Masih terlalu dini untuk memprediksi akhir pertandingan. Namun, Bima Sakti sadar bahwa pusat serangan Cendana semuanya berawal dari Ahsan, jadi mereka mengubah strategi di kuarter kedua agar bisa mengunci pergerakan Ahsan.
Strategi Bima Sakti cukup efektif. Gian menahan Ahsan di tengah lapangan, kapten tim Cendana itu sudah didesak bahkan sebelum mendekati perimeter Bima Sakti.
Ahsan tak menyangka bahwa Bima Sakti akan menerapkan strategi zone box 1 untuk menahannya, ditambah lagi, Gian adalah orang yang sepertinya paling cocok ditugaskan untuk menghentikan Ahsan.
Ahsan terdesak sampai ke sideline, hingga akhirnya ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke bagian luar lapangan. Untung saja sebelum jatuh, ia masih sempat melempar bola hingga mengenai ujung sepatu Gian.
Hal itu membuat bola yang sudah out tetap menjadi milik Cendana.
Hanya untuk mempertahankan bola saja, perjuangannya sudah luar biasa. Cendana tak bisa bebas menyerang.
Pelatih lawan pun sepertinya menyadari kondisi Ahsan yang mulai kelelahan karena tekanan yang diberikan khusus kepadanya.
Itu sebabnya, mendekati akhir kuarter kedua, Bima Sakti mengganti strategi menjadi zone box 2; tiga orang berjaga di zona sementara dua lainnya menjaga lawan yang dianggap berbahaya.
Kali ini, Ahsan dihadang oleh dua pemain Bima Sakti yang memiliki postur tubuh paling tinggi-besar di tim itu, Gian dan Edo.
Dijaga oleh dua raksasa Bima Sakti membuat Ahsan semakin kesulitan dan terdesak, ia nyaris tak diberi ruang untuk bergerak.
Puncaknya adalah ketika wasit meniup peluit dan membuat kode yang menyatakan bahwa Ahsan telah melakukan 8 second violation; saat giliran Cendana menyerang, Ahsan melewatkan waktu 8 detik tanpa bisa meninggalkan area Cendana.
Dengan kata lain, Ahsan berhasil ditahan di daerahnya sendiri. Ia bahkan tak mampu melewati garis tengah lapangan.
Sepertinya Bima Sakti memang menginginkan Ahsan keluar dari pertandingan ini, baik itu dengan membuatnya foul out[1] ataupun membuatnya cedera.
Tanpa menunda lagi, Coach Adam langsung meminta time out. Kondisi seperti ini tak bisa dibiarkan.
“Pass and run. Nggak ada cara lain,” ujar Coach Adam langsung, ketika kelima pemain terbaiknya itu sudah berdiri menggerubunginya di pinggir lapangan.
Ia mulai menerangkan sambil memindah-mindahkan magnet di atas papan strategi yang sudah siap di atas lututnya, untuk menunjukkan strategi dan formasi apa yang harus mereka gunakan setelah time out ini.
“Lari. Jangan berhenti. Kalian mungkin bakal capek banget, tapi dengan begitu, defense mereka akan kocar-kacir. Dari baseline semua udah mulai lari, oper bola terus-menerus sebelum lawan sempat menghadang. Jangan biarin mereka mengurung Ahsan, bantu screen … Tapi ingat, kalau Juan di luar, jangan nekat shoot 3 poin asal-asalan. Jangan buang bola sia-sia … Yuda dan Wahyu, jangan lawan pemain center mereka dengan physical play. Kalian bakal kepental, risiko cedera tinggi. Paham?”
Coach Adam seolah hanya menggunakan satu tarikan napas untuk mengatakan itu semua. Ia punya banyak hal yang ingin disampaikan, tapi durasi time out sangat singkat, hanya 60 detik.
Saat wasit meniupkan peluit sebagai tanda habisnya waktu time out dan permainan akan dimulai kembali, Coach Adam kembali memberikan instruksi terpentingnya.
“Tetap fokus. Jangan terpengaruh dengan tekanan dari penonton. Abaikan semua bentuk provokasi mereka. Kita di sini untuk memenangkan Kejurnas, bukan cuma untuk menang dari Bima Sakti.”
“Siap, Coach!” tegas seluruh pemain Cendana, termasuk lima pemain yang masih duduk di bangku cadangan. Semuanya sepakat dengan apa yang baru saja dikatakan Coach Adam.
“Bagus! Sekarang pergi dan beri mereka pelajaran.” Coach Adam menepuk punggung Ahsan dan yang lainnya, mengirim mereka untuk memasuki lapangan dan kembali bertanding.
.
Kurang dari 2 menit sebelum kuarter kedua selesai, bench Cendana saat ini sedang bergetar; secara harfiah bergetar.
Dirga sampai harus memberi tepukan di lutut Noah agar ia berhenti menggetarkan bangku yang disusun senyawa dalam satu baris di pinggir lapangan itu.
“Noah, kakimu bisa diam nggak? Bangkunya getar terus nih.”
Dirga akhirnya memutuskan untuk menegur Noah karena sejak tadi Noah tak bisa berhenti membuat gerakan kecil pada salah satu kakinya; ujung kaki Noah terus bergerak berulang kali menepuk lantai dengan cepat, seperti orang yang tak sabar sedang menunggu sesuatu.
“Iya nih … Noah malah bikin makin gugup,” keluh Igris juga.
“Sorry.” Noah segera mengendalikan diri dan memutuskan untuk pindah, lalu berdiri menyandar di belakang bench mereka, agar rekannya tak merasa terganggu dengan kegelisahannya.
Sebenarnya Noah seperti itu bukan tanpa alasan. Sejak tadi Samir bulak-balik melempar tatapan padanya dari dalam lapangan. Bahkan barusan tadi, saat pemain nomor 8 itu baru saja berhasil mencetak skor, ia sengaja lewat di depan Noah dan terang-terangan menantangnya.
Sambil berlari kembali untuk defense, Samir mengarahkan telunjuknya kepada Noah seolah mengatakan: “Ngapain duduk di situ? Cepat kesini dan lawan aku.”
Di luar dugaan, gestur Samir itu berhasil “membakar” Noah. Ia benar-benar ingin berada di lapangan sekarang juga.
“Kamu ada masalah apa sama pemain nomor 8 itu?” Dirga memutar tubuhnya dan menoleh ke belakang, di mana Noah sedang berdiri.
“Pernah ketemu di taman kota,” jawab Noah seadanya.
“Terus kalian berkelahi?”
“Ha? Nggak lah, Kak Dirga ada-ada aja.”
“Jadi?”
“Kami main basket.”
“Serius? Bisa dibilang kalian akrab dong.”
“Iya … tapi dia kalah dan aku memprovokasinya di akhir permainan,” Noah mulai menghindari mata Dirga karena agak merasa bersalah, “aku bilang kalau level Bima Sakti cuma segini, trofi Kejurnas udah pasti bakal jadi milik Cendana.”
“Hahaha …!” terdengar suara keras yang tiba-tiba menyela. Asalnya dari samping Noah. Itu adalah Reza yang ternyata menguping sejak tadi.
“Itu jawaban yang bagus, Noah. Kamu memang selalu pintar memilih kata-kata untuk menghadapi lawan yang sombong seperti itu,” kata Reza lagi.
Lelaki itu lalu melangkah mendekati Noah dan melanjutkan kalimatnya, “Ngomong-ngomong … apa hari ini ayahmu, Prof. Nirwan, datang?”
Noah sudah tak bisa lagi menyembunyikan ekspresi jijiknya ketika 'dijilat' terang-terangan seperti ini. Dalam hati, ia tak habis pikir, apa yang sebenarnya diinginkan Reza dari Nirwan sampai sikapnya berubah 180 derajat seperti ini?
Di saat yang bersamaan, terdengar suara bel tanda berakhirnya kuarter kedua yang berhasil menyita seluruh perhatian di pinggir lapangan, termasuk Reza. Noah pun selamat karena ia jadi tak perlu memikirkan jawaban sambil tetap menjaga sopan santun kepada Reza.
Semuanya bergegas menyambut kelima pemain Cendana yang baru saja menyelesaikan kuarter itu dengan skor 51 – 49; Cendana masih tertinggal meski selisihnya sangat tipis.
“Ahsan, kamu istirahat aja di pinggir,” instruksi Coach Adam tepat setelah Ahsan dan yang lainnya duduk di bench, sementara Luna, Noah dan pemain cadangan lainnya membantu menyediakan handuk, kompres es dan segala macam.
“Saya istirahat di kuarter terakhir aja, Coach.” Ahsan membuat tawaran.
“Nggak! Dengar apa yang aku bilang, aku ini pelatihmu! … Juan!” Coach Adam memberi kode kepada Juan yang sepertinya langsung paham apa yang harus ia lakukan.
Juan menarik cooler box ke hadapan Ahsan dan perlahan meletakkan kaki kiri Ahsan ke atas benda itu agar letak kakinya jadi lebih tinggi. Ia lalu meminta Luna untuk mengompres lutut kiri Ahsan.
“Setidaknya, butuh waktu kurang lebih 20 menit untuk mengompres lututmu supaya nggak terjadi pembengkakan,” kata Coach Adam lagi, “kita lihat situasinya dulu. Kalaupun kamu mau kembali bermain, aku cuma bakal ngeluarin kamu di ujung kuarter empat.”
“Coach …”
“Ahsan!” Coach Adam akhirnya harus membentak kapten timnya itu, karena sepertinya Ahsan cukup keras kepala. “Masa depanmu masih panjang! Karirmu bukan cuma sampai Kejurnas tingkat SMA doang! Ngerti kamu?!”
Ahsan tak menjawab lagi setelahnya. Selama ini, Coach Adam dan Ahsan sangat akrab. Mereka sudah seperti teman sebaya dan hampir tidak pernah rasanya melihat Ahsan dimarahi oleh Coach Adam.
Tapi kali ini, situasinya tampak serius. Padahal, Noah bahkan tak tahu kapan Ahsan mendapatkan cedera di lututnya. Sepertinya bukan karena terjatuh di pinggir lapangan tadi.
Kalau melihat situasinya, kemungkinan terbesar adalah keseleo atau terkilir akibat salah mendarat saat melakukan lompatan di pertandingan tadi.
.
___ ___ ___ ___ ___
[1] Foul out adalah keadaan di mana seorang pemain telah melakukan 5 kali foul biasa, atau telah melakukan 2 kali technical foul dalam 1 pertandingan, maka pemain yang terkena foul out tersebut harus keluar dari lapangan pertandingan.