Chapter II-56

1211 Kata
Coach Adam memutuskan untuk mengistirahatkan Ahsan dan menggunakan alternatif pemain cadangan yang ia miliki. Ia butuh playmaker yang bisa mengimbangi kecepatan Ahsan dalam mengambil keputusan. Mungkin pilihan yang paling tepat adalah Dirga, namun Coach Adam khawatir Dirga akan mengalami demam panggung. Di pertandingan sepenting ini, melawan Bima Sakti dan berskala nasional, ia harus menggantikan Ahsan yang cedera. Jangan-jangan dia bakal muntah di lapangan gara-gara asam lambungnya naik. Dalam beberapa kali kesempatan, Coach Adam pernah menguji coba Noah dan Igris untuk menggantikan Ahsan, dan keduanya memiliki potensi yang cukup baik. Sayangnya, jika menggunakan Noah sebagai playmaker, intensitas serangan Cendana menjadi berkurang. Selain itu, Noah juga lebih suka mencari solusi dengan menggunakan dirinya sendiri dibandingkan harus menggunakan rekan-rekan satu timnya. Igris adalah satu-satunya pilihan yang paling cocok untuk saat ini. Coach Adam menganggapnya sebagai anak yang bebal. Jika dikritik, dari pada berkecil hati dan overthinking, ia cenderung malah cengengesan. Bisa dikatakan, Igris itu bocah yang ‘tahan banting’. Kesimpulannya, Igris memiliki mental yang dianggap masih sedikit lebih kuat dibandingkan Dirga yang sering goyah di bawah tekanan. “Igris, kamu gantiin Ahsan jadi playmaker,” putus Coach Adam akhirnya, “Ello dan Noah masuk gantiin Wahyu dan Yuda. Kita pakai combination defense[1]. Biar Noah, Ello dan Juan yang jaga di bawah ring, Igris jaga pemain nomor 8 dan Dewa jaga pemain nomor 4. Kita melakukan sistem pertahanan ini dengan pertimbangan hanya mereka berdua yang punya kemampuan menembak dari luar.” “Pemain nomor 7, jump shoot-nya juga lumayan.” Juan mengemukakan pendapatnya ketika menemukan sela. “Iya … tapi persentasi keberhasilannya rendah. Untuk sementara kita bisa mengesampingkan dia,” balas Coach Adam sambil lalu, “untuk strategi serangan, kita coba spread offense[2]. Tembakan 3 poin Igris, Dewa dan Ello cukup baik. Tunjukkan kepada mereka kemampuan itu. Bikin mereka panik, supaya dengan sendirinya mereka terpaksa meregangkan pertahanan dan membuka ruang di dalam lapangan. Dengan begitu, Noah bisa leluasa melakukan penetrasi ke dalam dan menghancurkan mereka.” Coach Adam mengepalkan tangan seolah di dalam kepalan tangan itu adalah Bima Sakti yang ingin dihancurkannya. “Kita ambil peluang untuk mencetak skor dari dalam maupun dari luar,” tambah Coach Adam lagi, “aku merasa strategi ini bakal berhasil karena aku yakin Juan masih tak terkalahkan untuk merebut rebound di bawah ring, aku yakin pada kemampuan penembak jarak jauh tim Cendana, aku juga yakin pada kemampuan Noah yang selalu bisa membuat lutut pemain lawan bergetar dengan semua aksinya yang tak terhentikan.” Pelatih itu lalu tersenyum sambil menatap satu per satu anak didik yang sedang berkumpul dan membentuk lingkaran di sekitarnya. “Kuarter ketiga ini, kita bikin selisih skor yang jauh.” Coach Adam mengulurkan tangan ke tengah lingkaran dengan telapak tangan menghadap ke bawah. Juan meletakkan tangannya di atas tangan Coach Adam, “Bikin mereka putus asa sampai mereka nggak punya semangat lagi untuk mencetak skor,” timpalnya kemudian. “Bikin mereka nangis.” Dewa menambahkan sambil ikut menumpuk tangannya di atas Juan. “Tinggalkan skor mereka sejauh mungkin, supaya Kapten bisa kembali dan bermain dengan santai di kuarter terakhir.” Ello menyusul meletakkan tangannya di atas Dewa. “Kita bikin Bima Sakti angkat koper di hari ketiga Kejurnas,” imbuh Igris sembari menambah satu tumpukan tangan lagi. Hingga akhirnya Noah meletakkan tangannya di tumpukan yang paling atas sambil mendeklarasikan dengan tegas, “Tahun ini giliran kita yang bawa pulang trofi Kejurnas.” “Cendana!” teriak Coach Adam dan langsung dibalas oleh seluruh skuadnya. “Kill them all!” . Igris tak mengatakannya, tapi sebenarnya ia cukup gugup ketika Coach Adam memintanya menggantikan Ahsan menjadi playmaker[3]. Mereka memang sudah beberapa kali mencoba formasi ini di sesi latihan. Tapi ini adalah pertandingan yang sebenarnya, belum lagi, ini adalah Kejurnas, dan di atas itu semua, melawan musuh bebuyutan Cendana; Bima Sakti! “Igris!” Dewa berlari dari belakang dan melintas di sebelah Igris menuju ke zona pertahanan lawan. Itu menandakan bahwa ia meminta Igris untuk mengoper padanya. Namun tentu saja lawan bisa menebak pergerakan Cendana jika Igris langsung mengoper kepada Dewa yang meminta bola. Itu sebabnya Igris yang melihat Ello berlari di arah berlawanan memutuskan untuk membuat gerakan no look pass kepada Ello. Akibatnya, bukan hanya lawan yang terkecoh, Dewa pun sedikit kaget saat Igris membuat gerakan tipuan seolah akan mengirim bola kepada Dewa, padahal ia memutar pergelangan tangannya dan malah mengirim bola ke Ello di sisi lain lapangan. Ello hanya membawa bola sampai ke dekat garis 3 poin, dan mengoper bola kembali kepada Dewa yang juga sudah siap di luar garis 3 poin. Saat mendapatkan operan dari Ello, ia membuat gerakan seolah akan menembak. Seorang pemain Bima Sakti melompat untuk menghalangi Dewa, tapi Dewa ternyata belum melepaskan tembakan. Itu adalah pump fake, sebuah gerakan tipuan dengan berpura-pura menembak agar lawan terlanjur melompat untuk melakukan block (atau sering juga disebut "Lifting the Defender"). Akibatnya blocking yang dilakukan lawan terlalu dini dan Dewa berhasil lolos. Meski begitu, masih ada defender kedua dari Bima Sakti yang akan menghalangi Dewa. Untungnya, ketika Dewa menerima bola dari Ello tadi, ia belum melakukan dribble. Jadi saat lawan muncul di depannya, kali ini Dewa mengambil langkah mundur sambil men-dribble satu kali. Ia berhasil membuat jarak dan memberinya ruang yang cukup leluasa untuk menembakkan 3 poin. Meski jaraknya ke ring jadi selangkah lebih jauh, tapi itu bukan masalah bagi Dewa. Asalkan tak ada yang menghalangi di depannya, maka bisa dikatakan bahwa Dewa adalah penembak jarak jauh terbaik yang pernah dimiliki Cendana. Blush! Bola masuk dengan mulus dan elegan tanpa menyentuh bibir ring. Tiga angka bertambah untuk Cendana, dan semuanya berbalik untuk kembali melakukan pertahanan. Kini giliran Bima Sakti menyerang. Sesuai arahan dari Coach Adam, Noah, Ello dan Juan berjaga di area low post, sementara Dewa dan Igris bersiap menghadapi siapa pun pemain Bima Sakti yang akan menembak dari belakang garis 3 poin. Ini sama saja dengan strategi pertahanan zone box 2 yang diterapkan Bima Sakti; bedanya hanya Bima Sakti menggunakan dua pemain di luar khusus untuk menjaga Ahsan. Bola berada di tangan Samir, pemain nomor 8 Bima Sakti. Ia membuat gerakan tipuan seperti akan menembak, padahal itu adalah passing kepada rekannya yang juga berada di luar garis 3 poin pada sisi berlawanan, Haris – pemain Bima Sakti bernomor punggung 7. Pola yang hampir sama dengan serangan Cendana. Namun, Haris tak melakukan tembakan jarak jauh seperti Dewa, melainkan menusuk masuk ke bawah ring dengan berusaha melewati Ello. Jika Ello tidak bergerak dan telah menetapkan posisi penjagaan yang sah, lalu Haris menabraknya, maka Haris akan mendapatkan Pelanggaran Serangan (Offensive Foul). Namun, jika Ello tidak siap di posisinya sebelum ditabrak, maka Ello lah yang akan mendapatkan Pelanggaran Bertahan (Defensive Foul). “Kak Ello, biarin aja dia lewat!” teriak Igris sigap dan Ello yang kaget pun refleks mengelak saat Haris melakukan penetrasi full power seolah ingin menabrakkan dirinya kepada Ello. . ___ ___ ___ ___ ___ [1] Perpaduan antara sistem pertahanan man-to-man (satu orang menjaga satu pemain) dan zone defense (masing-masing pemain menjaga zona/area tertentu di lapangan). [2] Disebut juga “perimeter-oriented offense". Dalam strategi ini, tim berusaha untuk menyebar pemainnya di sekitar garis tiga angka untuk menciptakan ruang bagi penembak yang handal di luar area tersebut. [3] Seorang playmaker adalah otak tim di lapangan, yang umumnya memiliki kemampuan untuk mengatur permainan tim, mengatur serangan, dan menciptakan peluang bagi rekan-rekannya untuk mencetak poin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN