Chapter II-46

1080 Kata
“Noah! Lewat sini!” Igris berteriak memanggil Noah yang baru saja akan berlari melewati semak belukar di dalam hutan yang mengelilingi bangunan terbengkalai tadi. Dari kejauhan Noah melihat Igris melambaikan tangannya di arah yang berbeda dengan yang akan Noah lalui barusan. Noah memutuskan untuk mempercayai Igris karena memang ia sendiri tak tahu jalan keluar dari hutan itu. Jika pun tersesat, setidaknya ia tersesat bersama Igris. “Kamu tahu jalan keluarnya?” tanya Noah saat ia sudah menghampiri teman sekelasnya itu. “Aku tahu,” jawab Igris sambil mulai memimpin jalan, “kalau lewat sini nanti kita bakal ketemu jalan utama yang udah beraspal. Walaupun cuma ada satu-dua kendaraan yang lewat, siapa tahu ada yang mau ngasih tumpangan.” “Mereka nggak ngikutin kita, kan?” Noah menoleh ke sekitarnya dengan waspada, “orang yang kamu pukul tadi nggak ngejar kamu?” “Nggak deh kayaknya, aku lari sekencang-kencangnya tanpa ngelihat ke belakang.” “Aku tadi ketemu temannya, yang namanya Dika.” “Terus?” “Aku juga lari aja, nggak ngelihat ke belakang lagi. Tapi udah sejauh ini, kayaknya memang mereka nggak ngejar.” “Untung aja mereka kerjanya nggak becus,” sahut Igris sambil menyibak dedaunan besar dan ranting yang menghalangi jalan di depannya. “Kamu masih bisa lari nggak?" "Masih." "Kalau gitu, kita harus lari. Gimana kalau mereka berhasil nyusul kita? Yang namanya Herman itu kayaknya jago berantem.” Igris mempercepat langkahnya hingga setengah berlari, dan Noah mau tak mau jadi menyamakan kecepatan dengannya. Hanya beberapa menit setelahnya, mereka akhirnya tiba di pinggir jalan beraspal, meski jalan itu tak lebar. Tapi sudah pasti bakal ada kendaraan yang berlalu lalang di sana. Ketika melihat ada mobil bak terbuka yang membawa sayuran lewat, Igris dengan cepat mengulurkan tangan untuk memberhentikan mobil. Ia bahkan nyaris berdiri di tengah jalan untuk memastikan supir mobil itu melihatnya dan berhenti. “Kalian ini dari mana? Mau ke mana?” tanya si supir dengan kening yang mengernyit bingung, melihat ada dua anak sekolah di tengah jalan sepi seperti ini. “Kami mau ke GOR utama, searah nggak pak kira-kira?” Noah buru-buru menjelaskan. Igris menatapnya heran. “Loh kok ke GOR? Nggak ke rumah sakit? “Emang siapa yang sakit?” Noah malah balik bertanya polos. “Noah, tadi itu kamu kan pingsan …” “Ya udah, naik di belakang,” supir mobil pick-up itu menyela, “tapi sampai persimpangan di depan itu nanti saya ke kanan, kalian harus numpang mobil lain ke arah kiri.” "Siap! Terima kasih, Pak!" Noah dan Igris pun bergerak cepat untuk melompat naik ke bak terbuka pada bagian belakang mobil itu. Dan di saat yang bersamaan, mereka bisa melihat dua sosok yang berlari di antara pepohonan. Igris dengan sigap menarik Noah agar sedikit merunduk di balik keranjang sayuran, untuk bersembunyi dari jarak pandang dua orang itu. Untungnya, si supir mobil tak banyak membuang waktu dan langsung melaju pergi. Dua pelajar SMA itu pun akhirnya bisa menghela napas lega setelah merasa sudah cukup jauh dari lokasi di mana mereka memberhentikan mobil tadi. Noah menjatuhkan tubuhnya dan berbaring telentang menatap langit yang terbuka lebar di atasnya, sementara Igris menyandarkan punggungnya di salah satu keranjang sayur. “Hari pertama Kejurnas yang gila,” gumam Noah sambil mengusap-usap pergelangan tangannya yang mulai terasa perih akibat tali yang mengikatnya tadi. Setelah semua ketegangan berlalu, barulah Noah bisa merasakan nyeri di rahang, punggung dan lengannya, akibat uppercut[1] Herman dan gesekan di atas tanah ketika tadi mereka menyeret Noah yang tak sadarkan diri. Saat seseorang berada dalam situasi yang memicu stres atau ketegangan, tubuh memang melepaskan hormon adrenalin yang menyebabkannya menjadi kurang peka terhadap rasa sakit. Itulah sebabnya, ketika ketegangan berakhir, Igris mulai merasakan nyeri di sekujur tubuhnya; rasa nyeri pada otot akibat berlari kencang dan terus-menerus. Sementara Noah, ia mulai merasakan rasa sakit yang ia abaikan selama situasi menegangkan tadi berlangsung. “Hp-ku ketinggalan di sana,” Igris balas bergumam. “Ngapain juga kamu pasang tipuan suara polisi begitu? Nggak ada gunanya. Kecuali kamu punya speaker atau megafon,” sahut Noah. “Aku kehabisan ide. Maksudku tuh supaya perhatiannya teralihkan, jadi aku bisa menyelinap masuk dan melepaskan kamu.” “Tapi aku rasa itu cukup berhasil. Dia kira kamu bodoh.” “Hahaha …” Igris tertawa sambil lalu mengela napas panjang. “Aku haus ...,” keluhnya kemudian. “Aku nggak bawa duit,” jawab Noah, “nanti aja kalau kita udah sampai GOR. Minta sama Luna.” Selama beberapa saat mereka tak mengatakan apapun lagi, hingga kemudian Igris membuka suara. “Maaf ya, aku jadi ngelibatin kamu ke masalah pribadiku,” ujarnya sambil melempar pandangan ke barisan pohon di pinggir jalan yang mereka lewati. “Nggak usah dipikirin. Bukan salahmu juga,” balas Noah. Igris tertawa pelan dengan ekspresi memelas, seolah ada banyak hal yang sedang berputar-putar di kepalanya saat ini. “Aku tuh sebenarnya iri banget sama kamu,” ungkap Igris akhirnya, “jujur aja aku senang ketika orang-orang membandingkan kita berdua. Kupikir, seenggaknya kalau dibanding-bandingkan dengan kamu, itu berarti aku udah berdiri di level yang sama denganmu.” Igris menunduk dan menatap ruas-ruas jemari tangannya, ia lalu mendengus dengan senyum miris, seolah sedang menertawakan dirinya sendiri. “Orang-orang lebih menyukai sikap dan prilakuku, itu membuatku semakin besar kepala. Aku merasa … ah … akhirnya, ada sesuatu yang aku punya dan nggak ada di kamu. Aku menjadi serakah, dan selalu ingin bisa lebih dari kamu. Aku ingin lebih diakui, aku ingin orang-orang lebih melihatku, lebih memuji kemampuan basketku. Aku ingin berada di dekatmu, agar orang-orang bisa melihat betapa kontrasnya sifatmu yang kaku dengan aku yang selalu ramah.” Noah tak memberi respon apapun, padahal Igris sudah cukup lama mengambil jeda. “Aku ini memang anjing banget nggak sih?” Igris tertawa lagi setelah memaki dirinya sendiri. Dalam hati ia berharap Noah mengatakan sesuatu untuk menanggapinya. Ia sudah sangat siap kalaupun Noah ingin menertawakannya, memarahinya, memakinya atau bahkan memukulnya. “Itu manusiawi kok.” Sebuah kalimat singkat yang akhirnya keluar dari mulut Noah, sekaligus sebagai tanda bahwa ternyata sejak tadi ia tidak mengabaikan Igris. “Aku juga kadang iri kalau melihat kamu mudah banget berteman dan ngobrol dengan orang lain. Jadi kamu nggak perlu merasa bersalah. Selama kamu nggak berniat buruk, merasa iri dengan keunggulan orang lain itu wajar.” Mendengar pernyataan Noah barusan, mata Igris seolah tersengat sesuatu yang membuatnya jadi berair. . ___ ___ ___ ___ ___ [1] Uppercut adalah jenis pukulan yang dilakukan dari bawah ke atas, dengan tujuan mengenai bagian bawah rahang atau dagu lawan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN