Chapter II-42

1043 Kata
Noah berusaha menghubungi Luna dan para anggota Cendana yang ada di venue, tapi sepertinya mereka semua sangat sibuk, tak ada yang menjawab panggilan telepon Noah. Akhirnya Noah memutuskan untuk mengirim pesan melalui aplikasi chatting, ke grup tim basket Cendana. Dengan begitu, kemungkinan pesan itu akan dibaca seseorang jadi lebih besar. Ia juga sempat memotret ketiga orang yang sedang mengancam Igris itu dan mengirimkannya ke grup yang sama. “Ini yang dari tadi sembunyi mau dibawa sekalian juga, nggak?” Tiba-tiba salah satu suara mereka terdengar sangat dekat. Ternyata sejak tadi, saking sibuknya menelepon dan mengirim pesan, Noah tak menyadari bahwa orang yang bernama Herman sudah mengetahui keberadaannya dan bahkan sudah berdiri tepat di balik tembok yang ada di sebelah Noah. Noah kaget dan terlambat bereaksi saat Herman memukul hp dari tangannya. Hp itu pun terjatuh dan Herman langsung menginjaknya dengan keras hingga layarnya pecah, bahkan hp-nya sampai tertekuk nyaris patah jadi dua. Noah baru saja ingin lari dari tempat itu, tapi bagian belakang bajunya ditarik dengan cepat. “Temanmu?” Sambil masih memegangi baju Noah, Herman bertanya kepada Igris. “Pake nanya. Seragam tracksuit-nya kan sama tuh. Basketball Club SMA Cendana. Nggak bisa baca kamu?” Lelaki yang tadi baru saja membuang rokoknya, menjawab sambil kembali menyulut rokok yang baru. Sepertinya memang dialah bos dari dua orang yang lainnya. Noah berusaha menyingkirkan tangan Herman dari dirinya, tapi cengkraman tangan orang itu sangat kuat, ia tak bisa bergerak ke mana-mana. “Hei, dia nggak ada hubungannya sama urusan kita, kan?” Igris – yang juga ditahan dengan cara yang sama dengan Noah – menjelaskan agar mereka tak melibatkan Noah dengan masalah ini. Tapi Bos mereka yang perokok itu mengabaikan penjelasan Igris dan bicara pada rekannya, “Barusan kayaknya dia ngubungin temannya.” “Jadi gimana? Mau dibawa juga nih?” tanya Herman lagi. Ia juga mengabaikan Noah yang sejak tadi berkutat mencoba melepaskan diri. Namun, karena yang dicengkramnya hanya baju saja, Noah mendapat ide untuk membuka ritsleting pada bagian depan jaket tracksuit-nya; untungnya ia terbiasa mengenakan jersey di balik seragam tracksuit setiap kali mau bertanding. Noah membiarkan jaket itu lepas dari tubuhnya dan tinggal dalam cengkraman Herman, sementara ia langsung berlari pergi. Tapi, entah karena orang-orang itu memang sudah berpengalaman, atau mungkin mereka menguasai bela diri tertentu atau apa, gerakan mereka cepat dan penuh tenaga. Herman menjatuhkan tubuhnya agar bisa menangkap pergelangan kaki Noah. Akibatnya, Noah tersandung dan langsung jatuh dengan wajah yang membentur tanah hingga cairan merah keluar dari hidung Noah. Belum sempat Noah memahami situasinya saat ini, jersey-nya kembali ditarik sampai nyaris sobek dan tubuhnya dilempar membentur dinding. Detik berikutnya, lagi-lagi Noah tak sempat bereaksi, sebuah tinju uppercut meluncur dari arah bawah dagu Noah dan menghantamnya dengan keras. Pandangan mata Noah mendadak gelap, ia kehilangan kendali pada tubuhnya. Seketika ia roboh dan tak sadarkan diri. “Noah!” Igris panik dan semakin ngotot ingin melepaskan diri, tapi Dika bergeming. Usaha Igris tak berpengaruh sama sekali. Keadaan semakin diperburuk karena lokasi mereka yang cukup jauh dari keramaian; sepertinya area itu adalah gudang lama yang sudah tak terpakai lagi. “Oi, Her, sama anak SMA aja kamu sampai serius begitu. Kalau dia mati gimana?” Bos Bobby berkomentar datar. “Ditinju gitu doang, nggak bakal mati. Tuh, mobilnya datang.” Herman menyeret Noah dengan memegangi salah satu kakinya dan tak peduli meski punggung Noah tergerus tanah; ia tak mau repot-repot menggendong Noah sampai ke mobil. Karena yang dipegangnya adalah pergelangan kaki Noah, perhatian Herman pun jadi tertancap pada sepatu yang dikenakan Noah. “Kau tahu berapa harga sepatu anak ini?” tanyanya kemudian saat ia sudah berada di dekat Dika. “Berapa?” Dika balik bertanya sambil mendorong Igris masuk ke dalam mobil. “Mahal,” jawab Herman, “lebih mahal dari gajimu sebulan.” “Anjing! Anak orang kaya rupanya dia … Hei! kamu jangan coba-coba lari, ya!” Ujung kalimat Dika ditujukan kepada Igris karena melihat gelagatnya yang mencari-cari celah dan kesempatan untuk kabur. “Kalau kamu berani lari, temanmu ini langsung kami bikin mampus,” ancam Herman lagi. Ia lalu memberi kode kepada Dika agar membantunya mengangkat Noah masuk ke dalam mobil. Lalu pintu mobil pun digeser menutup dan melaju meninggalkan area Gelanggang Olahraga. . “Ngurusin anak kecil aja kamu nggak beres!” Terdengar suara lelaki yang dipanggil Bos itu sedang memarahi anggotanya. “Aku nggak nyangka dia bakal nargetin buat nendang selangkanganku, jadinya aku refleks mau nangkis, dan dia langsung kabur.” Lelaki bernama Dika – yang tadi bertanggung jawab untuk memegangi Igris – membela diri. “Udah sana bantu Herman, kejar sampai dapat!” hardik si Bos itu lagi. Noah hanya mampu mendengar suara-suara itu, karena saat ini ia tak bisa melihat apapun meski matanya sudah terbuka. Sepertinya ada semacam kain yang diikatkan ke belakang kepala Noah untuk menutupi matanya. Saat ini ia sedang berbaring di lantai berdebu dengan tangan yang terikat di belakang tubuhnya. Sedangkan kakinya masih bisa digerakkan dengan bebas. Menyadari hal itu, Noah berusaha bangkit. Tapi seseorang menempelkan tapak sepatunya ke bahu Noah, lalu mendorongnya kembali untuk tetap berada di lantai. “Diam di situ.” Noah mengenali suara itu sebagai Bobby, bos dari dua orang yang lainnya. “Temanmu itu padahal udah dibilangin, kalau dia sampai kabur kamu nggak bakal selamat. Tapi sepertinya dia nggak peduli sama kamu,” kata lelaki itu lagi. Bagi Noah, itu bukan hal yang aneh. Karena memang seperti itulah Igris. Dia adalah seorang oportunis yang akan selalu mencari kesempatan untuk menguntungkan dirinya sendiri. Lalu selama beberapa saat, lelaki itu tak bicara lagi. Noah bahkan mengira ia ditinggal sendirian. Tapi ternyata tiba-tiba ada yang membuka penutup mata Noh dan hal pertama yang dilihatnya adalah wajah si Bos Bobby yang sedang mengamatinya. “Kayaknya aku pernah lihat mukamu di mana, ya?” Lelaki itu menimbang-nimbang sambil berjongkok di hadapan Noah yang masih belum diizinkan bangkit dari lantai. Posisi Noah saat ini sangat tidak nyaman karena lantai yang kotor membuatnya harus agak berhati-hati menarik napas agar tak menghirup debu bercampur tanah. Meski begitu, Noah menatap sekelilingnya untuk mempelajari situasi. Sepertinya mereka ada di sebuah bangunan tua bekas pabrik atau semacamnya, nyaris separuh atap bangunan itu sudah roboh dan hanya ada barang-barang rongsokan di beberapa sudutnya. Ketika Noah sedang mengamati sekitarnya, Bobby bangkit dan menarik sebuah kursi kayu ke hadapan Noah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN