Chapter II-40

1159 Kata
“Kita ketemu di final.” Ilyas secara tegas dan mantap membuat perjanjian dengan Cendana, dan sepertinya Dewa menyukai hal itu. “Ide bagus,” katanya menanggapi. Mood senior berdarah panas itu pun terlihat membaik setelah kemunculan Soetomo. Cendana dan Soetomo berasal dari regional yang sama dan memang dikenal memiliki hubungan rivalitas yang sehat. Bahkan setiap tahunnya sudah seperti tradisi bagi kedua tim untuk saling mengunjungi sekolah dan mengadakan latih tanding. Di Liga Rookie, kedua tim itu sering disebut sebagai Taman Langit; karena Soetomo yang menggunakan hijau sebagai warna resmi tim mereka dan Cendana menggunakan warna biru. Setiap kali mereka berkumpul dan berbaur saat sedang mengenakan seragam training dan jersey masing-masing, perpaduan warna hijau dan biru itulah yang membuat penonton dan media menjuluki Cendana dan Soetomo sebagai Taman Langit. Di hari pertama, akan diadakan 3 pertandingan setelah acara pembukaan Kejuaraan Nasional Bola Basket Tingkat SMA/sederajat. Kebetulan Cendana kebagian bertanding di hari pertama ini; tepatnya di match kedua pukul 2 siang nanti. Itu sebabnya, berbeda dengan Soetomo dan Bima Sakti yang hari ini datang hanya untuk upacara pembukaan, Cendana dan lima sekolah lainnya tampak sibuk memasuki area lobi sambil membawa barang-barang keperluan tim. Umumnya gelanggang olahraga atau GOR yang digunakan untuk pertandingan seperti ini, akan menyediakan pintu masuk yang berbeda untuk penonton dan peserta pertandingan, termasuk awak media dan staff. Itu sebabnya, saat ini semua peserta Kejurnas berkumpul di lobi bagian belakang gedung. Ruangan itu cukup luas, tapi tak banyak kursi yang disediakan. Para peserta yang sedang menunggu acara dimulai tampak mengkapling area mereka masing-masing di lobi itu, untuk menempatkan barang-barang (bagi yang akan bertanding hari ini) dan mengumpulkan tim-nya agar tidak terpencar. Lobi pun jadi dipenuhi oleh warna-warni seragam khas masing-masing sekolah yang berkumpul di berbagai titik. Ada yang berbaris rapi sambil mendengarkan arahan dari pelatih mereka, ada yang hanya berkumpul saja sambil mengobrol santai, bahkan ada yang mendiami sudut ruangan sambil duduk-duduk dan selonjoran di lantai. Berhubung karena kontingen Cendana hanya terdiri dari 10 pemain ditambah pelatih dan manager, jadi saat ini Cendana kekurangan orang untuk urusan angkat-mengangkat barang dan urusan teknis lainnya. Meski masing-masing individu di Cendana mengurus sendiri perlengkapan mereka untuk pertandingan, mulai dari jersey, tape, handuk dan segala macamnya, tetap saja Luna masih harus repot mengurusi logistik tim, perlengkapan medis, dokumentasi, dan koordinasi dengan panitia di venue. Juan berinisiatif membawa cooler box dari parkiran bus hingga ke dalam gedung, benda itu biasanya diangkat oleh dua orang, tapi Juan bisa melakukannya sendiri. Sementara itu, Dewa menggantikan tugas Luna untuk mendaftarkan skuad resmi atau formasi pemain Cendana ke panitia di venue, sebelum pertandingan. Dirga pun ikut membantu mengecek kelengkapan barang bawaan mereka. Wahyu dan Yuda menemui panitia untuk bertanya beberapa hal terkait pertandingan mereka nanti seperti lokasi ruang kesehatan dan segala macamnya. Walaupun sebenarnya para senior kelas 11 dan 12 saling bantu-membantu; kecuali Ahsan, karena Coach Adam ingin Ahsan selalu mendampinginya untuk berbicara kepada wartawan, tetap saja, sebagai anggota paling muda, Igris dan Noah yang harus berperan sebagai errand boy[1]. “Kantong plastik yang berisi magic spray[2] yang baru dibeli mana, ya?” Luna tampak sibuk mencari-cari sesuatu di antara barang-barang yang sudah diangkat dari bus dan dikumpulkan di salah satu sudut lobi. “Kayaknya udah digabung sama tas perlengkapan medis,” komentar Dirga sambil ikut mencari. “Nggak ada. Tadi itu terpisah karena barangnya baru dibeli,” Luna panik sambil memegangi kepalanya. Biasanya dia tidak akan serepot ini karena ada anggota lain – yang tidak bertanding – yang akan membantunya mengurusi hal-hal seperti itu. Tapi kali ini, hanya ada skuad pemain utama dan pelatih yang ikut ke pertandingan. Luna juga merasa tak enak hati kalau harus merepotkan para pemain yang akan bertanding untuk membantu pekerjaannya. “Tenang dulu, Luna,” Evan mencoba menenangkannya, “mungkin ketinggalan di bus.” “Kalian cek di bus atau di sekitar pintu masuk, siapa tahu ketinggalan waktu kita berhenti dan ngobrol di situ tadi.” Juan memberikan instruksi kepada anggota termuda tim Cendana saat ini, Noah dan Igris. “Ok.” “Siap, Kak.” Dua anak kelas 10 itu pun menjawab dengan cara mereka masing-masing. “Ayo, Noah,” ajak Igris bersemangat. Ini pertama kalinya ia merasa bisa jadi lebih dekat dengan Noah; karena tak ada anggota kelas 10 lainnya. “Ngomong-ngomong, kamu tahu?” Igris memulai obrolan saat mereka baru saja meninggalkan area lobi. “Pelatih Utama kita, Coach Reza, katanya bakal menyusul untuk menemani tugas Coach Adam selama Kejurnas ini.” “Dia gunanya apa? Paling-paling cuma mau nebeng nama aja kalau nanti kita juara.” Noah menanggapi sambil celingukan mengamati sekitaran; di tempat mereka berhenti sejenak dan mengobrol ‘santai’ dengan Bima Sakti tadi. Igris terperangah beberapa saat. Ia nyaris tak percaya kalau Noah baru saja menanggapi obrolan, tanpa bersikap sinis seperti biasa kepadanya. Dalam hati Igris berpikir bahwa sepetinya memang benar, tidak adanya Zikri dan gerombolannya berhasil membuat ia dan Noah menjadi sedikit lebih akrab. “Haha … iya, padahal selama ini dia nggak pernah muncul. Giliran Kejurnas aja ikut-ikutan.” Igris kembali menimpali. “Akhir-akhir ini dia sering muncul di klub, nanya-nanyain kamu loh,” tambah Igris lagi, “aku lihat juga dia beberapa kali nyapa dan sok akrab sama kamu. Kalian saudaraan?” Kali ini Noah tak menanggapi sesuai ekspektasi Igris. Ia malah melirik Igris dengan ekspresi malas. “Aku benci orang cerewet dan sok akrab,” kata Noah akhirnya. Igris nyengir sambil garuk-garuk kepala. “Sorry,” sesalnya setengah memelas. Kalimat Noah barusan terdengar seperti menyerang Coach Reza, padahal itu juga sekalian menyerang Igris yang ia anggap cerewet dan sok akrab. Noah menghempas napas sambil memutuskan untuk lebih dulu berjalan menuju parkiran bus; karena sepertinya barang yang mereka cari tak ada di situ. Bicara tentang Coach Reza, sepertinya para anggota klub sudah mulai bisa merasakan gelagat aneh lelaki tambun itu. Dia yang awalnya terang-terangan tidak menyukai Noah tiba-tiba saja sering datang ke latihan klub basket sekadar untuk basa-basi dengan Noah. Padahal dulu, dia akan selalu menemukan kekurangan Noah dan menyanjung-nyanjung Igris di berbagai kesempatan. Tapi belakangan ini, ia tak pernah lupa memberikan pujian kepada Noah lalu pergi sambil mengatakan, “Titip salam ya ke ayahmu.” Ya, sudah pasti dia jadi seperti itu karena sekarang sekolah sudah tahu siapa ayah Noah, gara-gara Noah melibatkan ayahnya itu untuk membereskan urusannya dengan Andi. Noah dan Igris sudah hampir sampai di bus, saat tiba-tiba saja hp Igris berdering. “Sorry, aku angkat dulu, ya.” Ia meminta izin kepada Noah, meskipun tanpa menunggu jawaban ia sudah langsung menjawab panggilan telepon itu. . ___ ___ ___ ___ ___ [1] Errand boy secara harfiah diartikan sebagai bocah suruhan atau pesuruh. Ungkapan ini mengacu pada seseorang yang biasanya disuruh-suruh untuk melakukan tugas-tugas kecil. [2] Spray yang dijuluki ‘The Magic Spray’ oleh para atlet ini sebenarnya adalah spray analgesik yang umumnya berisi ethyl chloride. Berfungsi untuk mengurangi rasa sakit (sementara) akibat cedera, agar atlet bisa melanjutkan pertandingan kembali. Selain magic spray, sebutan lainnya adalah freezer spray atau first aid aerosol.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN