Padahal waktu itu usia Raka hanya dua tahun lebih tua dari Noah, tapi ia bisa bersikap tenang. Ia terus memeluk Noah sambil mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja dan nanti akan ada yang datang menyelamatkan mereka.
Untungnya aksi penculikan itu gagal. Karena sikap tenang Raka, mereka berhasil lolos dari kejadian itu.
Saat berhenti untuk mengisi bensin, Raka menemukan kesempatan untuk keluar dari dalam mobil dan langsung meminta tolong kepada petugas SPBU.
Penculik yang panik berusaha melarikan diri dengan menancap gas mobil meski selang alat pengisi belum tercabut dari tangki, menyebabkan selang tersangkut hingga mesin pengisian bensin menjadi roboh.
Kejadian itu pun menimbulkan kehebohan. Orang-orang di sekitar berteriak agar mobil yang menyebabkan kekacauan itu dihentikan sebelum keluar dari area SPBU.
Kebetulan saat itu di bagian depan SPBU ada truk yang sedang terparkir. Supirnya berinisiatif untuk memajukan truk hingga melintang dan menghalangi jalan keluar. Akibatnya, mobil para penculik tak sempat mengerem dan langsung menabrak badan truk.
Tiga orang yang berada di dalam mobil berhamburan melarikan diri dan supirnya berhasil ditangkap saat itu juga.
Tapi Raka tak peduli dengan para penculik itu. Ia berlari cemas ke arah mobil sambil meneriakkan nama Noah. Dan betapa leganya ia ketika melihat Noah dalam kondisi selamat; meski keningnya berdarah karena terbentur saat tabrakan terjadi.
Seketika Raka tak bisa membendung air matanya, ia langsung memeluk Noah dan menangis bersama-sama. Waktu itu mereka menghabiskan waktu tanpa melepaskan tangan satu sama lain, hingga polisi datang.
Setelahnya, meski ketiga penculik itu berhasil ditangkap, Noah tak begitu tahu apa motif dibalik penculikan dirinya dan Raka. Kedua orang tuanya juga tak pernah mau membahas hal itu lagi, karena takut Noah dan Raka akan mengalami trauma jika mengingatnya kembali.
Namun, ada selentingan yang didengar Noah, bahwa dalang penculikan itu adalah pihak yang merasa dirugikan dengan hasil riset Nirwan. Tapi, tak menutup kemungkinan bahwa penculikan itu memang dilakukan oleh orang jahat yang hanya ingin mendapatkan uang tebusan.
Yang pasti, Noah tak akan pernah melupakan kejadian itu. Sebuah titik di mana ia melihat Raka sebagai pahlawan yang bahkan lebih hebat dari Superman – superhero favoritnya. Kejadian itu juga yang membuat Noah berjanji kalau ia akan berada di barisan paling depan, jika Raka membutuhkan bantuannya dalam hal apapun.
“Hei. Halooo …” Herman menepukkan tangannya di depan wajah Noah yang langsung disadarkan dari lamunan tentang masa lalunya barusan.
“Kok ngelamun? Mikirin apa?” tanya Herman lagi, dengan senyum mengejek di wajahnya.
Sepertinya, saat pikiran Noah kembali ke masa lalu tadi, Bobby sudah pergi entah kemana. Herman juga sudah menelepon Dika agar mengabaikan Igris dan segera kembali ke pabrik terbengkalai, lokasi mereka sekarang ini.
“Maaf ya, aku sebenarnya nggak punya dendam pribadi sama kamu,” Herman duduk di kursi yang tadi digunakan Bobby, “tapi kamu itu harusnya hidup dengan baik. Kok bisa-bisanya kamu bikin orang dendam sampai rela membayar mahal jasa preman buat bikin kamu c.a.c.a.t?”
“Siapa yang bayar kalian?” Noah berusaha menggali informasi, mumpung Herman sedang mengajaknya ngobrol.
“Ada deh … mana mungkin kami bocorin rahasia klien,” Herman tertawa sambil lalu menyalakan rokok dan mengisapnya santai, “sebenarnya aku ngerasa kerjaan kayak gini ini lebih gampang daripada jadi tukang tagih utang. Untung kamu muncul tanpa perlu dicari-cari. Makasih ya, udah bikin kerjaanku jadi lebih gampang.”
“Apa yang bayar kalian itu namanya Andi?” Tanpa memedulikan ocehan Herman, Noah langsung menebak nama Andi.
Herman mengangkat bahu sambil mengerucutkan bibirnya. “Jujur aku nggak tahu siapa namanya, pokoknya kami dapat request dari cabang perusahaan yang ada di pinggiran kota, daerah asalmu itu.”
“Rentenir punya cabang perusahaan juga, ya?” Noah tak bisa lagi menahan diri untuk tak berkomentar mengenai hal itu.
Herman tertawa keras sebelum menanggapi, “Aku masih sering lupa. Sekarang kami udah bukan rentenir lagi, kami naik pangkat jadi pinjol (pinjaman online). Eh … sama aja sih.” Lelaki dengan kacamata hitam yang masih betah bertengger di wajahnya itu kembali tertawa hingga tersedak asap rokoknya sendiri.
“Tapi tetap aja, kebiasaan lama susah dihilangkan,” sambung Herman setelah batuknya reda, “sesekali kalau ada yang berani bayar mahal, kami bisa ngerjain apa aja sesuai permintaan.”
“Dia bayar berapa? Aku bakal bayar dua kali … nggak … tiga kali lipat, kalau kalian lepasin aku dan kasih tahu aku siapa yang bayar kalian,” tawar Noah akhirnya.
“Wah … tawaran yang bagus nih. Kenapa nggak dari awal aja tadi kamu ngomong gini, pas Bos masih ada di sini?”
“Ngapain harus ngomong ke Bos kalian?” Noah memberi tatapan sarat makna kepada Herman, “kalian bisa pura-pura ngelakuin sesuai instruksi Bos, tapi diam-diam terima tawaranku dan kalian bisa dapat lebih banyak uang tanpa harus bagi-bagi ke Bos kalian, kan?”
Mata Herman berkilat dipenuhi rasa antusias. Ia terlihat sedang menimbang-nimbang dengan serius, ketika tiba-tiba saja terdengar suara dari arah luar bangunan.
“Perhatian! Ini adalah kepolisian lokal. Bangunan ini sudah kami kepung! Semua yang ada di dalam agar segera menyerahkan diri dan keluar dengan tangan di atas kepala!”
Suara itu terdengar cukup jelas. Tapi tentu saja, Herman dan Noah tahu itu hanya suara yang berasal dari speaker hp.
“Temanmu itu,” kata Herman sambil tertawa, “dia kira kami bodoh apa?”
Sepertinya Igris memutuskan untuk kembali dan menyelamatkan Noah. Tapi idenya tak terlalu cemerlang. Siapa yang akan tertipu dengan trik semacam itu?
“Temanmu yang satu lagi mana?” tanya Noah kepada Herman.
Herman mengedikkan bahunya cuek. “Tadi udah aku telepon sih, katanya dia lagi otw ke sini.”
“Jadi gimana? Terima tawaranku nggak?” desak Noah lagi.
“Boleh juga. Kamu beneran mau bayar 3 kali lipat?”
“Gampang. Bilang aja berapa yang harus kubayar.”
“Masalahnya aku juga nggak tahu si Bos ditawari bayaran berapa.”
“Sebutin aja nominalnya,” sela Noah, “dan aku pinjam hp-mu buat telepon orang tuaku. Nanti uangnya langsung ditransfer.”
“Wah … asyik juga berurusan sama anak orang kaya yang bijak kayak kamu.” Herman merogoh hp di saku celana dan menyerahkannya kepada Noah.
“Ini dibuka dulu dong. Gimana sih?” Noah mengarahkan punggungnya kepada Herman agar dia membukakan tali ikatannya.
Namun saat Herman sedang fokus membuka tali yang mengikat tangan Noah, ia menurunkan kewaspadaannya sehingga tak menyadari Igris yang muncul dari jendela di dekat Noah sambil membawa potongan balok besar.