Chapter II-43

1091 Kata
Bobby menarik sebuah kursi kayu ke hadapan Noah. “Hei, coba lihat sini sebentar,” katanya sambil duduk di kursi reot itu, dengan Noah yang berada di dekat kakinya. Merasa masih belum bisa melihat wajah Noah dengan jelas, ia menempelkan ujung sepatunya di dagu Noah dan memaksa Noah mendongak menatapnya. Bobby melihat layar hp dan wajah Noah secara bergantian, membandingkan sebuah foto di hp dengan orang yang ada di hadapannya saat ini. Kemudian ia beranjak dan berjalan ke arah belakang Noah. Masih dengan kakinya, ia menggeser posisi Noah agar bisa melihat nama yang tertulis pada jersey yang dikenakannya. “Benar deh kayaknya,” Bobby berjalan kembali ke kursinya dan mulai menelepon seseorang, “kalau ada kebetulan kayak gini … ya nggak aneh sih. Di pinggiran kota begitu kan orangnya cuma sedikit. Ah … halo!” Bobby langsung mengeraskan suaranya saat seseorang menjawab panggilan telepon di seberang sana. Noah benar-benar tidak menyukai posisinya sekarang. Jadi ia kembali berusaha bangkit dan kali ini ia berhasil duduk karena Bobby membiarkannya, atau mungkin lebih tepatnya, Bobby tak begitu memperhatikannya. “Siapa nama anak yang kemarin kamu kirim fotonya itu?” tanya Bobby pada seseorang di seberang telepon yang suaranya tak bisa didengar Noah. “Noah? Nah … kan bener. Dari klub basket Cendana, kan? Betul! Cocok. Hahaha ….” Bobby tertawa keras sebelum kembali melanjutkan, “kebetulan kami lagi nanganin kasus debitur yang kabur karena gak bisa bayar. Kami nyusulin anaknya ke lokasi pertandingan basket, eh … ternyata si Noah ini muncul. Hahaha … iya, benar, di Ibu Kota.” Bobby jeda sejenak karena lawan bicaranya sedang mengatakan sesuatu. Lelaki itu menggaruk-garuk rahangnya sambil menatap Noah. “Begini …,” katanya kemudian, “aku paham kamu pengen nyari duit tambahan. Tapi lain kali kasih tahu temanmu yang anak sekolah elit itu, kita ini rentenir, bukan jasa tukang pukul. Masa’ kita ngurusin cekcok anak SMA?” Beberapa saat Bobby kembali diam untuk mendengarkan penjelasan rekan rentenirnya, sebelum akhirnya ia tertawa lagi. “Hahaha … Iya … soal duit memang bayarannya lumayan. Tapi punya harga diri sedikit dong. Urusan mukulin anak orang kenapa minta tolongnya sama rentenir? Ada-ada aja.” Lelaki itu berlagak kesal, padahal kelihatannya ia cukup senang mendengar nominal uang yang ditawarkan untuk pekerjaan tambahan yang berhubungan dengan Noah ini. “Jadi aku bantu selesaikan nih?” Bobby kembali memastikan, matanya dengan penuh minat mengamati Noah dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Kakinya atau tangannya?” tanya Bobby lagi. “Haha … aman. Aku cukup pro kalau urusan begini,” sambung Bobby, “eksekutornya bukan aku. Nanti aku suruh ‘anak-anak’ aja, aku bakal bikin alibi, tinggal terima bersih.” Sekarang Noah paham kenapa si Bobby ini berani muncul dan menemaninya di sini, meski wajahnya terlihat jelas. Padahal dua anggotanya tadi pakai kacamata hitam dan masker yang menyamarkan identitas mereka. Sepertinya mereka sudah biasa bekerja seperti ini. Bobby tak akan pernah turun tangan langsung, jadi ia punya banyak cara untuk menyelamatkan diri. Bahkan nama Bobby, Herman dan Dika itu pun mungkin bukan nama asli mereka. “Tapi kayaknya kita bisa dapat untung lebih deh,” kata Bobby lagi, “dia anak orang kaya, kan?” Ucapan Bobby itu dibalas dengan bentakan yang cukup agresif oleh lawan bicaranya, tapi Bobby hanya tertawa menanggapi. “Nggak usah panik. Aku juga nggak mau ngambil pekerjaan yang risikonya terlalu besar. Aku udah tobat, mau kerja baik-baik aja jadi rentenir.” Bobby kembali tergelak di ujung kalimatnya. “Jadi rentenir kok dibilang tobat?” Noah hanya bisa ngomel dalam hati. “Ok, ok, nanti aku kabari lagi.” Bobby langsung menyudahi pembicaraannya saat melihaat Herman kembali dengan terengah-engah. “Anak itu cepat banget. Kayak tikus,” keluhnya sambil berusaha mengatur napas. “Mana dia?” tanya Bobby tak sabar. “Dia berhasil kabur, Bos.” “Gimana sih?! Kerja begitu aja nggak becus!” Kata-kata yang keluar dari mulut Bobby setelah itu hanya berisi sumpah serapah, disertai dengan tepukan keras beberapa kali ke kepala Herman. “Mana si Dika?!” hardik Bobby lagi. “Masih berusaha nyari dia, Bos. Tadi kami coba telepon Bos, tapi nomornya nggak masuk-masuk. Kami kira ada apa-apa, jadi kami memutuskan untuk berpencar.” “Aku lagi nelpon orang, guoblok! Lagian, memangnya bakal ada apa? Di sini cuma ada aku sama bocah itu, dan tangannya juga udah diikat. Memangnya dia bisa apa?!” Bobby mengakhiri omelan dengan menendang peti kayu di dekatnya sambil meneriakkan segala isi kebun binatang kepada anak buahnya itu. “Udah, panggil Dika! Nggak usah dikejar lagi. Kita urus yang ini aja!” putus Bobby akhirnya. “Mau diapain, Bos?” tanya Herman hati-hati. “Ada permintaan khusus. Anggap aja ini kerja sampingan, nanti aku jelasin,” jawab Bobby seadanya, “aku masih ada urusan lain, jadi kerjaan ini aku serahkan ke kalian. Bayarannya lumayan gede.” Herman melempar tatapannya pada Noah yang duduk bersandar di dinding rapuh bangunan itu dengan tangan yang masih terikat di belakang tubuhnya. “Kita mau main culik-culikan terus minta uang tebusan, Bos?” Herman kembali bertanya untuk memastikan. “Nggak. Patahin aja kakinya. Bikin cedera yang cukup parah, kalau perlu yang sampai permanen. Permintaan klien begitu.” Bobby memberikan instruksinya dan Noah pun cukup kaget mendengar hal itu. Meski begitu, Noah mencoba untuk tetap tenang. Setidaknya, kakinya saat ini tidak terikat, jadi ia masih bisa memikirkan cara untuk melarikan diri. Sebenarnya, kejadian seperti ini bukan yang pertama kalinya bagi Noah. Dulu, saat ia masih belum genap 6 tahun, ia dan Raka juga pernah mengalami percobaan penculikan. Kejadiannya begitu cepat. Saat sedang bermain, sebuah mobil berhenti di hadapan Noah dan Raka, lalu dengan cepat memasukkan mereka ke dalam mobil itu. Waktu itu Noah sangat ketakutan dan tak bisa berhenti menangis, kalau bukan karena Raka, Noah mungkin tak akan selamat. Ya, jika saat itu Raka tak ada bersama Noah, ia yang masih sangat kecil pasti terus menangis dan meronta meski sudah diancam oleh para penculiknya. “Diam! Lama-lama kumatiin juga nih anak!” bentak salah seorang penculik waktu itu. “Pukulin aja sampai pingsan. Kalau mati kan masih ada anak yang satunya lagi,” saran rekannya. “Jangan, dia cuma takut ... aku bakal suruh dia diam …," Raka dengan cepat berusaha membujuk Noah, “... Noah, Noah … jangan nangis ya ... sini sama Kakak.” Padahal waktu itu usia Raka hanya dua tahun lebih tua dari Noah, tapi ia bisa bersikap tenang dan benar-benar berusaha menjaga Noah dengan baik. Sepanjang perjalanan di dalam mobil, ia terus memeluk Noah sambil mengatakan hal-hal yang menenangkan, bahwa mereka akan baik-baik saja, bahwa nanti akan ada yang datang menyelamatkan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN