“Apa yang tadi kamu lakukan?! Dia bisa saja melukaimu!” Suara Langga memenuhi segala penjuru ruangan, bibirnya tampak dua kali lebih mancung dari biasanya. Melihat caranya menatap Disty, siapa pun pasti tahu kalau saat ini dia sedang sangat ingin melenyapkan seseorang. Dia baru bisa tenang saat Dirga menyerahkan sebotol minuman pereda pengar. “Kamu terlalu banyak minum bodoh! Diam dan tenangkan dirimu. Dan kamu Disty, apa kamu mendapatkan sesuatu?” “Gimana aku bisa tenang! Disaat gadis ini tiba-tiba saja bertindak senekat itu bahkan memutuskan sesuatu seorang diri. Terus apa gunanya kita datang bareng-bareng? Dia bahkan mau-maunya di rangkul lelaki b******k itu. Cikh!!!” “Diamlah Langga! Kamu yang tadi hampir saja membahayakan keselamatan Disty. Tenanglah!” “Memang apa salahku?!”

