Pertandingan berakhir dengan skor 92 – 80 untuk kemenangan Cendana. Namun tim itu tak terlihat merayakan kemenangan sama sekali. Mereka langsung membereskan barang-barang di ruang ganti dan meninggalkan venue tanpa bicara kepada wartawan dari media mana pun.
“Apa kita akan menyusul Noah ke rumah sakit?” tanya Luna sambil berjalan cepat di sebelah Ahsan, menuju ke bus mereka di parkiran.
“Nggak, barusan tadi aku dapat kabar kalau Noah dan Igris udah balik ke hotel,” jawab Ahsan, “Coach Adam dan polisi juga lagi bersama mereka.”
“Gila, cepat banget kabarnya udah tersebar di berbagai portal berita.” Yuda menyampaikan informasi tanpa mengalihkan pandangan dari layar hp-nya.
“Mereka nyampeinnya positif atau negatif?” sambar Dewa cepat, ia memang dikenal sebagai orang yang paling sensitif tentang isu yang berkaitan dengan nama baik Cendana.
“Media … biasalah. Mereka bakal bikin headline seheboh mungkin buat narik pembaca,” sahut Yuda sambil menunjukkan beberapa judul berita kepada Dewa. Diantaranya:
“Pemain muda Cendana menghilang dan kembali dalam kondisi terluka. Diculik?”
“Dua pemain Cendana muncul di tengah pertandingan dalam kondisi terluka, kelalaian pihak sekolah atau pihak penyelenggara?”
“Ini yang paling konyol,” Ello ikut menimpali setelah menemukan artikel lain di hp-nya, “masa’ katanya kita bekerja sama dengan penyelenggara Kejurnas untuk bikin sensasi.”
“Ada juga yang bilang kalau Noah itu pengaruh buruk bagi Igris. Noah dianggap selalu bikin masalah dan sekarang malah bikin Igris jadi ikut terlibat,” tambah Evan.
“Udah nggak usah dipedulikan artikel-artikel kayak gitu,” sambar Ahsan, “nanti kalau ketemu Noah dan Igris di hotel juga nggak usah ungkit soal itu. Mereka mungkin masih shock, dan polisi juga pasti udah membombardir mereka dengan segala macam pertanyaan. Jadi kita nggak perlu memperburuk keadaan.”
Tentu saja semua yang mendengar Ahsan setuju dengan apa yang dikatakannya. Meskipun mereka juga sebenarnya sangat penasaran dengan apa yang terjadi kepada Noah dan Igris, tapi mereka tak bisa terburu-buru menggali informasi langsung dari yang bersangkutan. Setidaknya, mereka harus memikirkan kondisi mental kedua anggota termuda di skuad itu.
Saat tiba di hotel, sudah ada beberapa wartawan yang menunggu kedatangan tim Cendana di lobi. Tapi Ahsan dan yang lainnya tak menjawab satu pertanyaan pun yang mereka lontarkan.
Tim itu bahkan tak memperlambat langkah dan hanya berjalan langsung menuju lift, sementara security hotel mencegah para wartawan untuk mengikuti mereka.
Noah dan Igris diberikan kamar yang sama, seperti biasa. Tak peduli apakah sifat mereka cocok atau tidak, hanya karena mereka sama-sama kelas 10, maka dianggap sudah sepantasnya mereka ditempatkan di kamar yang sama.
Hal itu cukup membuat Noah jengkel, tapi tentu saja ia tak bisa protes.
“Aku langsung ke kamar mereka,” kata Ahsan kepada rekan-rekannya, “kalian boleh beres-beres dulu dan menyusul ke sana nanti.”
“Aku ikut,” tegas Dewa, “aku juga pengen lihat keadaan mereka."
Itu hanya salah satu alasan saja, karena sebenarnya Dewa lebih tak sabar ingin mendengarkan cerita Noah dan Igris.
Ahsan tak melarang Dewa dan siapapun yang ingin mengikutinya ke kamar Noah dan Igris. Jadi pada akhirnya, ada Ahsan bersama Dewa, Juan, Yuda dan Luna yang naik sampai ke lantai 5 hotel, di mana kamar Noah dan Igris berada.
Sementara sisanya berinisiatif untuk meletakkan barang-barang bawaan mereka dulu ke kamar dan akan menyusul setelahnya.
Ahsan hanya perlu mengetuk pintu kamar dua kali dan Igris sudah langsung membukakan pintu untuk para seniornya itu.
“Gimana pertandingannya, Kak?” tanya Igris sambil lalu mempersilahkan mereka semua masuk dan duduk di mana saja yang mereka anggap nyaman.
“Menang lah. Udah jauh-jauh sampai sini, masa’ mau langsung angkat koper dan balik kampung?” celetuk Dewa tanpa ada maksud buruk. Gaya bicaranya memang seperti itu, dan untungnya tim Cendana sudah paham betul dengan sifatnya.
Noah yang sedang berada di balkon dan bicara dengan seseorang melalui telepon, menyadari kehadiran senior-seniornya. Ia pun memutuskan untuk menyudahi pembicaraan sembari berjalan masuk kembali ke kamar.
“Aku nggak pa-pa kok … iya, nggak usah khawatir. Ayah bilang, dia udah pesan tiket pesawat untuk ke sini dan biar dia yang menyelesaikan urusan dengan polisi. Kalau Bunda dan Raka sibuk, nggak usah dipaksain ikut ke sini … iya, ok … ok, Bunda. Nanti aku telepon lagi, ya.”
Noah menutup pembicaraan setelah berpamitan dengan lawan bicaranya di telepon, yang ternyata adalah bundanya.
“Kak,” sapa Noah sambil kemudian mengambil posisi duduk di bibir tempat tidurnya yang dekat dengan jendela.
Ia tahu kenapa para seniornya di tim Cendana itu berada di sini sekarang.
Ya, sudah pasti mereka ingin mendengar seluruh kisah Noah dan Igris hari ini.
Beberapa menit pun berlalu dengan Igris yang menguraikan kronologis kejadiannya dari awal, saat ia ditelepon para rentenir itu, hingga Noah terlibat secara tak sengaja, sampai ke akhir cerita ketika mereka menumpang mobil dan berhasil kembali ke GOR.
Suasana hening sesaat setelah Igris mengakhiri ceritanya. Noah tak menyumbangkan satu kata pun di dalam cerita itu. Ia hanya membiarkan Igris menjelaskan karena memang ia sempat pingsan dan tak begitu tahu detail cerita sampai mereka dibawa ke bangunan terbengkalai di tengah hutan itu.
“Jadi sekarang kalian nggak apa-apa, kan?” tanya Luna cemas, “Noah? Waktu periksa ke rumah sakit, dokter bilang apa?”
“Nggak ada luka yang serius,” jawab Noah. “Mimisan tadi itu karena aku sempat terbentur waktu jatuh. Sisanya cuma luka-luka lecet aja.”
“Igris?” Yuda memberikan pertanyaan yang sama kepada Igris.
“Aku juga nggak pa-pa, kok. Cuma pegal-pegal aja karena lari-larian berusaha lolos dari mereka.”
Jawaban Igris membuat ekspresi wajah Ahsan dan yang lainnya berangsur lega. Karena sampai detik lalu, wajah-wajah mereka masih kelihatan sangat tegang.
“Jadi ini murni cuma masalah rentenir mau nagih utang, kan?” Ahsan melontarkan pertanyaan itu sambil mengerling Noah, berharap permasalahan ini memang hanya tentang itu.
Noah sebenarnya tak ingin menyembunyikan apapun. Ia ingin menceritakan semuanya, termasuk tentang klien para preman itu, yang menginginkan Noah terluka parah.
Tapi, Noah merasa ia tak perlu menambah kekhawatiran rekan-rekan satu timnya. Ditambah lagi, lusa mereka harus berhadapan dengan musuh bebuyutan, Bima Sakti, di babak 8 besar Kejurnas.
Kalaupun Noah ingin menyampaikan kecurigaannya tentang keterlibatan Andi dalam masalah ini, mungkin ia hanya akan mengungkapkan hal itu terbatas kepada Ahsan saja. Karena memang Ahsan yang lebih tahu masalahnya, dan Ahsan juga yang pernah menasehati Noah untuk hati-hati terhadap Andi.
“Aku minta maaf …,” Igris menundukkan kepala di hadapan Ahsan dan yang lainnya, “ini semua gara-gara aku. Noah sampai terlibat dan aku juga sampai bikin semuanya jadi repot.”