ChapterII-48

1078 Kata
Ketika pertandingan atau match kedua dimulai, sebagian besar orang yang menonton pertandingan hari itu menyadari bahwa ada yang aneh dengan bench Cendana. Hanya ada tiga pemain pengganti, dan pelatih mereka juga tak mendampingi di pinggir lapangan. Untuk kejuaraan dengan skala nasional seperti ini, memang wajar jika pesertanya merasa gugup. Tapi bahkan wajah para pemain kelas 12 seperti Ahsan, Dewa dan Juan pun tampak tegang. Padahal ini bukan Kejurnas pertama mereka. Melihat para pemain elit sampai segugup itu, tak salah rasanya jika para penonton yang biasa mengikuti pertandingan mereka jadi bertanya-tanya. Ahsan terlihat mengendalikan situasi. Menggantikan Coach Adam, ia memimpin doa bersama dan yel-yel “kill them all” sebelum memasuki lapangan. Para pemain Cendana pun menuruti semua instruksi yang diberikan Ahsan tanpa mempertanyakan kemampuannya, mereka percaya pada sang kapten. Cendana bermain dengan sangat baik dengan lima pemain inti andalannya. Di kuarter ketiga, skor sudah mencapai 68 – 47 untuk keunggulan Cendana. Di saat itulah, tiba-tiba saja Noah dan Igris muncul dari pintu masuk atlet, dan langsung berjalan menuju bench Cendana di pinggir lapangan. Sebagian yang penonton menyadari kehadiran dua pemain kelas 10 itu pun mulai saling berbisik satu sama lain, mengira-ngira dari mana saja Noah dan Igris dan kenapa mereka baru muncul sekarang? Ahsan yang melihat hal itu langsung memberikan isyarat kode kepada wasit pertandingan untuk meminta time out. Karena 4 rekannya yang sedang bermain di lapangan juga mulai kehilangan fokus. Mereka tak henti-hentinya melirik ke arah bench, seolah tak sabar ingin mengetahui apa yang terjadi kepada dua j.u.n.i.o.r mereka itu. “Kalian diam aja, biar aku yang tanya, waktu kita nggak banyak,” kata Ahsan kepada Dewa dan yang lainnya saat time out diberikan dan mereka berjalan meninggalkan lapangan. Ketika tiba di bench, pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Ahsan bukan ‘apa yang terjadi?’ atau ‘kalian dari mana aja sih?’, melainkan sebuah pertanyaan yang dianggap paling penting dan bisa dijawab dengan singkat. “Apa kalian baik-baik aja?” tanya Ahsan sambil mengamati wajah Noah dan Igris satu persatu. Dua anggota termuda di skuad itu pun mengangguk meski semua orang di bench bisa melihat kalau mereka berdua tidak baik-baik saja. Igris masih mengenakan tracksuit Cendana. Tapi ia terlihat compang-camping, seperti baru saja berguling-guling di tanah. Napasnya terengah-engah dan ia terlihat pucat. Sementara Noah, kondisinya tak jauh berbeda dengan Igris. Meski ia masih mengenakan celana panjang seragam tracksuit Cendana, ia hanya mengenakan jersey yang membuat luka di lengannya terlihat jelas. Itu adalah luka yang ditimbulkan akibat diseret saat ia pingsan terkena pukulan Herman. Dan ada bekas darah yang mengering di sekitar hidung Noah. Di pergelangan tangan Noah, tampak jelas ada bekas kemerahan yang sedikit membengkak atau berkerut karena tekanan yang berlangsung lama, menunjukkan bahwa ia baru saja lepas dari sebuah ikatan tali yang cukup ketat. “Kenapa kalian nggak langsung ke rumah sakit? Malah ke sini.” Meski penasaran ingin bertanya tentang apa yang baru saja dilalui dua adik kelasnya itu, Ahsan memutuskan bahwa – alih-alih meminta penjelasan – yang paling penting adalah memastikan kondisi kesehatan mereka terlebih dahulu. “Aku udah bilang, Kak,” sambar Igris, “Noah tadi sempat mimisan dan pingsan, jadi kupikir sebaiknya ke rumah sakit dulu untuk periksa keadaannya. Tapi Noah ngotot bilang dia nggak pa-pa dan pengen langsung ke venue aja, katanya.” Ahsan menghela napas sebelum kembali memberikan instruksi kepada timnya. “Dirga, bawa mereka ke rumah sakit terdekat. Luna, pakai uang klub dulu buat ongkos taksi mereka,” perintahnya kepada Dirga dan Luna. “Tapi, Kak … pertandingannya?” “Serahkan aja ke kami,” Juan menimpali pertanyaan Noah dengan cepat, sekaligus untuk membungkam Dewa yang tampak sudah siap meledakkan omelan pedasnya yang biasa. “Skor kita udah unggul …,” sambung Juan lagi, “percayain aja ke kami buat mengamankan posisi kita di 8 besar, yang penting kalian baik-baik aja dan pastikan kalian bisa bermain di pertandingan kedua. Karena melawan Bima Sakti nanti, kita butuh kekuatan penuh.” Nasihat Juan yang menenangkan berhasil membuat Dewa mengurungkan niatnya untuk menghujani Noah dan Igris dengan sumpah serapah. “Pergi ke rumah sakit dan pastikan kalian nggak mengalami luka serius,” imbuh Ahsan, “Coach Adam udah ngelaporin kejadian ini ke polisi … nanti jangan lupa hubungi dia, ya?” Ahsan menatap Luna di ujung kalimatnya, menandakan bahwa setelah ini ia meminta Luna untuk segera menghubungi Coach Adam. “Maaf, ya Kak. Udah bikin semuanya khawatir.” Igris memelas merasa bersalah kepada para senior di hadapannya itu. “Udah nggak usah dipikirin … Luna, handuk kompres …,” Ahsan mengulurkan tangannya ke arah Luna yang langsung sigap menyambar handuk putih di dekat cooler box lalu menyerahkannya kepada Ahsan. “Tekan di dekat pangkal hidung,” kata Ahsan kemudian kepada Noah. Juniornya itu bahkan tak menyadari bahwa ada darah yang kembali keluar dari hidungnya. Ahsan memang masih mampu bersikap tenang, tapi anggota Cendana yang lain tak bisa menyembunyikan kecemasan mereka. “A-apa nggak sebaiknya kita panggil ambulans aja?” Wahyu yang biasanya paling pasif pun mulai menunjukkan kepanikannya. “Sshht …,” Ahsan meminta teman-temannya untuk tetap tenang bersamaan dengan wasit yang meniupkan peluit sebagai tanda bahwa waktu time out sudah habis. Ahsan menyempatkan diri untuk kembali bertanya kepada Noah, “Kamu bisa jalan sampai ke taksi di luar gedung atau aku minta tim medis bawakan tandu?” “Jalan aja, Kak,” jawab Noah masih dengan handuk yang ia pegangi untuk menekan hidungnya. “Ok, serahkan yang di sini ke kami …” “Nggak usah sok mau main dalam kondisi kayak gitu,” Dewa akhirnya menemukan kesempatan untuk mengungkapkan uneg-unegnya, “berobat aja sampai sembuh dan balik lagi buat ngebantai Bima Sakti lusa nanti. Ini baru pertandingan pertama, tanpa bantuan anak kelas 10 kayak kalian pun kita bisa menang.” “Dewa …” Ahsan memperingatkan agar Dewa memperhalus kalimatnya. “Maksudku … jangan raguin kemampuan senior kalian di Cendana. Kalau cuma melawan SMAN 7 doang …” “Cendana! Time out sudah selesai!” Wasit memberikan peringatan karena para pemain Cendana masih berada di bench padahal lima pemain SMAN 7 sudah siap berada di lapangan. “Ello, Evan, bantu antar mereka. Dirga mungkin udah nemuin taksi di luar,” instruksi Ahsan lagi sambil mulai berjalan menuju lapangan diikuti Dewa, Juan, Wahyu dan Yuda. Beberapa wartawan yang posisinya dekat dengan bench Cendana tentu tak mau kehilangan kesempatan untuk berburu berita tentang apa yang baru saja mereka lihat. Sebagian dari mereka bahkan mendapatkan foto ketika darah keluar dari hidung Noah. Mereka pasti akan ‘menggoreng’ habis-habisan berita ini di media.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN