikejar paparazi dan penggemar yang menggila kalau melihatnya? Dasar perempuan menyebalkan.” walaupun terus menggerutu dan tiada hentinya Saga mengatai Jasmine menyebalkan, tapi saat dia masuk ke dalam selimut, Saga langsung memeluk istrinya itu begitu erat. Kata-kata dan perbuatannya jelas bertolak belakang.
“Kok kamu jadi kesal begini?”
“Gimana gak kesal, empat tahun lebih kita hidup seatap, tapi baru hari ini aku mengetahui alasan istriku berbeda. Dengar Jasmine, disaat orang lain punya kesempatan untuk mengeluhkan kelakuan istrinya sedangkan aku? Istriku bahkan tidak pernah marah, dia tidak cemburu meskipun aku berselingkuh di depan matanya. Jangankan menuntut lebih apalagi membuat onar, menggunakan uang dan barang pemberianku saja dia ragu. Dan sekarang kamu tanya kenapa aku kesal?! Aku kesal pada diriku sendiri yang baru mengetahui hal sebesar ini.” Saga menghela napas, sebelum akhirnya kembali bersuara, “Mau bagaimana lagi, istriku ini benar-benar perempuan yang patuh, perempuan lemah lembut dan yang pasti dia itu perempuan yang gak punya perasaan. Apa kamu benar-benar manusia?"
Sedangkan Jasmine hanya bisa tertawa sembari menepuk-nepuk punggung Saga, coba menenangkan emosi kekanakan pria itu. Meski terkadang ucapan dan tingkah laku Saga tampak kasar, tapi Jasmine bisa merasakan kalau pria itu tidak sungguh-sungguh marah terhadapnya. Cukup lama mereka bertahan dengan posisi berpelukan seperti itu, Saga mengubah posisinya saat tepukan lembut di punggungnya berhenti, menandakan Jasmine sudah lebih dulu menjelajah ke alam mimpi.
“Benar seperti itu, kalau kamu tidak setuju jangan ragu untuk menentang keputusanku.” Gumamnya sebelum mendaratkan satu kecupan di kening istrinya.
Malam semakin larut, tapi Saga belum bisa menyusul Jasmine ke alam mimpi, pasalnya ada beberapa berkas yang harus dia tinjau kembali. Saga memang dekat dengan Dirga, tapi dirinya menolak untuk memanfaatkan kedekatannya untuk korupsi waktu dan mengabaikan tanggung jawabnya.