Chapter II-36

1055 Kata
“Kamu kenapa sih?” tanya Noah yang mulai jengkel melihat sikap Lisa. “Nggak kenapa-napa kok.” Lisa berkelit, seolah sikap dan gaya bicaranya itu normal. “Sorry, Lis. Lama ya?” Raka baru saja keluar dari toilet sambil mengelap ujung kaosnya yang sedikit basah, ia jadi agak terlambat menyadari bahwa saat ini Lisa tidak sedang sendiri. “Loh? Noah? Sama Kakak Manager?” serunya langsung kaget ketika melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Lisa dengan wajah cemberut, Noah dengan ekspresi yang sedikit kesal, serta Luna yang tampak jadi kikuk dan salah tingkah. Untungnya, Raka mampu membaca situasi dengan cepat. “Kita makan dulu, yuk. Aku tahu tempat makan yang enak,” serunya sambil merangkul Noah dan mengajak yang lainnya untuk mengikuti. . “Oh … jadi kalian sedang belanja untuk persiapan Kejurnas, sekaligus mau beli kado ulang tahun untuk kapten tim?” Raka mengulangi lagi penjelasan Noah untuk menghilangkah segala kesalahpahaman, saat mereka sudah duduk di salah satu meja sebuah restoran yang menyajikan makanan Jepang. “Iya, kebetulan aku lihat selera Noah kayaknya agak mirip dengan selera kapten kami,” tambah Luna, “makanya aku minta tolong dia buat bantu milihin kado.” “Oh … gitu,” Raka menaikkan alisnya ke arah Lisa sebagai kode, “gitu loh, Lisa. Jadi ini bukan kencan kan, ya.” “Kencan apaan?” Meski Noah membantah, tapi wajahnya memerah panik. Raka pun hanya tertawa menanggapinya. "Aku juga cuma nemanin Lisa nonton, karena cowok yang dia taksir menolak ajakan dia untuk ... aduh!" Raka meringis di ujung penjelasannya sambil mengusap-usap tulang kering yang baru saja ditendang Lisa di bawah meja. Gadis itu pun kemudian berdiri dari kursinya. “Kak, temanin ke toilet, yuk,” ajaknya kepada Luna. “Eh? Tapi aku barusan tadi udah dari toilet.” Luna ingin menolak tanpa bermaksud menyinggung Lisa. “Ya nggak pa-pa kan cuma nemanin doang. Masa’ aku harus minta tolong Noah atau Kak Raka buat nemanin aku?” “Ng … iya, ok deh kalau gitu.” Luna beranjak ragu-ragu sambil melirik ke arah Noah seolah sedang meminta pertolongan. Tapi Noah tak begitu memperhatikan gelagat itu, dan malah menganggap kalau Lisa dan Luna mulai kelihatan akrab. “It’s okay, Kak Manager. Lisa nggak gigit kok,” canda Raka yang dibalas dengan serangan mata melotot dari Lisa. Setelah kedua cewek itu berlalu pergi. Noah langsung mencecar Raka dengan berbagai komplain yang sudah ia tahan sejak tadi. “Kak Luna itu masih adik kelasmu. Ngapain kamu manggil dia ‘kakak’? Nggak usah sok imut.” Raka kembali tertawa sebelum menjawab, “Ya kan aku cuma pengen nyoba memasukkan diri.” “Nggak perlu! Jangan sok akrab.” “Ciee … cemburu, ya?” “Dia itu naksir sama kapten kami, ngapain aku cemburu sama kamu.” “Ciee … patah hati nih ye …” Kali ini Noah membalas godaan Raka dengan melempar lembaran daftar menu ke wajahnya. Namun detik berikutnya, Noah mendadak menoleh ke arah belakang dengan ekspresi yang berubah waspada. “Kenapa?” tanya Raka sambil ikut melihat ke arah Noah sedang memusatkan perhatiannya. “Kamu ngerasa kayak ada yang lagi ngamatin kita, nggak?” “Masa’ sih? Siapa?” Raka bahkan sampai berdiri dan menjulurkan lehernya untuk mengamati orang-orang yang berlalu lalang di sekitar mereka. “Fansmu kali,” celetuk Raka lagi sambil kembali duduk. “Nggak, serius. Dari tadi loh. Dari pas kami di dalam bus, aku selalu ngerasa kayak lagi diikuti gitu.” “Wah … Noah udah punya stalker. Emang susah sih ya kalau jadi orang beken.” “Raka, aku lagi serius nih.” “Udah, kamu tenang aja. Pokoknya kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku. Mau aku lagi di mana kek, lagi makan, lagi mandi, boker atau lagi ngapain aja deh, aku bakal ninggalin itu semua buat datang dan nolongin kamu.” Noah memberikan Raka tatapan sinis bercampur tak percaya dari sudut matanya. “Ini aku beneran, loh. Serius,” Raka masih mencoba meyakinkan, “aku dengar dari Ayah, katanya kamu terlibat kasus bullying di sekolah gara-gara pengen nyelamatin teman sekelasmu. Ayah juga udah minta aku buat jagain kamu. Karena katanya setelah menyelidiki lebih lanjut latar belakang seniormu yang suka bully itu, kayaknya dia bukan orang sembarangan.” “Andi? Bukan orang sembarangan gimana?” Noah akhirnya berhasil diyakinkan bahwa saat ini Raka memang sedang serius. “Jadi, sepertinya dia itu terlibat dengan beberapa geng preman. Termasuk di antara mereka ada yang dari geng motor, bahkan sampai geng tukang pukul spesialis penagih utang.” “Jangan bercanda deh. Dapat info dari mana sih?” “Hei, ini infonya kredibel loh. Kalau Ayah udah turun tangan, info apa yang dia nggak bisa dapat? Tinggal menjentikkan jari, boom! Semua informasi terpampang nyata.” “Nggak usah lebay.” “Dih … nggak percaya. Aku juga ikut berperan nyari info, tahu? Bisa dibilang, aku punya banyak koneksi di dunia underground[1].” Noah sudah semakin kehilangan kepercayaannnya terhadap Raka. Ia tahu kalau semakin ke ujung, semakin banyak bumbu yang ditambahi. Dengan tampang malas, Noah meraih hp-nya dan berpura-pura akan menelepon seseorang. “Aku bilangin Ayah ya, kamu punya koneksi ke dunia underground.” Raka dengan sigap menjauhkan hp dari telinga Noah sambil nyengir lebar. “Hehe … yang terakhir tadi aku bercanda. Cuma nambah-nambahin aja, biar seru.” Sempat-sempatnya Raka bercanda di saat mereka sedang membahas hal yang serius. Mau heran, tapi ini Raka. Hanya beberapa saat setelah itu, Lisa dan Luna kembali dari toilet dengan tampang sumringah. Di luar dugaan, mood Lisa terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya. “Eh, ada fotonya Kak Ahsan, nggak? Lihat dong,” pintanya tiba-tiba kepada Noah. “Kok tiba-tiba nanyain Kak Ahsan? Ada apa?” Noah mengerling Luna, mengharapkan jawaban. Tapi Luna hanya tersenyum kecut sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal. Sebenarnya saat di toilet tadi, Luna jadi terpaksa menjelaskan kepada Lisa bahwa dia sedang naksir kapten tim Cendana, dan dia butuh bantuan Noah untuk bisa jadian dengan sang kapten. Itu sebabnya mood Lisa berubah jadi baik, karena ia merasa kalau Luna bukan lagi saingannya untuk mendapatkan Noah. . ___ ___ ___ ___ ___ [1] Underground merujuk pada subkultur atau komunitas yang beroperasi di luar norma atau arus utama masyarakat. Seringnya, terkait dengan kegiatan yang dianggap tidak konvensional atau tidak resmi, mulai dari musik underground, gerakan politik radikal, sampai aktivitas ilegal seperti perdagangan n*****a.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN