Chapter II-37

1057 Kata
Mood Lisa berubah menjadi baik sejak ia tahu kalau ternyata Noah bukanlah targetnya Luna. “Yang mana sih kapten kalian itu?” “Waktu pertandingan kan dia ada,” jawab Noah, “padahal kamu sering nonton. Masa’ nggak tahu kapten Cendana yang mana?” Lisa menggerak-gerakkan bibirnya untuk meniru perkataan Noah sambil mengejek. “Pelit amat, cuma mau lihat fotonya doang juga,” gerutunya kemudian. Dalam hati Lisa berpikir kalau setiap kali ia datang menonton pertandingan, tentu saja perhatiannya hanya tercurah kepada Noah. Mana sempat ia melihat orang lain. “Yang ini loh,” Luna berinisiatif menunjukkan foto tim putra Cendana saat memenangkan Liga Rookie, “yang tengah ini, cakep kan?” “Eh … ya ampun. Bener. Lebih cakep dari Kak Raka. Pantesan aja Kak Luna naksir berat.” “Sshht ….” Luna meminta Lisa agar tak terlalu menggembar-gemborkan soal bagaimana Luna naksir Ahsan, ia merasa malu sendiri mendengarnya. “Ya jangan dibandingin sama aku juga dong,” keluh Raka berlagak kesal. “Terus kalau sama Noah, cakepan siapa?” pancingnya lagi. “Cakepan Noah lah,” pungkas Lisa tanpa ragu dan dibalas dengan Raka yang tertawa sambil beterpuk tangan salut. Sesekali ia menyikut lengan Noah, sebagai isyarat agar Noah memberikan sedikit reaksi atas pengakuan jujur tersebut. Tapi Noah memang tak penah tersipu malu jika mendapat pujian seperti itu dari Lisa. Dia sudah merasa biasa saja, saking seringnya Lisa ceplas-ceplos mengenai ketertarikannya terhadap penampilan Noah. * * * Hari pembukaan Kejuaraan Nasional Basket Tingkat SMA akhirnya tiba. Seperti biasa, di hari pertama akan ada upacara pembukaan yang meliputi kata sambutan dari pihak sponsor, ketua panita hingga pejabat yang terlibat. Tahun ini ada 16 sekolah yang akan bertanding di Kejurnas. Masing-masing peringkat 3 besar dari 5 wilayah regional, ditambah Bima Sakti yang memang sudah dipastikan masuk sebagai peserta Kejurnas, tanpa perlu menang di Liga Rookie. Setiap tahunnya, juara pertama di Kejurnas akan mendapatkan wildcard yang merupakan hak pasti untuk bertanding di Kejurnas berikutnya. Jadi, jika Liga Rookie sering disebut juga sebagai tahap kualifikasi, maka Kejurnas adalah tahap final. Dan wildcard adalah tiket yang diberikan kepada juara tahun sebelumnya untuk bisa melaju langsung ke tahap final. Saat ini perhatian media dan para penggemar basket tentu tertuju kepada Bima Sakti. Mulai dari kedatangan bus mereka sampai saat mereka satu per satu turun dari bus dan berjalan menuju gedung aula. Para penggemar yang datang untuk menonton – didominasi oleh anak-anak SMA dari berbagai penjuru Ibu Kota – bahkan sampai berkerumun agar bisa mencuri-curi foto bersama, memberikan bingkisan kepada pemain favorit mereka, atau cewek-cewek yang hanya sekadar ingin memanggil nama mereka lalu berteriak kegirangan saat di-notice. Bima Sakti datang dengan penuh persiapan. Mereka bahkan turut membawa tim cheerleader (pemandu sorak) lengkap dengan maskot alien yang mengenakan jersey ungu gelap khas warna Bima Sakti. Tim Bima Sakti terlihat megah dan cukup mengintimidasi peserta lainnya yang ada di lokasi itu. Tapi, meski mereka terlihat tenang, tetap saja mereka hanya anak-anak SMA. “Kak, tanganku gemetaran,” bisik Samir kepada Gian yang berjalan di sampingnya sambil menebar senyum kepada beberapa orang yang memanggil namanya. “Jalan aja terus masuk ke gedung, nggak usah terlalu dipedulikan.” Gian memberikan nasihat, masih dengan memasang tampang idol ke sekitarnya, sambil sesekali melambaikan tangan dan mengambil paper bag yang disodorkan kepadanya. “Mungkin gini ya rasanya jadi artis,” gumam Haris sambil cengengesan. Dari lima orang pemain inti tim Bima Sakti yaitu Gian, Samir, Haris, Edo dan Darwin, hampir semuanya sudah memegang paper bag pemberian dari para penonton yang datang hari ini. Kebanyakan paper bag itu memang bentuknya kecil dan imut karena umumnya hanya berisi hadiah berupa kartu ucapan, karya seni seperti lukisan atau gambar, souvenir atau sekadar makanan-makanan ringan. Namun, tak jarang juga ada yang memberikan barang-barang seperti topi, wristband atau bahkan headset, tumbler dan sejenisnya. “Edo dapat hadiah juga? Tumben,” canda Darwin kepada center Bima Sakti yang sering dijuluki sebagai gorila karena tubuhnya yang tinggi besar dan garis wajahnya yang keras. “Memangnya kalian aja yang punya fans?” sahut Edo bangga. Meski ia hanya menerima satu sementara rekan-rekannya yang lain mendapatkan rata-rata 3 sampai 4 hadiah. Di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja terdengar suara yang tak kalah riuhnya dari arah belakang rombongan Bima Sakti. Ternyata sebuah bus bernuansa biru baru saja tiba. Pada bagian samping badan bus itu, tersusun huruf-huruf besar yang bertuliskam "Fight to Win!". Ya, itu adalah bus SMA Cendana. Seketika kerumunan yang ada di sekitar Bima Sakti pun berkurang drastis. Saking banyaknya orang yang berkumpul, para pemain Cendana yang keluar satu per satu dari dalam bus jadi hampir tak terlihat. “Fans karbitan,” gerutu Samir jengkel. “Masa’ iya penggemar Cendana lebih banyak dari pada kita?” timpal Darwin, berusaha untuk tak mempercayai kecurigaannya. “Itu makanya aku benci orang ganteng yang main basket.” Edo ikut menambahi dengan geraman, tepat saat matanya menangkap sosok Ahsan yang baru saja keluar dari kerumunan orang-orang sambil kesulitan memegangi segala bentuk paper bag berbagai merk dan ukuran; yang terus menerus disodorkan kepadanya. “Dia dapat lebih banyak dari Kak Gian,” komentar Haris seolah menyiram bensin ke bara api. Rahang Gian mengetat dan senyumnya membeku. Meski telah dua kali berhasil mengalahkan Cendana, tapi entah kenapa ia belum pernah merasa menang dari Ahsan. Dan apa yang membuatnya semakin kesal adalah Ahsan yang tak pernah menyebutkan nama Gian, setiap kali jika Ahsan ditanya tentang Point Guard berbakat yang ia anggap sebagai rival. Padahal Gian selalu mengakui Ahsan sebagai rivalnya. Tapi sepertinya bagi Ahsan, Gian tidak terlalu diperhitungkan. “Itu bocah siapa? Kok bisa-bisanya dia dapat hadiah yang sama banyaknya sama kamu, Ris?” Samir merasa terganggu ketika melihat Igris yang sepertinya cukup diminati oleh anak-anak SMA yang datang sebagai penonton dan berkerumun di sekitar rombongan Cendana itu. “Itu loh, si mini copycat, yang sering dibanding-bandingkan sama Noah,” terang Haris. “Oh …," Samir menanggapi sambil lalu, "ngomong-ngomong itu anak songong mana? Kok gak kelihatan?” “Noah? Tuh yang ketinggalan di belakang, lagi fotoan sama cewek-cewek.” Haris menunjuk ke arah Noah yang sedang berdiri canggung – masih di dekat bus – dikelilingi beberapa siswi berseragam SMA yang sepertinya bolos sekolah untuk bisa datang menonton Kejurnas di Senin pagi ini. “Permisi, permisi …,” pamit Noah sambil berusaha sesopan mungkin menyelinap, mencoba menerobos para pelajar SMA itu, agar ia bisa menyusul rombongan Cendana yang sudah beberapa langkah meninggalkannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN