Chapter II-50

1135 Kata
Igris yang sedang duduk di bibir tempat tidur itu tiba-tiba menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Ahsan dan yang lainnya. “Gara-gara aku, Noah sampai terlibat dan kalian semua juga jadi repot,” suara Igris bergetar, “aku benar-benar minta maaf.” Ada jeda yang canggung setelah pernyataan Igris barusan. Tapi tak ada yang tahu bagaimana mereka harus bereaksi setelahnya. Di satu sisi mereka tahu ini bukan salah Igris, namun di sisi lain memang benar kalau semuanya bermula dari masalah pribadi Igris. Ahsan lalu beranjak dan menepuk pelan pundak Igris. “Kamu nggak perlu minta maaf. Kalian bisa kembali dengan selamat aja itu udah cukup,” ujarnya. Igris menggangguk tanpa mengangkat wajahnya. Namun, yang duduk sejajar dengan Igris bisa melihat bahwa saat ia menggerakkan kepalanya ada tetesan air mata yang jatuh langsung ke lantai kamar itu. Wajah Igris sudah benar-benar basah dan ia sama sekali tak ingin memperlihatkan itu kepada Ahsan dan yang lainnya. Ini adalah masa yang sangat sulit baginya. Ia tak memiliki siapapun untuk bersandar. Ia bahkan tak mengingat wajah ayahnya karena sudah ditinggalkan sejak kecil, ia tak punya saudara, ibunya adalah satu-satunya yang ia miliki. Namun wanita itu sepertinya tak merasakan hal yang sama dengan Igris. Ruangan itu menjadi hening hingga yang terdengar hanya suara sengau tarikan napas dan suara isakan yang coba diredam oleh Igris. “Jangan dipikirkan lagi soal itu,” ujar Luna sambil mengusap-usap lengan Igris, mencoba meredakan luapan emosinya saat ini. “Yang paling penting kan kamu dan Noah baik-baik aja.” Detik berikutnya terdengar pintu kamar yang kembali diketuk dari luar. Dewa yang duduk paling dekat dengan pintu pun beranjak untuk melihat siapa yang berada di luar. “Ngapain kalian ramai-ramai ke sini?” tanya Dewa ketus kepada sisa skuad Cendana yang menyusul ke kamar Noah; Dirga, Evan, Ello, bahkan Wahyu. “Kami mau lihat keadaan Noah dan Igris,” jawab Dirga sambil menjulurkan leher mencoba mengintip ke dalam ruangan. “Secara fisik mereka nggak pa-pa kok,” sahut Juan sambil beranjak dari duduknya, “cuma kayaknya memang masih agak shock. Jadi kurasa sebaiknya kita tinggalin mereka untuk istirahat aja dulu. Gimana menurutmu, Ahsan?” “Iya … kupikir juga gitu,” balas Ahsan, “soal detail kejadiannya, biar kami aja yang ceritain ke kalian. Kalau mereka terus ditanyain soal kejadian itu, takutnya nanti malah jadi trauma karena mereka jadi harus mengingat-ingat lagi kejadiannya.” Ahsan kembali menepuk-nepuk pelan pundak Igris sambil lalu mengerling Noah. “Istirahat yang cukup. Lusa nanti Cendana membutuhkan kalian.” Suara Ahsan memang tak pernah gagal mendamaikan suasana. Sama halnya seperti saat mereka dalam pertandingan, Ahsan selalu bisa membuat rekan-rekannya yakin bahwa semua akan baik-baik saja, tak peduli seberapa sulitnya masalah yang mereka hadapi. “Makasih, Kak,” ujar Noah dan Igris nyaris bersamaan. “Pokoknya kalau ada apa-apa, jangan ragu buat ngomong ke kami.” Tiba-tiba, sebaris kalimat itu keluar dari mulut salah seorang anggota Cendana yang tak pernah diduga, Wahyu, Tumben dia mau ikut-ikutan berkomentar. “Wahyu kayaknya benar-benar khawatir sama kalian,” Yuda menanggapinya sambil agak cekikikan, “dia makin bisa bersikap sebagai seorang senior.” “Mulai bisa mengayomi, ya?” Juan mengangguk-angguk bangga. “Masa depan Cendana berada di tangan yang tepat. Kami bisa lulus dengan tenang,” timpal Ahsan. “Dirga, akhirnya muncul kandidat kuat yang bakal jadi rivalmu merebut posisi Kapten.” “Loh? Bukannya Yuda juga kandidat kuat, ya?” “Memangnya kalian mau punya kapten kayak Yuda?” “Mau jadi apa tim basket Cendana kalau kaptennya Yuda?” Skuad Cendana yang memenuhi kamar itu mulai mengobrol santai dan mencairkan suasana dengan suara tawa dan guyonan yang saling menyela satu sama lain. Noah pun tak bisa mencegah senyum lebar di wajahnya. Dalam hati ia berpikir, di mana lagi ia bisa menemukan tim seperti ini? Ahsan yang selalu bisa diandalkan, Juan yang selalu siap membantu sang kapten, Dewa yang meskipun judes tapi sebenarnya sangat penyayang. Lalu ada Luna, satu-satunya cewek yang paling bisa diandalkan di klub basket putra Cendana, Yuda yang selalu bersedia menjadi badut untuk menciptakan suasana akrab, Wahyu yang ternyata memiliki sisi lembut dibalik sikap dinginnya, Dirga si pekerja keras yang selalu berusaha memenuhi ekspektasi semua orang. Bahkan senior kelas 11 seperti Ello dan Evan pun berbaur dengan para juniornya tanpa menganggap diri mereka lebih hebat. Noah baru mengenal tim basket Cendana selama kurang dari setahun, tapi mereka semua sudah seperti keluarga. Tak bisa dipungkiri, meski kadang ada sedikit cekcok, tapi memang seperti itulah keluarga. Ya … Cendana adalah rumah kedua bagi Noah. Hari ini ia mulai menyadari, bahwa hatinya terasa berat saat membayangkan para senior kelas 12 akan meninggalkan tim setelah Kejurnas ini selesai. “Oia, Igris,” Yuda tiba-tiba mengingat sesuatu sebelum ia melangkah keluar kamar mengikuti yang lainnya; sebagian besar dari mereka sudah meninggalkan ruangan dan yang tersisa di belakang adalah Ahsan dan Yuda. Yuda bahkan sudah berada di ambang pintu saat ia ingat sesuatu yang harus disampaikan kepada Igris. “Tadi Heru dan Steven telepon nanyain kabar kamu. Katanya, dia heran pas nonton streaming pertandingan hari ini, nggak lihat kamu dan Noah.” “Oh … ok, Kak. Nanti aku hubungi mereka. Makasih infonya,” balas Igris dengan senyum yang sudah kembali di wajahnya. “Mau pinjam hp-ku buat telepon mereka? Katanya kan hp-mu hilang, hp Noah juga rus-” kalimat Yuda terhenti di tengah saat matanya terpaku pada hp yang ada di tangan Noah, “bukannya hp-mu rusak parah sampai patah jadi dua?” “Iya. Kok tahu?” Noah malah balik bertanya. “Iya kan kami yang nemuin hp sama jaket seragam-mu … ngomong-ngomong kamu punya dua hp?” “Nggak, kok.” “Loh, terus? Itu hp siapa?” “Hp-ku. Tadi pas habis dari rumah sakit aku langsung beli yang baru,” Noah menerangkan dengan polos, “soalnya aku rasa di saat-saat kayak gini, hp itu penting.” “Langsung beli aja gitu?” tanya Igris takjub. Bukannya apa, setahu Igris orang kalau beli hp kadang malah research segala macam dulu, cari-cari referensi dan membanding-bandingkan satu dengan yang lain. Sedangkan Noah cuma masuk ke toko hp, beli satu dan langsung pakai. Belum lagi, hp Noah yang patah itu juga bukan hp murah, dan yang baru ia beli ini malah lebih mahal dari itu. “Iya, soalnya kan butuh … Jadi aku langsung minta …,” Noah mulai merasa kalau mungkin ia lagi-lagi menyikapi sesuatu yang tidak normal bagi orang lain sebagai hal yang biasa baginya. “Emangnya ada yang salah, ya?” tanya Noah akhirnya. “Nggak sih …” Igris bertukar cengiran kaku dengan Yuda, “cuma aku salut aja Noah bisa beli hp kayak beli permen di warung.” Igris cengengsan sambil garuk-garuk tengkuk salah tingkah. Noah menatap hp di tangannya dan kembali bertanya ke dirinya sendiri, mulai dari bagian mana ia salah bicara tadi? Apa seharusnya ia tak langsung beli hp?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN