“Tapi saya merasa ini lebih seperti untuk keuntungan pribadi Anda.” Coach Adam tak segan-segan menunjukkan kecurigaannya kepada Vito.
“Saya nggak memungkiri kalau saya memang memburu berita karena pekerjaan saya,” sahut Vito tegas, “tapi prinsip yang masih saya pegang teguh sampai sekarang adalah bahwa saya hanya akan menulis sesuatu yang kebenarannya sudah saya pastikan terlebih dahulu dan penting untuk diberitakan.”
Coach Adam mengerucutkan bibirnya seolah menganggap kalimat Vito barusan hanyalah omong kosong, “Oh ya?”
“Pak Vito ini …,” Noah memutuskan untuk menambahkan, “dari dulu memang sering memberitakan hal-hal yang cenderung kontroversial … yang umumnya dihindari oleh wartawan lain karena bisa membuat mereka terlibat masalah.”
Vito mengangguk dengan senyum bangga di wajahnya. “Thank you, Noah,” katanya kemudian. Ia bersyukur Noah mau membelanya di hadapan sang pelatih.
“Tapi tetap aja …”
“Coach,” Vito memotong kalimat Coach Adam yang tampak masih meragukannya, “ini bukan tentang saya. Ini tentang anak-anak kita. Saya sudah bilang kalau saya nggak munafik. Iya, saya menginginkan berita, saya pemburu berita. Itu benar. Tapi saya janji kalau berita-berita yang saya kabarkan adalah berita yang memang penting untuk diketahui publik, untuk meluruskan fakta dan menghilangkan kesalahpahaman. Saya nggak menulis berita yang sudah dipesan, berapapun harga yang diberikan. Saya bukan wartawan pesanan.”
“Ok … ok,” Coach Adam akhirnya menyerah dan merasa kalau sebaiknnya ia berhenti mencurigai orang yang dipercayai Noah ini, “jadi kamu merasa penting untuk memberitakan tentang kasus Noah dan Igris kemarin?”
“Iya, apa Coach nggak melihat bagaimana orang-orang menyalahkan Noah … saya paham kamu nggak peduli soal itu, tapi dengar dulu …” Vito bicara kepada Noah di pertengahan kalimatnya karena tadi Noah sudah membuka mulut untuk membantah Vito.
“Saya tahu Noah ini nggak peduli dengan pendapat publik dan komentar-komentar orang di sosial media. Tapi Noah … anggap aja kamu sedang menyelamatkan para netizen julid itu dari perbuatan dosa,” sambung Vito lagi.
“Mereka nggak tahu kejadian sebenarnya dan mereka cuma ngomong seenak jidatnya aja. Sebagian besar dari mereka itu nggak tahu apa-apa. Bukankah … sedikit banyak ini menjadi tanggung jawab kita untuk meluruskan? Setelah kita menyajikan fakta yang sebenarnya, mereka mau percaya atau nggak itu bukan urusan kita lagi. Tapi seenggakya kita udah memberitahukan hal yang sebenarnya, bukan begitu, Coach?”
Vito meminta persetujuan Coach Adam di ujung kalimatnya. Namun Coach Adam masih tampak menimbang-nimbang sambil manggut-manggut.
“Tapi untungnya untuk Noah apa?” komentar pelatih Cendana itu kemudian.
“Noah nggak suka menjelaskan dirinya kepada orang lain, saya paham itu,” terang Vito lagi, “tapi Noah … di tahap ini kamu nggak bisa secuek itu lagi. Saya yakin, sedikit banyak kamu pasti merasa terganggu dengan julidnya netizen. Dan lama-lama itu bisa menumpuk, tertimbun, bikin hatimu jadi terasa berat. Kamu juga akan menjadi atlet profesional, kan? Kondisi psikologis seorang atlet itu juga penting, harusnya kamu tahu itu. Iya, kan?”
Noah menghela napas dengan pikiran yang cukup bimbang. Perkataan Vito tidak salah juga. Meskipun Noah berulang kali meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tak perlu peduli dengan komentar mereka yang bukan siapa-siapanya, tapi tetap saja ada kalanya ia menjadi cukup terganggu dengan cara orang-orang memandangnya.
“Gimana, Noah?” Coach Adam tetap membiarkan Noah yang mengambil keputusan.
Noah pun akhirnya mengangguk setuju. “Tapi setelah pertandingan ya, Pak,” pintanya kemudian.
“Tentu saja! Saya akan menyesuaikan waktu kapanpun kamu siap,” jawab Vito semangat.
“Bareng Igris juga, boleh?”
“Boleh! Boleh! Boleh banget.”
“Ini nanti hasil wawancaranya bakal dipublikasikan dalam bentuk artikel berita, kan?”
“Oh … bukan. Kali ini rencananya saya akan membuat sebuah video wawancara. Nanti hasilnya sebelum saya upload di portal berita, akan saya tunjukkan ke kamu dulu. Jadi kalau ada bagian yang kamu rasa mau di-edit, akan saya edit sesuai nyamannya kamu aja.”
“Wah … ini sih namanya kamu dapat berita eksklusif,” celetuk Coach Adam yang masih menganggap niat Vito tidak murni ingin membantu Noah, “padahal wartawan lainnya cuma bakal dapat berita dari konferensi pers.”
“Ya … saya kan udah bilang, Coach. Saya akui saya juga memburu berita, tentu saja, ini kan pekerjaan saya. Saya nggak munafik. Tapi kan … tetap saja …”
“Iya, iya … paham,” potong Coach Adam yang merasa kalau ia tak perlu mendengarkan Vito mengulangi penjelasannya lagi, “ok. Udah selesai, kan? Kami harus bersiap-siap untuk pertandingan pertama hari ini.”
Coach Adam berusaha sesopan mungkin mengusir Vito dari hadapannya, karena ia harus segera mempersiapkan timnya untuk pertandingan yang sudah di depan mata.
“Baik, saya mengerti,” Vito pun paham dengan kondisi itu, “semoga pertandingan berjalan lancar dan Cendana bisa mencapai targetnya tahun ini.”
“Terima kasih, permisi.” Coach Adam pamit dan langsung masuk ke ruang ganti.
“Noah, semangat ya.” Vito masih sempat mengatakan itu saat Noah mengangguk kepadanya untuk berpamitan.
“Makasih, Pak Vito,” ujar Noah sebelum akhirnya ia meninggalkan lelaki berkacamata itu, mengikuti Coach Adam masuk ke ruang ganti dan menutup pintu di belakangnya.
.
Arena pertandingan bergemuruh.
Bima Sakti sang juara bertahan memanfaatkan semua yang mereka miliki untuk menambah tekanan kepada lawannya.
Mereka membawa tim pemandu sorak, maskot, bahkan sekelompok supporter – dilengkapi dengan alat musik perkusi dan cheering stick[1] – di tribun yang sepertinya memang sudah dilatih untuk terus menyanyikan yel-yel dan bersorak sepanjang pertandingan.
Warna ungu mendominasi seperempat tribun yang mengelilingi arena pertandingan itu. Mereka juga membawa spanduk, bendera sekolah dan pernak-pernik lainnya.
Ketika kedua tim sudah memasuki lapangan dan melakukan pemanasan di lapangan. Seisi aula sudah bisa melihat kontrasnya kedua tim tersebut.
“Cendana nggak salah tuh? Sepi amat bench-nya?”
“Masa’ cuma ada satu pelatih dan satu manager yang mengurus semua keperluan tim?”
“Katanya sekolah elit. Elit dari mananya?”
“Elit di kampung. Mereka kan anak kampung. Kalau udah sampai Ibu Kota ya kebanting lah sama sekolah elit lainnya.”
Penonton pun mulai berkomentar satu sama lain dan tak sedikit di antara mereka yang terang-terangan menunjuk Cendana sambil tertawa cekikikan.
Apa boleh buat, kondsi Cendana dan Bima Sakti memang terlihat sangat jomplang. Dibandingkan Cendana, Pelatih Bima Sakti memiliki dua asisten. Mereka juga membawa tim medisnya sendiri. Bima Sakti hampir memiliki segalanya, mulai dari dukungan sampai urusan kelengkapan tim dan staff.
Sedangkan Cendana?
Secara finansial, SMA Cendana lebih mengutamakan klub olahraga lain yang sudah terbukti berprestasi dibandingkan klub basket; contohnya klub sepak bola.
Klub basket Cendana memang cukup berprestasi, tapi tak bisa dipungkiri, tak ada yang ingat kapan terakhir kali tim basket Cendana memenangkan gelar juara level nasional. Itu sebabnya, belakangan ini anggaran sekolah untuk klub basket menjadi terbagi dengan klub lainnya yang mulai naik daun seperti klub renang dan voli.
“Ah! Akhirnya kalian sampai juga. Nyasar kemana sih?”
Coach Adam yang sejak tadi sibuk bulak-balik melirik jam tangannya, akhirnya bisa merasa lega ketika melihat beberapa orang muncul di pintu masuk arena pertandingan; seorang lelaki tambun yang tergopoh-gopoh diikuti tiga orang lainnya.
Itu adalah Pelatih Utama, Reza, yang diikuti Coach Hana dan dua orang lainnya yang merupakan tim medis pinjaman dari klub sepak bola Cendana.
.
___ ___ ___ ___ ___
[1] Disebut juga thundersticks/bambam/balon keprok, adalah balon plastik panjang yang digunakan sebagai pembuat kebisingan oleh penonton atau supporter pertandingan olahraga.