Ruangan yang hanya terisi satu meja kayu berukuran sedang dan juga satu set sofa yang tidak terlalu besar itu, kini terasa begitu dingin dan menyesakan. Fatma terdiam setelah melontarkan kalimat yang mungkin saja membuat Heris tersinggung. Dia sudah berusaha menahan diri karena bagaimana pun selama enam bulan dirinya mengalami banyak perubahan, bertekad untuk tidak terlalu mempermasalahkan segala sesuatu karena dapat membuat hatinya tidak tenang. Tapi ternyata semua itu tidak ada bedanya jika berhadapan dengan Heris, seorang lelaki yang sudah pernah meninggalkan dia dan Ibunya lalu baru terlihat menyesal setelah Ibu Fatma meninggal. Heris tampak menghela napas. "Papa sama sekali enggak merasa kalau diri Papa ini korban, karena gimana pun kamu yang lebih banyak sakit hati karena Papa. D

