Chapter II-39

1068 Kata
“Noah kayaknya senang banget ya sama Jordan.” Igris mencoba membuka obrolan lagi. “Nggak juga,” sanggah Noah cuek, nyaris tak peduli. “Tapi itu penggemarmu ngasih sepatu sama wristband, dua-duanya Jordan loh. Padahal itu kan nggak murah … menurutku.” “Aku nggak pernah sefanatik itu sih sama merek. Mungkin karena mereka selalu lihat aku pakai Jordan setiap kali bertanding, jadi mereka salah paham.” “Kayaknya kamu udah bisa deh minta disponsori sama itu merek logo centang,” canda Igris lagi. Obrolan mereka pun terhenti saat menyaksikan di undakan paling atas, depan pintu masuk GOR, Ahsan sedang berjabat tangan dengan Gian, kapten tim Bima Sakti, sambil saling bertukar kalimat pemberi semangat. Ya, harusnya memang memberi kalimat untuk saling menyemangati. Tapi yang terjadi sebenarnya tidak seperti itu. “Tahun ini kita berada di grup yang sama,” Gian memasukkan tangan kembali ke kedua saku celana tracksuit-nya setelah berjabat tangan dengan Ahsan, “sayang sekali sepertinya akan sulit bagi kalian untuk bisa menjadi runner up seperti biasa.” Itu kasar. Itu adalah sindiran yang kasar dan kurang ajar. Hasil drawing Kejurnas tahun ini sudah akan mempertemukan Cendana dengan Bima Sakti di babak 8 besar. Artinya, jika Cendana menang di pertandingan pertama, maka mereka akan langsung berhadapan dengan Bima Sakti. Dan apa yang baru saja dikatakan Gian itu adalah sebuah klaim bahwa mereka akan memulangkan Cendana di pertandingan kedua. Jangankan final, Cendana bahkan tak akan sampai ke semifinal di Kejurnas tahun ini. Mendengar itu, Juan sampai harus memegangi lengan Dewa agar ia tak melompat dan menyerang Gian. Untungnya Ahsan masih bisa tersenyum tenang sebelum membalas, “Mungkin kamu nggak tahu, tapi target kami bukan runner up.” “Oh … aku kira setiap tahun kalian memang menargetkan runner up, soalnya kan kalian selalu kalah di final.” Samir menyahut dari arah belakang Gian, dan disambut dengan tawa teman-temannya. “Kami nggak kalah! Kami cuma kehabisan waktu!” tegas Dewa dengan wajah merah nyaris berasap saking marahnya. Tapi Gian malah terkekeh menanggapi kalimat balasan itu. “Pintar ngeles juga rupanya,” ledeknya. “Bima Sakti ini sepertinya menganut kepercayaan bahwa mereka cuma bisa kelihatan lebih tinggi dengan cara merendahkan orang lain,” Noah tiba-tiba nyeletuk saat ia sudah berada di belakang para senior kelas 12, “padahal sebenarnya kalian insecure kan di hadapan kami.” “Kami? Insecure?” Samir lagi-lagi tertawa sambil bertukar pandangan dengan teman-temannya, meminta dukungan agar mereka ikut tertawa dan mengintimidasi Cendana. Noah membalas dengan senyum sinis sebelum kembali menanggapi, “Kalau diibaratkan lomba lari, saat kalian sedang berlari di depan, lebih baik fokus aja ke depan. Jangan terus-terusan ngelihat ke belakang karena takut disalip sama yang nomor dua. Bisa-bisa nanti kalian tersandung dan jatuh sendiri, kan nggak lucu.” "Pfft ...!" Igris dan Luna yang ada di sebelah Noah, membekap mulut mereka seolah ingin menyembunyikan tawa, padahal sebenarnya mereka ingin memperlihatkan bahwa mereka sedang tertawa. Tapi Yuda bahkan tak mau bersusah payah menahan diri. Ia langsung melepaskan tawa keras terbahak-bahak. “Kelihatannya mereka benar-benar insecure deh, Kak. Makanya kerjaannya ngeledekin Cendana melulu di berbagai media,” katanya kemudian kepada Dewa. Suasana semakin panas. Dua tim papan atas itu pun tak ada yang menunjukkan tanda-tanda akan mundur – sedangkan kedua pelatih mereka sudah berjalan lebih dulu memasuki gedung dan tampak sedang mengobrol santai dengan pelatih-pelatih dari sekolah lainnya. Jadi, jika perkelahian pecah di sini, sepertinya tak akan ada yang menengahi. Sejak tadi, beberapa wartawan sudah siap dengan kamera mereka dan penonton yang kebetulan ada di sekitar situ juga kelihatan mengantisipasi apa yang akan terjadi. Beruntung dari arah belakang Cendana, ada kontingen dari sekolah lain yang baru saja tiba. Tampak rombongan tim dari sekolah lain itu mengenakan seragam tracksuit berwarna hijau, bermaksud menaiki undakan untuk memasuki pintu yang sama dengan Cendana dan Bima Sakti. “Ada apa ini ramai-ramai?” Terdengar suara yang tak asing bagi Ahsan dan para senior tim Cendana. “Kalau mau ngobrol jangan menghalangi jalan begini dong,” sambung suara itu lagi, “ini yang seragamnya biru-biru gini pasti Cendana nih.” Tepat setelah mengatakan itu, wajah si pemilik suara pun muncul di antara kerumunan skuad Cendana. Itu Ilyas, kapten tim Soetomo. “Woi! Kan benar ini Cendana! Ahsan!” serunya penuh semangat sambil langsung menyambar tangan Ahsan dan merangkulnya dengan akrab. “Hei, kalian baru nyampe?” sambut Ahsan ramah, ia berbalik dan menunjukkan punggungnya kepada Gian; seolah kapten Bima Sakti itu sudah tak relevan lagi karena saat ini ada kapten tim Soetomo yang lebih asyik buat diajak ngobrol. Meski tak puas karena tak berhasil menjadi orang terakhir yang menutup perdebatan, Gian terpaksa harus menerima itu. Tapi tentu saja ia tak bisa menyembunyikan ekspresi kesalnya. Ilyas yang melihat itu pun menyempatkan diri untuk menyapa Gian di sela obrolan serunya dengan Ahsan. "Hei, tim ungu kok masih di sini? Kalian nunggu apa?” Ilyas malah terkesan seperti ingin mengusir Bima Sakti dari situ, “terlalu banyak orang yang menghalangi pintu masuk. Nanti kalau ada tim lain yang datang gimana?” Gian membuang napas perlahan untuk menenangkan diri. “Ya … sejak awal kami memang nggak seharusnya ngobrol sama kalian,” ujarnya sambil berbalik, “level kita terlalu berbeda.” Kapten Bima Sakti itu berjalan melewati pintu masuk GOR diikuti oleh skuad-nya, yang masih sempat melempar tatapan tak ramah kepada tim Cendana dan Soetomo, sebelum akhirnya benar-benar berlalu pergi. “Aku nggak sabar pengen ngelihat mereka kalah,” gerutu Ilyas, “kalau sampai tahun ini mereka menang lagi, bakalan makin menjadi-jadi sombongnya.” “Tenang aja, kami bakal ngalahin mereka,” sahut Yuda sambil merangkul seorang pemain Soetomo yang ada di sebelahnya, “pokoknya kalian tunggu aja di final. Tahun ini kalian bakal jadi runner up dan kami yang bawa pulang trofinya.” Ilyas dan rekan-rekannya tertawa mendengar pernyataan itu. “Kalian memelihara anak sombong kayak gini juga? Udah kayak Bima Sakti aja,” celetuk Ilyas kemudian. “Nggak dong, bukan sombong, kami cuma percaya diri aja,” balas Ahsan sambil mulai melanjutkan langkahnya menuju pintu masuk GOR; karena ia melihat ada bus tim dari SMA yang lain yang baru saja memasuki area parkir. “Ok, deal. Kalian kalahin semua yang ada di Grup A – termasuk tim alien ungu itu – kami juga bakal ngalahin semua yang di Grup B. Kita ketemu di final.” Ilyas menimpali sembari mengikuti langkah Ahsan dan membiarkan skuad-nya berbaur dengan skuad Cendana. “Ide bagus.” Dewa menanggapi dari sebelahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN