Chapter II-34

1074 Kata
Minggu pagi, 15 menit sebelum jam 10, Noah sudah tampak rapi mengenakan kaos putih favoritnya dengan kemeja flanel berwarna merah-hitam sebagai outer. Bisa dikatakan itu adalah style standar Noah jika ia ingin hang out dengan seseorang yang tidak ada hubungannya dengan basket. “Perasaan kayaknya kamu udah lebih dari lima kali deh gonta-ganti pakaian, padahal ujung-ujungnya sama aja.” Igris yang sejak tadi sedang rebahan di tempat tidurnya sambil main hp, akhirnya berkomentar saat Noah sudah menentukan pilihan pakaiannya dan sekarang sedang dalam tahap memakai sepatu. “Kayaknya lebih cocok pakai sepatu yang merah deh,” komentar Igris lagi. Tapi tentu saja Noah tak peduli. Mendengar komentar Igris itu, ia malah semakin yakin dengan pilihannya untuk memakai sepatu yang putih. “Mau ke mana sih? Rapi amat?” Igris masih nekat mengajak Noah bicara meski Noah tak menjawabnya sepatah kata pun. Entah Igris ini sengaja atau nggak, tapi Noah berharap ia bisa sedikit membaca situasi. Maksudnya, Noah sudah jelas mengatakan kalau ia tak menyukai Igris, jadi apa susahnya Igris berhenti mencoba berinteraksi dengannya? Sebenarnya Noah sudah sangat ingin pindah kamar. Tapi ternyata itu tak semudah yang ia pikirkan. Pertama, ia tak bisa pindah ke asrama lain. Ia harus tetap berada di Raven. Kedua, tidak ada penghuni Raven yang mau diajak tukar kamar. Zikri yang sempat menawarkan diri juga sepertinya tak berhasil membujuk teman sekamarnya untuk tukaran dengan Noah. Akibatnya, sampai hari ini Noah masih harus sekamar dengan Igris. Jangankan membalas perkataan Igris, melihat wajahnya pun tidak. Noah meninggalkan ruangan dan langsung menutup pintu di belakangnya. Seolah, tak ada siapa-siapa di kamar itu. Beberapa kali Noah berusaha menasihati dirinya sendiri agar tidak memperlakukan Igris seperti itu. Tapi ini semua di luar kendali Noah. Igris tak pernah gagal meruntuhkan mood Noah. Ibaratnya, Igris itu adalah pemicu frustasi bagi seorang Noah. . Noah menemukan Luna sudah berdiri di depan gerbang sekolah menunggunya; mereka memang janjian ketemu di depan gerbang sekolah daripada di gerbang asrama masing-masing. “Udah lama, Kak?” tanya Noah sambil menghampiri gadis berkacamata yang mengenakan rok panjang dan sepatu sneakers itu. “Heh! Pantesan ya kamu itu sampai sekarang masih belum punya pacar,” Noah disambut dengan omelan Luna, “harusnya yang nunggu itu kamu. Ini kebalik, tahu?!” “Kok gitu? Emang ada peraturannya? Cowok harus nunggu ceweknya datang?” “Udah nggak usah dijawab.” Luna menggeplak jidat Noah dengan buku nota kecil di tangannya dan Noah hanya tertawa ringan menanggapinya. “Yuk berangkat. Bentar lagi jadwal bus berikutnya.” Luna menarik tangan Noah untuk berjalan menuju halte terdekat. “Ngapain naik bus? Naik taksi online aja,” tolak Noah sambil mengeluarkan hp dan bermaksud untuk memesan taksi online. “Budget-nya nggak cukup. Lagian biasanya kalau aku pergi belanja untuk keperluan klub juga naik bus kok.” “Biar aku yang bayar. Repot amat.” Noah menanggapi cuek sementara tangannya masih sibuk mengutak-atik hp untuk memesan taksi online. Detik berikutnya ia sudah kembali mengantongi hp-nya dan mengajak Luna untuk berjalan menuju halte. “Udah aku pesan. Aku bikin titik jemputnya di halte. Yuk,” ajaknya kemudian. Tapi Luna nggak mau terima begitu saja. “Batalin aja.” “Loh? Kenapa? Aku yang bayar. Kakak tenang aja.” “Pokoknya batalin! Kita naik bus aja. Hidup itu nggak boleh boros. Taksi online dari pelosok begini sampai ke kota, pasti ongkosnya mahal banget.” “Aku punya duitnya. Nggak masalah.” “Bukan soal itu,” Luna kembali memukul tengkuk Noah dengan buku catatan kecilnya, “ini anak bener-bener dah. Batalin cepat! Nggak usah ngebantah.” “Iya deh iya …” Noah pun akhirnya pasrah dan membatalkan pesanan taksi online-nya. Bukannya apa, kalau boleh jujur, sebenarnya ini pertama kalinya Noah naik bus angkutan umum. Sejak dulu, ia lebih sering diantar-jemput. Dan kalaupun ia harus naik kendaraan umum, biasanya ia akan naik taksi. Itu sebabnya sekarang Noah sedang berdiri di dalam bus sambil tak berhenti mengedarkan pandangan untuk mengamati sekelilingnya. Bus saat ini cukup penuh, saat ia dan Luna naik sudah tak ada kursi kosong yang bisa diduduki lagi. Akibatnya mereka berdua pun harus berdiri di lorong bus. “Masa’ kita harus berdiri terus sampai kota?” Noah tak mau menahan diri untuk tak mengeluh. “Nggak lah. Nanti pasti ada yang turun, baru kita bisa duduk.” “Harus nunggu berapa lama? Kalau aku sih nggak masalah. Kakak? Emangnya nggak capek?” “Nggak usah cerewet deh ah.” Noah bisa melihat Luna yang sudah mulai keringatan karena harus agak berdempetan dengan para penumpang yang lain, jadi ia berinisiatif menyuruh lelaki muda di depannya untuk berdiri dan memberikan kursi kepada Luna. “Hei, kamu kan udah duduk dari tadi. Gantian dong,” kata Noah dengan ringannya. Luna pun langsung memukul lengan Noah cukup keras. “Kamu ngomong apa sih?!” sergahnya panik sebelum kemudian buru-buru meminta maaf kepada orang yang barusan ditegur Noah itu, “maaf ya. Dia memang agak kolot.” Lelaki itu malah jadi merasa tak enak dan beranjak dari tempat duduknya. “Silakan duduk aja, saya kebetulan mau turun di halte berikutnya,” katanya ramah kepada Luna sambil sesekali mengerling Noah dari ekor matanya. Tak bisa dipungkiri, penampilan Noah kadang memang cukup mengintimidasi. Selain karena tinggi badannya, tampang Noah yang jutek juga turut andil dalam membuat orang-orang jadi berpikir dua kali kalau mau cari masalah dengan Noah. Karena sudah ditawari seperti itu, Luna pun akhirnya duduk setelah mengucapkan terima kasih kepada lelaki tadi. Lalu saat orang itu keluar, Luna kembali mengomeli Noah. “Di bus angkutan umum itu nggak ada yang namanya orang harus gantian duduk cuma karena dia udah lama duduk. Ngerti kamu? Di sini tuh sistemnya siapa cepat dia dapat.” “Kalau gitu nggak adil dong buat orang tua, anak-anak dan orang dengan kondisi d*********s,” balas Noah. “Iya itu tergantung dari kesadaran masing-masing aja. Lagian aku ini kan bukan orang tua, anak-anak atau orang disable. Jadi harusnya kamu nggak menegur orang dan memintanya untuk nyerahin kursi kayak gitu.” “Oh … aku kira harus diingatin. Ternyata nggak boleh, ya?” “Iya. Nanti orang bisa marah,” terang Luna lagi, “gimana sih? Emangnya ini pertama kalinya kamu naik bus.” “Iya.” Noah mengangguk polos dan membuat bibir Luna langsung merenggang takjub. “Pantesan aja,” komentar Luna sambil mengingat-ingat kembali, bagaimana tadi Noah sempat kebingungan tentang cara membayar ongkos bus. Untung Luna dengan sigap mengatakan kepada Noah bahwa ia tak perlu memikirkan itu karena Luna sudah membayar untuk mereka berdua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN