Bab 18 Ketika taksi sudah berhenti di halaman gedung apartemen, Larisa mendadak ogah turun. Dia begitu marah dan tidak ingin bertemu Revan malam ini. Namun, kalau tidak kembali ke apartemen, ke mana Larisa akan pergi malam ini? "Non, susah sampai. Belum mau turun?" tegur si sopir seraya menoleh ke jok belakang. "I-iya, Pak, maaf." Larisa menganggukkan kepala sambil tersenyum kecut. Tidak mungkin juga kan, bermalam di mobil taksi? Akhirnya Larisa turun usai mencangklong tasnya dan memberi uang pada sopir taksi. Marah memang, tapi sejujurnya Larisa paling tidak bisa bersikap seperti ini. Dulu, seberapa sering Revan acuh dan membentak, Larisa akan tetap begitu ramah padanya. Di saat tahu mengenai rasa jatuh cinta, bahkan tetap saja Larisa tidak bisa marah-marah ketika Revan menjalin cint

