“Kamu nggak perlu merasa bersalah. Selama kamu nggak berniat buruk, merasa iri dengan keunggulan orang lain itu wajar.”
Kalimat Noah membuat darah Igris berdesir hangat ke seluruh pembuluh di tubuhnya, hingga air mulai menggenang di matanya.
Saat ini, di hadapannya adalah sosok orang yang selalu ingin ia ungguli. Perasaan yang dimiliki Igris terhadap Noah cukup rumit. Ia memang tak akan pernah sampai hati kalau harus menjatuhkan Noah secara langsung, tapi jika ia melihat Noah tersandung dan jatuh, Igris mungkin akan merasa puas. Dan ia akan merasa lebih puas lagi ketika ia bisa menjadi orang yang mengulurkan tangan dan membantu Noah berdiri.
“Seandainya orang-orang tahu sifat aslimu,” gumam Igris lagi, “sayangnya banyak orang yang gagal memahami kamu yang sebenarnya.”
“Aku nggak peduli,” sahut Noah, “orang-orang yang dekat denganku pasti bisa mengenaliku dengan baik. Sedangkan mereka yang salah memahami sifatku, mereka pasti bukan siapa-siapa bagiku. Jadi pendapat mereka tentang aku itu nggak penting.”
Igris mengusap bulir air di sudut matanya sebelum Noah menyadari kalau ia baru saja hampir menangis.
“Tadi itu juga,” masih ada yang ingin dijelaskan Igris, “aku pikir aku akan kabur sendiri dulu. Aku udah berlari sampai ke pinggir jalan dan menunggu kendaraan untuk ditumpangi. Setelahnya, baru aku akan meminta pertolongan ke polisi untuk menyelamatkanmu.”
“Tapi … setelah kupikir lagi, bagaimana kalau polisi datang terlambat dan orang-orang itu udah terlanjur melakukan sesuatu ke kamu? Aku takut membayangkannya,” Igris menyambung penjelasannya, “jadi aku balik lagi ke pabrik tua itu dan memutuskan untuk kabur bareng sama kamu.”
Noah bersyukur Igris mengambil keputusan itu. Karena memang sepertinya kalau bantuan datang terlambat, orang-orang itu pasti sudah melukai Noah sesuai permintaan klien mereka.
“Terima kasih,” ujar Noah sambil menutup kelopak matanya; karena langit yang ia pandangi sejak tadi kini mulai menyilaukan mata.
“Eh …? Kamu nggak perlu bilang terima kasih. Sejak awal kan aku yang …”
“Udah tinggal bilang ‘sama-sama’ aja susah banget sih?” omel Noah berlagak jengkel.
Igris terperangah beberapa saat sebelum akhirnya ia tertawa. “Iya … sama-sama,” balasnya kemudian.
Ada senyum yang sangat lebar muncul di wajah Igris, dan ketika ia melihat Noah yang masih berbaring layaknya orang yang sedang tertidur, ternyata ada senyum yang sama juga di wajah teman sekelasnya itu.
Ya … Noah juga merasakan kelegaan yang sama. Selama ini ia juga tak tahu apa yang membuatnya sangat tidak menyukai Igris, ia bingung bagaimana menata perasaannya. Karena setiap kali berhadapan dengan Igris, lelaki itu selalu bersikap ramah sedangkan Noah selalu membalasnya dengan ketus. Itu membuat Noah merasa jadi seperti orang jahat.
Tapi sekarang, setelah mengalami hal buruk bersama-sama, lalu bicara dari hati ke hati tentang apa yang sebenarnya mereka rasakan, Noah berpikir … mungkin mulai hari ini, ia bisa menganggap Igris sebagai temannya.
_ _ _
Hanya beberapa saat sebelum match pertama selesai, Cendana mendapat kabar bahwa mereka tak bisa mengundur jadwal pertandingan, meski Yuda dan Juan sudah menjelaskan situasi mereka saat ini.
Panitia dengan tegas mengatakan bahwa mereka tak bisa memberikan perlakuan khusus kepada Cendana, dan menyarankan Cendana untuk mengundurkan diri jika memang mereka tak bisa bertanding di match kedua hari ini.
“Kita nggak perlu ngelakuin itu,” ujar Coach Adam kepada skuadnya. “Kalian lanjutkan aja pertandingannya. Biar saya yang urus masalah ini bersama polisi. Kalian nggak perlu ikut-ikutan, fokus aja ke pertandingan.”
Ahsan dan yang lainnya saling bertukar pandangan, tak tahu bagaimana harus menyikapi keputusan Coach Adam barusan.
Memang benar, tak ada gunanya jika mereka mundur dari kejuaraan ini. Mereka juga tak bisa melakukan apa-apa untuk mencari Noah dan Igris.
Walaupun mungkin Cendana tak bisa sepenuhnya fokus bermain di pertandingan, tetap saja, lebih baik memang menyerahkan hal ini kepada polisi dan membiarkan Coach Adam yang mengurusnya bersama pihak sekolah.
“Di lapangan nanti mungkin aku nggak akan mendampingi kalian,” sambung Coach Adam lagi, “aku serahkan semuanya ke Ahsan. Apapun keputusan Ahsan saat pertandingan nanti, anggap aja itu juga keputusanku. Kalian mengerti?”
“Siap, Coach!” sahut seluruh anggota tim Cendana bersamaan.
“Who’s the best?!” Coach Adam membangkitkan semangat anak didiknya dengan meneriakkan yel yel yang sering mereka gunakan sebelum pertandingan.
“Cendana!” sahut delapan anggota skuad Cendana itu kompak, bahkan Luna juga ikut menyahut bersama mereka.
“Who’s the winner!” teriak Coach Adam lagi.
“Cendana!”
“Who’ll fight till the end!”
“Cendana!”
“Fight!”
“Cendana!”
“Fight!”
“Cendana!”
“KILL. THEM. ALL!”
Kalimat terakhir itu diucapkan bersamaan dan cukup menarik perhatian semua yang berada di lobi saat itu. Ada yang takjub, ada juga yang nyinyir.
Tapi tim Cendana tak peduli. Mereka membutuhkan teriakan-teriakan itu untuk membangkitkan semangat sekaligus membantu mereka agar tetap fokus pada pertandingan.
Lawan pertama Cendana di Kejurnas adalah SMAN 7 milik Ibu Kota, dengan kata lain, tim tuan rumah.
Berdasarkan data yang dikumpulkan Cendana, SMAN 7 bukan lawan yang berat. Tapi, apapun bisa terjadi dalam pertandingan olahraga. Itu sebabnya Cendana tak boleh meremehkan siapapun yang menjadi lawan mereka.
Setelah match pertama selesai, Cendana dan SMAN 7 harus menunggu kedua tim yang bertanding di match pertama tadi meninggalkan ruang ganti mereka masing-masing. Dan masih harus menunggu lagi ruangan itu dibersihkan oleh petugas venue sebelum akhirnya mereka bisa menggunakannya.
Hal inilah yang membuat Coach Adam selalu menekankan kepada anak didiknya untuk tak membiarkan sampah berserakan sebelum meninggalkan ruang ganti di pertandingan apapun, karena setelahnya ruang ganti itu akan digunakan lagi oleh tim yang akan bertanding berikutnya, dan tentu saja ruang ganti yang berserakan akan mempersulit pekerja kebersihan.
“Aneh banget, tiba-tiba aja ada masalah kayak gini tepat sebelum pertandingan,” komentar Evan kepada Wahyu yang sedang membalutkan tape ke jari tangannya.
“Menurutmu apa yang terjadi sama Noah dan Igris?” Yuda menimpali karena Wahyu yang hemat kosakata itu tampak tak berniat meladeni obrolan Evan. “Apa mungkin ini siasat dari tim tuan rumah untuk menyabotase …”
“Yuda!” Dewa membentak adik kelasnya itu sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, “nggak usah mikir yang aneh-aneh. Itu akibatnya kalau kamu kebanyakan nonton film drama.”
“Sorry, Kak …” Yuda nyengir sambil garuk-garuk kepala salah tingkah.
“Seperti yang dibilang Coach Adam tadi,” Ahsan akhirnya buka suara setelah melihat rekan-rekannya selesai mengganti seragam tracksuit dengan jersey, “kita fokus aja ke pertandingan. Kita panik dan cemas pun percuma, nggak ada yang bisa kita lakuin. Bayangkan kalau kita kalah di pertandingan pertama cuma gara-gara konsentrasi kalian buyar. Nanti kalau mereka berdua kembali, nggak ada lagi pertandingan yang bisa mereka mainkan karena kita udah kalah di awal.”
“Awas kalau balik nanti, bakal kuhajar mereka,” gerutu Dewa sambil menekan punggung Juan yang sedang berbaring tengkurap di atas lantai, “berani-beraninya mereka bikin orang cemas sampai kayak gini.”
“Au … Au! Udah, udah …,” Juan menggeliat dan meminta Dewa menyudahi pijatannya, “kamu mau bantu mijat atau malah mau bikin orang cedera?”
Dewa pun membalas dengan cengiran lebar sambil minta maaf.
Melihat hal itu, Ahsan hanya menghela napas pasrah. Sepertinya memang percuma meminta mereka untuk tak memikirkan Noah dan Igris dalam kondisi seperti ini.
Tapi setidaknya, Ahsan yakin rekan-rekan satu timnya itu paham betul bahwa mereka harus memenangkan pertandingan pertama ini. Demi merebut trofi Kejurnas, demi bisa membungkam Bima Sakti, dan demi bisa memberikan panggung kepada Noah dan Igris seandainya mereka kembali dalam keadaan baik-baik saja nanti.