Hari beranjak sore, aku dan kak Munif mulai meninggalkan rumah makan kudua dengan langkah gontai dengan pikiran masing masing. Rasanya hari ini seperti mimpi buruk yang sangat kami takutkan. Dan ternyata benar benar terjadi.
Ya Allah betapa sakit hati ini membayangkan sampai di rumah tak ada yang menanyakan kabar dan memberikan kata kata manis lagi padaku. Betapa sunyinya hari hariku setelah ini.
'Aku harus kuat, harus. Ini pasti yang terbaik menurut Allah untuk kami. Aku harus ikhlas menerimanya.' Kalimat penyemangat mensugesti diri ini.
Tapi maaf Ya Allah begitu berat hari ini sampai aku tak mampu membayangkan hari hariku setelah ini. Apa yang harus aku lakukan untuk menyembuhkan hatiku yang telah terluka.
Aku takut Ya Rab, aku takut tak kuat dalam menjalani takdirmu. Kuatkanlah aku Ya Allah. Air mata mengalir deras dari pelupuk mataku. Ternyata hati ini belum ikhlas dengan takdirNya.
Tak Terasa akupun sudah sampai di depan rumah, terlihat bapak dan ibu menungguku dengan gelisah. Kedatanganku disambut dengan pelukan ibu yang sangat menenangkan.
"Sabar ya nak, kalau jodoh tak kan kemana." Selalu itu yang ibu katakan untuk menenangkanku.
"Iy bu...." Jawabku berusaha kuat. Air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya tumpah juga.
Ibu dan bapak membimbingku masuk rumah, Ya dua tahun setengah bersama kak Munif bukanlah waktu yang singkat. Aku benar benar terpuruk dan sulit melupakannya. Semoga semua ini tak berjalan lama.
***
Adzan magrib berkumandang menandakan waktu sholat magrib telah tiba, aku melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim melaksanakan sholat magrib. Kucurahkan semua keluh kesahku kepada sang pemberi ketenangan.
Aku menangus sejadi jadinya meratapi nasib dan gakdir yang tak sejalan dengan keinginanku meskipun aku tau ini yang terbaik menurut sang Kholiq untukku dan kak Munif.
"Kenapa ini harus terjadi denganku?" Keluhku.
"Ya Allah ampuni hamba, hamba telah marah padamu. Ampuni hamba Ya Rab." Derai air mata tak kunjung henti. Tiba tiba terdengar daun pintu di ketuk dari luar.
Tok Tok..Tok..
Segera kuseka air mataku..
Terdengar sekali lagi namun kali ini diikuti suara ibu yang memanggilku.
Tok tok Tok.
"Mel buka pintunya, kamu baik baik sajakan? Ayo makan nak."
"Iya bu sebentar Mel lipat dulu mukena Mel." Setelah melipat mukena ku berjalan mendekati pintu langsung ku buka daun pintu dari dalam.
"Mel kamu baik baik saja nak?" Tanya ibu sambil mengusap wajahku dan mataku yamg masih terlihat sembab.
"Mel baik baik saja bu Mel hanya ingin mencurahkan isi hati Mel tadi pada Allah saat sholat magrib." Jwlasku pada ibu, semoga ibu tidak terlalu khawatir padaku.
"Syukurlah, tak apa Mel ayo makan bapak sudah menunggu di meja makan."
Kulangkahkan kaki ini menuju meja makan beriringan dengan ibu yang tak pernah melepaskna genggaman tangannya. Itu salah satu cara beliau menguatkan disaat aku sedang terjatuh dan terpuruk.
Benar saja bapak dan adikku sudah menunggu kedatanganku.
"Malam bapak." Sapaku pada bapak.
"Malam Mel, sini nak duduk kita makan bapam imgin bicara dennganmu setelah makan nanti."
" Iya pak." Jawabku sembari duduk.
Sengaja aku hanya mengambil makanan sedikit, takut tak habis karena hati ini sedang gundah. Tapi tak kuduga makanan yang dibuat ibu berhasil membuatku melupakan keterpurukanku, pedasnya yang menggugah selera dan rasa nikmat di lidah membuatku lahap makan masakan ibu.
Sepertinya ibu tau kalau aku sedang sedih aku suka makanan makanan pedas, dan bisa membuat selera makanku meningkat. Ibu dan bapak terlihat senang melihatku tetap makan dengan lahap meski sedang putus cinta. Hal ini lumayan membuat ibu dan bapak lega.
"Maafkan aku bu pak, aku rakus ya." Ucapku malu karena diperhatikan bapak ibu dengan senyuman mengembang diwajah keriput mereka.
"Oh tidak Mel justru kami senang meski hatimu gundah kamu tetap bisa makan dengan lahap. Tetap begitu nak biar kamu tak jatuh sakit." Ucap bapak.
Aku tersenyum pipiku mengembang merah merona karena malu. Setelah makan selesai aku bergegas membantu ibu membereskan meja makan dan mencuci piring.
Setelah selesai semua kamu berkumpul di ruang keluarga untu bercengkrama ya itu memang kebiasaan kami, supaya bisa berkumpul bersama keluarga dan saling terbuka antar anggota keluarga.
"Gimana Mel hatimu?" Tanya bapak.
"Alhamdulillah jauh lebih baik pak.' Jawabku meski sebenarnya masih sama dan justru lebih terpuruk karena aku hanya ingi mengurangi rasa khawatir bapak dan ibuku padaku.
" Nak sudahlah jangan bersedih buat apa kamu bersedih dan menangisi Munif yang tak bertanggung jawab."
"Iya pak, pak Munif bertanggung jawab kok pak." Aku masih saja membela kak Munif.
" Kalau dia bertanggung jawab tak akan mengakhiri hubungan kalian secara sepihak tanpa alasan pula, apa lagi di depan gerbang kantor. " ucap bapak kesal.
Aku hanya diam memdengar apa yang dikatakan bapak. Memang benar mas Munif sampai sekarang memutuskan hubungan kami tanpa memberikan penjelasan padaku apa sebabnya dia harus mengakhiri hubunhan kami. Ya memang benar dia memutuskan hubungan kami di depan pagar kantor. Sangat memalukan banyak orang berlalu lalang melihatnya.
Aku juga tidak terima dengan perlakuan kak Munif, minta baik baik kenapa mengembalikannya dengan cara kurang pantas, tanpa alasan pula. Kesal hati ini dibuatnya, tapi apa daya semua sudah menjadi bubur.
Banyak hal yang disampaikan bapak ibu kepadaku agar aku tidak terpuruk dan hidup harus tetap terus berjalan percuma menangisi dan menyesali yang telah berlalu. Pasti akan datang yang jauh lebih baik.
Ya aku percaya itu, namun aku juga tak bisa memungkiri kalau hati ini sanagat sulit menerimanya. entah karena kami sudah lama bersama atau entah aku yang egois belum bisa menerima takdir dariNYA.
"Din." Ibu memanggilku.
"Iya bu."
"Tak perlu nelangsa Din, setelah ini pasti ada yang jauh lebih baik dari Munif. Yakin akan takdirnya,tugasmu kina harus selalu memperbaiki diri biar dapat jodoh terbaikmu."
"Iya bu, Dina kuat kok."
Ibu tersenyum menanggapiku.
Obrolan kami di ruang tamu berakhir pukul sembilan malam. Ku langkahkan kaki menuju kamarku, tempat ku menumpahkan tawa dan tangisku selama ini. Yang sering kali kututupi di depan bapak dan ibu karena tak mau mereka terlalu khawatir.
Ku duduk termenung di pojok kasur. Ku ambil bantal ku peluk bantal untuk menenangkan hati yang gundah. Tak terasa air mata ini tumpah lagi. Terlihat jelas kalau aku hanya manusia biasa yang tetap merasakan kecewa dan sedih, semua ini butuh waktu. Dua tahun setengah bersama kak Munif bukanlah waktu yang singkat.
Ku ambil ponselku, tak ada pesan dari siapapun, biasanya jam segini kami selalu bertukar kabar dan cerita kesana kemari, berkhayal mimpi kami untuk bersama. Tapi malam ini malam pertama tanpa pesan darinya. Tak terasa air mata ini sudah mengalir sangat deras.
Ku ambil ponselku untuk mencari kejelasan tentang masalah apa yang menyebabkan kami harus berpisah. Ku ketik nama kak Munif di pencarian. Mulai ku ketik pesan untuknya.
"Malam kak, maaf ganggu. Aku boleh bertanya?" Pesanku singkat.
"Boleh." Jawabnya singkat.
" Kenapa kakak tiba tiba mengakhiri keseriusan kita? Bukankah banyak mimpi kita untuk bersama?"
Lama pesanku tak di balas. Ketika hati ini mulai geram menanti balasan yang ku harapkan tiba tiba muncul balasan dari kak Munif.
"Maaf." Pesannya singkat.
Ya Allah, geram aku dibuatnya. Kenapa tak mau menjelaskan, padahal dengan menjelaskannya siapa tau aku bisa menerima semuai ini dengan ikhlas. Ku balas pesannya
"Maaf kak aku butuh penjelasan."
Lama ku nanti balasan darinya, ternyata hingga larut malam tidak di balas. Aku tau dia tak pernah tidur sore apalagi ketika ada masalah. Kuberanikan diri untuk mengirim pesan pada kak Munif.
"Aku hanya butuh penjelasan kak, tak lebih. Maaf kalau aku mengganggu." Pesanku.
Tetap tidak dibalas namun pesan beubah menjadi biru pertanda dia sudah membaca dan enggan membalasnya.
Ya Allah sungguh sakit hati ini Ya Rab. Sangat menyakitkan dengan sikap dia yang awalnya manis kini justru menjadi laki laki pengecut dan menyebalkan.
Derai air mataku bertambah deras. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Mata ini belum juga terpejam. Aku sangat terpuruk dibuatnya.