Bab 9 : Haruskah kita?

2210 Kata
Saga baru pulang joging saat Jasmine selesai mandi. Pandangan mereka bertemu, tapi Jasmine buru-buru mengalihkan pandangannya, dia tersenyum canggung mendapati Saga menatapnya tanpa berkedip. Mendadak firasatnya menjadi buruk. Jasmine tahu betul apa yang akan terjadi kalau Saga melihatnya dengan tatapan seperti itu. Dan tidak menutup kemungkinan kalau saat ini isi kepalanya sudah dipenuhi beragam ide gila, yang tentunya akan langsung Jasmine tolak kalau Saga sampai mengusulkan hal aneh pagi-pagi begini. “Bisakah kita mandi bersama, aku akan menggosok punggungmu, atau yang lain?” Pertanyaan tidak sopan itu mengudara dengan lancarnya. Saga mengerjap beberapa kali, mengumpulkan kewarasannya yang lagi-lagi buyar saat mata mereka kembali bertubrukan. Benar saja dugaan Jasmine, Saga bahkan mengatakan hal memalukan seperti itu tanpa basa-basi. Melihat caranya memutar bola matanya kemudian menghela napas, Jasmine rasa Saga pun tidak kalah terkejut mendengar ucapannya sendiri. “Wah, ini gila.” gumamnya sambil menundukkan kepala, Saga tertawa kecil menyadari kemesumannya. Dia mulai menyesali mulutnya yang tidak bisa di rem sampai akhirnya mempermalukan diri sendiri seperti ini. “Aku gak mau kita mandi bersama, tapi kalau kamu mau anterin aku belanja bulanan, aku bakal senang banget.” Suara istrinya menarik fokus Saga, lantas dia tersenyum menanggapi senyuman manis Jasmine. Dia menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Aku mandi dulu, setelah itu kita berangkat.” Akhir-akhir ini, Saga memang menjaga sikapnya. Berharap jika dia bersikap sedikit sopan akan membuat Jasmine merasa lebih nyaman saat bersamanya. Saga benar-benar ingin menyentuh hati istrinya, berharap Jasmine mulai terbuka padanya, menjadikan Saga seseorang yang lebih berarti dalam hidupnya. Seseorang yang akan selalu Jasmine andalkan dalam segala situasi. Saking niatnya dia bahkan tidak pernah lagi keluar dari kamar mandi tanpa berbusana terlebih dahulu. Meskipun itu sesuatu yang wajar bagi kebanyakan orang, tapi bagi Saga melakukan hal itu butuh perjuangan keras. Mengubah kebiasaan yang sudah mendarah daging sejak dia masih kecil, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kini, untuk bertelanjang d**a saja dia sudah jarang sekali. Lalu tadi dia justru keceplosan ketika melihat Jasmine keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk kimono. Saga pasti sudah gila karena mengatakan hal tidak pantas di pagi hari seperti ini. Dia menengadahkan kepalanya, menikmati siraman air hangat yang jatuh secara teratur ke tubuhnya. Saga harus berusaha lebih agar bisa mengontrol dirinya. Sebab selama ini hubungan pernikahan dia dan Jasmine lebih cocok masuk ke dalam dongeng Serigala dan Gadis Kerudung Merah daripada kisah romantis, yang mendebar manis dan kehangatan. Dulu, saat malam pertama mereka, Saga tanpa aba-aba langsung menyerang Jasmine. Dia tidak pernah bertanya apa Jasmine sudah siap atau tidak, Saga terlalu dibutakan nafsu dan dia akui dirinya sangatlah egois kala itu. Sampai tidak pernah sekalipun Saga memikirkan apakah Jasmine juga menginginkan dirinya atau justru tidak dalam keadaan yang tepat untuk melakukan itu. Dia mendesah, seirama dengan tangannya yang bergerak memutar keran, seketika membuat air yang mengalir di shower berhenti. “Kenapa aku tidak menyadari ini lebih awal?” gumamnya sambil melilitkan handuk di pinggang dan meraih handuk yang lebih kecil untuk mengeringkan rambutnya. “Wah, kalau dipikir lagi aku benar-benar sudah bersikap tidak adil padanya.” Kali ini dia mengajak bicara pantulannya di cermin, meletakkan handuk di kepalanya yang menunduk. Saga menggumam tidak jelas sesekali dia menggeram dan tertawa persis seperti orang yang kerasukan makhluk halus. Wajahnya merah padam, membayangkan selama ini Jasmine tidak pernah menikmati setiap sentuhannya karena Saga tidak melakukannya sesuai yang istrinya suka. Ah, membayangkannya saja membuat Saga kehilangan percaya dirinya, bagaimana dia akan menghadapi Jasmine setelah menyadari hal ini? Saga benar-benar berada dalam masalah. “Kamu baik-baik saja, Saga?” Si empunya nama menoleh, ekspresi di wajahnya sudah menjelaskan bahwa dia benar-benar terkejut. Saking asyiknya bermonolog, Saga sampai tidak menyadari kehadiran Jasmine. "T-tentu saja,” dia menyahuti sedikit tergagap, berjalan menuju ruang ganti tanpa melepaskan pandangan dari istrinya. “Tunggu sebentar lagi aku keluar.” teriaknya dari dalam, "Aish, canggung! Sial, canggung sekali!" dia kembali bermonolog sambil memukul-mukul kepalanya. “Sejak kapan bertelanjang d**a di depannya membuatku merasa malu? Sial!” Saga kembali menggerutu tanpa menyadari kalau suaranya terlalu keras dan jelas untuk disebut sebagai gerutuan. Namun, detik berikutnya dia tersenyum, "Jadi begini perasaan Jasmine setiap kali aku mengganggunya?” Saat Saga tiba di garasi, Jasmine sudah duduk manis di kursi penumpang sambil memakan camilan. Sesekali tangannya berselancar di keypad handphone-nya. Saga sengaja tidak langsung masuk ke mobil, dia ingin melihat hal apa yang sudah membuat Jasmine begitu fokus. Dia tidak mau ambil risiko, istrinya kepincut pria lain. Egois memang, karena Saga tidak ingin istrinya dilirik pria lain, tapi dirinya sendiri justru terus saja berdekatan dengan Disty. Jasmine baru menoleh saat Saga membuka pintu lalu duduk di sisinya. Sekilas Saga melihat kolom pesan singkat, sesaat sebelum Jasmine meletakan ponselnya di dalam tas. Jantung Saga berdetak cukup cepat, istrinya itu sedang berkirim pesan dengan seseorang. Sialnya, Saga tidak sempat melihat nama dari orang yang sedari tadi mengirimi spam chat pada Jasmine. Orang itu pasti bertanya-tanya kenapa Jasmine tidak kunjung membalas pesannya makanya dia terus saja mengirimi pesan. Membuat benda pipih berbentuk persegi panjang itu tak henti-hentinya menjerit menandakan pesan masuk. “Wah, kamu terlihat sangat berbeda saat mengenakan pakaian casual seperti ini.” komentarnya sambil menyuapi Saga sepotong keripik kentang, Untuk atasan Saga mengenakan hoodie oversize berwarna abu-abu dengan logo hati kecil di bagian d**a, itu adalah merk yang cukup terkenal di pasaran. Dia juga memakai topinya dengan cara terbalik, memamerkan keningnya dan tentu saja itu memberikan kesan yang lebih santai. Apalagi dia memadukannya dengan celana kargo tiga-perempat berwarna hitam pekat, senada dengan arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Lalu Saga melengkapi penampilannya dengan mengenakan sepatu skate berwarna putih polos, yang tampak matching dengan hoodienya. Outfit Saga hari ini, tampak segar. Sungguh penampilan yang bertolak belakang dari biasanya. “Tampan bukan? Sudah kuperingatkan kalau suamimu ini gantengnya kelewatan.” Saga menyahuti dengan penuh percaya diri, sesaat dia melupakan kalau tadi dirinya merasa cemburu, tapi bukan Saga kalau cemburu dan kecurigaannya bisa hilang secepat itu. Saga mulai memicingkan matanya, dan kembali menerka-nerka. Apalagi ini? Apa Jasmine berusaha mengalihkan fokus supaya Saga tidak mempertanyakan siapa yang sedari tadi mengiriminya pesan singkat? Tunggu! Apa Jasmine berselingkuh? Terkanya tidak ada habisnya. Padahal bagi Jasmine jawaban yang Saga berikan benar-benar memperbaiki moodnya, “Gak ada yang bisa menandingi rasa percaya dirimu itu.” sahutnya setelah berhasil mengatur tawa “Pakai dulu sabuk pengamannya sebelum kita jalan,” titah Saga yang menyadari Jasmine seperti biasanya lupa memasang sabuk pengaman. Istrinya itu memamerkan cengiran, saat mengerjakan yang Saga perintahkan. Setidaknya dengan Jasmine lupa memasang sabuk pengaman, Saga jadi punya kesempatan menunjukkan kalau dia selalu memperhatikan istrinya itu. Jadi, selama bersamanya Jasmine tidak perlu selalu sempurna dalam hal apa pun. Sebab ada Saga yang akan melengkapinya. “Ah, ini nih alasanku lebih suka naik motor.” “Dasar aneh. Dari semua perempuan yang pernah kutemui, cuma kamu aja yang nyaris gak pernah mau duduk di sampingku dan memperhatikan suamimu ini berkendara. Kamu lebih senang duduk di jok belakang motor tuaku dan membiarkan rambutmu itu dirusak angin, atau tubuhmu di sengat matahari sampai mandi keringat.” “Aku jadi lebih seksi di matamu kalau begitu. Bukannya itu yang kamu sukai?” celetuk Jasmine sambil cekikikan. “Wah, siapa yang mengajarimu bicara begitu, eh?” sahut Saga tidak bisa menahan tawa, “kamu tahu, kan risiko mengatakan hal seperti itu bisa membuat kita menunda rencana belanja bulanan?” “Jangan konyol, cepat berangkat. Jangan sampai kita melewatkan sarapan karena terlalu asyik mengobrol di sini.” Dia memang memiliki sifat yang mirip dengan ibu mertuanya, meskipun Jasmine tidak terlahir dari rahim wanita yang Saga panggil mama sejak pertama kali dia bisa berbicara. Namun, mertua dan menantu itu lebih terlihat seperti anak dan ibu kandung. Sampai sekarang Saga masih percaya kalau rencana terbesar ibunya memilih Jasmine karena dia ingin mendapatkan teman untuk menggosipkan Saga dan ayahnya. Bahkan ibunya itu lebih dekat dengan Jasmine ketimbang dengannya. Setiap kali Saga pergi untuk mengurus pekerjaan di luar kota, tanpa dimintai tolong pun ibunya itu sudah mengemas barang-barang yang akan dia bawa selama menemani Jasmine. Dan ketika sudah waktunya Saga pulang, ibunya pasti akan korupsi waktu dan tinggal lebih lama. Disaat tidur pun, wanita yang sudah mulai keriput itu memeluk Jasmine seakan-akan tengah menjaga hal yang sangat berharga baginya. Saga senang orangtuanya begitu mencintai Jasmine. Namun, di sisi lain dia juga merasa tidak enak hati pada mertuanya. Karena selama ini Jasmine sangat jarang bahkan hampir selalu menolak untuk mengunjungi rumah orangtuanya sendiri. Meskipun setiap kali mertua Saga berkunjung, Jasmine tetap menyambutnya dengan hangat. Namun, jelas istrinya itu merasa tidak nyaman. Hal itu lebih mencolok saat kedua saudarinya ikut datang. Saga tidak tahu alasan Jasmine begitu tertekan berada di tengah keluarganya sendiri. Pastinya ini berkaitan dengan masa lalu yang coba dia sembunyikan dari Saga, atau mungkin jauh sebelum kejadian itu hubungan keluarga Jasmine memang sudah memiliki jarak. “Masuklah lebih dulu, aku akan mencari tempat parkir.” Suara Saga memecah keheningan sepanjang perjalanan, dia sengaja menurunkan Jasmine di depan pintu supermarket sebelum memarkirkan mobilnya. Jarak tempat parkir memang tidak begitu jauh, hanya saja cuaca hari ini benar-benar panas. Dia tidak mau Jasmine berkeringat bahkan sebelum mulai berbelanja. Bahkan saat tidak berkeringat saja, Jasmine adalah tipe orang yang tidak suka mengelilingi pusat perbelanjaan hanya untuk cuci mata. Jika dia berniat membeli sayur, maka dia akan langsung berjalan ke tempat sayuran tanpa melirik tempat buah atau makanan kaleng, meskipun posisinya berdekatan. Seperti yang sering Jasmine katakan, dia hanya bisa fokus pada satu hal saja. Itu juga alasan Jasmine tidak mau mengendarai motor atau mobil meskipun dia bisa melakukannya. “Saga!” setibanya di dalam Jasmine sudah melambai-lambaikan tangan sambil memanggil namanya. Istrinya itu tampak cantik mengenakan midi dress berbentuk A-line, berwarna hitam dengan kancing depan yang berbaris rapi dari atas hingga bawah. Panjang dress-nya mungkin sepuluh centi di bawah lutut, memamerkan sepasang kaki jenjangnya yang dilengkapi dengan sepatu skate berwarna putih. Untuk aksesoris, Jasmine hanya mengenakan jam tangan premium yang Saga belikan beberapa bulan lalu, sepasang anting berbentuk bunga sakura dan sebuah cincin yang terbuat dari emas putih dengan permata kecil melingkar di jari manisnya. Itu adalah cincin pernikahan mereka. Untuk tatanan rambut, Jasmine hanya membuat sanggul asal, membiarkan anakan rambutnya jatuh tak beraturan. Dengan kesederhanaan itu, Jasmine tetap terlihat menawan. “Susah, ya cari tempat parkirnya?” Jasmine bertanya saat Saga tiba di hadapannya, “hari ini ramai banget, mungkin karena weekend, jadi semua orang ingin berbelanja atau nongkrong di sini. Ah, aku lebih suka tempat ini tidak terlalu ramai.” “Ada apa, kok diam aja?” tanyanya lagi, dia merasa heran Saga tiba-tiba saja menjadi pendiam. “Cuma teringat sesuatu.” Sahutnya diakhiri dengan segaris senyum semringah. Sudah lama mereka tidak bepergian bersama seperti ini, dan itu mengingatkan Saga pada tahun pertama mereka menikah. Tidak seperti sekarang, kala itu Jasmine lebih banyak diam dan sekalinya bicara dia benar-benar hanya menanyakan segala sesuatu yang akan dibelinya maupun yang Saga sukai atau tidak. Hari ini Saga menyadari, waktu sudah berlalu begitu saja. Dan tak banyak kenangan yang tercipta di antara mereka. “Kita hanya berbelanja bulanan, kenapa kamu sesenang ini?” dia bertanya, menatap rona merah muda di pipi Jasmine sebelum akhirnya melabuhkan pandangannya di sepasang manik coklat madu istrinya. “Entah, hari ini suasana hatiku lagi bagus dan aku gak bisa menemukan alasan yang tepat.” Saga meraih tangan kiri Jasmine, menautkan jemarinya dengan jemari lentik istrinya. Sedangkan tangan lainnya dia gunakan untuk mendorong troli belanja. Benar yang Jasmine katakan, tidak ada alasan pasti kenapa hari ini mereka merasa bahagia. Jalan bergandengan melewati lorong berisi berbagai macam bahan makanan, sambil membahas hal-hal sepele saja sudah mampu membangkitkan senyuman mereka. Langkah Saga terhenti di salah satu toko yang menjual perlengkapan bayi. Matanya fokus menatap sepasang sepatu bayi berwarna putih polos dengan sulaman berbentuk bunga di setiap sisinya. Itu sepatu yang manis dengan ukurannya yang benar-benar kecil siapa pun akan gemas dibuatnya. Jasmine mengikuti arah pandangan suaminya, detik berikutnya dia tersenyum. Di rumah, Saga sudah memiliki belasan pasang sepatu bayi dengan berbagai ukuran dan model. Pria itu selalu mengatakan bahwa dirinya lebih suka melihat benda-benda yang berhubungan dengan bayi, tapi Saga tidak terlalu menyukai bayi. “Kamu mau beli itu?” suara Jasmine kembali menarik fokusnya, Saga tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Koleksiku sudah banyak, lain kali saja kalau kita berniat memiliki anak." Kali ini ada getar dalam suara Saga, entah kenapa dirinya tiba-tiba merasa sedih, “Apa lagi yang akan kita beli? Emnnhh..., sebaiknya kita makan dulu, perutku sudah keroncongan sedari tadi.” “Aku akan membelinya.” ucap Jasmine mantap, lalu menatap Saga penuh semangat. “Ayo, kita beli sepatu itu, kali ini itu milikku. Kamu tidak boleh mengakuinya saat di rumah, ya?!” Saga menahan tangan istrinya, menatap Jasmine seolah-olah dia melakukan kesalahan. Tanpa berbicara Saga hanya menggelengkan kepalanya, "Kenapa?” tanya Jasmine, kembali mendekati Saga. “Kamu tidak berpikir mengulang pertengkaran di sini karena membahas hal itu lagi, kan Jasmine? Aku enggak mau mood kita rusak hanya karena sepasang sepatu kecil itu.” Jasmine tertawa melihat ekspresi Saga, “Kamu lucu banget kalau lagi khawatir begini,” dia membelai lembut pipi suaminya, “kita tidak akan bertengkar Saga. Jadi, ayo beli, kamu bilang akan memberikan apa pun yang aku inginkan.” “Haruskah kita membelinya?” Saga menyahuti dengan pertanyaan yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban, setelah sempat layu kini senyuman di wajahnya kembali mengembang dengan sempurna. Saat Jasmine menganggukkan kepalanya, mereka melangkah dengan pasti memasuki toko itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN