Selesai berbelanja bulanan, Saga langsung tancap gas menuju pantai yang jaraknya kurang-lebih menempuh waktu dua jam perjalanan, itu pun jika tidak terjebak macet. Sedangkan barang belanjaan sengaja ia minta dikirimkan pihak supermarket, tak lupa Saga juga meminta bantuan ibunya untuk datang ke rumahnya untuk menerima belanjaan mereka. Jasmine jelas sempat menolak, bahkan kata-katanya sebelum memasuki toko perlengkapan bayi berakhir dengan perdebatan yang cukup sengit. Dia tidak mau merepotkan ibu mertuanya, sedangkan Saga bersikukuh bahwa tindakannya tidak merepotkan ibunya sama sekali. Saga tahu apa yang ibunya pikirkan, bahkan saat mereka pulang ke rumah, wanita itu pasti akan menyuruhnya untuk berlibur lebih lama lagi.
“Masih gak percaya? Besok saat kita kembali, kamu bakal lihat sendiri seperti apa mama itu.”
Jasmine hanya melirik sekilas, lalu memalingkan wajahnya seperti semula. Meskipun lehernya mulai pegal menengok ke arah samping terus, tapi Jasmine belum mau menyerah begitu saja. Dia tidak percaya, Saga sudah membuat orangtuanya mengurusi kekacauan yang sudah mereka perbuat. Bagaimana kalau mereka nanti terkena tulah karena menyuruh orangtua untuk melakukan pekerjaan berat begitu. Jasmine juga yakin kalau suamiya yang terlalu percaya diri itu tidak akan menyadari kalau perbuatan mereka yang seperti ini, adalah kesalahan dan Jasmine kini termasuk dalam kategori menantu kurang ajar yang memanfaatkan kebaikan mertuanya.
Jasmine menghela napas lalu mengatakan, “Aku bahkan belum mengangkat underwear kita!”
Mata Saga membulat, dia bahkan membuat kekacauan di ruang ganti saat memilih pakaian yang akan dia kenakan hari ini, belum lagi Saga meninggalkan handuk basah di lengan sofa. Tiba-tiba saja dia teringat sesuatu yang akan membuat tanduk tumbuh di kepala ibunya kalau Saga benar-benar melupakan hal itu sebelum berangkat. Dia mengatur ekspresinya, lantas meraih jemari istrinya.
“Tenanglah. Wajar kalau ada underwear menggantung di jemuran, toh itu memang tempatnya. Aku bahkan lupa sudah mematikan hair dryer atau belum.”
“Seriously?” istrinya lekas menyahut lalu mendesah, “Saga, kuharap kita tidak kualat.”
"Apa sebaiknya kita pulang dulu untuk mengecek?"
"Iya! Ayo, kita pulang dulu. Cepat putar balik di depan. Jangan sampai kita terkena tulah karena berbuat buruk seperti ini. Ayo pulang, bagaimana kita bisa menikmati liburan sedangkan Mama sibuk membersihkan rumah kita!"
Di rumah ibunya justru sedang bersenandung riang sambil menyusun belanjaan yang dibeli anak dan menantunya. Tubuh Susan yang berisi bergoyang ke kiri dan ke kanan. Wajahnya semringah dengan pipi yang merona, membayangkan Saga dan Jasmine akhirnya bepergian berdua saja, syukur-syukur kalau mereka memutuskan untuk berbulan madu. Siapa tahu ketika mereka pulang liburan, dia akan mendapat kabar kalau menantunya hamil.
“Aaaaaahh...,” jeritannya melengking, disusul sebuah tawa cekikikan, “Sudah kuduga kalau mereka itu memang malu-malu kucing, sebenarnya senang kalau disuruh berduaan, tapi nolak terus.”
Dengan telaten dia memilah mana bahan yang akan masuk lemari penyimpanan dan mana yang harus masuk freezer. Sedangkan buah-buahan dan sayuran dia susun di lemari pendingin khusus untuk bahan-bahan yang mudah busuk atau layu. Selesai dengan pekerjaannya di dapur Susan bergegas membersihkan kekacauan yang Saga perbuat. Seperti yang Saga katakan, kalau Jasmine adalah duplikat Susan. Pasalnya kedua wanita ini tidak akan diam sebelum semua pekerjaan beres. Dalam hitungan jam, rumah itu sudah kembali dalam keadaan seperti semula, bersih dan rapi. Tak lupa Susan juga menyempatkan mengganti bunga-bunga di vas dengan bunga yang tadi di belinya dalam perjalanan. Dia juga menuliskan beberapa notes di lemari pendingin, mengatakan bahwa mereka harus lekas makan sesampainya di rumah. Jasmine atau Saga hanya perlu menghangatkannya di microwave, Susan khawatir menantunya itu akan kelelahan kalau harus memasak setibanya di rumah. Kehadiran Susan menghangatkan rumah itu meskipun di luar sedang hujan deras. Dalam buaian sinetron tanpa terasa dia terlelap di ruang tengah.
"Lain kali jangan bertanya padaku kalau akhirnya kamu memutuskan sendiri." Jasmine mengatakannya dengan dibarengi tatapan kesal, dia juga menyilangkan tangannya di depan d**a saat Saga berusaha meraih jemari tangannya untuk pria itu genggam.
Ya, saat ini Jasmine dan Saga baru saja cek in hotel di tepi pantai. Kini keduanya sedang mengikuti staf hotel yang mengantarkan mereka ke kamarnya. Saga tampak asyik mengobrol dengan staf yang usianya lebih muda dari mereka, meski demikian jelas pria yang baru menapaki usia dua puluhan itu tampak sudah banyak memiliki pengalaman hidup. Sedangkan Jasmine memilih berjalan selangkah di belakang keduanya, matanya sibuk memperhatikan hamparan pasir putih yang bersentuhan langsung dengan lautan yang berubah warna jadi jingga. Di mata Jasmine, matahari seolah-olah tengah melebur menjadi satu dengan lautan, menghangatkan birunya laut dengan cahaya jingganya. Benar-benar pemandangan yang sangat jarang dia saksikan, secara langsung begini.
Kali ini dia menoleh saat tangannya digenggam oleh Saga, “Jangan sampai tertinggal.” Tutur suaminya lalu tersenyum begitu lembut,
Bahkan kehangatan matahari terbenam seakan telah melembutkan sikap Saga yang terkadang begitu kasar dan keras seperti batu karang. Sesaat pandangan Jasmine terfokus pada jarinya yang berada dalam genggaman Saga, sebelum matanya kembali menjelajah tempat itu sembari berdecak kagum pada semua hal yang dia temui. Meresapi sentuhan angin yang berembus cukup kencang, menggoyang-goyangkan pelepah dari pohon kelapa yang berbaris rapi. Kali ini langkah mereka berhenti di bawah pohon cemara laut yang tampak kokoh dan rindang. Di pohon yang terletak di depan kamarnya itu terdapat sebuah ayunan kayu yang ikut dipermainkan angin. Saat Saga memintanya ikut, Jasmine menolak ajakan masuk Saga. Dia ingin duduk di ayunan itu terlebih dahulu, rasanya Jasmine terlalu menyayangkan kalau dia melewatkan suasana seperti ini hanya untuk menghangatkan diri di dalam kamar. Suasana yang semula remang-remang perlahan berganti menjadi kegelapan yang tanpa terasa membuat Jasmine meneteskan air mata. Dulu hidupnya seperti ini sebelum mengenal Saga. Namun, semenjak bertemu dengan lelaki penuh teka-teki itu, perlahan cahaya mulai masuk. Sama seperti cara Saga menyalakan api unggun di dekat ayunannya, pria itu benar-benar telah menghadirkan kembali kehangatan yang sempat dirampas dari Jasmine.
“Rapatkan selimutnya,” tutur Saga setelah menyerahkan selimut pada Jasmine.
Tampak dari rambutnya yang masih basah dan suaminya itu sudah mengganti pakaian yang dikenakannya, pasti Saga mandi saat Jasmine sibuk melamun. Saga duduk di salah satu bongkahan batu yang disusun mengelilingi api unggun. Dia masih sibuk membuat api agar tetap menyala. Saga akan menyesal saat tahu dirinya sudah melewatkan kesempatan untuk melihat ekspresi kagum yang terpatri indah di wajah Jasmine. Dan saat dia menoleh sembari memamerkan senyumnya, Jasmine sudah lebih dulu membuang pandangannya jauh-jauh ke arah pantai yang gelap gulita dan hanya menyisakan suara debur ombak yang saling bersahutan.
“Kamu benar-benar menyukai pantai, ya?” tanya Saga lebih seperti sedang meyakinkan bahwa tebakannya tepat.
“Emh?" Istrinya menoleh sambil bergumam, lalu tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Saga, "Enggak terlalu suka juga, cuma selagi kita di sini, kenapa enggak memanfaatkan waktu untuk menikmati suasananya dengan fokus. Sebenarnya, aku lebih menyukai awan meskipun aku juga membencinya.” tuturnya seraya membuat ayunan yang ditempatinya berayun.
“Kamu tahu? Hampir setiap orang beranggapan bahwa awan adalah sesuatu yang paling ringan di dunia ini. Beberapa orang, salah satunya adalah aku, bahkan berpikir jika bisa memilih, kami ingin terlahir kembali menjadi awan di kehidupan selanjutnya. Supaya kami bisa bebas berkelana mengikuti arah angin, tanpa tertahan dengan beban yang diberatkan di pundak kami. Beterbangan di cakrawala, hingga akhir dunia atau mungkin menyaksikan terciptanya dunia baru. Bukankah itu terdengar hebat?”
Saga tidak menjawab, dia hanya tersenyum sambil menunggu Jasmine melanjutkan ucapannya. Dia tidak ingin menjeda cerita emosional yang sedang istrinya kisahkan. Saga bahkan sempat curiga saat pertama kali menemukan sisi diri Jasmine yang ini. Dia tidak percaya kalau istrinya itu tidak mengenyam pendidikan perkuliahan, pasalnya cara Jasmine berpikir benar-benar rumit, tapi juga menarik. Dan saat dia bercerita, seolah-olah dia sedang bernarasi untuk sebuah pertunjukan di teater bergengsi.
“Sebagian manusia lagi bahkan tidak pernah tertarik dengan keberadaan awan yang bergelayutan di atas kepala mereka. Sebagian lainnya menyukai dan setuju bahwa tidak ada yang lebih ringan dibandingkan dengan awan. Namun, dari ketiga golongan tersebut, hanya segelintir orang saja yang memahami bahwa menjadi awan sama sulitnya dengan yang kita jalani. Pernahkah kamu berpikir kalau saja awan memiliki perasaan seperti kita, mungkin mereka -para awan itu- juga ingin menetap di satu tempat hingga akhir. Menemani dan menjaga sesuatu yang penting bagi mereka. Atau bahkan mungkin, mencari asal dan tujuan akhir. Sama seperti yang manusia lakukan. Lalu Saga, apa dan bagaimana pendapatmu?”
“Selama ini, aku hampir tidak pernah memperhatikan awan. Selain menatapnya saat hari terlalu terik atau justru saat langit tiba-tiba saja menjadi gelap karena mendung. Tapi, kalaupun awan memiliki perasaan seperti yang kamu bilang. Bukankah menjadi mereka memang jauh lebih baik daripada menjadi makhluk lain seperti manusia, hewan ataupun tanaman. Mereka masih bisa bebas berkelana menjelajahi dunia tanpa harus memikirkan masalah keluarga, pekerjaan, hingga biaya hidup seperti kita. Dibandingkan dengan hewan yang harus selalu waspada terhadap pemangsa yang bisa muncul kapan dan di mana saja, awan jelas lebih beruntung. Sebab tidak ada pemangsa yang akan menyerangnya. Awan tidak perlu merasakan tubuhnya terinjak-injak seperti rumput, atau di tebang menjadi bagian-bagian kecil untuk memenuhi kebutuhan manusia. Ya, menjadi awan jelas lebih beruntung.”
“Tepat sekali,” Jasmine menyahuti, “tapi, tahukah kamu? Dari seluruh hal di dunia ini, awan menjadi sesuatu yang paling bimbang, Saga. Selamanya dia akan terombang-ambing tanpa tahu di mana dia akan berakhir, bahkan mungkin tidak ada kata akhir bagi awan. Bukankah itu sama buruknya dengan mengetahui fakta bahwa kita semua akan mati pada akhirnya? Membayangkan hasil dari perjuangan, kerja keras kita selama bertahun-tahun, tetap tidak akan bisa bersama kita selamanya. Yang terberat adalah fakta bahwa kita akan meninggalkan orang yang kita cintai. Sedangkan awan, dia hanya akan selalu ada. Tanpa ada seorang pun yang akan mengingat atau bahkan merindukannya. Mungkin saja selama ini dia menunggu seseorang atau sesuatu menghampirinya dan dengan lembut mengatakan bahwa perjalanannya sudah cukup, kamu tidak perlu berkelana dalam ketidakpastian lagi, kini saatnya untukmu pulang. Bagaimana jika itu benar-benar terjadi?"
Air mata Jasmine jatuh, kali ini bukan hanya setetes air mata yang meluncur dari pelupuk matanya. Akan tetapi, jatuhnya air itu terus berulang hingga menciptakan anakan sungai kecil di kedua belah pipinya. Bagaimana hidup bisa tidak adil begini? Kenapa harus dia yang memahami pemikiran seperti ini seorang diri. Kenapa Jasmine selalu mudah melihat sisi lain seseorang maupun sesuatu yang belum tentu orang lain pahami meskipun dia sudah menjelaskannya berulang kali.
“Bayangkan betapa kesepiannya awan itu harus berkelana ke tempat-tempat yang bahkan belum tentu dia inginkan, hingga waktu yang tidak diketahui. Kata kakekku, jika seseorang atau sesuatu mati dalam keadaan bimbang dan tidak diinginkan, jiwa mereka akan menguap menjadi sekumpulan awan di angkasa. Mereka akan terus mengelana tanpa tahu kapan harus berhenti. Saat awan mencurahkan hujan, itu adalah tangisan kesepian dari jiwa-jiwa bimbang tersebut. Menyedihkan. Kamu mau tahu alasanku ingin terlahir menjadi awan di kehidupan selanjutnya? Jawabannya karena aku ingin menemani satu jiwa yang terperangkap di sana, agar dia tidak akan lagi merasa kesepian.”
Saga hanya diam membisu, dia tidak pernah melihat Jasmine menangis bahkan saat terakhir kali mereka bertengkar air mata Jasmine tidak luruh setetes pun, tapi kini wanitanya itu justru menangis karena membicarakan tentang awan dan kisah jiwa-jiwa yang belum tentu benar adanya. Saga mulai berpikir kalau istrinya itu terlalu hanyut dalam pemikirannya, sampai tidak menyadari bahwa ucapannya bisa membuat Jasmine di cap sebagai orang yang tidak waras.
“Kita selalu menyimpulkan, bahwa hal ini baik dan hal itu buruk. Menganggap beban orang lain tidaklah seberat beban yang kita tanggung, tidak penting, atau bahkan terlalu gila untuk diterima nalar. Perjuangan orang lain begitu mudah hingga menganggapnya sia-sia saja. Sebab selama ini yang kita hitung hanyalah kesalahannya saja. Lalu kita akan merasa kesal saat dia sukses lebih dahulu. Bukankah kita terlalu gegabah dan mudah menyimpulkan sesuatu yang bahkan sejatinya tidak kita ketahui? Sama seperti saat kamu menilai awan, padahal sebelum ini kamu nyaris tidak pernah memperhatikannya. Kita sudah terlalu egois, sampai tidak mau mengakui kalau kita tidak tahu apa-apa. Kita sendiri yang sudah mengotak-kotakkan sesuatu, dan manusia yang hidup sebelum kita, menganggap hal itu sangatlah wajar agar bisa memberikan penilaian terhadap kemampuan kita. Tidak aneh, kalau sekarang banyak orang yang memperlakukan orang lain berdasarkan di kotak mana dia di besarkan.”
Jasmine yang kini di hadapannya adalah gadis yang empat tahun lalu membuat Saga susah payah mempertahankan ketenangannya. Sama seperti jawabannya saat itu, kali ini pun Saga merasa baru saja ditampar oleh kata-kata yang Jasmine lontarkan. Dia merasa malu dan takjub disaat bersamaan, Jasmine baru saja menghina kesombongan Saga yang seenaknya saja menilai tanpa berusaha memahami lebih dalam lagi.
“Jangan terlalu memikirkannya, Saga. Suasana seperti ini, entah kenapa membuatku memikirkan banyak hal tidak penting seperti itu. Kenapa kamu masih pakai celana pendek, di sini dingin. Sebaiknya mengenakan celana panjang saja, aku takut nanti kamu masuk angin. Apalagi kamu tidak mengeringkan rambutmu.”
“Suhu tubuhku ini jauh lebih tinggi dari kebanyakan orang, jadi gak mudah kedinginan. Sebaiknya kamu mandi dan pakai pakaian yang lebih tebal, seorang perempuan harus membuat tubuhnya tetap hangat. Dan Jasmine, pemikiranmu barusan sangat luar biasa. Kamu baru saja mengubah cara pandangku yang terlalu egois.”
Jasmine mengangguk sebagai jawaban, tak lupa dia memakaikan selimut yang tadi Saga berikan padanya. Mengelus kepala suaminya sebelum pergi, entah kenapa dia sangat suka melakukannya dan sepertinya Saga pun tidak pernah keberatan.