“Kak Ello, biarin aja dia lewat!” teriak Igris sigap dan Ello yang kaget pun refleks mengelak saat Haris menyeruduk masuk seolah ingin menabrakkan dirinya kepada Ello.
Keputusan Igris itu sangat tepat karena ia melihat Ello kurang siap dan tidak berada di posisinya saat Haris menyerang, itu sebabnya ia khawatir Ello akan terkena pelanggaran jika terjadi tabrakan.
Lagipula, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Karena meskipun pemain Bima Sakti bernomor punggung 7 itu berhasil melewati Ello, ia tak akan bisa memasukkan bola dengan tenang di bawah penjagaan Juan dan Noah.
Haris nekat melompat untuk lay up, itu adalah tembakan yang terlalu memaksa – Haris tahu itu. Namun ia tak punya pilihan karena Noah dan Juan menutup semua pergerakannya hingga ia tak bisa mengoper bola ke mana pun.
Akibatnya, bola yang ia lepaskan itu dipukul keras membentur papan ring oleh Juan. Bola pun memantul dan Noah hanya perlu melompat untuk mendapatkan bola pantulan itu tanpa bersusah payah.
Noah tak langsung bergerak cepat setelah mendapatkan bola. Ia memilih untuk memegang erat bola itu dengan kedua tangannya sambil menghindari sambaran tangan pemain lawan yang ingin merebut kembali bola mereka, hingga akhirnya Bima Sakti sadar bahwa bola sudah berada dalam penguasaan penuh Noah.
Mau tak mau, Bima Sakti harus mengakui bahwa serangan mereka telah gagal dan mereka harus berlari kembali ke areanya untuk bertahan menghadapi serangan Cendana.
Melihat kelima pemain Bima Sakti sudah kembali untuk defense, Noah pun melempar bola kepada Igris sambil lalu berlari untuk menyusun serangan di area lawan.
Igris masih berusaha menjalankan perannya dengan baik, tapi sepertinya ia belum bisa berpikir dengan jernih. Passing-nya lambat dan mengakibatkan pergerakan Cendana pun jadi ikut melambat. Itu terjadi karena Igris memang masih agak kebingungan.
“Igris!” Dewa kembali meminta bola di luar garis 3 poin dan kali ini tanpa pikir panjang Igris mengirim bola kepada Dewa.
Operan itu pun dipotong oleh Gian, pemain nomor 4 sekaligus kapten Bima Sakti.
Fast break![1]
Seluruh pemain Cendana terpaksa kembali untuk bertahan di area mereka. Kali ini serangan Cendana yang gagal, dan Bima Sakti berhasil menambah 2 angka dengan tembakan mid range[2] yang dilakukan Haris.
Igris mulai membangun serangan lagi. Ia menggiring bola ke arah pertahanan lawan sambil mengamati posisi empat pemain Cendana lainnya.
“Berikan padaku.” Noah muncul di sebelah Igris dan langsung meminta bola.
Awalnya Igris agak ragu, tapi melihat wajah kesal Noah, Igris merasa ia harus memberikan bola itu kepada Noah jika tak ingin dihujani sumpah serapah Noah nantinya.
Kali ini Noah yang menggiring bola dan Igris berusaha mengambil posisi sambil menghindari defender lawan. Begitu juga dengan Dewa, Ello dan Juan, mereka terus-menerus bergerak agar lolos dari penjagaan dan bisa menerima operan Noah.
Sudut mata Noah menangkap posisi Dewa yang cukup kosong, jadi ia mengirim bola kepada seniornya itu. Tapi begitu Dewa memegang bola, ia langsung mendapatkan tekanan dari lawan.
“Kak! Balikin sini!” teriak Noah lagi.
Dewa menemukan celah dan berhasil mengembalikan bola kepada Noah dengan memantulkan bola ke lantai.
Waktu serangan hanya tersisa 10 detik lagi. Noah harus menemukan cara untuk menyerang jika tak ingin terkena pelanggaran 24 detik.
Noah menggiring bola tanpa terburu-buru, mendekati area pertahanan lawan. Defender yang berada tak jauh di depannya saat ini adalah Gian, dan Noah menemukan Ello sebagai rekan yang posisinya paling dekat. Jadi, Noah melakukan kontak mata kepada Ello sambil memberikan kode yang sudah mereka sepakati di Cendana.
Noah menunjukkan punggung tangannya kepada Ello sebagai tanda bahwa ia meminta Ello melakukan screen terhadap Gian. Ello pun langsung memahami sinyal itu dan bergerak memposisikan dirinya di hadapan Gian untuk menutupi pergerakan sang kapten Bima Sakti tersebut.
Ello membuat screen yang cukup kuat, menghalangi langkah Gian dan membuka celah untuk Noah.
Noah pun memanfaatkan kesempatan itu dengan melakukan akselerasi menusuk masuk menuju low post, sementara Gian berusaha keras untuk mengikuti pergerakannya.
Karena Gian meninggalkan Ello untuk mengikuti Noah, otomatis Ello berdiri bebas tanpa penjagaan. Itu memang tujuan Noah yang sebenarnya.
Tanpa perlu melihat – karena sudah memastikan posisi Ello di belakangnya – Noah mengoper bola dengan memantulkannya ke lantai. Itu adalah bounce pass yang cukup keras dan dengan akurat mengarah kepada Ello yang baru saja melakukan screen di belakangnya.
Pemain lawan yang terkecoh oleh gerakan Noah tidak melihat umpan itu datang. Ello mendapatkan bola dengan posisi tembak yang bebas. Tanpa ragu, tembakan mid range pun dilepaskan dan berhasil menambah dua angka lagi untuk Cendana.
Tak ada waktu untuk merayakan. Cendana dengan cepat kembali ke posisi bertahan karena kali ini giliran Bima Sakti yang akan menyerang.
Memasuki detik-detik krusial menjelang akhir kuarter ketiga, skor mencapai angka 71 – 70, masih untuk keunggulan Bima Sakti. Selisih angka yang tipis itu sangat masuk akal, mengingat bagaimana ketatnya persaingan antara kedua tim yang dengan agresif saling menyerang.
Merasa frustrasi dengan tempo permainan yang lambat, Noah memutuskan untuk menyampaikan protes kepada Igris.
"Jangan kelamaan pegang bola, kalau kamu nggak mengoper gimana kami bisa nyerang?!” Noah mengomel sambil berlari di sebelah Igris, “memangnya kamu biasa main sama keong, hah? Pass yang kuat dan cepat!"
Setelah menyelesaikan komplainnya, Noah mendahului Igris untuk masuk lebih dulu ke area lawan, mengambil posisi sambil menghindari penjagaan lawan agar Igris bisa menyusun serangan.
Igris berusaha memperbaiki situasi dan mulai mencari peluang untuk mengoper bola dengan cepat kepada rekan-rekannya.
Ia mengoper bola pertama kepada Dewa, namun Dewa langsung ditekan oleh Samir yang menjaganya. Dewa pun memutuskan untuk mengoper kepada Ello yang juga mengalami hal yang sama. Ello tak punya pilihan selain mengembalikan bola kepada Igris.
Bola kembali berpindah dari tangan ke tangan, menciptakan kebingungan di antara pertahanan lawan yang mencoba untuk mengantisipasi setiap gerakan. Namun, tetap saja Cendana tak menemukan celah yang cukup untuk melakukan tembakan yang memungkinkan.
Tanpa disadari, Cendana sudah menggunakan 15 detik dari 24 detik waktu yang diberikan bagi setiap tim untuk menyerang. Cendana harus melakukan tembakan sebelum shot clock[3] berakhir.
Noah mengangkat tangan untuk meminta bola saat ia berada di dekat baseline. Jika Igris mengoper kepada Noah, ada beberapa pemain lawan yang mungkin akan memotong umpan itu.
Tapi kemudian mata Igris menangkap sinyal yang diberikan Noah, yaitu jari telunjuk yang mengarah ke langit-langit aula.
Ya, Noah meminta Igris untuk memberikan umpan tinggi agar sulit dipotong oleh lawan. Selain itu juga harus kuat dan cepat, itu yang dikatakan Noah tadi.
Untuk mengelabui defender yang ada di hadapannya, Igris bergerak seolah ia akan menerobos ke kanan, namun ia memutar tubuhnya; melakukan reverse dribble untuk bisa menciptakan ruang dan mengirim passing yang diinginkan Noah.
Khawatir akan mendapatkan protes lagi dari Noah, Igris benar-benar melempar bola itu sekuat tenaga kepada Noah. Keras, cepat dan tinggi. Bisa dikatakan itu adalah passing yang gila.
Namun Noah tak mengecewakan siapa pun. Ia melompat untuk mendapatkan passing gila itu, bahkan membuatnya sampai keluar dari garis baseline.
Orang-orang mengira bola akan keluar karena setelah lompatan tinggi itu, jika kaki Noah menjejak di luar garis lapangan, maka tentu saja bola yang berhasil ia tangkap itu akan dinyatakan keluar.
Tapi, tak ada yang mengira bahwa sebelum kaki Noah menyentuh lantai kembali, Noah sudah melepaskan tembakan dari belakang papan ring.
Bola yang ditembakkan dari belakang itu pun memantul pelan di pinggiran papan lalu bergulir jatuh dan berputar sekali di bibir ring sebelum akhirnya masuk.
Di saat yang bersamaan, Noah yang melompat tinggi untuk menyambut umpan gila Igris tadi, mau tak mau harus menjatuhkan tubuhnya hingga terjerembab sampai punggungnya membentur dinding tribun.
“Owh … wow! Masuk!”
“Tembakan yang nyaris mustahil!”
“Aku kira bola akan keluar.”
“Dari belakang lho. Bagaimana dia melakukan itu?”
“Fade away[4]. Tapi ini dilakukan bukan untuk menghindari blocking defender melainkan agar bisa lebih lama di udara dan melakukan shoot sebelum bola keluar.”
“Luar biasa!”
“Biasanya kau melihat hal semacam itu di liga pro.”
Komentator pun saling bersahut-sahutan mengomentari aksi Noah barusan.
Seluruh pemain yang ada di bench Cendana berdiri sambil berteriak dan mengepalkan tangan mereka, termasuk Ahsan. Luna sampai harus memperingatkannya agar lebih berhati-hati kalau tak mau cedera lututnya bertambah parah.
“Sorry,” kata Igris saat ia berlari bersama Noah menuju ke area pertahanan Cendana.
“Sorry? Itu pass yang bagus kok,” sahut Noah sambil lalu, “pokoknya jangan ragu. Aku bakal tangkap semua pass yang kamu kirim.”
“Ok,” balas Igris dengan senyum lebar di wajahnya.
Noah baru saja memberikan lampu hijau bahwa Igris boleh memberikan umpan kepadanya dalam bentuk apapun. Dengan kata lain, tak peduli sesulit apapun passing itu, Noah berjanji akan menangkapnya.
Hanya kurang dari 3 detik sebelum kuarter ketiga berakhir. Bima sakti masih mencoba untuk melakukan serangan dan menambah poin. Namun ketika bola baru melewati garis tengah, waktu habis dan Samir menembak untung-untungan dari jauh.
Tembakan itu berhasil masuk.
Tapi wasit menyatakan bahwa buzzer sudah berbunyi lebih dulu sebelum Samir melompat dan melakukan tembakan di akhir kuarter ketiga tersebut.
Jadi, sayang sekali, poin yang dihasilkan dari lemparan jauh itu tidak dihitung.
.
___ ___ ___ ___ ___
[1] Situasi saat tim A dengan segera berbalik menyerang setelah p*********n tim B gagal.
[2] Mid Range Jump Shot adalah tembakan yang menghasilkan 2 poin sambil meloncat dengan jarak menengah di area parimeter seperti Elbow, Baseline, dan Free Throw Line
[3] Shot clock adalah sebutan lain untuk 24 detik batas waktu yang diberikan kepada sebuah tim untuk menyerang. Jadi setelah mendapatkan penguasaan bola, jika sebuah tim tidak melakukan tembakan (minimal bola menyentuh ring) dalam waktu 24 detik, maka akan dianggap pelanggaran.
[4] Fade away adalah teknik yang mendorong badan ke belakang, atau bahkan menjatuhkan diri ke belakang saat melakukan shoot, sehingga menyulitkan defender untuk menghadang bola