Bab 6 Camping

1800 Kata
Setelah kejadian di rumah makan, kamipun semakin dekat dan semakin nyaman satu sama lain. Ya mungkin ini bukan pertama kalinya aku menjalin hubungan dengan seorang pria namun aku merasa kali ini sevisi misi denganku, beda dengan Ardi dulu yang dia hanya memikirkan pernikahan tanpa memikirkan bagaimana kedepannya. Kami mulai sering berkomunikasi, berdiskusi dan tak jarang kami jalan bareng guna mencuci mata biar tidak jenuh dengan kegiatan sehari-hari yang menguras tenaga dan pikiran. Aku sangat bahagia merasakan cinta yang saling menjaga. Meskipun kini status kita pacar, namun dia sangat menjagaku dia tak pernah menyentuhku lebih dari bergandeng tangan. Dia tau bahwa seorang wanita patut dimuliakan. Ya kami berharap hubungan kami akan berjalan hingga jenjang pernikahan. Hari ini bapak Ari dan bu Ais mengajak kami untuk rapat, membahas rencana mengisi acara camping di SMP bu Ais dengan berbagai kegiatan sosial yang menarik. Ya ada sedikit perasaan campur aduk ketika mendengarnya, satu sisi senang karena bertemu dengan Munif namun satu sisi yang lain takut kalau kami kurang profesional dalam pekerjaan masing masing. Ah coba aja dulu, dalam benakku. "Teman-teman kita diminta dari Pihak SMP untuk membantu mengisi kegiatan sosial ynag menarik dalam acara camping, yang dilaksanakan di plosok desa." " Iya bu, terus bagaimana planning pelaksanaannya?" tanyaku. "Ya kita diskusikan kegiatan apa yang bisa kita masukan dalam kegiatan tersebut." Saut Pak Ari. "O iya kita juga dibantu beberapa guru dari SMP ya salah satunya pak Munif yang kemarin kesini." Tambah bu Ais. Aku tak kaget, karena itu sudah terpikirkan di benakku dari tadi. Rapat berjalan dengan lancar dengan berbagai kegiatan yang begitu menarik dilaksanakan. Seusai rapat kamipun mulai menyiapkan kebutuhan kebutuhan kegiatan tersebut. "Mel,," Panggil mbk Anik. "iya mbak." "Berarti Munif pacarmu ikut donk." "Ya dari apa yang dikatakan bu Ais tadi pasti dia ikut." "Senang ya bisa satu lokasi beberapa hari." "Ah mbak Anik bisa aja, aku malah ndak nyaman takut canggung dan ndak professional." "Mel semua itu tinggal orangnya, harus tau batasan dimana kita sedang berada, aku rasa kamu dan Munif bisa kok." "Iya mbak." "Mel aku mau cerita, tapi kamu jangan kaget ya." "Iya mbak ada apa?" sambil ku tatap wajahnya. "Mel aku dan pak Pendi sebenarnya juga menjalin hubungan, tapi belum ada yang tau." "Hah beneran ta mbk? kok aku ndak tau, padahal stau tempat." "Iya mel karena kami harus professional dalam pekerjaan." "Iya mbk, semoga segera menuju pernikahan ya." ucapku. "Amiin.' Setelah puas bercakap cakap kami kembali fokus mengerjakan tugas masing masing dan menyiapkan kebutuhan untuk Camping dua hari lagi. Ya camping itu diikuti sekitar seratus siswa, dan didampingi oleh tiga guru serta diisi oleh kantor kami. Salah satu guru yang mendampingi adalah Munif pacarku. Ya meskipun kami pacar, kami berharap segera melangkah ke arah yang lebih serius. Yang aku suka dari dia adalah dia selalu memotivasi aku meningkatkan prestasi dan ibadahku. Salah satu caranya dia mengajakku untuk menghafalkan surat panjang di Al-Quran sama sama, setiap satu minggu sekali dia stor hafalan ke ku, begitupun sebaliknya aku stor hafalan ke dia. Aku sangat bersyukur bisa dekat dengan dia. -//- Dua hari berjalan dengan cepat, tiba saatnya untuk pergi camping. Camping akan dilaksanakan dua hari satu malam disebuah desa. Banyak barang dan kebutuhan kebutuhan yang kami bawa untuk kegiatan tersebut. Ya semua sudah kami siapkan mulai setelah rapat dua hari lalu. Aku menuju kantor untuk membantu teman teman membawa barang menuju SMP karena kami akan berangkat rombongan dengan peserta camping. Kami berangkat menggunakan mobil pribadi bapak Ari. Tak lupa kami membawa semua kebutuhan yang kami siapkan. Sepanjang perjalanan kami membicarakan kegiatan yang akan kami lakukan di area camping. Ya sambil sesekali mereka melontarkan candaan padaku karena semua tau kalau aku dan Munif menjalin hubungan. Aku hanya tersenyum menanggapinya. Aku hanya berdoa semoga nanti saat kegiatan aku tidak canggung dan tetap professional. Setelah satu setengah jam perjalanan melewati jalan jalan terjal tibalah kami di lokasi camping. Kami mulai menyiapkan area camping sesuai dengan rencana. Ya lokasi camping yang kami pilih di daerah pegunungan, tempatnya luas dan indah. Kami bagi lokasi tersebut menjadi sepuluh petak guna mendirikan tenda. Setiap sepuluh siswa akan mendapatkan satu tenda untuk beristirahat. Setelah semua siap terdengar suara pak Ari,, "Mbak ayo segera di mulai nanti keburu siang." "Siap pak." Jawabku. Kebetulan aku memiliki pengalaman baris berbaris dari kegiatan pramukaku dulu masa masa sekolah. "Siaaapp Graaakk." Pimpinku dengan lantang. Ya memang aku perempuan, namun kalau soal baris berbaris aku yang selalu mengambil alih disetiap kegiatan kantor. Mendengar aba aba dariku semua peserta menuju lapangan dan baris sesuai regunya masing masing. Mereka berbaris sangat tertib. Setelah ku siapkan, kami mulai kegiatan camping dengan berbagai game menyenangkan yang berhasil membuat peserta dan guru begitu happy. Ketika kegiatan gelas berjalan, yang dihandle pak Yusuf, Munif menghampiriku. "Hai,," "Hai kak." Sautku. "Kamu hebat." Pujinya. "Bisa aja kakak ini." Sautku sambil menyiapkan kegiatan selanjutnya. Banyak kegiatan yang kami lakukan sehari ini, terlihat begitu bahagia wajah orang orang disekitarku. Akupun bahagia melihat semua orang disekelilingku bahagia. Karena kegiatan sangat menyenangkan, tak terasa waktu sudah sore, dan saatnya bersih diri. Semua peserta, panitia dan guru pendamping juga melakukan bersih diri. Seusai bersih diri kami makan bersama,dan melaksanakan sholat magrib berjamaah. Kemudian ada kegiatan islami yang langsung dihandle pak Pendi. Sedangkan para guru dan panitia kegiatan memanfaatkan waktu untuk berdiskusi kegiatan selanjutnya dan menikmati cofee break. Kegiatan malam ini berjalan sampai pukul 21.00. Peserta camping menuju tenda masing masing untuk beristirahat, sedangkan guru dan panitia masih asyik berdiskusi sedangkan aku pamit undur diri karena aku merasa kurang enak badan. Ku langkahkan kaki menuju tenda untuk beristirahat. Namun tiba tiba mata terasa gelap dan tiba tiba ku terjatuh dan sudah tak tau apa apa. Munif sepertinya mengetahui kondisiku, dia langsung menangkapku ketika aku terjatuh tak sadarkan diri dan membawaku ke tenda peristirahatan. Terdengar sayup sayup suara memanggil manggilku. " Mel mel Mel." Panggil mbak Anik. Ku mulai membuka mata setelab diberikan minyak kayu putih dihidungku. "Alhamdulillah." Ucap orang disekelilingku. "Apa yang terjadi Mel?" Tanya mbak Anik. " Aku merasa tak enak badan mbak, mungkin kecapekan jadi aku ingin pergi ketenda istirahat dulu, tiba tiba kepalaku pusing dan aku gak tau apa yang terjadi selanjutnya.' " Iya tadi kamu pingsan beruntung Munif mengikutimu, dan langsung mengangkatmu ketenda " "Terima kasih kak Munif.' Ucapku. " Tak apa mel, kamu istirahat aja dulu." "He.em" Sautku. Aku beristirahat di tenda ditemani mbk Anik. Aku merasa aku masuk angin atau kembung istilahnya setelah minum kopi. Ya memang aku gak begitu kuat minum banyak kopi. Karena kebiasaan di rumah ibu selalu mengurut tubuhku ketika masuk angin, aku pun meminta kepada beberapa teman untuk melakukannya. Namun semua menolaknya, justru mereka menyarankan minum tolak angin. Ya karena kebetulan lokasi kami jauh dari toko, tak mungkin aku membeli tolak angin. Akhirnya ku tahan kondisiku dengan mata yang tak bisa terpejam semalaman. Pagi hari tanpa kuduga Munif membawakanku segelas wedang jahe, yang dipercaya bisa meredakan masuk angin. "Mel, ini wedang jahe." "Iya kak terima kasih." Ku minum segelas wedang jahe dari Munif. " Gimana kondisi kamu?." "Ya Alhamdulillah mendingan kak." "Kamu istirahat aja dulu." "Iya kak." Aku beristirahat beberapa saat, dan kegiatan dihandle oleh panitia kegiatan yang lain. Kegiatan berjalan lancar dan seru. Hampir semua kegiatan dihari ini aku tidak mengikuti. Di kegiatan terakhir tubuhku terasa lebih baik, dan aku keluar dari tenda menuju lokasi kegiatan. Ku mengikuti kegiatan terakhir dengan senang. Tiba saatnya untuk merapikan kembali alat alat camping yang digunakan, dan meluncur pulang. Karena kondisiku yang belum begitu fit, aku duduk di depan dan AC dimatikan. Ya memang pak Ari merupakan seorang atasan yang memiliki rasa empaty yang besar terhadap karyawannya. Sesampai kami di kantor, aku mendapat pesan dari Munif untuk menunggunya. Tak lama ku menunggu diapun datang, dan mengantarkanku pulang. Ya motor buntutku terpaksa ku tinggal di kantor. "Assalamualaikum" Sesampaiku dirumah. Waalaikumsalam." Jawab ibu sambil membuka pintu. " Mel kamu kenapa kok terlihat pucat, dan diantar siapa?" "Iya bu aku sedikit masuk angin, aku di antar kak Munif." "Kak ini ibuku." lanjutku. "Saya Munif bu, teman dekatnya Amel." Ops aku kaget dia berani menyebutkan itu di depan ibu. "Oalah terima kasih nak Munif sudah mengantar dan menjaga melati dengan baik." "Sama sama bu, saya pamit dulu. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam, Terima kasih kak." Jawabku. Begitu bahagianya aku mendapat perhatian spesial dari Munif. Bohong jika aku tak bahagia dengan perhatian Munif. Setelah kejadian itu, ibu sering bertanya tentang Munif dan akupun sering curhat pada ibu. Ya memang aku sangat terbuka sama ibu, hampir semua aku ceritakan kepada ibu. Ibupun orang yang bijak dalam menyikapi semua yang aku ceritakan. Setiap kali aku menceritakan tentang Munif ibu terlihat bersemangat, ya terlihat jelas kalau ibu juga menyukai kedekatanku dengan Munif. Begitu pula dengan bapak, memang aku tak begitu terbuka dengan bapak, namun bapak juga bersemangat ketika ibu menceritakan itu kepadanya. Ketika makan malam bapak membuka percakapan tentang Munif. "Mel, kapan Munif di kenalin ke bapak?" tanya bapak sambil tersenyum. Aku kaget dengan pertanyaan bapak. " Ah bapak,, ada ada saja." " Iya bapak serius." "Iya besok coba Mel tanyakan bisa kesini kapan." " Oke, bapak tunggu ya." "Iya." Kami lanjutkan obrolan kami sambil menyantap makan malam. Begitu bahagia hati ini melihat respon dari kedua orang tua ku tentang Munif, yang terlihat penuh dukungan. Semoga semua akan berjalan sesuai harapan. Aku berharap tidak gagal lagi kali ini, dan antara kami berdua bisa saling mendukung cita cita satu sama lain. Serta saling memberi motivasi supaya sama sama berkembang lebih maju. -//- Setelah percakapanku dengan keluarga saat makan malam tadi, Aku menghubungi Munif dan memberitahu kalau bapak ingin bertemu. "Kak.." Sapaku dalam WA "Iya dek." "Ada yang ingin aku tanyakan." "Silahkan Mel." "Tadi saat makan malam bapak tiba tiba menanyakan kakak, kapan kakak bisa kesini? beliau ingin kenalan dengan kakak." " hehehe kok beliau bisa tau?" "Ya ibu cerita semua ke bapak tentang kak Munif." "Ya besok malam minggu mu usahakan mai ya, aku juga ingin lebih kenal dengan keluarga Mel." "Oke kak, kami tunggu." "Siap." Aku bersyukur kak Munif menanggapi ajakan bapak untuk ketemu dengan baik dan dewasa. Ya itu memang salah satu yang aku suka dia begitu dewasa dalam menyikapi segala hal termasuk menyikapi sikap kekanak kanakanku yang terkadang masih sering muncul. Malampun semakin larut, ku rebahkan tubuhku dikasur ku. Ku nikmati istirahat malamku dengan nyenyak. Hatiku kini berbunga bunga mendapat begitu banyak perhatian dan dukungan dari orang orang terdekat. Terkadang mau memulai suatu hubungan yang mana kita pernah gagal dalam hubungan itu meninggalkan rasa trauma yang besar. Namun jika kita terlalu berlarut dalam masa lalu tak kan merubah apapun dan hanya akan menyiksa diri sendiri. Ku coba buka lembaran baru dengan laki laki yang tak lama ku kenal sosok yang cukup menyita perhatian dan pikiranku dengan karakter dan kedewasaannya. Beruntungnya aku mendapat dukungan penuh dari anggota keluargaku, dan rekan kerjaku. Ku jalani semua dengan suka cita. Begitu pula Munif dia begitu perhatian dan peduli denganku. Semoga pertemuan kami dengan bapak lusa bisa menambah keyakinanku bahwa dia pilihan terbaik untukku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN