Seorang lelaki tambun tampak tergopoh-gopoh diikuti tiga orang lainnya, menghampiri bench Cendana di pinggir lapangan.
Itu adalah Pelatih Utama, Reza, yang diikuti Coach Hana dan dua orang lainnya yang merupakan tim medis pinjaman dari klub sepak bola.
“Sorry, belum mulai, kan?” tanya Coach Hana dengan napas yang terengah-engah.
“Belum kok. Tapi … Coach Hana kenapa di sini?” Luna pun ikut bertanya heran.
“Kepala Sekolah meminta kami untuk menyusul dan membantu tim putra,” terang Coach Hana, “dia bahkan meminjamkan dua orang tim medis dari klub sepak bola yang kebetulan jadwalnya lagi kosong.”
Mendengar hal itu, ekspresi skuad Cendana terlihat seperti menyuarakan satu kata yang sama: “Syukurlah ….”
Soalnya memang mereka cukup kerepotan dengan hanya mengandalkan Luna dan Coach Adam. Padahal mereka juga butuh tim medis sendiri, untunglah klub sepak bola sedang 'menganggur' setelah menjuarai turnamen nasional minggu lalu.
“Saya ngotot minta Kepala Sekolah untuk mengirim bantuan ke sini,” Coach Reza menimpali, “saya bilang ke dia … Tahun ini firasat saya baik, kita bakal bisa jadi juara.”
“Ah … terima kasih, Pak Reza. Saya sangat menghargai bantuan Bapak,” sahut Coach Adam berpura-pura peduli, karena sebenarnya ia sudah hafal betul sifat Pelatih Utama itu; dia selalu ingin mendapat cipratan pujian dari hasil jerih payah orang lain.
Reza mengangguk-angguk sambil mulai menatap berkeliling. “Noah mana?” tanyanya kemudian.
“Itu di lapangan, lagi pemanasan sama pemain lainnya. Ada Igris juga tuh, anak kesayangan Bapak,” sindir Coach Adam sambil lalu bertukar pandangan dengan Coach Hana yang tampak seperti sedang menahan tawa,
“Kamu ini bicara apa? Mana ada namanya anak kesayangan. Semuanya kan sama aja. Kita nggak boleh pilih kasih,” balas Reza yang malah terkesan tak tahu malu di mata dua pelatih lainnya yang ada di situ. Karena mereka tahu, bagaimana Reza selama ini selalu ingin menyingkirkan Noah dan mempertahankan Igris di dalam tim. Tentu saja, sebelum ia tahu siapa orang tua Noah.
“Satu lagi, kenapa kalian manggil saya dengan sebutan ‘bapak’? Panggil saya Coach Reza dong, sama seperti panggilan kalian Coach Adam dan Coach Hana.” Setengah protes, Reza berharap ia juga diperlakukan sebagai pelatih meski selama ini ia tak pernah terjun langsung untuk melatih tim basket Cendana.
“Oh … itu nanti akan terbiasa dengan sendirinya, Pak. Kalau sekarang kami masih sering lupa,” balas Coach Adam lagi.
“Ngomong-ngomong, aku dengar kemarin sempat terjadi sesuatu dengan Noah,” Reza mengubah topik pembicaraan, “apa dia baik-baik aja?”
“Nggak ada masalah. Bapak bisa lihat sendiri kondisinya baik-baik aja.”
“Apa kamu akan memasukkan dia sebagai starting lineup?”
“Starting five masih sama seperti sebelumnya.”
“Tapi pemain intimu itu kan kemarin habis bertanding. Apa nggak sebaiknya kali ini memasukkan Igris dan Noah di awal?”
“Kita udah ada waktu istirahat satu hari setelah pertandingan pertama, Pak. Stamina Ahsan dan yang lainnya masih ok. Lagipula kita mau all out sejak awal.”
Reza tampak menghela napas berat menahan jengkel, dan Coach Hana melihat hal itu. jadi ia memutuskan untuk ikut menjelaskan, “Melawan Bima Sakti memang sebaiknya kita unggul sejak awal, karena kalau sampai skor kita tertinggal jauh, akan sangat sulit menyusulnya.”
“Ya … ya, itu aku juga paham.” Reza setengah menggerutu, tapi untungnya ia tak mengatakan apapun lagi setelahnya, dan memilih untuk duduk diam di ujung bench Cendana.
Sementara itu di lapangan, skuad Cendana melakukan pemanasan sambil dihujani gemuruh dukungan untuk Bima Sakti.
Salah satu bola yang digunakan Cendana untuk pemanasan menggelinding ke pinggir lapangan yang posisinya tepat di bawah tribun para pendukung Bima Sakti, Dewa berlari kecil untuk memungut bola itu.
Di saat itulah para supporter Bima Sakti yang berada di tribun atasnya menyoraki Dewa untuk membuat mental siswa kelas 12 itu jatuh. Namun, mereka memilih orang yang salah.
Dewa mengambil bola itu dan berbalik menghadap ke ring sambil tetap berdiri di tempatnya. Posisinya saat ini cukup jauh di luar sideline[1], jaraknya juga nyaris sejajar dengan garis tengah lapangan.
Dari situ ia langsung melakukan long shot ke ring Cendana. Dengan lintasan yang seperti setengah lingkaran, bola melambung tinggi bak gerakan lambat, lalu masuk dengan suara “blush” halus tanpa menyentuh bibir ring.
Sisi tribun yang tadi sempat menyorakkan “buuu…!” kepada Dewa pun mendadak hening; terpesona dengan lemparan jarak jauh yang indah dan tepat sasaran barusan.
Ahsan dan Juan saling bertukar pandangan sambil lalu tersenyum memaklumi kelakuan rekan mereka yang berdarah panas itu, sementara Dewa berjalan kembali menuju ke area ring Cendana sambil melempar senyum sombong ke arah tribun Bima Sakti.
Sebagian besar orang yang mengisi tribun penonton hari ini sepertinya memiliki pendapat yang sama, bahwa pertandingan antara Cendana vs Bima Sakti di babak 8 besar ini akan sangat seru, bahkan mungkin akan seseru partai final.
Berbanding terbalik dengan itu, Noah tampak agak lesu saat melakukan pemanasan sebelum pertandingan. Matanya terus menatap berkeliling ke seluruh penjuru tribun di atasnya, seolah sedang mencari seseorang di antara para penonton.
Meski Noah terus meyakinkan dirinya bahwa sebaiknya tak berharap lebih, tapi tetap saja ia cukup kecewa ketika tak menemukan Nirwan di tempat itu. Ia pikir, karena ayahnya itu sudah berada di kota ini, seharusnya tidak sulit bagi lelaki itu untuk menonton pertandingannya.
Memang benar, Nirwan menyusul Noah ke Ibu Kota bukan untuk menonton pertandingan Noah. Tapi … mumpung dia ada di sini, apa salahnya sekali seumur hidup datang menonton?
Dengan pikiran seperti itu, Noah melakukan jump shoot dan bolanya bertabrakan dengan bola yang ditembakkan Igris tepat di atas ring. Hal itu membuat tembakan Noah dan Igris sama-sama gagal.
“Sorry, Noah!” Igris menganggap itu kesalahannya, padahal Noah yang kurang fokus di lapangan.
Dalam kondisi seperti ini, di mana setiap pemain memegang satu bola dan hanya ada satu ring yang menjadi tujuan bersama, tentu saja masing-masing pemain harus memperhatikan sekeliling sebelum menembak agar tidak terjadi tabrakan bola di udara.
“Nggak. Sorry, aku yang salah,” balas Noah kemudian.
Skuad Cendana yang mendengar kalimat Noah barusan tampak saling bertukar pandangan satu sama lain sambil menahan tawa. Soalnya, boro-boro meminta maaf balik, biasanya Noah bahkan tak pernah mau menanggapi atau menjawab kalimat Igris.
.
Kuarter pertama berjalan dengan kedua tim yang sama-sama ingin membaca arah permainan lawan. Masing-masing tim menerapkan pertahanan zone defense[2] dan memanfaatkan 24 detik shot clock yang diberikan. Itu sebabnya perolehan poin menjadi tak terlalu banyak.
Kuarter pertama berakhir dengan skor 26 – 24 untuk keunggulan Bima Sakti.
Memasuki kuarter kedua, Coach Adam masih tak mengganti para pemainnya. Meski skor Cendana selalu tertinggal dan belum sekali pun berhasil mengungguli Bima Sakti, tapi setidaknya Cendana berhasil menjaga selisih skor mereka tetap tipis.
Jadi masih terlalu dini untuk memprediksi akhir pertandingan.
Namun, di kuarter kedua ini, Bima Sakti mengganti strategi mereka dengan zone box 1[3]. Mereka sadar bahwa pusat serangan Cendana semuanya berawal dari Ahsan, jadi mereka bertekad untuk mengunci Ahsan dan menghentikan serangan Cendana.
.
___ ___ ___ ___ ___
[1] Side line: garis pembatas samping lapangan yang berfungsi sebagai batas lebar lapangan
[2] Disebut juga pertahanan daerah, adalah strategi bertahan di mana masing-masing pemain dalam satu tim ditugaskan untuk menjaga area tertentu dan menyapu bersih tiap penyerang yang akan masuk ke area yang dijaganya tersebut.
[3] Pertahanan zona box and one, merupakan strategi pertahanan di mana empat pemain bertahan membentuk pola "box" atau "kotak", sementara satu pemain bertahan, ditugaskan menjaga (man-to-man) pemain lawan yang dianggap paling berbahaya.