Setelah beberapa minggu aku berkunjung ke rumahnya bersama sepupuku yang awalnya terlihat baik baik saja ternyata Munif berubah sedikit demi sedikit. Dia mulai jarang menghubungiku. Dia tak sehangat sebelumnya. Ya dalam hati takut ini semua akan berakhir dengan perpisahan, namun ku tepiskan semua pikiran itu.
'Mungkin dia lagi sibuk, jadi tidak bisa sering menghubungiku.' Gumamku dalam hati untuk mensugesti diri sendiri agar tidak berlarut dalam kesedihan.
Tapi semakin lama semua semakin jelas bahwa Munif berubah, dan aku yakin pasti ada sesuatu yang terjadi dan dia tak ingin mengatakan karena tak ingin menyakitiku. Ntah kebetulan ataukah dia sengaja setelah dia berubah kamipun tak pernah berpapasan di kampus meskipun mata ini sering kali melihat sekeliling dengam harapan bisa melihat sosok Munif.
Aku rindu sapaannya, aku rindu kehangatannya, aku rindu senda guraunya, aku rindu senyum manisnyaaku rindu semangat menggebunya untuk memperjuangkanku. Hati ini nelangsa memikirkannya, apa sebab dia bisa menjauhiku tanpa ada kata maaf.
Beberapa hari kemudian kucoba beranikan diri menanyakan kepadanya, alasan kenapa dia berubah.
"Assalamualaikum kak." Sapaku dalam WA.
Lama sapaanku tak dibaca padahal tertulis kalau dia online, Ya mungkin dia sengaja.
Dua jam berlalu baru terlihat pesan masuk dari Munif.
"Waalaikum salam." Jawabnya tak ada kehangatan seperti sebelumnya.
"Kakak sibuk?" balasku mulai menyelidik.
"Oh maaf iya." Jawabnya singkat.
"Ooo." Balasku, karena aku tau ini bukan Munif yang sebenarnya, pasti ada sesuatu hal yang membuat dia dingin padaku.
Kucoba tenangkan hati dan tetap mensugesti diri semua baik baik saja mungkin benar dia lagi sibum, aku percaya dia laki laki bertanggung jawab. Kusibukan diri dengan kegiatan kegiatan positif mulai dari fokus dalam pekerjaan, Fokus kuliah, dan lain lain. Namun tak kupungkiri hati ini gelisah memikkrkannya.
Beruntungnya aku memiliki orang orang terdekat yang selalu menguatkanku. Aku selalu bercerita pada ibu, ya ibu sahabat terdekatku sehingga aku sangat terbuka dengannya. Meski aku tau terlalu terbuka dengan ibu ketika aku sedih pasti ibu ikut sedih.
***
Berhari hari setelah aku kirim WA singkat itu kami tak pernah komunikasi, seakan kami sudah tidak ada hubungan sama sekali. Aku sibuk menghibur diri dengan kesibuka supaya tetap berfikir positif. Namun tiba tiba muncul pemberitahuan WA dari Munif.
"Assalamualaikum Mel." Sapanya.
Kulihat notif WA tertulis nama kak Munif, aku sangat bersemangat membuka dan hendak membalas WA nya. Tapi baru saja ku buka muncul lagi notif WA darinya.
"Mel, bisamah kita bertemu dan kita berbicara?" Tanyanya.
Deg. Hatiku mulai tak karuan. 'Ada apa ini?' Batinku berguman.
Segera kubalas WA kak Munif.
"Waalaikumsalam kak, iya kak bisa. Jam berapa dan dimana?"
"Gimana kalau di depan kantorku Mel? Jam 4 Selepas kamu pulang kerja?"
" Oh iya kak, sampai jumpa nanti."
"ok."
Setelah menerima WA dan ajakan bertemu untuk berbicara tentu membuat hati ini gelisah, apa yang akan Munif bicarakan, akankah dia melanjutkan ataukan mengakhiri hubungan ini? Ah entahlah aku lelah dengan kegelisahan.
"Mel." Tegur ibu.
"Oh iya bu." Tepukan ibu langsung menyadarkanku dalam lamunan.
"Kamu kenapa kok bengong?"
"Kak Munif ingin bertemu dan berbicara bu, Aku gelisah."
"Nak Jodoh maut dan rezeki Allah ynag mengatur, kamu harus ikhlas dengan apapun yang akna terjadi. Jika kemungkinan terburuk ynag akan terjadi kamu haru tetap semangat, hidup harus terus berjalan."
"Iya bu." Jawabku, sebenarnya ada firasat tak enak dihatiku tentang apa yang ingin dibicarakan Munif, namun kucoba tepiskan dan tetap berfikir positif.
***
Kulalui hari ini dengan kegelisahan yang menguasahi hati dan pikiranku, waktu terasa sangat lama. Pikiranku benar benar tidak fokus bekerja, aku selalu melirik jam tangan namun waktu seakan berhenti tak berjalan. Ya Allah sungguh menyiksa sekali rasa ini.
Kulalui hari ini dengan selalu beistigfar untuk menenangkan hati dan menghilangkan kegelisahan ini. Tapi tak dipungkiri hati ini tetap diliputi rasa gelisah.
Kulihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 3 sore, ku percepat menyelesaikan pekerjaanku dan syukurlah jam setengah empat semua pekerjaan sudah beres. Ku mulai berkemas, menyiapkan diri dan menata hati untuk menghadapi semua apa yang akan terjadi nanti.
Aku keluar dari kantor pukul empat kurang sepuluh menit. Segera kulajukan motor buntutku menuju kantor kak Munif. Ya selain di sekolahan dia juga membantu disebuah kantor kecil. Karena begitu gelisah kantor yang tak jauh dari kantorku terasa sangat jauh.
Jam empat tepat aku sudah hampir sampai kantor kak Munif, dia sudah berdiri di depan gerbang kantor menantiku. Segera aku menyebrang jalan dan menghampirinya.
"Assalamualaikum kak." Sapaku. Kantor terlihat sepi dan gerbang sudah tertutup.
"Waalaikumsalam Mel." Jawabnya
"Ada apa kak?" Tanyaku sambil menatap kak Munif menyelidik.
Dengan hati berdebar seakan ingin meloncat dari tempatnya ku menanti Munif menjelaskan semua ini.
"Mel,, ." Dia seakan ragu ingin mengatakannya.
"Iya." Sautku.
"Maafkan aku, aku tak bisa melanjutkan hubungan ini. Karena ada suatu hal yang tak bisa aku ceritakan. Sampaikan maafku pada ibu dan bapak." Tutur kak Munif.
Ya otomatis mata ini terbelalak, membulat sekaligus berkaca kaca mendengar tutur kak Munif. Hati ini terasa berat dan berusaha kuat di depan kak Munif. Jangan sampai air mata ini jatuh, aku tak boleh terlihat cengeng dan lemah.
"Mel.." Panggil kak Munif.
Aku hanya diam. "Mel.." Sekali lagi kak Munif memanggilku.
"Oh iya kak ndak papa, maaf aku harus pamit dulu." Langsung kulajukna motor buntutku ke rumah, air mata yang berusaha ku bendung kini sudah tak bisa terbendung. Begitu deras air mataku mengalir.
"Ya Allah, sakit. Mungkin ini yang terbaik. Tapi kenapa tidak ngomong baik-baik didalam? Justru di depan pagar dan disaksikan banyak orang yang lalu lalang dijalan." Gumamku dalam hati akuu kecewa, seakan aku tak dihargai.
Tak kusadari aku sudah memasuki halaman rumah, dan disitu ibu sudha menungguku dengan harap harap cemas. Beliau langsung berdiri ketika melihatku memasuki halaman. Ku parkir motorku diteras rumah. Langsung ku usap air mata biar ibu tidak mengetahui kalau aku menangis.
"Assalamualaikum." Ku cium punggung tangan ibu.
"Waalaikumsalam. Kamu kenapa nak kok habis menangis." Tanya ibu. Ya memang a
ibu selalu tau ketika aku sedih ataupun menangis. Mungkin ikatan batin kami sangat kuat.
Langsung kupeluk ibu dengan air air mata ini mulai deras mengalir, terdengar suara sesenggukan dariku. Ibu menuntunku ke kamar, berusaha menenangkanku.
"Mel apa Munif mengakhiri hubungan kalian?'
Aku hanya mengangguk sambil tetap menangis.
" Sabar nak, sabar, mungkin kalian belum berjodoh. Kalau emang jodoh pasti tak kemana."
Aku hanya diam dan terus menangis. Ibu terus menenangkanku. Ya tak butuh waktu lama ibu menghiburku, dan aku sudah mulai tenang.
Ku ceritakan semua pada ibu,termasuk keputusan itu diambil didepan pagar kantor disaksikan orang lewat.
Ibu terlihat kecewa. "Nak, lebih baik kalian bicara lagi baik baik denga hati tenang biar tidak ada kesalahpahaman." Saran ibu.
"Iya bu." Jawabku singkat.
Ibu meninggalkanku seorang diri di kamar, memberiku waktu untuk menenangkan diri. Ku ampil ponselku dan ku ajak kak Munif bertemu sekali lagi di rumah makan kudus. Kusiapkan diri dan kata kata yang bisa mendamaikan hati. Ku siapkan semua barang yang pernah ia berikan padaku. Aku berencana mengembalikan semua pemberiannya. Ya memanh dia tak pernah memberikan barang mahal tapi dia memberkan lengkap dari kepala sampai kaki.
***
"Bismillah." Gumamku.
Setelah pamit sama ibu dan bapak ku lajukan motor buntutmu ke rumah makan kudus. Ternyata kak Munif sudah sampai.
Aku ulurkan tanganku untuk berjabat tangan. Kami masum ke rumah makan mencari tempat lesehan. Kami memesan nasi pecel contong. Kami makan dengan lahap. Sengaja ku habiskan untuk menyiapkan diri mengatakan semua ynag ingin aku katakan padanya.
"Kak, maaf aku inginengembalikan ini."
"Apa ini?"
"Itu semua barang yang pernah kak Munif kasihke aku."
"Kenapa dikembalikan?"
"Iya kak maaf, karena semua sudah berakhir, kau tak ingin semua ini mengingatkanku tentang kakak. Maafkan akh kak, mungkin kita belum jodoh, tapi jujur aku sangat kecewa. Ya sangat kecewa, karena kakak mengatakan semua ini setelah menghilang satu minggu, dan kakak mengakhirinya di depan gerbang dilihat banyak orang lewat. Ya semoga kakak mendapatkan penggantiku yang jauh lebih baik dariku."
Munif tak menjawab satu patahpun namun terlihat dia menitihkan air mata. Ya dari siniaku tau kami berdua sama sama tersakiti. Dan mungkin orang tuanya dan merestui kami.
Setelah aku menjelaskan tujuanku,meminta maaf dan mengucapkan terima kasih atas kebersamaan kami aku pamit undur diri. Ku sodorkan tanganku untum berpamitan namun aku kaget ketika dia menarik tanganku memelukku dan mengecup bibirku yang tak pernah dia lakukan. Sebagai salam perpisahan.