Noah menuruti nasihat seniornya di tim Cendana, untuk tak memikirkan kejadian di hari pertama Kejurnas dan fokus pada pertandingan kedua mereka melawan Bima Sakti.
Coach Adam juga meyakinkan Noah bahwa saat ini polisi sedang melakukan yang terbaik untuk melacak keberadaan tiga orang yang bernama Bobby, Dika dan Herman, sekaligus mencari tahu tentang klien yang mereka bicarakan waktu itu.
Berita baiknya lagi adalah Nirwan sampai bela-belain meninggalkan semua urusannya untuk datang ke Ibu Kota dan mendampingi Noah, juga untuk memastikan bahwa polisi melakukan penyelidikan dengan baik.
Hal itulah yang membuat senyum di wajah Noah awet sejak pagi ini, di hari ketiga Kejurnas, di mana mereka akan menghadapi Bima Sakti.
“Noah, girang amat. Baru jadian, ya?” goda Yuda, tepat saat bus biru kebanggaan Cendana memasuki halaman venue..
“Serius?” Dewa dan Luna yang kebetulan duduk di dekat Yuda langsung menanggapi komentarnya barusan.
“Apa sih, Kak Yuda?” Noah membantah sambil berlagak kesal.
Coach Adam yang sudah berdiri di bagian depan bus tiba-tiba memberikan instruksi sebelum membuka pintu. “Di luar ada banyak wartawan,” katanya kepada timnya, “langsung aja jalan ke pintu masuk venue. Jangan kasih komentar apapun.”
“Siap, Coach!” jawab seisi bus kompak.
“Biar saya keluar duluan dan jalan di depan, yang lainnya ngikut ya. Jangan sampai terpencar,” tambah Coach Adam lagi, “Biar Ahsan dan Juan yang keluar paling belakang dan jadi sweepers[1]. Ok?”
“Siap, Coach!”
Coach Adam sampai harus berhati-hati seperti itu bukan tanpa alasan.
Tadi saat bus memasuki halaman parkir, ia sudah bisa melihat segerombolan orang membawa alat rekam dan kamera yang tampak seperti sudah menunggu kedatangan bus mereka.
Biasanya mereka hanya akan berkumpul di dekat pintu masuk lobi belakang, tapi kali ini para pemburu berita itu sampai rela menunggu di area parkir.
Tak salah lagi, mereka pasti ingin menggali informasi tentang apa yang terjadi pada pertandingan pertama Cendana kemarin. Buktinya, saat pintu bus terbuka dan Coach Adam baru selangkah meninggalkan bus, mereka sudah langsung datang menyerbu.
“Bisa tolong sedikit aja, Pak … tentang apa yang terjadi di tengah pertandingan kemarin?”
“Banyak kabar-kabar yang beredar, dan kami ingin mendengar langsung keterangan dari yang bersangkutan.”
“Katanya dua pemain Cendana terlibat kasus kriminal, ya Pak?”
“Apa benar Igris nggak sengaja jadi terbawa masalah gara-gara kebetulan sedang berada bersama Noah?”
“Tolong diluruskan tentang isu-isu yang beredar, Pak.”
Pertanyaan-pertanyaan mereka terdengar menjurus seperti penggiringan opini. Image yang selama ini mereka bentuk tentang Igris dan Noah adalah frenemy[2], yang sama-sama berbakat dan saling mengungguli satu sama lain.
Karakter yang mereka bentuk untuk Igris adalah si anak baik yang tidak sombong dan penurut, sementara Noah adalah sosok anak nakal yang angkuh dan susah diatur.
Topik mengenai karakter Noah dan Igris ini cukup diminati, terutama di kalangan fans perempuan. Kebanyakan remaja yang menggemari basket SMA ternyata memang sangat tertarik dengan cerita tentang kontrasnya dua orang rival yang sedang naik daun itu.
Media sangat menikmati, dan cenderung memanas-manasi, berita apapun yang terkait dengan image buatan mereka tersebut.
Itu sebabnya, apa yang terjadi pada hari pertama Kejurnas kemarin diberitakan dengan liar oleh mereka.
Seperti yang pernah dikatakan Noah kepada Igris sebelumnya, jika entah bagaimana mereka berdua terlibat masalah, maka orang akan ramai-ramai mengarahkan telunjuk kepada Noah dan menuduhnya sebagai pelaku utama. Karena akan lebih mudah bagi publik untuk percaya bahwa Noah adalah pengaruh buruk bagi Igris, dibandingkan sebaliknya.
Igris sebenarnya sudah sangat gatal ingin membantah kata-kata para wartawan itu, dan menjelaskan kejadian sebenarnya.
Tapi ia mengingat jelas instruksi pelatihnya di awal tadi, bahwa mereka dilarang mengatakan apapun kepada wartawan. Jadi ia terpaksa menahan diri untuk saat ini.
Keadaan semakin diperparah dengan hadirnya para penonton yang – seperti biasa – sengaja menunggu kedatangan tim favorit mereka hanya demi bisa melihat anggota tim itu dari jarak yang lebih dekat.
Di antara sekumpulan wartawan dan penggemar yang ingin memberikan berbagai bingkisan atau yang sekadar ingin berfoto bersama, Coach Adam berusaha mencari celah ruang agar bisa membawa timnya melewati mereka semua, menuju ke pintu lobi belakang GOR.
“Maaf, permisi,” Coach Adam menyempatkan diri untuk meminta jalan dengan sopan pada orang-orang di sekitarnya, “hari ini kami dapat giliran pertandingan pertama. Mohon pengertiannya, ya. Permisi …”
Untungnya ada security yang melihat hal itu dan langsung berinisiatif membantu membukakan jalan. Hingga akhirnya tim Cendana bisa melewati pintu masuk dan menghela napas lega ketika mereka sudah berada di dalam gedung.
Meskipun begitu, mereka tetap menjadi pusat perhatian di ruang lobi itu.
Cendana adalah salah satu tim papan atas yang memang keikutsertaannya dalam setiap turnamen akan menjadi momok bagi peserta lainnya. Namun selain karena prestasi Cendana yang selalu pantas untuk diperhitungkan, kali ini Cendana juga menjadi pusat perhatian karena hal lainnya. Yaitu kasus Noah dan Igris.
Ketika tim Cendana sudah diperbolehkan masuk ke ruang ganti sebelum pertandingan pertama dimulai, tiba-tiba Coach Adam memanggil Noah dan memisahkannya dengan rombongan.
“Noah, sebentar,” panggil Coach Adam sebelum Noah sempat mengikuti Ahsan dan yang lainnya untuk memasuki ruang ganti.
“Saya, Coach?” sahut Noah sambil agak berlari kecil menghampiri sang pelatih, yang ternyata sedang bersama orang yang dikenal Noah, Vito.
“Noah, apa kabar?” tanya lelaki berkacamata itu ramah.
“Kabar saya baik. Pak Vito apa kabar?” Noah mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan disambut dengan baik oleh lelaki itu.
Vito lalu menatap Coach Adam sambil mengatakan, “Benar kan, Coach? Saya nggak bohong. Kami udah saling mengenal cukup lama.”
“Kamu kenal orang ini?” Tapi Coach Adam tetap ingin konfirmasi dari Noah.
Noah pun mengangguk sebelum menjawab, “Iya, Coach. Beliau ini wartawan yang memang udah saya kenal cukup lama.”
Pernyataan itu tidak berlebihan, karena memang jauh sebelum nama Noah dikenal orang, Vito sudah menjadi wartawan olahraga yang sering mengikuti berita tentang anak-anak berbakat, salah satunya adalah Fajar.
Ya, alasan dibalik kedekatan Noah dengan Vito mungkin dimulai dari situ.
Dulu, Vito sudah sering mengikuti Fajar karena tertarik dengan bakat dan pribadinya yang baik. Saat tragedi yang menimpa Fajar terjadi, Vito adalah satu-satunya wartawan yang tak berhenti dan tetap memberitakan kasus bullying Triple T, hingga mereka mendapatkan hukuman yang ia anggap setimpal.
“Dia bilang, dia mau mengangkat beritamu,” ujar Coach Adam lagi kepada Noah.
“Berita apa, Coach?”
“Kejadian yang kemarin itu.”
“Oh …,” Noah mengambil jeda sambil menatap Vito yang berdiri di sebelah Coach Adam, “saya nggak yakin itu cukup penting untuk diberitakan.”
“Noah, dari pada membiarkan isu-isu liar bertebaran, akan lebih bijaksana kalau kamu meluruskannya. Jadi orang-orang nggak seenaknya membuat penilaian tentang kamu.” Vito menjelaskan tanpa bisa menyembunyikan nada prihatin pada suaranya.
“Tapi saya merasa ini lebih seperti untuk keuntungan pribadimu,” sela Coach Adam yang tampak tak segan-segan menunjukkan kecurigaannya kepada Vito.
.
___ ___ ___ ___ ___
[1] Sweeper adalah posisi yang berada di paling belakang barisan kelompok atau rombongan dan bertugas untuk mengawasi dan memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal dan semua anggota rombongan tetap dalam keadaan aman.
[2] Frenemy adalah seseorang yang berpura-pura menjadi teman tetapi sebenarnya adalah musuh.