Cuaca siang begitu panas, sepanjang perjalanan menuju tempat kerja kudapati banyak orang lalu lalang mencari tempat yang teduh dan tak sedikit yang berteduh dari terik matahari sambil meminum es segar untuk membasahi tenggorokan. Namun lain denganku aku lebih memilih untuk terus melanjutkan perjalanan, karena waktu kerjaku akan segera dimulai. Ku tahan rasa kering ditenggorokanku karena cuaca yang begitu panas dan ku memilih untuk minum air putih di kantor.
Dari kejauhan sudah terlihat bangunan lantai dua yang masih sangat sederhana, dan lama tak berpenghuni. Yah pernah kudengar dari salah satu tetangga kantor kalau penghuni lamanya tidak nyaman karena sering terlihat hal aneh di bangunan ini.
Kantorku saat ini memang baru merintis, jadi masih ngontrak dibangunan lantai dua tersebut. Tak apa meski ngontrak dan kata tetangga banyak hal ganjal didalamnya aku dan teman-teman tetap bekerja dengan nyaman di dalamnya, tidak merasa ada hal yang ganjal ataupun aneh.
-//-
sssssstt terdengar rem motor tuaku, aku sudah sampai depan kantorku. Hari ini hari pertama aku bergabung dengan kantor ini. Sebelum ku langkahkan kaki memasuki kantor, ku bulatkan ku tata niat dan tekadku dengan baik sambil bergumam "Bismillah semoga lancar".
Ku beranikan diri melangkahkan kakiku ke ruang utama,
" Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam." Jawab salah satu karyawan yang ku tau namanya Anik, terlihat jelas name text dibajunya.
" Mbk melati ya.?"
"Iya mbk, maaf saya baru selesai kuliah."
"Oke bapak Ari sudah menjelaskan ke saya tentang mbk melati. Mari saya kenalkan dengan rekan kerja kita."
Akupun mengikuti langkah mbk Anik menuju bagian dalam kantor. Disana ada lima karyawan lainnya, satu perempuan, tiga pria, dan satu pria kepala kantor kami. Sesampai di dalam mbk Anik langsung memperkenalkan satu persatu karyawan di kantor ini yang kebetulan baru terdiri dari tujuh orang termasuk aku.
"Mbak Melati tentunya yang ini mbk sudah kenal, beliau bapak Ari selaku kepala kantor ini."
Aku menganggu sambil berjabat tangan tanda kami sudah saling mengenal.
" Yang ini mas Imam, mas Pendi, mas Danu, dan yang paling cantik diantara mereka bu Ais. Beliau istri dari bapak Ari dan aktif membantu di kantor kita"
Akupun berjabat tangan dengan semua tema baruku.
" Selamat bergabung mbk Melati." Ucap bu Ais.
" Iya bu mohon bimbingan dari teman-temab semuanya." Jawabku.
"Tentu." Sahut Pendi.
Setelah perkenalan itu aku mulai menjalankan tugasku dengan semaksimal mungkin, tak butuh waktu lama aku mengakrabkan diri dengan teman baruku. Mereka serasa saudara dan keluarga sendiri. Begitu rukun kompak dan saling mendukung satu sama lain. Kami bekerja secara profesional namun tak lupa kekeluargaan tetap nomor satu, demi ke solidtan kami.
-//-
Ku ceritakan sedikit tentang kantor baruku. Kantor baruku bergerak dibidang sosial, kami melayani kegiatan-kegiatan sosial. Yah memang kantorku baru berdiri dan merintis, namun karena kerja keras dan kerja sama yang baik dalam tim kami yakin kantor kami akan segera berkembang dengan cepat.
Yah kantor ini berdiri karena bapak Ari selaku kepala melihat kegiatan sosial yang tidak begitu aktif disekitar kita, dan banyak orang yang ingin memberikan bantuan kepada korban bencana kebingungan cara menyalurkannya. Akhirnya bapak Ari mengambil inisiatif menyediakan layanan tersebut untuk mempermudah semua akses sosial. Meski pada awalnya beliau juga berasal dari keluarga yang sangat sederha, namun beliau memiliki pemikiran pemikiran yang begitu inovatif untuk masyarakat. Beruntung aku bisa mengenal bapak Ari. Meskipun beliau sebagai atasan beliau tetap bisa berbaur dengan bawahannya dan menganggap kami bawahannya sebagai keluarga. Ya itupun yang aku kagumi dari kantor baruku, selain atasan yang begitu baik, karyawan didalamnyapun memiliki loyalitas yang tinggi. Kerja sama dan komunikasi mereka dalam tim sangat bagus, sehingga orang yang didalamnya merasa nyaman.
Baru seminggu aku bergabung dengan mereka, namun aku dan mereka bisa dengan mudahnya berbaur dan bekerja sama dengan kompak. Senang dan susah kami lewati bersama. Begitu nyaman rasanya berada didalam kantor, sehingga aku merasa kantorku adalah rumah keduaku setelah rumah orang tuaku.
Tak terasa hari cepat berlalu, aku bekerja sudah satu bulan. Kini kusibukan diri untuk menyelesaikan pekerjaanku di komputer knatorku. Dengan lincahnya jari jari lentikku menari-nari diatas keyboard komputer. Ketika asyik mengerjakan tugasku, mbk anik memanggil namaku, yang kebetulan meja mbk Anik bersebelahan denganku.
"Hei mel , serius amat." Sambil menepuk pundakku.
"Hehehe iya ni mbk, biar cepat selesai.' Timpalku.
" Mel udah punya pacar?"
" hehehe pacar? Belum mbk. Mana ada yang mau sama orang serius kayak aku."
" Makanya jadi orang itu jangan serius bangetlah, adakalanya kita harus serius, adakalanya kita harus melepaskan rasa lelah kita dengan candaan hahaha" ledeknya.
" Iya mbak aku belajar banyak dari mbak. Mbak sendiri gimana? tanyaku.
" Aku juga belum hehe, usiaku kini sudah 25 tahun semoga jodohku segera datang ya."
" Amiin, saling mendoakan ya mbak." ucapku dengan lirih sambil memegang tangannya. Sebagai semangat dan dukungan mennati sang jodoh datang.
Jam menunjukkan pukul 12.00, menandakan jam istirahat telah tiba. Waktu istirahat kami gunakan untuk makan siang, bersih diri dan sholat dhuhur.
Yah makan siang kami sudah disiapkan oleh si mbok, juru masak dikantorku. Masakan sederhana tapi begitu nikmat di mulut. Kami menikmati masakan si mbok dengan lahapnya.
Tak terasa waktu istirahat tinggal sebentar lagi, kami bergegas mengambil air wudhu untuk sholat dhuhur berjamaah. Yah Alhamdulillah di kantorku merupakan sebuah kebiasaan dan salah satu wujud kekeluargaan kami dengan melaksanakan sholat dhuhur berjamaah. Sholat dhuhur di Imami oleh Pak Pendi. Kami melaksanakan sholat dengan khusus.
Setelah sholat dhuhur selesai kami bergegas dan kembali ketugas masing-masing. Terdengar salam dari luar yang terdengar tak asing ditelingaku.
Mbk Anik bergegas keluar menyambut tamu tersebut. Terdengar samar percakapan mereka.
"Selamat siang, bisa bertemu bu A'is?"
"Ow iya bu Ais ada di ruangannya, atas nama siapa ya?"
"Saya Munif guru di SMP yang beliau pimpin."
"Ow silahkan masuk pak Munif, silahkan duduk saya panggilkan."
Pak Munif segera memasuki ruang tamu dan duduk di sofa, sedangkan mbk Anik segera memanggil bu Ais yang sedang membaca beberapa proposal.
"Maaf bu, ada tamu dari SMP."
"Ow iya mbk, aku ada janji dengan pak Munif. Thanks y." Sautnya sambil berjalan menuju ruang tamu.
Entah apa yang mereka bicarakan tak begitu jelas terdengar. Namun muncul pertanyaan dibenakku, Kepala Sekolah? Pak Munif?
Aku berniat menanyakannya ke mbk Anik setelah mbk Anim kembali ke meja kerjanya. Yah sesampainya mbk Anik di Meja kerja tanpa ku minta dia langsung menjelaskan padaku.
"Bu Ais selain disini juga menjadi kepala di SMP."
"Ow aku baru tau, gimana cara beliau mengatur waktu, tenaga dan pikirannya ya, sehingga beliau bisa bekwrja diberbagai tempat yang berbeda?" Gumamku.
"Yah beliau memiliki prinsip dan managemen diri yang luar biasa dan tak kenal lelah" Saut mbk Anik.
Aku semakin mengagumi bu Ais, aku kagum atas semangat dan kerja cerdas serta kerja keras beliau.
Dilarutkan dengan kegagumanku kepada bu Ais sampai aku melupakan kalau aku masih bertanya-tanya tentang pak Munif tadi, aku penasaran pak Munif yang ke kantor apa Munif yang sama yang menolongku dikampus. Namun tak begitu kupedulikan semua itu, ku kembali fokus dengan pekerjaanku.
-//-
Setelah cukup lama bu Ais dan opak Munif berbincang bincang, akhirnya terdengar suara pak Munif undur diri dan mulai melangkahkan kaki keluar dari kantor, Sedangkan bu Ais kembali masuk ke dalam kantor dan bergegas membaca proposal yang belum dibuka.
Setelah bu Ais menghilang dari ruang tamu, karena rasa penasaranku kuberanikan diri mengintip dari dari jendela kantor.
Apa benar dia Munif yang ku kenal, ternyata benar dia Munif yang menolongku di kampus. Aku hanya menggumam dalam hati.
"Ternyata dia kuliah sambil mengajar."
Ya terbersit dibenakku rasa kagum, karena meskipun dia masih kuliah dia sudah berani terjun dalam dunia pendidikan secara langsung.
Setelah tau kalau Munif yang bertemu bu Ais adalah Munif yang sama. Aku segera kembali ke meja kerja dan menyelesaikan perkerjaanku.
Waktu sudah menunjukan pukul 16.00 saatnya kami untuk pulang. Aku dan rekan kerjaku berberes untuk pulang. Ya aku begitu bwrayukur bisa bertemu dan bergabung dengan orang orang hebat seperti mereka. Aku begitu nyaman berada di kantor. Ya kantorku adalah rumah keduaku.