“Sorry, aku angkat dulu, ya.” Igris meminta izin untuk menjawab teleponnya yang berdering.
Tapi Noah tak begitu memedulikannya dan lanjut memasuki bus – yang kebetulan masih belum dikunci karena sang supir masih berada di dalam.
“Bapak nggak bosan nungguin di sini aja sampai pertandingan selesai?” sapa Noah pada lelaki setengah baya itu.
“Ya … kalau saya keluyuran nanti kalian yang repot nyari-nyari saya,” balas Pak Supir sambil tertawa ringan, “nih … kayak gini nih. Ada barang yang ketinggalan gini. Kalau saya pergi nanti kalian bakal repot.”
“Kan ada hp, Pak,” balas Noah sambil mulai mencari di bawah-bawah kursi bus, “gampanglah itu. Lagian kalau pertandingan udah dimulai, mana ada sih yang bakal balik ke bus lagi.”
“Iya juga sih … saya sebenarnya juga pengen lihat-lihat.”
“Santai aja, Pak,” ujar Noah lagi sembari menjulurkan tangannya ke bawah kursi di mana Luna duduk.
“Ternyata emang dia yang lupa bawa,” gumam Noah setelah berhasil meraih kantong plastik berisi magic spray yang tadi dibeli belakangan sebelum ke venue.
“Ketemu?” tanya Pak Supir.
“Iya, Kak Luna yang ninggalin di bawah kursinya.”
“Kasihan Neng Luna kayaknya repot banget, ya.”
Noah mengangguk setuju sambil lalu berjalan menuju pintu keluar bus di bagian depan. “Soalnya anggota yang ikut ke sini juga pas-pasan, Pak. Kalau pas Liga Rookie kan ramai tuh, jadi banyak yang bantuin.”
Kali ini si Pak Supir yang mengangguk-angguk sambil mengiyakan. “Saya tempel nomor hp di dekat pintu masuk ini, ya,” katanya kemudian, “kalau ada apa-apa nanti telepon aja. Palingan juga saya cuma jalan-jalan di sekitar bazar bareng supir-supir bus yang lain.”
“Ok, sip.” Noah mengacungkan jempolnya kepada Pak Supir yang memang disewa untuk membawa kontingen Cendana melewati perjalanan lintas kota; karena Kejurnas tahun ini diadakan di Ibu Kota yang jaraknya sekitar 10 jam perjalanan darat.
Saat Noah sudah berada di luar bus, ia mencari-cari keberadaan Igris yang sudah hilang dari pandangan. Padahal tadi Noah melihatnya masih bicara dengan seseorang via telepon, tepat di sebelah bus.
“Pak, lihat teman saya yang di sini tadi nggak?” tanya Noah kepada Pak Supir lagi.
“Tadi kayaknya dia jalan ke arah sana sambil teleponan,” sahut lelaki itu sembari menunjuk ke arah bangunan kecil di pojok area parkir.
Dengan rasa malas bercampur jengkel, Noah pun berjalan menuju tempat yang barusan ditunjuk oleh Pak Supir.
“Ngapain sih? Udah tahu orang lagi sibuk,” gerutu Noah dalam hati.
Bangunan kecil yang terlihat seperti pos security itu berada di paling ujung dan tampak kosong, Noah harus memutar ke bagian belakangnya karena ia tak bisa menemukan Igris.
“Kalian keterlaluan sampai nyusul ke sini. Aku kan udah bilang ….”
“Bocah, kamu itu sama aja dengan ibumu. Lolos terus kayak belut.”
Terdengar suara seorang laki-laki yang menyela kalimat Igris.
Noah sedikit mengintip dari balik dinding dan menemukan Igris sedang berdiri dengan punggung yang menempel di tembok, sementara ada 3 lelaki yang jauh lebih dewasa tampak berdiri mengepungnya.
“Uang yang dipinjam mamaku nggak ada hubungannya sama aku!” tegas Igris lagi.
Seorang lelaki yang sedang merokok dan berdiri di belakang, kini mulai berjalan ke hadapan Igris. Dua lelaki lainnya pun sedikit bergeser ke pinggir untuk memberi ruang pada lelaki dengan rokok yang dijepit di jarinya itu.
“Gini ya, Dik …,” ia mengulurkan tangannya dan menepuk-nepuk pelan pipi Igris, “rumah kalian udah berhari-hari kosong. Ibumu udah lama nggak pulang, kayaknya dia kabur. Kamu juga tinggal di asrama sekolah elit, hampir nggak mungkin ditemui. Ya … ini satu-satunya kesempatan buat ketemu kamu. Apa boleh buat?”
“Tapi masa’ iya kalian sampai nyusul ke luar kota begini cuma buat nemuin aku? Apa gunanya? Aku juga nggak bisa bayar utang-utang perempuan itu. Aku cuma anak SMA.”
“Kamu kan punya dua ginjal,” celetuk seorang lainnya yang mengenakan kacamata hitam dan kemeja hawaii bermotif pohon kelapa.
Celetukan itu pun disambut dengan tawa dua lelaki lainnya.
“Lagian jangan kira kami ini cuma kelompok preman,” sambung seorang lagi yang mengenakan masker seperti sedang flu, “kami punya perusahaan dan kantor resmi, tahu?! Kantor pusat kami ada di sini, jadi kami bukan orang dari tempat asalmu yang bela-belain nyusul kamu sampai ke sini.”
Dari pembicaraan mereka barusan, Noah bisa mengambil kesimpulan bahwa ibunya Igris berhutang kepada rentenir, lalu menghilang entah ke mana.
Si rentenir kemudian mengabarkan kepada orang-orang yang seperti preman itu, bahwa Igris sedang berada di kota ini untuk ikut Kejurnas. Jadi, bisa dikatakan bahwa ketiga lelaki itu adalah ‘karyawan’ kantor pusat yang ditugaskan untuk menemui Igris, mumpung ia sedang berada di sini.
“Serius aku nggak bisa ngelakuin apa-apa untuk kalian. Aku nggak punya uang.” Igris menarik punggungnya dari dinding dan bermaksud untuk pergi, tapi ia didorong kembali hingga terempas ke tembok di belakangnya.
“Mau ke mana kamu? Enak aja mau kabur.” Lelaki yang di tengah membuang rokoknya, seolah sudah tak sabar ingin beraksi.
Igris masih berusaha untuk pergi, tapi ada dua orang lelaki dewasa yang menahannya agar tetap berdiri di tempatnya.
“Aku ada pertandingan hari ini!” Setengah berteriak, Igris berharap ada yang mendengarnya.
“Memangnya itu urusan kami?!” bentak si kemeja hawaii, “udah nggak usah buang-buang waktu. Dika, suruh orang bawa mobil ke sini, langsung aja kita angkat anak ini.”
Rekannya yang barusan mendapat instruksi itu pun langsung mengeluarkan hp dari saku celana dan mulai menelepon seseorang.
“Ini aku, Dika. Bang Herman suruh bawa mobil ke sini … iya, di belakang pos security. Bos Bobby juga ada di sini. Cepat, ya!” Lelaki bernama Dika yang menutupi separuh wajahnya dengan masker itu pun menyudahi panggilan telepon.
Kemudian tangannya dengan cepat mencengkram kerah seragam tracksuit Igris sambil lalu menyeretnya menuju ke driveway; agar bisa lebih mudah membawa Igris kalau mobil mereka datang.
Noah yang sejak tadi tetap bersembunyi sambil berusaha menelepon rekan-rekannya di Cendana merasa kalau ia tak bisa membiarkan Igris dibawa pergi.
Tapi tak satu pun orang di dalam venue menjawab panggilan telepon Noah.
Sepertinya mereka semua benar-benar sibuk dan tak sempat melihat hp.
“Ini yang dari tadi sembunyi mau dibawa sekalian juga, nggak?”
Tiba-tiba salah satu suara mereka terdengar sangat dekat, tepat di balik tembok yang ada di sebelah Noah.