Bab 7 Pertemuan Keluarga

1811 Kata
Tak terasa hari yang kami tunggu telah tiba, malam sabtu yang dijanjikan Munif kalau dia akan main ke rumah untuk bertemu bapak. Cuaca malam ini begitu mendukung, malam yang yang terang dihiasi rembulan dan bintang bintang yang bersinar di langit. Munif berencana datang ke rumah selepas sholat magrib. Aku menyiapkan makan malam dan makanan ringan untuk teman ngobrol kami nanti. Ada rasa yang tak karuan di hati, rasa khawatir yang sempat membuatku melamun. Ya khawatir jika obrolan di antara kami memunculkan rasa tidak cocok di antara Munif dan keluargaku. Munif menuju rumahku selepas sholat magrib di masjid, dia mengendarai motor beat merah kesukaannya. Dia mengenakan sarung coklat dengan motif kotak yang sangat pas ditubuhnya, dan menggunakan baju koko yang pas ditubuhnya. Tak ketinggalan peci yang selalu menutupi kepalanya. Ya memang itu ciri khas dia yang sering kali mengenakan sarung, dan peci. Rumahnya tak begitu jauh dari rumahku, kurang lebih 15 menit. Ya rumah kami masih satu kecamatan hanya beda desa saja. Sebelum berangkat dia mengabari ku lewat WA kalau dia berangkat. Kami segera menyiapkan makanan dan minuman yang sudah kami masak di meja makan, dan makanan ringan di ruang tamu. Tak lama kemudian terdengar bunyi motor berhenti di depan rumah. Terdengar langkah kaki menuju pintu rumah dan mulai mengetuk pintu serta mengucapkan salam. " Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Jawabku sambil melangkah membukakan pintu. Terlihat senyum simpul di wajah kami. Sampai tak sadar bapak sudah di belakangku. " Mel tamunya di ajak masuk." Sontak aku terbangun dari lamunanku. " Iya bapak." " Silahkan masuk kak, ini bapakku." Munif segera menjabat tangan bapak dan menciumnya. " Silahkan duduk nak Munif." kata bapak. " Njeh pak. " Jawab Munif dengan khas bahasa jawanya. " Nak Munif sudah lama kenal dengan Melati?" bapak membuka pembicaraan. "Sebelumnya belum begitu lama pak, baru beberapa bulan." timpal Munif sambil tersenyum. "Nak Munif rumahnya mana?" "Sumber wangi pak." jawab Munif diikuti percakapan ringan di antara mereka. Belum sampai ke pembahasan inti, terdengar ibu memanggil. " Pak, Nak Munif di ajak makan malam gih." ucap ibu. "Ibu mboten usah repot repot" Saut Munif. " Oh ndak repot nak, memang ini kami siapkan untuk nak Munif." " Yuk makan dulu nanti dilanjut lagi." lanjut ibu. "Iya bu, terima kasih." Jawab Munif sambil tersenyum. "Ayo nak Munif." Ajak bapak. Bapak dan Munif berjalan menuju meja makan, di sana sudah ada adikku dan aku yang menunggu. " Silahkn nak.' Ibu mempersilahkan Munif duduk dan ikut makan malam bersama kami. Kami menikmati makan malam bersama, dengan hidangan sederhana nan lezat masakan ibu. Tak butuh waktu lama Munif akrab dengan keluargaku. Banyak obrolan ringan yang kami lakukan supaya suasana di antara kami lebih akrab. Ya syukurlah Munif bisa menyesuaikan diri dengan keluargaku. Namun tiba-tiba bapak menanyakan sesuatu yang menarik bagiku. " Ehem nak Munif, bapak mau nanya ni nak Munif kesini, selalu perhatian dengan mel, dan sering mengantarkan mel pulang tentunya ada alasan sendiri, boleh bapak tau alasannya?" Munif tersenyum sambil menjawab pertanyaan bapak "Iya bapak, saya memiliki perasaan lebih kepada mel dan kami sudah menjalin hubungan." "Iya bapak tau, apa nak Munif serius dengan hubungan ini atau hanya sekedar bersenang senang?" "Insya Allah saya dan mel serius bapak dalam hubungan ini." " Alhamdulillah, bapak senang mendengarnya. Tapi seperti nak Munif tau keluarga kami sangat sederhana, dan tidak pernah tau lingkungan pondok. Beda dengan nak Munif yang berasal dari keluarga yang berada dan selalu dalam lingkungan pondok. Anak bapak mel hanya belajar agama dari orang tua, disekolah dan mengaji di masjid saja." Munif tersenyum dan berkata " Bapak saya tertarik dengan mel bukan karena dia orang kaya, ataupun dia berasal dari pondok, namun yang saya kagumi dari Mel adalah kemandirian, kedewasaan, dan tanggung jawabnya dalam semua hal." "Bapak senang mendengarnya, Alhamdulillah semoga apa yang nak Munif dan anak saya mel harapkan akan terwujud dan di ridhoi Allah." "Amiin." Sahut kami semua yang ada di meja makan. "Nak menjalin hubungan tidaklah mudah, dan tidak hanya memiliki dan dimiliki namun harus saling mengerti dan mendukung satu sama lain, bapak harap kalian berdua selalu mendukung dalam cita cita satu sama lain selama itu baik." "Njeh bapak kami akan saling mengerti dan mendukung satu sama lain." Bapak tersenyum lega mendengarnya, dan terlihat jelas raut bahagia di wajah beliau dan keluargaku yang lain. Yah memang aku masih kuliah dan baru tingkat pertama, sedangkan Munif juga masih kuliah tingkat kedua, bapak tidak meminta untuk kami menikah dengan cepat namun setidaknya bapak tau kalau Munif tidak hanya main main sama aku, dan dia serius dalam menjalin hubungan ini. Tak terasa obrolan kami berjalan cukup lama dan jarum jam sudah menunjukkan pukul 21.00, saatnya Munif pulang dan berpamitan kepada orang tuaku. " Bapak Ibu sudah jam 9 malam maaf Munif pamit pulang dulu." "Iya nak Munif, terima kasih waktunya nak Munif bisa berkunjung ke gubuk kami ini." "Sama sama bapak, Munif pulang dulu njeh." "Iya hati-hati ya." "Njeh pak bu, Mel aku pulang dulu." "Iya kak terima kasih." Kami antarkan Munif sampai ke depan pintu, Munif melangkahkan kaki menuju motor merahnya, dan bergegas mengendarai motor dan meninggalkan rumah kami. Setelah Munif menghilang kami segera masuk rumah dan banyak senggolan candaan dari keluargaku untukku. "Senangnya dalam hati." nyanyi adikku. Aku tersenyum mendengarnya. "Nak dia laki laki yang baik dan sholeh, bapak setuju dan senang kamu serius dengan Munif, tapi hanya satu yang bapak khawatirkan nak dia berasal dati keluarga berada. Ya semoga keluarganya tidak mempermasalahkan itu." "Iya pak, Amiin." "Mel ada yang mau ibu tanyakan, apa Munif selalu pakek sarung kemana mana?" "hahahaha iya bu, kuliah saja dia pakek celana kain." "kayak pak kyai mel." kata ibu sambil tersenyum. Setelah kami rasa waktu semakin malam kamk sudahi perbincangan dan kami masuk kamar masing masing untuk istirahat. Namun beda denganku meski ku rebahkan tubuhku dikasur tetap terngiang dibenakku tentang kejadian tadi bersama orang tuaku dan Munif. Hatiku dipenuhi dengan perasaan bahagia. Karena semua bejalan dengan lancaf. Namun terlintas dibenakku tentang apa yang disampaikan bapak, ya semoga apa yang ku khawatirkan tidak terjadi. -//- Pagi ini begitu cerah secerah hatiku saat ini, meski semalam hampir ndak bisa tidur namun syukurlah tidak terlalu larut mata ini sudah terpejam di kegelapan malam. Ku langkahkan kaki untuk membantu ibu sebelum jam tujuh. Kami asyik masak dan bersih bersih di ruang belakang. Tiba tiba terdengar dering telepon, segera ku ambil HP dan ku angkat telpon tersebut. "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam. Mel ini aku Munif." "Iya kak, ada apa?" "Besok minggu depan ayo main ke rumah biar tau dan kenal keluargaku." "Hah kak aku kan cewek masak maen ke rumah cowok." "Tak apalah mel sekali saja, kan mau kenal dengan keluargaku, ya semoga harapan kita bisa terwujud sampai memikah dan kaki nini." "Baiklah kak nanti coba saya nanya ibu dulu ya." "Iya sayang, kalau gitu sudah dulu y Assalamualaikum." "Waalaokumsalam." Setelah mendengar ajakan kak Munif untuk main ke rumahnya ku termenung di kursi sampai ibu menyadarkanku dari lamunan. "Hei." "Oh iya bu.' " Siapa tadi yang telpon mel?" "Kak Munif bu, dia mengajakku ke rumahnya minggu depan." "Ow, kamu mau?" "Aku masih ragu bu, ya karena mel belum pernah main ke rumah cowok." Ibu duduk disampingku dan mengelus pundakku. Nak ibu tau kamu ragu karena takut dilihat dan pendapat orang kalau cewek ngapeli cowok. Iya itu terkesan tidak pantas,, namun karena ini hanya sekedar pengenalan saja biar kamu tau keluarganya, dan keluarganya juga niar tau kamu ibu rasa tidak masalah tapi kalau kesana jangan sendirian ajak Ratih." "Iya bu." sahutku. Setelah ngobrol sama ibu hati terasa lebih tenang dan ku memutuskan untuk datang. -//- Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa hari minggu sudah datang. Tiba waktunya aku harus berkunjung ke rumah Munif. Ku siapkan hati dan pikiranku serta tak lupa ku memohon kepada Allah untuk memberikan hasil terbaik setelah silaturahmi ini. Ku ajak Ratih sepupuku untuk mendampingiku ke rumah Munif. Kami berangkat pukul sembilan pagi, ku mengenakan busana yang sederhana seperti biasanya. Ku kendarai motor buntutku bersama Ratih, dalam perjalanan hati ini tak tenang. "Bismillah" ucapku dalam hati. Tak lama aku sudah sampai di rumah Munif disambut dengan senyum manisnya. Ku parkir motorku dihalaman rumahnya yang luas. Ku langkahkan kaki menuju pintu rumah Munif. "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam. Masuk Mel." Aku dan Ratih masuk mengikuti langkah Munif. "Silahkan duduk Mel." Aku dan Ratih duduk di sofa empuk di ruang tamu. Beda jika dibandingkan rumahku yang kursinya hanya dari anyaman sintesis. Kak Munif masuk ke ruang tengah memanggil anggota keluarganya. Ternyata yang ada hanya kakak perempuannya. Ya Munif lima bersaudara dia nomor tiga. Kakak perempuannya datang menemuiku dan kamipun berjabat tangan. Kakaknya Munif tak banyak bicara, dan meninggalkan kami di ruang tamu. Dari situ muncul perasaan tak enak dan rasa khawatir di hatiku. Muncul banyak pertanyaan di benakku yang butuh penjelasan. Kenapa aku di minta kesini supaya bisa kenal keluarganya, kok malah hanya kakaknya yang di rumah. Kakaknya pun tidak begitu ramah. Namun ku urungkan pertanyaan itu, kami lanjutkan percakapan kami dengan percakapan ringan. Ya setelah tiga puluh menit kami di rumah Munif, aku dan Ratih pamit untuk pulang. Karena entah kenapa ada rasa tak enak terlalu lama main ke rumah cowok. Sepanjang perjalanan ku masih memikirkan hal tersebut. Tapi aku berusaha menenangkan hati dan menghibur hatiku sendiri. Serta tak begitu memikirkannya, ku tunggu respon Munif dan keluarganya setelah kejadian hari ini. Sesampainya aku di rumah aku di sambut ibu, seperti biasa ikatan batin ibu denganku begitu kuat, tanpa aku beri tau ibupun sudah bisa menebaknya, apalagi dengan raut wajahku yang agak murung terlihat sedang memikirkan sesuatu. Sebelum ku langkahkan kaki mendekati ibu ku ucapkan terima kasih ke Ratih yang mau menemaniku. "Nduk Terima kasih ya.' " Iya mbk sama sama. Ratih pulang dulu ya.' Aku hanya mengangguk dan segera mendekati ibu. "Assalamualaikum bu." 'Waalaikumsalam." "Gimana Mel hari ini?" Ku ceritakan semua yang tadi di rumah Munif, ibu termenung dan memegang pundakku dan berusaha menenangkan hatiku. "Tak apa nak, biar Allah yang mengatur segalanya, kita tunggu aja dulu gimana respon mereka." "Iya bu." Jawabku sambil memeluk ibu. Setelah aku ke rumah Munif, dia masih tetap sama denganku, tak ada perubahan yang terjadi, dia tetap perhatian dan melindungiku. Ya aku menganggap berarti tidak ada masalah dan keluarganya bisa menerimaku. Ya semoga sesuai harapan. Bahkan beberapa hari setelah aku berkunjung ke rumahnya dia masih sering berkunjung ke rumahku. Aku dan keluarga berfikir positif berarti semua baik baik saja. Dia sering kali memintaku untuk menjemput dia ketika dia dari kegiatan di luar desa, ku jemput dia dengan senang hati, ku antarkan dia ke rumah sepupunya. Sepupunya bernama Ahmad, dia bertubuh tinggi namun tak begitu besar badannya. Dia terlihat lebih tampan dari Munif, namun aku tetap tak berpaling dari Munif karena dari dulu aku memiliki prinsip jika kita sudah menjalin dengan orang, jangan pernah bermain main dengan hubungan tersebut. Pernah suatu hari hujan deras aku di minta menjemputnya di lampu merah karena dia kehujanan dan tak bawa jas hujan. Akhirnya ku jemput dia menggunakan payung. Dari semua itu aku tetap berfikir semua baik baik saja dan semoga memang semua baik baik saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN