“Noah, foto lagi dong. Yang tadi nge-blur.”
“Aku dong! Aku dong! Gantian napa?!”
“Hei! Jangan dorong-dorong!”
Di tengah kekacauan itu, Noah berusaha menyelinap dan mencoba menerobos kerumunan sambil meminta izin dengan sopan, “Permisi, permisi ….”
Ia jadi harus sedikit berlari kecil menyusul kontingen Cendana yang sudah hampir sampai di undakan pintu masuk, hingga akhirnya ia berhasil bergabung dengan orang yang berada di paling belakang rombongan, Luna dan Igris,
Karena Kejurnas diselenggarakan di luar kota. Maka yang bisa ikut ke lokasi pertandingan hanya 10 pemain yang masuk dalam skuad terpilih, ditambah pelatih dan manager saja.
Tadinya Coach Adam ingin memakai Zikri sebagai center cadangan Cendana, tapi dia dianggap masih belum mampu dan masih sering membuat kesalahan, jadi dia kembali gagal masuk dalam skuad pertandingan.
Coach Adam memutuskan untuk kembali memasang Evan sebagai cadangan Juan, senior kelas 11 yang posisi sebenarnya adalah power forward. Tapi dia dianggap lebih berpengalaman dibandingkan Zikri.
Itu sebabnya saat ini hanya ada dua siswa kelas 10 yang ikut dalam kontingen Cendana di Kejurnas, yaitu Noah dan Igris. Sisanya adalah anak kelas 11 dan 12, dan itu membuat Noah jadi merasa semakin sulit memasukkan diri.
Soalnya, biasanya kalau di klub basket, Noah hanya sering ngobrol dengan Zikri, Bayu, Muklis, David dan Hamid.
Namun kali ini, tak satu pun dari mereka ada di sini.
“Udah fotoannya?” tanya Luna sambil tersenyum jahil.
“Nanti kalau nggak diladeni, aku dikatain sombong lagi,” balas Noah setengah mengeluh.
“Eh, Noah dapat hadiah juga?” Igris mencoba berpartisipasi dalam pembicaraan dengan mengomentari dua paper bag yang ada di tangan Noah.
“Nggak usah sok kaget gitu, Gris,” sahut Luna, “kamu sendiri malah dapat lebih banyak tuh.”
Luna bicara tentang beberapa kantong kertas dan kantong plastik yang dipegang Igris, dan Igris hanya membalas dengan cengiran lebar.
“Ini pertama kalinya aku dapat hadiah kayak gini,” katanya kemudian.
“Kayaknya yang di kantong plastik itu makanan tuh. Bisa dong nanti malam dibagi-bagi.” Luna menaik-naikkan alisnya ke arah Noah, seolah memberi kode agar Noah berada di pihaknya untuk mendesak Igris.
Padahal, Noah peduli pun tidak.
“Aman, Kak. Tenang aja, aku nggak bakal makan sendiri.” Igris mengacungkan jempolnya kepada Luna.
“Ngomong-ngomong, Noah kayaknya dapat hadiah yang nggak biasa deh. Kamu dikasih apa?” Luna mengintip salah satu kantong kertas besar yang dijinjing Noah, dan ia langsung terbelalak kaget.
“Apa, Kak?” Igris ikut penasaran sambil sedikit menjulurkan lehernya demi bisa mengintip isi di dalam paper bag yang ukurannya memang tak biasa itu.
Itu adalah kotak sepatu dengan merek yang cukup terkenal mahal harganya.
“Kamu dikasih sepatu?” tanya Igris takjub.
“Nggak tahu, belum nge-check juga,” jawab Noah sambil lalu.
“Aku kira itu paper bag branded isinya bakalan beda, ternyata isinya beneran sama dengan tasnya, dong.” Luna masih kesulitan untuk percaya.
Jarang banget ada penonton olahraga tingkat SMA – yang biasanya juga ditonton oleh anak-anak SMA – yang datang ke venue dan memberikan hadiah mahal ke pemain dari SMA lain.
“Waktu ngasih itu dia bilang apa? Jangan-jangan dia ngajak kamu pacaran.” Igris bertanya setengah bercanda dan Luna pun ikut tertawa mendengarnya.
“Nggak … katanya aku suka pakai barang-barang branded, jadi dia khawatir kalau ngasih hadiah biasa nanti nggak bakalan dipakai,” terang Noah.
“Terus kamu bilang apa?” Luna penasaran dengan reaksi Noah.
“Aku bilang terima kasih.”
“Memangnya benar kamu maunya cuma pakai barang-barang branded yang mahal?”
“Nggak juga sih, yang penting nyaman aja dipakai.”
“Ya jelasin dong ke penggemarmu itu, bilang kalau dia nggak perlu ngasih barang mahal kayak gitu.”
“Jadi, apa aku balikin aja nih?”
“Ya … nggak gitu juga,” Luna saling bertukar pandangan dengan Igris, “takutnya nanti dia malah tersinggung kalau dibalikin lagi.”
“Itu Jordan, kan?” mata Igris tertancap pada logo yang ada di paper bag besar itu, “emang berapa sih harganya?”
Noah mengangkat kantong berisi sepatu itu dan mengamati isinya. “Ini kayaknya sekitar 1 sampai 2 jutaan sih, normal lah.”
“Heh! Normal dari mananya?! Sepatu harga jutaan begitu.” Igris benar-benar kesal sampai rasanya ia ingin mencakar wajah Noah yang dengan polosnya mengatakan itu harga sepatu yang normal.
“Emangnya ini mahal, ya?”
“Aku pukul juga nih anak!” Igris mengangkat tinjunya tapi Luna malah mencegahnya sambil cekikikan.
Tapi Noah memang tak bermaksud sarkas, ia jujur merasa kalau harga sepatu itu tidak mahal. Menurut pendapatnya, itu harga yang termasuk normal.
Lagi-lagi Noah tak menyadari bahwa standarnya itu berbeda dengan orang-orang di sekitarnya.
“Oh … jadi ini mahal?” Noah bergumam sambil kembali mengamati hadiah di tangannya itu.
“Yang satu lagi itu apa isinya?” Kali ini Luna mengalihkan pembicaraan dengan bertanya tentang paper bag satunya lagi, masih dengan logo jumpman[1] yang sama.
“Wristband.” Noah menunjukkan wristband berwarna hitam dengan bordiran putih berbentuk siluet Jordan itu.
“Itu kayaknya ori juga tuh. Berapaan kira-kira?”
“Apa-apa itu jangan selalu diukur dengan harga dong, Igris,” nasihat Luna, dan kembali dibalas dengan cengiran oleh Igris.
Noah tak begitu hafal dengan harga-harga aksesoris, tapi ia cukup penasaran. Jadi dia diam-diam mengecek harga dengan browsing di internet menggunakan hp-nya.
Lalu setelah menemukan harga barang itu, ia menahan diri untuk menjawab pertanyaan Igris tadi, khawatir ia akan mengatakan sesuatu yang salah lagi tentang standar murah atau mahalnya sebuah produk.
Tanpa sadar, langkah Noah, Igris dan Luna terhenti karena orang di depan mereka juga berhenti.
Sepertinya di depan sana terjadi kemacetan karena akses pintu masuk yang terlalu ramai. Akibatnya rombongan Cendana pun terhenti sebelum memasuki gedung GOR.
Kenyataannya, kontingen Cendana berpapasan dengan kontingen Bima Sakti tepat di depan pintu masuk. Dan Ahsan terlihat sedang sedikit berbasa-basi dengan mereka.
Seperti biasa, Cendana memang selalu bisa menyerahkan urusan formalitas ramah-tamah ini kepada Ahsan.
Menyadari kalau mereka masih harus menunggu, Igris membuka obrolan lagi, “Tapi Noah kayaknya senang banget ya sama Jordan.”
“Nggak juga,” sanggah Noah.
.
___ ___ ___ ___ ___
[1] Logo Jumpman merupakan siluet Michael Jordan yang sedang melompat memegang bola selayaknya hendak melakukan dunk. Logo itu kini menjadi ikon untuk merek Jordan Brand. Tidak hanya sepatu, tetapi juga merambah ke lini pakaian, aksesoris dan yang lainnya.