Chapter II-51

1177 Kata
“Nggak sih … Cuma aku salut aja Noah bisa beli hp kayak beli permen di warung,” gumam Igris sambil garuk-garuk salah tingkah. Ekspresi wajahnya dan Yuda saat mereka bertukar cengiran itu terlihat seperti sedang saling membatin, “Njir … anak orang kaya mah bebas.” Noah pun menatap hp di tangannya dan kembali berpikir; mulai dari bagian mana ia salah bicara tadi? Apa seharusnya ia tak langsung beli hp? “Udah nggak usah dipikirin,” Yuda tertawa sebelum melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan, “terlahir kaya itu bukan dosa. Kami maklum kok kalau Noah nggak paham pola pikiran rakyat jelata kayak Kak Dewa.” Terdengar suara tawa rekan-rekan Cendana yang sudah berada di koridor, disertai dengan Dewa yang membalas Yuda penuh emosi, “Kamu itu lebih jelata dari aku, ngaca!” Bahkan Ahsan pun ikut tertawa sambil menggeleng-geleng pelan. “Dia cuma bercanda. Jangan diambil hati.” Meski merasa itu lucu, sang kapten tetap khawatir kalau komentar Yuda akan mengganggu pikiran Noah. Noah tersenyum sambil mengangguk memaklumi. Walau bagaimana pun ia tak bisa merasakan niat buruk dari Yuda saat ia mengatakan itu, dan suara tawa yang lainnya juga tak terdengar seperti sedang mengejek Noah. “Kalau gitu kami balik dulu, ya. Istirahat yang cukup.” Ahsan bermaksud mengikuti yang lainnya dan meninggalkan ruangan, sebelum matanya bertemu dengan Noah. “Kak, bisa minta waktunya bentar?” tanya Noah akhirnya. Melihat wajah Noah yang tampak tegang, Ahsan tahu apa yang ingin disampaikan Noah adalah hal serius. “Biar aku antar Kakak balik ke kamar.” Noah beranjak dan menawarkan diri. “Ok …,” Ahsan menoleh kepada Igris untuk memastikan agar ia tak merasa ditinggalkan. “Sampai nanti, Igris,” pamitnya lagi. Igris mengangguk sambil lalu mengantarkan Noah dan Ahsan sampai ke pintu. “Kakak di lantai 2?” tanya Noah saat mereka sudah berada di koridor, menuju ke lift. “Iya, bareng Juan,” jawab Ahsan, “jadi? Apa yang mau kamu sampein?” “Kakak ingat pernah nyuruh aku hati-hati sama Andi?” Ahsan mengangguk bersamaan dengan mereka yang sudah tiba di depan lift. “Kenapa lagi dia?” tanyanya sambil memencet tombol turun pada panel di samping pintu lift. “Waktu aku dibawa ke pabrik tua di tengah hutan itu, aku dengar bos mereka ngobrol sama seseorang.” Ahsan menatap Noah dengan alis mengernyit, “Jangan bilang … dia ngobrol sama Andi?” “Nggak. Tapi orang yang ngobrol sama dia itu kayaknya punya hubungan sama Andi.” “Kamu yakin?” Noah mengedikkan bahunya sekilas tepat saat pintu di hadapannya terbuka. Ia pun melangkah masuk ke lift diikuti Ahsan. “Aku nggak bisa bilang 100 persen yakin. Cuma … aku dengar dia dibayar sama anak SMA elit untuk bikin aku luka parah, dia bahkan nanya soal detail permintaan si klien ini, mau kaki atau tanganku, gitu.” Ahsan tampak menimbang-nimbang terkait pernyataan Noah barusan. “Yang termasuk SMA elit di daerah kita kayaknya cuma Cendana sih,” ujarnya, “kamu ngerasa punya musuh lain nggak di Cendana?” “Aku cukup sering cekcok sama Heru, tapi aku rasa, nggak sampai ke tahap dia bakal sedendam itu sama aku.” “Tapi kita nggak tahu juga gimana perasaan orang, kan?” gumam Ahsan lebih kepada dirinya sendiri. Pintu lift kembali terbuka di lantai 2. Noah dan Ahsan menyambung pembicaraan mereka sambil berjalan di koridor, dan kali ini menuju ke kamar Ahsan. “Kalau Andi benar-benar terlibat …,” Ahsan menggeleng tak habis pikir, “ini udah masuk tindakan kriminal, nggak main-main lagi. Aku selalu ngerasa sayang banget bakat Andi di badminton, kalau dia nggak bisa ngubah sifatnya itu. Tapi … kali ini dia benar-benar udah keterlaluan, nggak ada alasan lagi untuk nyelamatin dia dan dia harus mempertanggungjawabkannya” Di ujung kalimat Ahsan, mereka sampai di depan sebuah pintu kamar dan Noah yakin itu kamar Ahsan dan Juan. “Informasi ini nanti bakal aku sampein ke Coach Adam …,” Ahsan tak langsung membuka pintu kamar karena sepertinya ia ingin mengakhiri pembicaraannya dulu dengan Noah, “biar dia yang berkoordinasi langsung sama polisi. Kalau preman-preman itu tertangkap, kita pasti bisa nyari tahu siapa klien yang mereka maksud.” Noah mengangguk tanpa bisa menyembunyikan senyum lega di wajahnya. Jujur, ia merasa jadi sedikit lebih lega setelah menceritakan ini semua kepada Ahsan. Kaptennya itu kadang mengingatkan Noah kepada Fajar, menjadi sosok ramah yang selalu bisa ia andalkan untuk menampung semua kekhawatiran dan keluh kesahnya. “Pokoknya kamu jangan khawatir,” Ahsan meletakkan tangannya di bahu Noah, “siapapun orang yang berniat buruk ke kamu itu, kita pastiin dia nggak bakal berhasil. Yang penting kamu istirahatkan mental dan fisikmu, ada sekumpulan orang sombong yang harus kita kasih pelajaran di babak 8 besar nanti.” Ahsan tertawa di ujung kalimatnya, dan Noah juga tak bisa mencegah tawa yang sama keluar dari mulutnya. Benar. Noah berada di sini, saat ini, untuk Kejurnas. Ia harus bisa melupakan kejadian yang baru saja dialaminya bersama Igris, dan kembali fokus ke pertandingan. Ini adalah Kejurnas terakhir bagi Ahsan, Dewa dan Juan. Noah bertekad, ketiga seniornya itu harus meninggalkan Cendana tanpa sedikit pun rasa penyesalan. Para senior kelas 12 bahkan menerapkan tekad ini ke level yang lebih ekstrim, dengan mengatakan bahwa membawa pulang trofi Kejurnas tahun ini adalah harga mati. Pintu kamar yang ada di hadapan Noah dan Ahsan tiba-tiba terbuka dari dalam, dan Juan muncul dari balik pintu itu. “Loh? Ngapain kalian berdiri di sini? Kenapa nggak masuk?” tanyanya heran. “Saya cuma mau ngantarin Kak Ahsan, Kak,” jawab Noah seadanya. “Nggak kebalik? Kok malah Noah yang ngantarin kamu?” Juan tertawa sambil lalu membuka pintu lebih lebar, “ayo masuk. Lanjut ngobrol di dalam aja.” “Nggak usah, Kak. Udah selesai kok ngobrolnya.” Noah buru-buru menolak karena takut mengganggu istirahat kedua seniornya itu. “Gimana? Mau aku antarin lagi balik ke kamarmu?” Ahsan setengah bercanda menawarkan, tapi cukup berhasil mengundang tawa Juan dan Noah. “Bisa aja, Kak Ahsan. Nggak kelar-kelar dong nanti, kita jadi antar-antaran." “Ya udah, sana balik ke kamar. Jangan keluyuran.” Ahsan mengucek-ucek rambut Noah seperti sedang berhadapan dengan adiknya sendiri. “Ada satu hal lagi yang mau aku sampein,” imbuh Ahsan, “apa yang menimpamu belakangan ini … mulai dari keterlibatanmu dengan Andi sampai ke kasus penculikan yang baru aja kamu alami …” Ahsan mengambil jeda sejenak dan menambahkan sebuah senyum hangat sebelum kembali melanjutkan, “… Semua itu bukan salahmu,” sambungnya, “nggak ada satu pun dari peristiwa ini yang terjadi karena akibat dari kesalahanmu. Itu yang perlu kamu ingat.” Seketika Noah merasa seolah ada yang mengangkat beban dari pundaknya dan membuatnya jadi merasa sangat ringan. Ia tak menyangka, kalimat Ahsan barusan adalah apa yang sebenarnya ingin ia dengar. Noah lega, karena Ahsan sudah lebih dulu mengingatkan dan mencegahnya sebelum ia sempat menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi di sekitarnya. “Makasih, Kak,” tutup Noah dengan perasaan haru yang tampak jelas di wajahnya. Ahsan pun mengangguk disertai dengan senyum lembut yang memang selalu betah bertengger di wajah ramah itu. “Sama-sama,” ujarnya kemudian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN