Bab 5 Mr. M

1783 Kata
Sepulang kerja sampai rumah ku langsung mandi, membersihkan diri biar tubuh kembali segar. Ku lanjutkan dengan menunggu bedug magrib untuk melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim. Sambil ku menerawang kembali kegiatan sehari dan kejadian sehari tadi. Ya terlintas sosok Munif yang sejak siang tadi dia pikirkan. Ya memang postur Munif tidak begitu tinggi, dan tidak terlalu tampan, namun sikap dan karakter sekilas yang kulihat membuatku kagum padanya. Tak terasa sudah lama aku termenung menerawang kegiatan hari ini. Terdengar bedug magrib diikuti suara adzan dari masjid besar di desaku. Tersadar dari lamunanku segera ku langkahkan kaki mengambil air wudhu untuk segera melaksanakan sholat Magrib, dan kusempatkan membaca Al-Quran sebentar. Seusai ku membaca Al-Quran terdengar suara ibu. "Mel.. Mel." "Iya bu sebentar." Ku buka pintu kamarku setelah ku lepas mukena biruku. " Ada apa bu, Mel baru selesai sholat." "Ayo makan malam, sudah ditunggu bapak. Ibu masak tempe penyet kesukaanmu." " Iya bu,," begitu senangnya aku mendengar ibu masak tempe penyet kesukaanku. Ya memang sederhana namun itu makanan khas keluarga kami yang begitu menggoda, tak jarang aku berebut dengan adikku, ya kebetulan kami berdua pecinta tempe penyet. Ku langkahkan kakiku beriringan dengan ibu menuju meja makan. Disana hanya terlihat tubuh tegap dan tampan dimasanya yaitu bapak, ku lihat sekeliling tak ku temukan adik laki lakiku. "Bu dimana adik?" "Ow adik masih di masjid ya seperti biasa dia nunggu sholat isya' sekalian tadi sebelum berangkat dia sudah makan kok.' " ow," Jawabku. Aku duduk dikursi sebelah ibu, dan mulai menyantap masakan ibu yang begitu nikmat, meski hanya sambal namun aku mencoba sendiri tak bisa seenak ini. "Bu,, aku pengen deh bisa masak seperti ibu." Ibu tersenyum dan memegang pundakku. "Nak, setiap pekerjaan masak sekalipun lakukanlah dengan sepenuh hati, pasti apapun itu akan terasa nikmat dan lezat." Aku tersenyum dan tertegun mendengar tutur ibu. Darinya aku belajar tentang banyak keikhlasan, keseriusan dan tanggung jawab, serta menggunakan hati. "Terima kasih bu." Ucapku. Kami menyantap makan malam dengan lahap, sambil bercerita kejadian dan kegiatan hari ini. Canda tawa terlebur jadi satu menambah keharmonisan keluarga kami. Setelah makan malam aku membantu ibu membereskan sisa makanan dan mencuci piring di dapur. Terdengar suara adzan isya' yang merdu. Segera ku selesaikan mencuci piring dan segera mengambil air wudhu, dan bergegas menunaikan sholat isya'. Ku rebahkan tubuhku yang letih di tempat tidurku setelah sholat isya'. Ku pegang hpku sejenak untuk memastikan ada WA atau tidak. Setelah ku pastikan tak ada yang penting, tak butuh waktu lama mata ini sudah terpejam dengan nyenyak. Ya karena seharian harus beraktifitas, mulai dari kuliah lanjut ke kantor. Sering kali ku tak bisa membantu ibu di rumah karena kesibukanku sendiri. Syukurlah ibu begitu mengerti kegiatanku saat ini tak begitu memaksakanku membantu di pekerjaan rumah, kadang aku merasa kasihan dan tak enak hati. Namun harus gimana lagi aku sudah berusaha mengatur waktu sebaik mungkin. Namun ada kalanya aku tak bisa membantu beliau. -//- Keesokan harinya kuterbangun pukul 03.30 setelah bunyi alarm membangunkan tidur lelapku. Ku mulai melaksanakan rutinitas dipagi hari, ku lakukan satu persatu rutinitas hingga tak terasa jam sudah menunjukkan oukuk 07.00 wkatunya aku harus bersiap untuk berangkat kuliah. Ku siapkan semua kebutuhan kuliah dan kerjaku. Ku kenakan kemeja biru dan rok hitam ditubuhku, tak lupa ku mengenakan jilbab kesukaanku, ku bubuhkan polesan sederhana wajahku. Tak lama ku bersiap ku mengambil tas rangsel dan kegendong dipundak. Ku menuju ruang makan, disana sudah ada ibu, bapak, dan adik yang menunggu. "Morning" Sapaku. Aku duduk disamping ibu, sedangkan adikku duduk disamping bapak. Sekolah adikku masuk siang karena adik sekolah disekolah swasta yang terbagi menjadi 2 jenjang pendidikan, dipagi hari digunakan SMP dan siang hari hingga sore digunakan untuk SMA. Setelah selesai sarapan ku menjabat tangan bapak dan ibu. "Bapak ibu Mel berangkat dulu ya, ibu dan bapak jangan capek-capek." "Iya mel, hati- hati." Saut bapak. Bapakku seorang scurity sebuah pabrik dikotaku, kebetulan hati ini beliau shift siang masuk pukul 14.00. Bapakku bertubuh tinggi, tegap dan berisi. Aku bangga dengan bapak, beliau sosok bapak yang luar biasa. Yang mengajarkanku banyak hal, kedisiplinan dan tanggung jawab. -//- Kulangkahkan kaki menuju motor buntutku, ku naiki dia dengan rasa sayang menuju kampus tercinta. Dalam perjalanan ku berpapasan dengan Munif dia mengagetkanku dengan bunyi klakson motornya. "Teeett, duluan ya." Semula aku tak mengenalinya. Namun ku ingat motor yang dinaikinya. Ya aku yakim itu Munif. Ku lanjutkan perjalanan ku ke kampus dalam perjalanan kunikmati udara sejuk dipagi hari. Udara yang sangat segar, dan pemandangan yang begitu indah. Meski aku hanya ditemani motor buntutku, aku begitu bahagia menjalani semua ini. Tak lama sampailah aku di kampus, ku bergegas menuju ruang kelasku karena lima menit lagi perkuliaan akan di mulai. Di dalam kelas sudah banyak temanku yang datang, termasuk ke empat sahabatku. Disela sela perkuliahan ada beberapa kakak tingkat masuk ke dalam kelasku untuk menjelaskan kegiatan ekstra di kampus. Nah ternyata salah satu dari mereka ada Munif yang ku kenal. Dia tersenyum padaku, dan ku juga tersenyum. Aku dan teman teman satu kelas mendengarkan dengan seksama, banyak kegiatan di kampus ini yang baru ku tau. Terakhir mereka membagikan secarik kertas untuk kami memilih salah satu kegiatan yang akan kami ikuti. Dan pilihanku jatuh pada KSR, KSR merupakan sebuah kegiatan dalam bidang kesehatan dan salah satu bagian dari PMII. Setelah ku pilih keserahkan kembali lembar itu ke kakak tingkat, dan ternyata ada pengumuman tambahan, " Adik adik khusus yang mengikuti KSR di mohon sepulang kuliah kumpul di halaman kampus sebentar." "Iya kak." Iya kak jawab teman teman. Setelah memberikan pengumuman mereka pamit keluar kelas. -//- Sepulang kuliah akuoun mengikuti pertemuan kegiatan KSR sebentar,ternyata juga tak banyak yang mengikuti KSR, hanya sepuluh orang. Dalam pertemuan itu banyak sekalibyang ku tanyakan seputar KSR. Sialnya tanpa kusadari ku diperhatikan Munif dari kejauhan. Namun karena ku tak menyadari kehadirannya aku tak menghiraukannya. Setelah selesai ku langkahkan kaki menuju parkir untuk mengambil moto buntutku, karena aku harus segera menuju kantor. Terdengar suara memanggilku. " Hey mel tunggu." Kucari sumber suara ternyata itu Munif. Aku berhenti dan membalikkan badan "Iya ada apa kak?" "Boleh dong aku minta nomormu? Siapa tau ada pengumuman pengumuman yang perlu ku sampaikan." Tak berfikir panjang lnagsung saja kuberikan nomorku padanya karena aku harus segera ke kantor. " Ini kak." " Oke Terima kasih mel." Sama sama. Ku tinggalkan Munif begitu saja ketika dia sibuk menyimpan nomorku. Ku kendarai motor buntutku ke kantor. Ku mulai tugasku seperti biasa, ku kerjakan sepenuh hati seperti kata ibu. Ku lakukan semua dengan hati ikhlas apapun tugas yang diberikan. Dengan tujuan memberikan yang terbaik untuk kantor. Tak terasa jam menunjukkan pukul 11.30, sebentar lagi istirahat. Ku sempatkan mengintip hp ku sebentar, muncul notifikasi WA dari nomor yang tak ku kenal. Ku buka sebentar chat itu. " hai mel, ini aku Munif save ya" "o iya" balasku singkat "Mel bentar lagi jam makan siang, ayo kita makan di tempat favouriteku. Enak lo makanannya, ku traktir deh." Aku ragu menjawabnya. "Maaf makan siangku sudah disiapkan kantor." " Tak apalah mel sekali kali makan di luar." "Tapi ndak enak sama teman teman yang lain apalagi sama kepala kantor. " Tenang nanti aku yang mengijinkan ke bu Ais." Bu Ais pikirku, oh iya bu Ais kan atasan munif juga di SMP, jadi dia pasti sudah mengenal baik bu Ais seperti apa. Setelah berfikir cukup lama ku jawab pesan Munif dengan ragu. "Oke." Jawabku singkat. Segera ku lanjutkan tugasku sebelum jam makan siang tiba. Ku selesaikan sebagian tugasku, supaya nanti setelah makan siang tugasku tidak terlalu banyak jadi bisa pulang tepat waktu. Terdengar suara motor berhenti di depan kantor, ku intip dari jendela ternyata itu Munif. Ntah mengapa hati ini berdetak lebih cepat ketika melihat dia sudah datang. Terdengar salam dari Munif. "Assalamualaikum" "Waalaikumsalam." Jawab bu Ais yang kebetulan duduk diruang depan. "Oh pak Munif, ada apa pk?" " Maaf bu saya boleh minta ijin, untuk mengajak melati makan diluar kantor?" "Melati? pk Munif kenal Mbak Melati?" "Iya bu. Melati satu kampus dengan saya." " Oke, tapi tolong kembalikan sebelum jam satu." "Siap bu." Tampaknya bu Ais mengerti maksud dari pk Munif mengajakku makan diluar. " Mbak mel ada tamu." panggil bu Ais. "Iya bu." Aku segera menuju ruang tamu. " Mbak ini ada pak Munif, dia mengajakmu makan diluar." "Tapi bu." "Udah ndak papa, asal ndak sering sering." Jawab bu Ais sambil tersenyum. "Baik bu." Ku ambil tasku diruang kerja. Sedangkan bu Ais dan Munif masih asyik mengobrol tentang kedekatan Munif dan aku. Terlihat bu Ais sangat memahami usaha Munif mendekatiku. " Bu, Mel pergi dulu. Terima kasih waktunya." "Oke no problem, semoga sukses." Aku hanya tersenyum dan terlihat jelas guratan bingung diwajahku tentang doa semoga sukses dari bu Ais. Ku langkahkahkan kaki menuju motor milik Munif, Aku pergi kerumah makan dibonceng Munif, ku jaga jarakku dengannya. Tak enak kalau terlalu dekat apalagi kami belum lama kenal. Siiiiiiit... Terdengar rem motor Munif, dan berhenti di sebuah rumah makan sederhana yang penataan tempatnya begitu menarik. "Kita sudah sampai mel." Aku turun dari motor dan melihat sekeliling tanpa menyaut kalimat Munif. "Mel ini memang tempatnya sangat sederhana, tapi makanannya lezat lo.." "Iya kak. Tempatnya bagus kok." Sautku datar. "Ayo mel." Ajaknya. Ku langkahkan kaki beriringan dengan Munif memasuki rumah makan itu, ternyata Munif sudah menyiapkan meja khusus untuk kami. "Silahkan duduk tuan putri." Wajahkupun sontak memerah dibuatnya karen malu di dengar oleh pengunjung yang lain. Namun aku hanya diam dan segera duduk. "Mel kamu ingin makan apa?" "Apa saja kak." jawabku. "Oke." "Mel sudah berapa lama kamu bekerja sama bu Ais?" "Baru beberapa bulan kak, oya kakak juga satu tempat ya dengan bu Ais." "Iya beliau kepala sekolah di SMP tempatku ngajar. Beliau orang yang tegas dan bijak." " Iya betul aku juga sangat kagum dengannya." Ketika kami asyik ngobrol, makanan yang kami pesan sudah datang. Ternyata Munif memesankanku gurami bakar, tempe penyet dan segelas es jeruk. "Kamu kok tau kalau aku suka tempe penyet?" "Tau donk,,.' Jawabnya sambil tersenyum. " Ayo dimakan nanti keburu dingin." Aku hanya mengangguk dan segera makan. Menikmati makan berdua dengan Munif, hatiku terasa nyaman dan bahagia sekali meski tak tau maksud yang sebenarnya dia mengajakku makan berdua. Setelah makan tiba tiba dia memanggil namaku. "Mel ada yang ingin aku bicarakan." Katanya sambil memegang tanganku. Aku sontak kaget dan membelalakkan mataku. "Mel, Sejak kita bertemu di halaman kampus aku kagum denganmu, apalagi setelah pertemuan kita beberapa kali. Aku semakin kagum dan mencintaimu. Maukah kamu jadi pacarku?" Aku kaget dengan apa yang diucapakan, aku terdiam mematung tak menyangka dia akan menyatakan perasaannya secepat ini. "Mel.." panggilnya. "hah." aku tersadar dari lamunan. "Gimana mel?" "Oh iya.." Jawabku singkat. Ntah kenapa kata itu yang muncul dari mulutku. "Terima kasih mel." ucapnya sambil mengecup tanganku. Aku dibuat tercengang olehnya. Setelah itu kami kembali menuju kantorku, aku kembali bekerja sampai jam kerjaku usai sedangkan Munif kembali ke kampus karena ada kuliah sore.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN