ChapterII-45

1023 Kata
Ketika Herman sedang membuka simpul tali yang mengikat tangan Noah, ia tak menyadari Igris yang muncul dari jendela di belakangnya sambil membawa potongan balok besar. Lalu tanpa ragu Igris menghantamkan balok itu sekeras-kerasnya ke belakang kepala Herman, hingga suaranya menggema ke penjuru bangunan usang itu. Noah dengan sigap bangkit dari lantai dan menjauh dari Herman, meskipun tali yang mengikat tangannya masih belum benar-benar lepas, tapi simpulnya sudah cukup longgar. Sebenarnya, Noah juga tak yakin orang-orang jahat itu akan melepaskannya setelah menerima transferan uang yang mereka minta. Tentu saja, mereka punya klien yang menginginkan Noah berakhir c.a.c.a.t, mana mungkin mereka akan membiarkan Noah keluar dari tempat ini dengan kondisi utuh. Jadi, Noah cukup bersyukur dengan kemunculan Igris yang tak terduga itu. Saat Herman masih meringis kesakitan – meski Igris tak berhasil memukulnya sampai pingsan – Noah mengambil kesempatan untuk berlari meninggalkan tempat itu, sementara Igris kembali melompat keluar melalui jendela. Tanpa menghentikan larinya, Noah berhasil melepaskan dengan sempurna tali yang mengikat tangannya. Namun ia berpapasan dengan Dika yang baru saja datang, Refleks Noah menganggap Dika sebagai pemain yang sedang menghadangnya di pertandingan basket. Noah tak mengubah arah dan terus berlari seolah ia akan menabrak Dika. Lelaki itu pun, setengah panik, mempersiapkan diri untuk menghadapi Noah. Tepat ketika Dika merasa Noah sudah di depan mata dan berada dalam jangkauan, ia mengayunkan kepalan tangannya sekuat tenaga untuk meninju Noah. Tapi Noah dengan cepat merundukkan tubuhnya sambil terus berlari hingga ia lewat dari bawah lengan Dika. Sama seperti saat Noah menggiring bola untuk melewati defender, bedanya saat ini lawan menargetkan dirinya, bukan bola. Bahkan ketika Noah berlari sambil menggiring bola, dia sudah termasuk cepat. Apalagi ketika ia tak perlu melakukan dribble dan hanya perlu berlari menghindari orang di hadapannya. Noah tak mengurangi kecepatan larinya meski ia sudah berhasil melewati Dika. Lelaki itu juga sudah terlambat beberapa langkah untuk mengejar Noah. “s**l, apa semua anak SMA sekarang gerakannya secepat ini, ya?” Dika mengeluh sambil berusaha mengatur napas. Ia baru saja kesulitan ‘main kejar-kejaran’ dengan Igris, dan sekarang lagi-lagi ia kesulitan menghentikan Noah yang sudah berada di depan mata. _ _ _ “Lihat nggak tadi barisan Cendana pas upacara pembukaan?” “Iya. Aneh, kenapa mereka cuma bawa delapan pemain?” “Aku nggak lihat duo pemain kelas 10 yang banyak diperbincangkan itu.” “Noah dan Igris?” “Iya, kayaknya tadi itu pemain kelas 11 dan 12 semua.” “Apa mereka berdua nggak masuk skuad Kejurnas, ya?” Terdengar kasak-kusuk penonton tepat setelah acara pembukaan dinyatakan selesai dan kontingen dari berbagai SMA/sederajat mulai membubarkan diri dari arena lapangan pertandingan. Memang aneh jika tim selevel Cendana hanya membawa 8 pemain untuk bertanding di ajang sebesar ini, karena tidak mungkin rasanya jika Cendana sampai kekurangan stock pemain berbakat. Vito, wartawan olahraga yang fokus menyoroti pertandingan level pelajar, juga merasakan keanehan yang sama. Tidak masuk akal jika Cendana tak memasukkan Noah dan Igris ke dalam skuad Kejurnas. Jadi, ia berinisiatif untuk menghampiri kontingen Cendana yang berada di lobi belakang GOR. Namun apa yang dilihatnya adalah sebuah kepanikan. “Mereka pergi ngambil barang yang tinggal di bus dari sebelum acara pembukaan dimulai,” Luna menjelaskan kepada Ahsan, “aku kira mereka keluyuran terus nyasar entah ke mana. Aku bermaksud menelepon dan memarahi mereka. Tapi pas aku lihat pesan yang dikirim Noah di grup, yang tadinya aku kesal sama mereka sekarang aku malah jadi cemas banget.” Ahsan mendengarkan sambil terus mengamati foto yang dikirimkan Noah. Mau tak mau, ia juga setuju dengan Luna. Kedua anggotanya itu terlihat seperti sedang terlibat masalah, dan ini jelas mengkhawatirkan. Dari pintu masuk lobi, terlihat Dirga dan Evan sedang berlari kecil menghampiri rombongan Cendana dengan wajah panik. “Kami ke lokasi yang dikirimkan Noah tadi,” lapor Dirga sambil mengatur napasnya, “kami ketemu ini di sana.” Ia menunjukkan jaket tracksuit Cendana milik Noah dan hp Noah yang sudah tertekuk patah. Luna hampir saja memekik kalau ia tak segera mendekap mulutnya sendiri. “Apa yang terjadi? Mereka ada di mana?” Meski tahu tak ada yang bisa menjawabnya, Luna tetap mempertanyakan itu kepada Ahsan yang berada di sebelahnya. “Coach …,” Ahsan pun menunjukkan dua benda penemuan Dirga tadi kepada Coach Adam, “apa kita harus lapor polisi?” “Kalau udah kayak gini, tentu kita nggak punya pilihan lain,” jawab Coach Adam kemudian. “Kamu coba hubungi sekolah dan minta mereka hubungi orang tua Noah dan Igris. Juan …!” Coach Adam memanggil Juan yang langsung menghampirinya dengan cepat, “Saya, Coach?” “Kamu coba tanya panitia, apa pertandingan kita bisa diundur?” instruksinya kepada Juan, “Ceritakan situasinya seperti apa dan minta pengertian dari mereka … Yuda, kamu pergi sama Juan. Sisanya pergi cek keberadaan mereka di sekitaran venue. Siapa tahu ada yang melihat mereka dan bisa memberi keterangan … Luna, kamu tenang dan duduk aja di sini. Biar saya yang bikin laporan ke polisi.” Setelah selesai bagi-bagi tugas, Coach Adam memulai panggilan telepon sambil berjalan menuju pintu keluar lobi. Di saat itulah, Vito mendekati Luna dan pelan-pelan mencoba mendapatkan informasi. “Halo. Saya temannya Noah,” ia memulai dengan memperkenalkan diri, “waktu acara pembukaan tadi saya nggak lihat Noah. Apa dia nggak masuk dalam skuad pemain Cendana?” Luna, dengan wajahnya yang sudah banjir air mata, menatap Vito heran. “Anda wartawan, kan?” tanyanya. “Benar. Tapi saya kenal Noah cukup baik. Jadi …” “Wartawan olahraga mana yang nggak kenal Noah?” sambar Luna, “jangan coba-coba mengambil kesempatan saat kami sedang kesulitan. Saya nggak akan memberikan keterangan apa-apa kepada Anda.” Vito menghela napas pasrah. Menandakan kalau ia sudah menyerah mengajak Luna bicara. “Maaf, jika penjelasan saya nggak cukup meyakinkan. Tapi saya benar-benar hanya mengkhawatirkan Noah dan ingin tahu apa yang terjadi padanya.” “Maaf, nanti Anda tunggu aja pernyataan resmi dari Coach Adam.” “Baiklah. Maaf sudah mengganggu waktunya.” Vito pamit sambil lalu berbalik dan bermaksud meninggalkan Luna. Tapi matanya menangkap jaket tracksuit biru yang tergeletak tepat di sebelah sebuah hp yang tampak rusak parah. Dari casing-nya, Vito mengenali hp itu sebagai kepunyaan Noah. Tak salah lagi. Pasti sudah terjadi sesuatu kepada Noah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN