Bab 2 Mengenal cinta

754 Kata
Aku memang bukan seorang gadis yang banyak humor, yah aku cenderung pendiam dan bisa dibilang muka-muka serius. Jadi tak banyak teman laki-laki yang dekat denganku. Pagi ini aku duduk di depan kelas sambil menunggu bel berbunyi. Tiba-tiba asri teman sebangkuku mendekatiku. "Morning guyz" "Morning" sahutku. "Tumben diem didepan kelas, ada yang kamu pikirin?" Tanya asri. Aku hanya menggeleng menjawab pertanyaan asri. Tanpa ku duga asri menunjukan sebuah foto dari sakunya. " Hey gimana ni mau ndak?" Tanyanya. "Maksud lo?" aku balik tanya. " Hah kamu jangan pura-pura ndak tau deh, ayo aku kenalin dengan dia." Sambungnya sambil menyeret lenganku. "Ogah ah, buat apa sih?" " Eh siapa tau cocok jadi pacarmu mel." "Pacar? aku belum pengen pacaran kita udah kelas XII tau." "Ayo kenalan aja dulu" Brugg.. Tiba-tiba ada orang yang tak sengaja menabrakku dari belakang. Siapa sangka dia yang ada difoto tadi. "Hai tom," Sapa asri. Aku tetap datar tanpa ekspresi. "Tom kenalin ini temanku namanya melati, mel ini Tomi." "Hai" Sapaku. Topi hanya tersenyum melihatku. Ardi hanya tersenyum dan berlalu begitu saja. Akupun hanya menggeleng melihatnya. Teeetttt… Bel sekolah berbunyi. Aku dan asris segera memasuki kelas. Pelajaran berjalan begitu menegangkan karena pelajaran fisika yang sulit bagiku. Tak terasa bell istirahat pun berbunyi. Teettt… Kubuka hp ku yang awalnya kusimpan dalam tas sekolahku, ada sms baru dari nomor baru yang belum tersimpan dikontakku. Hi.. sapa pemilik nomor itu. Aku tak membalas sms darinya. Yah memang aku gak begitu suka meladeni orang yang tak ku kenal. Beberapa kali pemilik nomor itu berusaha menghubungiku namun aku tetap tak membalasnya. Sampai akhirnya dia menyebutkan namanya. “aku ardi, manis.” Smsnya. Sontak aku kaget membacanya. “ow..” jawabku. “juteg amat” sautnya. Namun tak begitu kurespon. Dengan banyak sms darinya yang menunjukan perhatian-perhatian kepadaku akhirnya membuat aku sedikit terbuka dan tanpaku sadari lambat laun aku memiliki rasa nyaman sms an dengannya. Kamipun sering kali berkomunikasi baik lewat sms ataupun ngobrol secara langsung. Kedekatan kami 6 bulan dan munculnya benih-benih cinta diantara kami. Kami semakin dekat dengan kenyamanan yang kami rasakan. Aku yang tadinya tak begitu peduli dengan urusan cinta kini cinta itu ada pada diriku, dan takut sekali untuk kehilangan. -/- Hari-hariku dipenuhi dengan rasa senang karena ada cinta didalamnya, dan tiba saatnya ujian akhir terlaksana. Kami focus dengan Persiapan ujian nasional hingga kami jarang sekali berkomunikasi.Namun dihati kami tetaplah sama kami tetap merindukan satu sama lain. Setelah ujian akhir selesai kamipun kembali berkomunikasi dengan baik, dan akhirnya kami resmi pacaran. Kedekatan kami dan pacaran kami yang wajar-wajar aja berjalan hamper satu tahun sampai pengumuman kelulusan tiba. Dengan hati gak karuan aku membuka surat pengumuman lulus di amplop yang telah diberikan. “Bismillah” ucapku. Wajah tegang dariku mulai berubah menjadi senyuman ketika k****a tertera tuliusan LULUS didalamnya. Sontak aku berteriak dan memeluk teman-teman disekitarku. Apalagi dikejutkan dengan nilaiku yang sangat memuaskan. -//- Dikelas lain ardi juga bahagia mendapati tulisan LULUS disurat yang dia pegang. Namun dia tak begitu puas dengan nilai yang didapatkannya. Dan muncullah kekhawatirannya tentang cita-citaku yang tinggi akan membuat kami berpisah. Namun dia belum berani menceritakannya kepadaku. Selang beberapa minggu setelah kelulusan karena kekhawatirannya ardi lebih posesif dan protektif terhadapku, aku menjadi tidak nyaman dioperlakukan seperti itu. Bahkan dia mengajakku menikah ketika proses ijazah sudah selesai. Aku menjadi begitu tidak nyaman karena mengingat cita-citaku dan kedua orang tuaku yang ingin melanjtkan kejenjang selanjutnya dengan harapan bias memprrbaiki kehidupan kami. Apalagi kini terlihat ardi yang belum juga memikirkan pekerjaan ataupun melanjutkan pendidikan ke tinglat yang lebih tinggi. Aku semakin bingung, hingga akhirnya aku menyerah dan tidak mau melanjutkan hubungan tersebut karena egoku yang lebih memikirkan masa depanku dan cita-cita orang tuaku. “ Ardi maaf, sepertinya kita tidak bias melanjutkan hubungan kita karena perbedaan prinsip”. Sms ku. Sontak dia kaget membacanya “ kenapa mel aku salah apa?” “kamu ndak salah apa-apa, mungkin ini yang terbaik.” Tuturku. Setelah itu kumatikan HP ku. Ku buang nomorku dan mengganti dengan nomor baru. Namun siapa sangka dia akan dating kerumah dan memohon kepadaku. “ mel tolong jangan tinggalkan aku, aku tak bias tanpamu”. Rengeknya sambil menangis. Akupun tertegun melihatnya dan bergumam dalam hati “ kenapa dia selemah ini sebagai seorang laki-laki.” “ maaf ardi lebih baik kita berteman biasa saja seperti biasa karena aku tidak bias melanjutkan hubungan kita.” Jawabku. Berkali-kali dia merengek seperti anak kecil diteras rumahku sambil memegang tanganku. Namun aku sudah tidak bisa kembali kepadanya, karena aku meresa antara kami beda prinsip. Karena aku tidak berubah pikiran pukul 09.00 dia melangkahkan kakinya meninggalkan rumahku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN