Chapter II-35

1058 Kata
Luna berpikir, pantas saja tadi waktu mau bayar ongkos, Noah kebingungan. Ternyata ini memang pertama kalinya ia naik bus angkutan umum. “Dasar bocah tajir,” gumam Luna sambil tersenyum jahil kepada Noah, dalam hati ia mengakui kalau ternyata Noah memiliki sisi lugu yang cukup cute. “Tapi kadang aku lihat di tv, kita boleh ngingatin orang buat ngasih tempat duduknya ke yang lebih membutuhkan.” Noah masih ingin membela diri. “Iya, tapi di sini kan nggak ada yang begitu. Semuanya sehat-sehat, gak ada orang tua dan gak ada ibu hamil juga. Kalau soal cowok harus ngasih tempat duduk ke cewek itu udah kuno. Sekarang zamannya emansipasi.” Noah mengangguk-angguk saja dan memutuskan untuk menyudahi pembicaraan itu. Beberapa saat setelahnya, Noah menoleh ke arah kursi di bagian belakang bus. Sejak tadi entah kenapa ia merasa seperti sedang diamati oleh seseorang. Di tempat duduk pada barisan belakang bus itu, ada dua anak sekolah sedang asyik mengobrol, sementara di bagian sudut dekat kaca jendela, ada seorang lelaki yang duduk sendiri sambil mengenakan masker. Lelaki itu bahkan tak mau repot-repot mengalihkan pandangan saat matanya bertemu dengan tatapan Noah. Seolah ia tak keberatan jika Noah menyadari bahwa sejak tadi ia sedang mengamati Noah. “Siapa?” tanya Luna yang juga ikut melihat ke arah yang sama, “kamu kenal?” Noah mengedikkan bahunya sekilas, “Nggak tahu. Lagian, kalau memang kenal seharusnya kan dia langsung nyamperin. Bukannya malah ngelihatin doang kayak gitu.” “Iya, aneh. Creepy banget,” timpal Luna lagi, “tapi mungkin dia teman lamamu. Mungkin dia ngerasa agak segan buat nyapa. Kan kamu sekarang udah jadi orang beken.” “Beken apaan?” “Ya kan kamu Noah, semua anak SMA yang main basket kayaknya kenal deh sama kamu.” Noah tak begitu mendengarkan apa yang dikatakan Luna karena saat ini ia malah jadi lebih fokus ke orang di sudut sana. “Aku samperin aja kali, ya?” pikir Noah. Ia baru saja memutar tubuhnya untuk berjalan menuju bagian belakang bus, nyaris bersamaan dengan bus yang berhenti di sebuah halte. Orang mencurigakan itu pun bangkit dari tempat duduknya dan turun tanpa memberikan Noah kesempatan untuk bicara dengannya. Namun ternyata, itu bukan yang terakhir kalinya Noah merasa kalau ia sedang diamati selama ia berada di luar lingkungan Cendana. Saat Noah dan Luna sudah tiba di sebuah pusat perbelanjaan, Noah lagi-lagi merasa seperti sedang diikuti. Tapi ia tak mengatakannya kepada Luna karena tak ingin seniornya itu merasa tak nyaman. “Noah, bentar ya. Aku mau ke toilet dulu.” Luna menyerahkan beberapa kantong belanjaan ke tangan Noah sebelum berlalu pergi menuju ke toilet wanita. Noah meletakkan beberapa barang belanjaan yang sudah mereka beli tadi ke lantai di sebelahnya, ia lalu berdiri menyandar di tembok sambil mengutak-atik hp. Hanya perlu mendatangi satu toko lagi, maka agenda mereka hari ini akan selesai. Kejurnas akan dilaksanakan selama seminggu penuh di Ibu Kota dan akan dimulai Senin depan. Dalam seharinya akan ada 3-4 pertandingan untuk tim putra dan putri. Keikutsertaan tim putri SMA Cendana di Kejurnas bisa dihitung jari, mereka jarang sekali masuk peringkat tiga besar Liga Rookie, begitu juga dengan tahun ini. Itu sebabnya yang akan bertanding di Ibu Kota hanya tim putra saja. Noah dan yang lainnya akan berangkat di hari Minggu pagi menuju ke akomodasi yang sudah disediakan oleh pihak sekolah; karena panitia Kejurnas tidak menyediakan akomodasi untuk masing-masing peserta. Berbeda dengan Cendana dan beberapa tim dari sekolah swasta lainnya, kebanyakan sekolah yang bertanding di Kejurnas hanya akan menyediakan penginapan seperti losmen untuk tim mereka, malah beberapa di antaranya mengandalkan kenalan untuk menumpangkan tim mereka di sebuah rumah atau gedung sekolah yang tak terpakai. Tahun lalu, ada sekolah yang level hematnya lebih ekstrim lagi. Mereka rela menginap di tenda setelah mendapatkan izin dari sebuah sekolah untuk menggunakan halaman belakangnya. Semua itu terjadi karena anggaran yang disediakan sekolah untuk akomodasi mereka telah melebihi budget. Pihak sekolah tak menduga kalau timnya akan maju sampai ke semifinal. Mereka mengira timnya hanya akan sekadar ikut bertanding satu atau dua kali, lalu kalah dan pulang, karena memang nama sekolah mereka tak begitu dikenal. Padahal tim sekolah itu bermain sangat baik bahkan sampai masuk ke empat besar nasional. Kabar itu sempat dibahas di beberapa media olahraga dan dijadikan motivasi untuk tim-tim lainnya. Karena ternyata, meski sebuah sekolah memiliki dana yang sangat terbatas untuk mendukung kegiatan muridnya, hanya memiliki lapangan basket outdoor yang harus selalu disapu beramai-ramai setiap kali habis hujan, datang ke Ibu Kota dengan menumpang mobil truk di jalan, bahkan sampai harus menginap di tenda, pada akhirnya itu semua bukan penentu kemenangan sebuah tim. Selama tim itu solid, tulus menekuni basket dengan semangat dan tanpa gengsi, mereka bisa mengungguli sekolah-sekolah elite lainnya dan menjadi top 4 tingkat nasional. “Loh? Noah?” Sebuah suara yang tidak asing tiba-tiba menyapa dari arah samping kanan Noah. Saat ia menoleh, Noah menemukan Lisa – dengan cone ice cream yang sudah tinggal setengah di tangannya – berdiri menatap Noah dengan tampang heran. “Loh?” Noah pun sama herannya dengan Lisa. Ia langsung menarik punggungnya dari tembok yang ia sandari sejak beberapa saat lalu. “Sama siapa?” tanya Noah lagi. “Sama Raka, dia lagi di toilet. Kamu?” Tepat di ujung kalimatnya, perhatian Lisa beralih ke arah belakang Noah. Ia mengenali cewek yang baru saja keluar dari toilet wanita itu, dan sekarang sedang menghampiri Noah. “Hei, kita pernah ketemu, kan?” Luna dengan ramah menyapa Lisa lebih dulu. Tapi Lisa tak bisa menyembunyikan ketidaksukaannya. Wajahnya langsung cemberut dan ogah-ogahan menjawab Luna. “Iya,” ketusnya, “kalian ngapain di sini?” “Aku nemanin Kak Luna belanja untuk keperluan tim. Kejurnas kan dimulai minggu depan,” jelas Noah. Bola mata Lisa bergerak ke arah kantong-kantong belanjaan yang sedang dibawa oleh Noah. “Belanja keperluan tim atau belanja keperluan pribadi?” tanyanya lagi sambil menancapkan tatapannya pada kantong plastik yang berisikan camilan dan paper bag bertuliskan brand yang cukup terkenal. “Beli sepatu juga?” Lisa masih bertanya dengan nada judes. “Bukan. Itu tumbler.” Noah pun mulai merasa risi dengan ketidakramahan Lisa. “Oh … buat tim juga?” kali ini Lisa memindahkan tatapannya kepada Noah dengan tampang jutek, “pasti mahal tuh.” Noah menghela napas sebelum menjawab, “Hadiah buat kapten tim. Kamu kenapa sih?” tanyanya akhirnya. “Nggak kenapa-kenapa kok.” Lisa berkelit, seolah sikap dan gaya bicaranya itu normal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN